Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 71 Tamasya


__ADS_3

Pangeran Hasyeem mengantar Asmi pulang kembali ke rumah. Asmi merasa tak percaya dan lega karena bisa kembali ke rumahnya setelah dia ditahan oleh Paduka Raja Haizzar di ruang penjara bawah tanah istana Ratu Kalina, beberapa waktu yang lalu.


Demikian juga hal yang terjadi pada Ilham. Pangeran Hasyeem telah lebih dahulu mengantar lelaki itu kembali ke rumahnya, setelah terbangun dari pingsan selama hampir dua pekan. Ki Anom berhasil menyelamatkan nyawa lelaki itu dan yang mengobati luka - lukanya. Bahkan kini, luka - luka di tubuh lelaki itu sebagian ada yang sudah mulai mengering.


Namun untuk Ilham, demikian yang berlaku untuk Asmi berlaku pula untuk Ilham. Pangeran Hasyeem terpaksa juga harus menghapus sedikit ingatannya akan kejadian penculikan yang telah dia alami, apa yang telah menimpanya setelahnya dan juga keberadaan desa Raden. Dia tak akan ingat apapun juga tentang semua itu. Karena Pangeran Hasyeem tak ingin Asmi terkait kembali dalam peristiwa itu. Sehingga baik Asmi maupun Ilham tidak akan mengingat tentang peristiwa yang terjadi pada hari itu.


Sementara itu, warga desa di mana Asmi tinggal menjadi heboh ketika mereka menemukan Ilham yang tergolek lemah di depan rumahnya. Mereka menemukan tubuh lelaki itu penuh dengan memar kebiruan yang hampir pudar dan luka tusuk di dada dan perut yang hampir mengering.


Tubuh Ilham segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Berbagai dugaan muncul dari pemikiran warga di desa Asmi. Sebagian menduga Ilham korban perampokan, ada juga yang mengatakan bahwa Ilham adalah korban pembegalan, bahkan ada juga yang mengaitkan kejadian yang menimpa lelaki tersebut adalah korban dari mafia tanah.


Ketika Ilham tersadar, Polisi pun sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang akan mereka ajukan guna bahan penyelidikan lebih lanjut.


Namun anehnya, ketika ditanya, laki-laki itu tidak dapat memberikan keterangan yang jelas. Bicaranya plin - plan dan terkesan berbelit-belit.


Polisi yang menanyai Ilham pun sempat dibuat bingung, karena dia tidak ingat dengan jelas kejadian yang telah menimpanya.


...----...


Sementara di tempat lain, Pangeran Hasyeem tampak masih berada di rumah Asmi. Lelaki tampan berambut panjang keemasan itu masih betah berlama-lama untuk memeluk tubuh sang kekasih di tempat tidur.


Dikecupnya pipi dan pucuk kepala Asmi dengan sayang.


" Hmm, sayang, apakah kamu tak apa - apa, jika kutinggal? Karena sepertinya aku ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan, di negeriku.! "


Asmi menolehkan kepala dan menatap wajah lelaki yang tengah memeluk ketat dirinya.


" Pergilah, pangeran. Aku akan baik-baik saja."


" Benarkah?"


" Iya, sungguh. Aku akan baik - baik saja. Aku juga akan pergi untuk menemani Mirna."


" Kamu mau pergi ? Bersama Mirna? Memangnya kalian akan pergi kemana? Tanya Hasyeem kepo.

__ADS_1


" Adikkku Mirna dan keluarga Afdal akan pergi jalan - jalan bersama ke Air terjun. Nah.. kebetulan mereka mengajakku.. Jadi... aku ikut, deh! " kata Asmi sambil membalik tubuhnya sehingga menghadap ke Arah Pangeran Hasyeem.


Kedua kini saling menatap dalam diam.


Bibir Pangeran Hasyeem tak tahan untuk tidak mendarat di bibir Asmi yang merah merekah. Melabuhkan ciuman hangat di sana hingga yang punya bibir mengap - mengap seperti ikan kehabisan oksigen.


" Hmm, baiklah kalau begitu. Aku akan memerintahkan beberapa orang pengawalku untuk menjagamu, disana." Pangeran tampan itu mengusap lembut bibir Asmi yang sedikit bengkak akibat ciuman mereka tadi.


" Kamu terlalu berlebihan, Hasyeem sayang. Tak akan terjadi sesuatu padaku, percayalah! " kata Asmi.


Dia sebenarnya sedikit risih, jika Pangeran Hasyeem menempatkan para pengawalnya di dekat Asmi.


Pangeran tampan itu bangkit dari tidurnya. Dia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil terbuat dari kayu berbentuk segi empat dari kantong celananya. Terlihat ada ukiran yang indah pada tiap sisi kotak itu.


"Sayang, aku punya sesuatu untukmu." Pangeran jin yang tampan itu meraih tangan halus Asmi dan meletakkan kotak kayu kecil itu di atas telapak tangannya.


" Benda apakah ini, Pangeran?"


" Bukalah, dan kamu akan tahu apa isinya!"


" Pangeran, kalung ini sangat indah. Pastilah harganya sangat mahal. Aku rasa aku tak bisa menerimanya."


" Di dunia kami semua itu tak ada harganya. Mengapa kamu selalu risau akan semua pemberian dariku. Dengar dan patuhi saja ucapanku. Dan satu lagi, sayang, jangan menolaknya!" ucap sang pangeran dengan tegas. Terdengar seperti seorang raja yang sedang memberi titah kepada para pengawalnya.


Asmi tak mampu berkata-kata lagi. Mulutnya terbungkam oleh kata - kata Hasyeem barusan.


" Perhiasan itu ? Yang kamu beri padaku adalah sebuah perhiasan yang mahal, pangeran?


" Iya, aku tahu, dan aku ingin kamu memakainya!" kata sang pangeran.


Pangeran Hasyeem lalu memakaikan kalung bermata jambrut hijau itu ke leher Asmi. Kalung itu terpasang sempurna di leher jenjang Asmi yang mulus dan jenjang. Tampak indah dan memukau.


Pangeran Hasyeem menatap wanita cantik yang kini sedang tersipu malu sambil menunduk.

__ADS_1


" Sempurna....indah sekali !" pujinya dengan tatapan terpesona dan kagum akan kecantikan wajah kekasihnya.


Jarang sekali ada wanita di negerinya yang berwajah secantik Asmi. Memang baginya, wanita dari bangsa manusia terlihat lebih cantik dari pada wanita - wanita di negerinya.


"Terima Kasih, Pangeran. Tapi aku merasa risih dan tak pantas memakai perhiasan seindah dan semahal ini."


" Mengapa? kalung itu begitu pantas di pajang di lehermu yang jenjang. Aku tak mau tau alasanmu, aku mau kamu memakainya, sayang.!"


Asmi hanya bisa pasrah dengan mau sang kekasih yang sudah pasang mode otoriter. Berasa udah jadi istrinya Fir'aun.


...---...


Hari masih pagi, saat Asmi sudah berada di rumah Mirna. Mereka memutuskan berangkat pagi - pagi agar bisa tiba di sana tidak terlalu siang. Sehingga saat kembali nanti, hari masih menjelang sore. Bersama mereka berangkat dengan menggunakan mobil Mirna. Afdal yang bertugas sebagai sopir keluarga.


Perjalanan ke air terjun tidak terlalu jauh. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar satu jam, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan.


Semua turun dari mobil dan bergegas mencari tempat yang strategis untuk menggelar tikar sebelum keduluan oleh pengunjung lain. Maklum tempat ini ramai sekali oleh pengunjung terutama pada hari libur seperti saat ini.


" Mbak Asmi, . Mirna titip Nadia dulu. Si kecil lagi rewel minta nyusu."


" Iya, kamu ini, kayak dengan orang lain saja. Udah... tenang aja. Ayo Nadia, kita main air di dekat air terjun."


Asmi menarik tangan Nadia. Gadis kecil itu menurut saja ketika tangannya di tarik Asmi ke arah air terjun yang kini sudah mulai ramai oleh pengunjung.


" Tante,... airnya dingin.!"


" Iya, tapi.. disini banyak sekali ikan - ikan kecil yang berenang di antara bebatuan." Mata Asmi liar menatap ikan - ikan yang tampak sibuk berenang diantara batu - batu cadas di pinggir sungai di bawah air terjun.


" Tantee.. aku mau tangkap ikan!" Nadia berjalan cepat menghampiri Asmi.


" Yahh, ikannya keburu kabur, kalau kamu jalannya seperti itu.!' kata Asmi.


Keduanya kini berlomba-lomba untuk menangkap ikan - ikan kecil yang masih terus sibuk berenang di antara batu - batu.

__ADS_1


Asmi tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus mengawasi setiap gerak geriknya. Sepasang mata kelam milik sesosok makhluk tak kasat mata bergerak memindai setiap lekukan tubuh dan juga wajah cantik Asmi yang tersenyum sumringah, ketika tangannya berhasil menangkap seekor ikan.


" Hmm, menarik. Tugas kali ini sepertinya akan menyenangkan... " Segaris lengkungan terangkat dari sudut bibirnya. Kemudian dia melesat menghilang dari tempat itu.


__ADS_2