
" Hai." sapanya ramah sambil tersenyum manis. Jantung Panji seakan mau ledak. " Sarang hae, Luna! " katanya dalam hati.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata berbintik kuning di tengah, sedang menatap mereka. Tatapannya tak terbaca. Namun ada kilatan marah lewat pancaran netranya saat mendengar isi hati Panji.
Pemuda itu merasa kesal. Mengapa Luna masih belum mau mengatakan pada Panji tentang hubungan mereka. Perasaan kasihan dan cemburu menjadi satu dalam hatinya. Dia cemburu, saat melihat betapa tatapan memuja dari Panji pada gadis nya itu begitu terlihat.
Tangannya mengepal karena menahan kesal. Sungguh, baru kali ini pangeran yang tampan itu merasakan hatinya terbakar oleh cemburu.
Luna tersenyum manis menyambut kedatangan Panji. Gadis cantik Putri Amirah itu mempersilahkan Panji duduk di kursi yang tersedia di teras. Mereka berdua kemudian terlibat obrolan seru. Sementara hari sudah semakin beranjak malam.
" Luna, Apa kamu sudah mendengar kamar terbaru di desa ini? tanya Panji tiba-tiba pada Luna.
Kening Luna mengernyit mendengar pertanyaan Panji. " Maksud kamu tentang
kedatangan pocong yang menyatroni dan bergentayangan di rumah pamanmu yang bernama Juragan Barja itu ? " Luna balik bertanya.
Panji mengangguk. "Iya, dari mana kamu mengetahuinya? " Luna tersenyum mendengar pertanyaan Panji. " Tentu saja dari nenekku. " jawabnya.
" Hmm, kasihan sekali Paman Barja. Kami sudah berusaha yang terbaik buat menyembuhkan paman, tapi sampai sekarang belum membuahkan hasil. " Panji berucap sedih.
Dalam hati Luna yakin, bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di balik kedatangan pocong - pocong tersebut ke rumah Juragan Barja.
Luna terdiam sesaat. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. Kemudian gadis itu berucap. " Aku tahu seseorang yang mungkin bisa menolong pamanmu. Tapi aku ragu, apakah dia mau menolong mu atau tidak." kata Luna. Dia teringat pada Pangeran Alyan. Dia yakin sekali bahwa kekasihnya itu pasti bisa menolong Juragan Barja, namun dia ragu apakah Pangeran Alyan mau menolong pamannya Panji itu.
" Siapa? " Panji terlihat bersemangat ketika mendengar ucapan Luna yang mengatakan bahwa ada seseorang yang bisa menolong pamannya.
" Pangeran.... eh.. maksudku Alyan. " Luna yang keceplosan hampir membongkar identitas Pangeran Alyan. Untung saja Panji tidak curiga sama sekali terhadapnya.
" Alyan, Maksudmu Alyan sahabatmu yang sering bersamamu itu? Apakah dia memiliki kesakitan seperti paranormal?" tanya Panji.
Selama ini Panji menyangka jika Pangeran Alyan adalah sahabat Luna. Walaupun berkali-kali dia sering memergoki keduanya terlihat bersama. Namun, sama sekali dia tak menaruh curiga. Lantaran selama ini, Luna tak pernah mengatakan pada Panji siapa Pangeran Alyan sebenarnya.
" Bukan, dia bukan paranormal. Tetapi aku yakin dia bisa mengobati penyakit pamanmu dengan mudah. " jawab Luna.
" Tentu saja dia bisa dengan mudah mengobati penyakit pamanmu, karena dia seorang jin. " Kata Luna dalam hati.
Diam - diam seseorang yang sedang mengawasi kedua anak muda yang sedang mengobrol itu, tersenyum saat mengetahui gadis nya sedang membicarakannya. Entah mengapa, hatinya berbunga - bunga senang. Dia tahu, hatinya Luna untuk siapa.
" Luna, maukah kamu mengantarkan aku ke rumah orang itu. Tolonglah, ini demi pamanku. Kasihan sekali keadaannya. " pinta Panji dengan memelas.
Mendengar permintaan Panji, Luna menjadi serba salah. Dia masih belum tahu, apakah Pangeran Alyan bersedia untuk menolong Panji.
" Luna! " seseorang memanggil namanya, membuat Luna mengangkat wajahnya.
" Alyan.! Astaga...panjang umur." serunya senang. Sedangkan Panji menatap tak suka ke arah Pangeran Alyan. Mengapa pemuda ini datang juga ke sini? pikirnya.
" Rupanya kamu di sini. Aku tadi ke rumahmu. Tapi kata adikmu, kamu sedang pergi ke rumah nenekmu." kata Pangeran Alyan. Luna meringis sambil menatap ke arah kekasihnya itu. Andai tak ada Panji di sana, sudah sejak tadi dia akan berlari kedalam pelukan Pangeran Alyan.
__ADS_1
" Eh, iya. Nenek menelpon beberapa hari yang lalu. Beliau memintaku untuk datang kemari, karena nenek merasa takut akan isu tentang pocong yang menyerang rumah warga.
" Pocong? " kini, kening Pangeran Alyan yang berkerut. Dia teringat akan perkataan ayahnya. Pocong itu adalah semacam setan yang bentuknya mirip seperti guling dewasa. Namun tubuh mereka dalam posisi terikat dengan ikat kepala yang masih terikat di atas kepala mereka. Gerakan mereka terlihat seperti
orang yang melompat namun tidak menyentuh tanah.
Sebenarnya, mereka adalah sebangsa jin kafir yang menyerupakan diri seperti itu. Mereka menyesatkan manusia yang imannya lemah. Menggoda anak manusia ke jalan yang sesaat.
" Baiklah, apa maksud perkataanmu dengan panjang umur? Apakah kalian sedang membicarakan aku? " tanya Pangeran Alyan. Dia pura-pura bertanya demikian, padahal sebenarnya dia sudah tahu, bahwa dirinyalah yang sedang mereka bicarakan.
Luna nampak salah tingkah, sedangkan Panji menatap tajam ke arah Pangeran Alyan. " Apakah sungguh kamu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan seseorang yang kerasukan atau kesambet setan? " tanyanya serius.
Pangeran Alyan memandang Aluna seakan bertanya kepada gadis itu. " Aku tadi bilang padanya bahwa mungkin kamu bisa mengobati pamannya itu. "
" Iya, seperti itu yang Luna katakan padaku. Makanya aku sekarang bertanya padamu, apakah kamu sungguh bisa melakukannya. Karena aku dan keluargaku sangat berharap sekali bisa menemukan orang yang bisa mengobati pamanku itu. " katanPanji sendu.
Pangeran Alyan menarik napas panjang. Sejurus kemudian pandangannya beralih pada Panji. " Baiklah, aku akan menolongmu. Mungkin benar yang dikatakan Aluna. Aku mungkin bisa mengobati Pamanmu. Tapi tidak malam ini. "
" Kapan kamu bisa datang untuk mengobati pamanku? " tanya Panji dengan tidak sabar.
" Besok malam, bertepatan dengan malam jum'at. " Panji mengangguk setuju. Dia pikir, ada baiknya mencoba. Siapa tahu, Alyan bisa mengobati sang paman.
" Baiklah, apa ada syarat lainnya? " tanya Panji lagi.
" Aku hanya minta di siapkan bunga tujuh rupa, air sungai yang diambil dari pertemuan tiga arus sungai yang mengalir. Serta darah ayam yang berwarna hitam." pinta Pangeran Alyan.
" Insya Allah, kita lihat saja besok. " kata Pangeran Alyan seraya menepuk bahu pemuda itu.
" Baiklah kalau begitu. Aku mau pamit pulang dulu. Terima kasih atas bantuan kalian. Assalamu'alaikum. " pamit pemuda pada Pangeran Alyan dan Aluna yang mengangguk bersamaan melepas kepergian Panji.
Selepas kepergian Panji, Pangeran Alyan mendekati Aluna. Pangeran Jin bermata coklat itu mencium bibir kekasihnya sekilas, manis. " Mengapa nona bulan merah tak mau mengakui aku sebagai kekasihnya pada pemuda itu? " tanya Pangeran Alyan yang sukses membuat Luna menjadi gugup dan tak mampu menjawab.
" Aku.., .... aku merasa tak tega. Aku takut menyakiti hatinya." ucapnya lirih.
" Lalu, yang kamu lakukan tadi, apa kamu pikir itu tidak menyakiti hatiku? " tanya Pangeran Alyan. Luna menatap wajah kekasihnya dengan pandangan bersalah. " Maafkan aku! " ucapnya penuh rasa bersalah. Ada sebarkas bening yang mengerjab di sudut mata lentiknya.
Pangeran Alyan benci akan hal itu. Dia paling tak suka jika melihat wanitanya menangis. " Jawablah lamaranku, maka barulah aku akan tenang. "
Kening Aluna naik segaris. " Lamaran? Tapi kapan kamu melamarku, pangeran? "
Pangeran Alyan memeluk pinggang Aluna. " Sayang, aku pernah mengajakmu menikah saat kita berkencan di atas bukit di Hutan Larangan. Apa kamu ingat sekarang? "
Aluna menepuk jidatnya. " Astaga... pangeran. Aku pikir hal itu hanya bercanda. Aku tak pernah menyangka jika ternyata kamu serius melamarku. "
" Sayang, aku seorang pangeran. Aku tak pernah main - main dengan ucapanku. Apa yang aku ucapkan adalah memang kebenaran. Jadi, Nona Aluna, Maukah kamu menikah dengan ku? " tanya Pangeran Alyan seraya berlutut menatap Aluna penuh cinta.
Mata Aluna berkaca - kaca. Dia tak tahu harus berkata apa. Rasanya tak percaya tapi ini memang benar-benar terjadi. Dia dilamar oleh pangeran Alyan.
__ADS_1
Aluna tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis terharu seraya memeluk Pangeran Alyan. " Aku mau, Pangeran. Aku bersedia." jawabnya.
Pangeran Alyan balas memeluk kekasihnya dengan perasaan bahagia sekaligus juga terharu. Akhirnya dia mendapatkan cintanya. Kekasih hati sudah bersedia menerima lamarannya. Hatinya merasa lega. Dia tak akan merasa khawatir lagi, jika Luna akan menolaknya. Karena kini dia yakin, cinta Aluna hanya untuk dirinya.
Saking bahagianya, Pangeran Alyan berkali-kali mencium pucuk kepala Aluna yang masih betah berada dalam dekapannya. " Pangeran, jangan seperti ini. Nanti ada orang yang melihat kita. Kita bisa di tangkap dan diadili penduduk sekampung. Karena dikira berbuat mesum. " bisik Aluna.
Pangeran Alyan terkekeh pelan. Lalu dalam sekejap, pangeran tampan putra dari Pangeran Hasyeem itu menghilang dari pandangan mata. Bersamaan dengan menghilangnya tubuh Pangeran Alyan dari tempat itu, tubuh Aluna juga menghilang. Kini yang tinggal hanya halaman rumah nenek Luna yang sepi.
.... ------...
Keesokan harinya, Panji kembali datang ke rumah Aluna. Pemuda itu menanyakan keberadaan Pangeran Alyan yang berjanji akan mengobati Sang Paman.
Saat ini adalah malam Jumat. Malam yang dijanjikan oleh Pangeran Alyan untuk datang dan bertemu dengan Juragan Barja. Juragan Sapi yang merupakan Paman Si Panji itu keadaan nya masih sama seperti kemarin. Bahkan sudah sejak sore tadi, Lelaki paruh baya itu melihat penampakan pocong di mana - mana, membuat lelaki itu berteriak - teriak seperti orang gila.
" Luna, apakah Alyan sudah datang? " tanya Pemuda itu sesaat setelah turun dari motor. Luna hanya menggeleng.
" Apakah kamu punya nomor handphonenya? " tanya Panji. Kembali Aluna menjawab dengan celengan kepala.
Panji mengeryitkan alis. Baginya satu lagi keanehan yang dijumpai dari kedua orang temannya ini. Keduanya tidak pernah memiliki yang namanya handphone.
Luna menggerutu dalam hati. Bagaimana di negeri jin, semuanya mereka yang tinggal di sana, belum mengenal yang namanya tekhnologi. Jadi jangankan Handphone, listrik saja tidak ada.
" Assalamu'alaikum. Maaf, aku agak sedikit terlambat. Ada sedikit masalah tadi" kata Pangeran Alyan.
Luna bernafas lega karena kedatangan Pangeran Alyan dapat menyelamatkan dia dari sifat ingin tahunya Panji. Pangeran Alyan lalu mendatangi Panji yang terlibat cemas.
Pangeran Alyan. menepuk bahu Panji. Dia tahu pemuda itu sedang mencemaskan pamannya dan takut jika dia tak datang untuk menepati janji. " Ayo , teman. Antarkan aku ke rumah Pamanmu, sekarang! "
Wajah Panji berbinar senang. Dengan cepat dia menyalakan motornya.
" Kamu duluan saja, aku dan Luna memgikutimu dari belakang! " kata Pangeran Alyan.
" Tapi, kalian ke rumahku naik apa? " Panji heran karena dia tak melihat satupun kendaraan yang bisa mereka berdua gunakan.
" Jalan kali! " jawab keduanya.
" Tapi...."
" Pergilah....kami akan menyusul mu..!" Walaupun terdengar aneh tapi Panji mematuhi perkataan Alyan.
Dia melajukan motornya kembali ke rumah. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika tiba di rumah, tampaknya olehnya Pangeran Alyan dan Luna sudah berdiri di depan rumahnya.
" Kalian..! " Pemuda itu terpana takjub. Bagaimana bisa Luna dan Alyan sudah berada di depannya, sedangkan tadi mereka masih berada di belakangnya.
" Ayo, Panji. Cepatlah... antarkan kami ke tempat pamanmu! " Suara Aluna memecahkan ketertegunan Panji. Pemuda itu segera memarkirkan motornya dan berjalan mendahului keduanya.
" Ayo, ikuti aku! "
__ADS_1