Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab.130 Pertemuan Pertama


__ADS_3

" Baik, ayah mengizinkannya dengan syarat kamu harus tinggal bersama keluarga ibumu. Ayah tak ingin kamu hidup sendiri, sayang?" kata Sang ayah dengan mimik serius.


"Ahkhai.... akhirnya! Yes.. yes! Aku bisa sekolah di alam manusia! " serunya kegirangan. Dia serta merta langsung memeluk ayah dan juga ibunya lalu menghadiahi keduanya kecupan sayang.


" Arryan mau tinggal di dunia manusia??"  seru kedua orang yang baru saja tiba itu secara bersamaan dengan raut wajah heran.


Pangeran alyan dan Pangeran  Azzura segera menghampiri sang adik yang wajahnya masih saja menampakkan senyum bahagianya karena keinginannya dikabulkan oleh sang Ayah.


" Apa dinda serius ingin hidup di alam manusia ?" tanya Alyan. Arryan, sang adik mengangguk yakin.


"Aku ingin menjadi seorang dokter, kanda!" katanya mantap.


( Para readers yang budiman, setujukah kalian jika kiranya Arryan tinggal di dunia manusia dan menetap serta bersekolah di alam manusia. Author kita ini sepertinya berkeinginan agar Arryan kiranya juga mendapatkan jodoh seorang manusia. Tulislah saran dan pendapat kalian di kolom komen, ya!)


*


*


*


Asmi dan suaminya Pangeran Hsyeem mendatangi  rumah kediaman  Mas Ardi. Keadaan kakaknya itu kini sudah lumayan membaik. Tubuhnya berangsur - angsur sehat, paska serangan para penyihir kiriman Hades yang datang ke rumah Mas Ardi beberapa waktu yang lalu.


Kedatangan mereka ke sana tak lain adalah untuk mengutarakan keinginan Arryan yang ingin melanjutkan sekolah di sana. Mereka datang bersama - sama dengan Alyan, Azzura, dan juga Arryan.


Semua anggota keluarga yang lain juga  berkumpul di sana. Mereka sengaja di panggil oleh mas Ardi untuk datang dan berkumpul di rumahnya.


" Dek, sebelum semua anggota keluarga yang lain berdatangan. Masmu ini ingin menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah lama terpendam di hati mas." kata Mas Ardi dengan ekspresi yang serius. Mata semua yang hadir kini fokus memperhatikan Mas Ardi.


Asmi dan Pangeran Hasyeem serta ketiga anak mereka saling berpandangan.


"Katakan saja, Mas. Apa yang ingin Mas Ardi tanyakan. Mungkin Asmi bisa membantu!" jawab Asmi.


"Apa benar suamimu ini berasal dari golongan bangsa jin?" tanya Mas Ardi langsung pada intinya.

__ADS_1


Hah ......!!! Mata semua yang hadir di ruangan itu terbelalak kaget, kecuali Delia. Adik bungsu Asmi ini sudah lama mengetahui bahwa kakak iparnya itu bukanlah berasal dari bangsa manusia biasa.


" Maafkan Asmi , Mas. Karena selama ini Asmi telah menyembunyikan jati diri suami Asmi. Karena Asmi takut keluarga  kita akan menolak keberadaan pangeran Hasyeem sebagai suamiku, andai saja kalian tahu jika suamiku adalah seorang jin." kataAsmi. Sudah kepalang tanggung, pikir Asmi cepat atau lambat pastilah keluarganya akan tahu juga jika suaminya adalah sesosok jin muslim.


" Apakah kamu merasa bahagia bersuamikan seorang jin ?" tanya Mas Ardi lagi. Semua mata kini menatap Asmi.


Asmi menatap ke arah sang suami. Kedua tangannya menggenggam kedua tangan lelaki  tampan itu lalu berkata.


"Tak ada satu detikpun, dalam setiap waktu kehidupanku saat ini, aku merasa tak bahagia. Aku adalah wanita yang paling beruntung karena begitu dicintai oleh suamiku. Aku hidup sebagai seorang ratu  yang dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Dan dia juga telah memberiku anak - anak yang hebat."


"Jadi, apakah mas Ardi dan kalian semua yang hadir di sini masih mempertanyakan kebahagianku?" tanya Asmi.


Pangeran Hasyeem tersenyum bangga dan juga sekaligus merasa  terharu  mendengar ungkapan hati sang istri. Dia memeluk  wanita yang sedang hamil besar itu dengan segenap rasa cinta dan kasih sayang.


" Terima kasih sayang karena sudah mau menerima jin yang jatuh cinta dan tergila - gila padamu ini sebagai suamimu." kata pangeran Hasyeem sambil terkekeh kecil mencium pipi Asmi.


Mas Ardi menghela nafas panjang. Juga semua keluarga yang hadir di sana. Mereka sungguh - sungguh tak menduga bahwa Asmi yang selama ini mereka kenal memiliki seorang suami yang berasal dari alam jin.


" Jadi bagaimana ini, Mas?" tanya Mirna pada Mas Ardi yang dari tadi hanya diam saja tanpa mampu berucap sepatah katapun juga. Lelaki berperawakan kurus dan jangkung itu terlalu kaget mendapati kenyataan yang belum pernah sekalipun terpikirkan olehnya bahwa adik tersayangnya bersuamikan seorang jin.


"Atau kalian lebih menyukai kalau Asmi menikah dengan manusia dan berakhir lagi seperti dulu waktu sama si llham itu, diceraikan karena mandul!" tanya Mas Ardi pada yang lain.


Semua menggelengkan kepalanya. Mereka tak menginginkan Asmi hidup menderita lagi seperti dulu saat masih bersama Ilham. Mas Ardi tersenyum lantas berpaling kepada Asmi.


"Nah, Asmi kau lihat sendiri, bukan? Ternyata kekhawatiranmu tidak terjadi. Keluarga kita bisa menerima keberadaan suamimu di tengah - tengah keluarga kita. Kini kamu tak perlu lagi bersusah payah menyimpan semua rahasiamu sendiri. Kami  semua keluargamu. Kami akan selalu memberi dukungan apapun keputusanmu." kata Mas Ardi.


Asmi dan Pangeran Hasyeem merasa terharu mengetahui bahwa kini semua keluarga menerima pernikahan mereka. Mereka kemudian saling berpelukan tanda mereka menerima segala keputusan Asmi selama ini.


" Nah, sekarang tinggal masalah Arryan. Apa yang kamu inginkan, anakku sayang?" tanya Mas Ardi pada keponakannya yang cantik itu.


" Arryan ingin tinggal dan menetap di sini , uwak."


" Azzura juga, uwak!" pemuda berwajah baby face itu menimpali. Mendengar hal itu Mas Ardi tertawa terbahak - bahak. Dia menepuk bahu Azzura dengan bangga.

__ADS_1


" Iya, kalian berdua boleh tinggal di sini." kata Mas Ardi. Kedua putra dan putri Asmi itu tersenyum lebar. Sedangkan Asmi pasang wajah cemberut karena tak rela anak kesayangannya pergi meninggalkan dirinya.


" Tak adil, ..kenapa Azzura ikut juga sih, mas?"


"Loh, kenapa tak boleh? Azzura juga keponakankku. Masa Arryan boleh sedangkan dia tidak? kan tak adil jadinya,dek!" kata Mas Ardi sambil tersenyum penuh kemenangan.


Pangeran Hasyem hanya tersenyum kecil melihat sang istri cantiknya ngambek.


Akhirnya setelah melalui perundingan yang agak lama, diputuskan bahwa Arryan akan tinggal di rumah Mirna. Karena rumah Mirna yang berada di tengah kota dan dekat dengan kampus tempat Arryan kelak bakal menuntut ilmu. Mas Ardi berniat akan mendaftarkan Arryan di fakultas kedokteran terkenal di kota itu. Tentu saja itu semua atas permintaan dari Pangeran Hasyeem yang ingin memberikan yang terbaik bagi sang putri. Soal biaya semua sudah diatur oleh Sang Pangeran. Mirna merasa senang sekali karena keponakannya yang cantik akan tinggal di rumahnya.


Mengenai Azzura, sang bunda ngotot tak memberi izin. Dia hanya mendapat  izin jika hanya sekedar menginap untuk beberapa hari saja di rumah sang uwak oleh sang bunda.


" Karena semua sudah hadir, dan pembicaraan kita juga sudah selesai. Ayo kita makan - makan sekarang. Mbakmu sudah masak enak tadi. Atau jika masih kurang kita pesan lagi makanan di restoran." kata Mas Ardi.


" Tak usah, mas. Mas tak perlu repot untuk memesan makanan di restoran. Kita saja yang pergi ke restoran itu sekarang. Itung - itung buat merayakan acara pertemuan keluarga ini!" usul Asmi.


" Boleh, bagaimana? Apa kalian semua setuju?" Tanya Mas Ardi. Semua mengangguk   tanda setuju dengan usulan dari Asmi.


Dan disinilah mereka sekarang ini. Di sebuah restoran yang cukup terkenal, Asmi beserta suami dan anak - anaknya dan  semua keluarga besar Asmi di boyong oleh Mas Ardi ke restoran ini.


Mereka memesan makanan dan minuman sepuasnya. Semuanya tampak  gembira dan bahagia menyambut kedatangan Asmi dan keluarga kecilnya.


" Bunda, Arryan ke toilet dulu, ya!"


" Baiklah, sayang. Hati - hati !" kata Asmi pada sang Putri.


Arryan berjalan memasuki salah satu toilet wanita di restoran itu. Dia segera menuntaskan hajatnya lalu memperbaiki riasan dan penampilannya. Setelah selesai, Arryan berjalan keluar bermaksud ingin kembali ke tempatnya semula.


Bruggghhh! Tubuhnya menabrak seorang pemuda yang berperawakan jangkung saat berada di pintu keluar ruang toiet.


" Maaf !" kata pemuda itu. Dingin dan datar. Arryan hanya mengangguk seraya berlalu dari hadapan pemuda jangkung itu.


Pemuda itu tersenyum kecil kemudian berjongkok lalu memungut sebuah dompet mungil berwarna merah muda yang indah. Dia lalu membuka dompet itu dan menemukan foto Arryan yang terselip di dalam dompet itu beserta kartu identitas Arryan.

__ADS_1


Pemuda itu lalu membaca nama yang tertera di kartu identitas tersebut.


" Hmm, jadi namanya Arryan." Senyum lebar terkembang di  wajahnya yang tampan bak dewa yunani itu.


__ADS_2