Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 91 Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

Sepeninggalan Ammar dan Delia, tempat itu tiba-tiba terbakar dengan sendirinya. Api melalap habis seluruh isi penginapan sampai tak bersisa.


Polisi yang mendatangi tempat itu hanya menemukan tubuh Yovan yang tergeletak tak bernyawa dengan luka tembakan di punggung di ruangan bawah tanah.


Tetapi pemilik penginapan tidak berada di sana. Mereka berusaha mencari si pemilik penginapan namun mereka tak berhasil menemukannya.


Polisi menduga bahwa pemilik penginapan telah terlibat kejahatan lalu menghilang setelah sebelumnya menghilangkan jejak kejahatannya dengan membakar habis penginapan miliknya.


Tak ada yang tahu jika anak buah Ammar telah membawa tubuh lelaki itu dan melemparnya ke danau untuk menjadi santapan buaya - buaya yang lapar di danau itu.


Ammar membawa Delia kembali ke apartemennya. Lelaki jelmaan bangsa jin itu sengaja membawa Delia ke sana karena hanya itulah tempat yang dia tahu.


Delia membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Kemudian dia mencari makanan di lemari es dan memasak makanan sekedarnya untuk mengganjal perutnya yang sudah sangat lapar.


Maklum saja, selama disekap, dia tak pernah merasakan barang seteguk air dan sesuap makanan pun ke dalam mulutnya, karena sang pemilik penginapan tidak memberinya makan atau minum.


Selesai makan, Delia lalu beristirahat merebahkan diri di kasur. Delia meringkuk seorang diri menangis sesegukan saat teringat akan semua yang sudah dia lalui.


Dia menyesali mengapa harus berakhir seperti ini. Dia merasa bersalah karena menyebabkan Yovan harus meregang nyawa demi untuk menyelamatkan dirinya. Andai saja dia tak datang ke penginapan terkutuk itu. Barangkali sekarang, Yovan masih hidup sampai saat ini.


Meskipun Yovan telah menyakiti hatinya dengan berselingkuh, namun di hatinya masih ada cinta untuk suaminya itu. Dia hanya kecewa karena Yovan telah mengkhianati dirinya.


Puas Delia menangis hingga tak terasa dia tertidur. Bunyi dering telepon membuatnya terjaga.


Delia mengambil handphone miliknya yang tergeletak di sampingnya. Saat akan pulang, Delia menyempatkan diri untuk menggeledah kantong pemilik penginapan untuk mencari telepon miliknya yang sempat di ambil oleh pemilik penginapan saat dia di sekap di ruangan itu.


Rasa rindu dihati Delia pada saudara - saudaranya rasanya sedikit terobati ketika dia mendengar suara mas Ardi di seberang.


" Assalamu'alaikum, Delia. Halo, dek gimana kabarmu. Mas dari kemarin nelpon kamu tapi nggak di angkat. Ada apa toh, dek. Mas sama mbakyumu sangat khawatir sama kamu" kata Mas Ardi di telepon.


" Alhamdulillah, aku baik - baik saja, Mas. Tapi.... " Delia terisak tak mampu untuk meneruskan kata - katanya. Dia kembali lagi menangis, membuat lelaki kurus yang berbicara di seberang sana mengeryitkan alis, gusar dan penasaran.


" Tapi apa toh, dek. Bicara yang jelas sama mas. Jangan bikin penasaran! Kenapa kamu nangis? apa Yovan menyakitimu, dek? " tanya lelaki itu bertubi-tubi di telepon.


Delia tak bisa berkata - kata. Hanya tangisnya saja yang semakin keras.


" Dek, .... sudah dek. Jangan menangis lagi. Jika kamu belum bersedia untuk bicara sekarang, tak apa - apa. Jangan sedih, dek. Mas jadi ikutan sedih mikirin keadaanmu! " kata Maaf Ardi. Suara lelaki itu kini berubah serak tercekat.

__ADS_1


" Delia... Delia dan mas Yovan..! " belum sempat Delia meneruskan kalimatnya, bel apartemennya berbunyi.


" Mas, sebentar, ya mas. Sepertinya ada tamu." Delia lalu memutuskan telepon dari mas Ardi lalu melangkah menuju ruang tamu.


" Hello, can I speak to Miss Delia Permana! " Dua orang berseragam polisi langsung bertanya saat Delia baru saja membuka pintu.


" Yes, I am Delia Permana. What can I do for you, sir? " kata Delia kepada kedua petugas itu.


Keduanya lantas melepas topi seragam mereka, lalu berucap.


" this is about your husband. We are very sorry, but we have to inform you that your husband is dead. We found his body this morning at the Memoar' home stay. Please, accept our sorry. "


Tubuh Delia bergetar. Hampir saja dia jatuh jika tidak ditopang oleh kedua petugas yang datang memberi informasi tadi.


" Miss Delia, are you okey? " Mereka lalu memapah Delia duduk di sofa. Salah seorang mengambil minuman yang sudah ada tersedia tak jauh dari sofa lalu memberikannya pada Delia.


Delia merasakan sedih dan terguncang menerima berita kematian Yovan. Walaupun dia sudah tahu tentang hal yang sebenarnya, namun tetap saja dia masih belum bisa menerima kematian Yovan suaminya sepenuhnya.


Kedua petugas itu kemudian pergi setelah mengucapkan bela sungkawa dan pamit pada Delia.


Delia kembali ke kamar dan menangis sepuasnya di sana. Setelah puas dia lalu menelpon mas Ardi dan bermaksud ingin mengabarkan berita tentang kematian suaminya, Yovan.


" Halo, mas. Maaf tadi ada tamu yang datang menemui Delia, mas. " kata Delia seraya mengusap air matanya yang kembali lagi mengalir.


" Iya, nggak papa. Terus kamu masih nangis, emangnya ada apa to? " tanya Masnya itu dengan heran.


" Anu, mas. Tamunya tadi itu dua orang polisi, dan mereka dapat membawa kabar tentang kematian mas Yovan."


Mas Ardi kaget bagai kebakaran jenggot.


" Apa dek.? suamimu meninggal? innalillahi raji'un. Kapan, dek? "


" tadi pagi, mas. ! " Delia lalu menceritakan semuanya kepada kakak lelakinya itu, mulai dari awal dia memergoki perselingkuhan Yovan hingga kematian Yovan di tangan pemilik penginapan itu karena ingin membebaskan dirinya dari sekapan lelaki cabul pemilik penginapan itu.


Mas Ardi nampak shock mendengar semua itu, lelaki itu nampak terpukul sekali mendengar penderitaan yang dialami oleh adiknya. Namun apa daya, dia tidak bisa menghiburnya karena jarak yang memisahkan teramat jauh.


" Mas turut bersedih atas apa yang menimpamu, dek. Mas doakan semoga kamu di beri kesabaran dan jalan oleh Allah untuk bahagia." doa mas Ardi pada Delia.

__ADS_1


" Makasih, ya mas. Delia kini agak lega karena sudah bicara pada keluarga. Tinggal menghubungi keluarga mas Yovan. Mas, Delia minta tolong, jangan beritahukan tentang rencana perceraian Delia pada pihak keluarga Mas Yovan ataupun mengenai perselingkuhan yang telah dia lakukan. Delia anggap semua telah usai. Delia sudah memaafkan Mas Yovan Biarlah aib Mas Yovan tetap terkubur bersama jasadnya." kata Delia


" Iya, dek. Mas ngerti. Mas akan simpan rahasia ini dari keluarga Yovan. Cukup hanya kita saja yang tau. " jawab Mas Ardi setuju dengan pendapat Delia.


...-----...


Delia bersiap untuk berangkat ke Indonesia. Atas permintaan keluarga, jenazah Yovan akhirnya di makamkan di tanah air, di tempat kediaman keluarga Yovan di Semarang.


Delia sibuk mengurus kepulangan jenazah Yovan ke tanah air melalui pesawat. Semua surat - surat sudah selesai di urus oleh Delia , tinggal menunggu keberangkatan saja yang rencananya Delia akan berangkat malam ini dengan pesawat terakhir.


Penerbangan dari Australia ke Jakarta memakan waktu dua jam setengah. Sesampai di bandara, Jenazah Yovan di sambut isak tangis oleh pihak keluarga. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa hidup Yovan akan berakhir dengan cara yang tragis.


Delia tak kuasa menahan rasa sedih dan haru. Dia memeluk mas Ardi, Asmi, dan juga Mirna.


Menumpahkan semua kesedihan yang dia pendam selama ini kepada semua saudara membuat sedikit banyak mampu mengurangi beban di hatinya.


" Kamu pulang juga akhirnya, dek." tangis Mas Ardi saat memeluk adiknya.


" Iya, Mas. Mas.. Yovan, Mas. hik hikhik. hik.! " tangis Delia pecah. Dia tak sanggup lagi membendung air matanya yang sejak tadi dia tahan.


" Sabar, dek. Semua sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Kita tidak boleh menyalahkan nasib buruk yang menimpa kita.! " kata Asmi.


" Mbak, maaf aku belum sempat mengucapkan selamat atas pernikahan Mbak.! " Kata Delia seraya menyusut air matanya.


" Suami mbak sedang ada urusan. Sebentar lagi dia juga akan datang menyusul.! "


Benar saja, tak lama kemudian sesosok tubuh tinggi tegap datang menghampiri Asmi dan langsung memeluk wanita itu dengan mesra.


" Ratuku tidak apa - apa? " tanyanya.


" Aku tidak apa - apa, Hasyeem. Perkenalkan ini Delia, adikku yang tinggal di Australia. Delia, ini Hasyeem, suami mbak!" kata Asmi memperkenalkan Delia pada sang Suami.


Hasyeem menoleh ke arah Delia. Kening lelaki tampan yang berasal dari bangsa jin itu berkerut.


" Aku, Delia, kak!" kata Delia dengan tersipu malu. Wanita yang sekilas lalu wajahnya mirip dengan Asmi itu tampak terpesona dengan ketampanan wajah kakak iparnya.


" mbak, suamimu ganteng. Nggak rugi cerai dari Mas Ilham, malah dapat yang super. " bisiknya di telinga Asmi.

__ADS_1


Sementara itu Pangeran Hasyeem memperhatikan adik iparnya itu secara diam - diam.


" Siapa lelaki yang berdiri di belakang Delia. Dari aromanya, sepertinya dia juga berasal dari golongan bangsaku.? "


__ADS_2