
"Pangeran.... makhluk itu menyerangku! " seru Luna yang kini bergerak menghindari serangan makhluk itu.
Alyan melesat cepat memasuki kamar Luna.
" Luna, kemarilah. Berlindung di belakangku! " seru Pangeran Alyan sambil bersiap menghunus pedangnya.
Mata makhluk itu nyalang menatap Aluna dan Alyan.
Kegaduhan di kamar Luna membuat penghuni rumah yang lain terbangun. Mereka buru-buru menengok keadaan Luna di dalam kamarnya.
Alangkah terkejutnya mereka, saat menemukan sesosok makhluk yang berwajah mengerikan hadir di kamar Luna.
" Makhluk apa itu, Luna...!Luna, awaasss! " teriak Sang nenek yang melihat cucunya Aluna dan seorang pemuda sedang bergelut melawan makhluk yang sosoknya mirip dengan iblis itu.
Mereka segera berteriak minta tolong kepada warga yang lain dan segera berlari ke luar rumah.
" Luna, Awas! makhluk itu di belakang kita! " seru Alyan saat makhluk itu menghilang dan muncul lagi di belakang mereka.
Segera Alyan membawa tubuh Aluna melesat ke atas lalu melesat terbang keluar menuju ke pekarangan rumah.
Makhluk itu juga menghilang dan muncul kembali di pekarangan rumah, menyusul Alyan dan Aluna. Tampaknya dia murka karena merasa dipermainkan oleh Alyan dan Aluna.
" Arghhh!! Serahkan wanita itu! " Serunya murka saat melihat Alyan kini berdiri di depan tubuh Aluna seolah - oleh menjadi tameng melindungi gadis itu dengan pedang terhunus.
" Makhluk ....makhluk itu bisa berbicara seperti manusia, Pangeran! " seru Luna yang shock karena mendengar makhluk itu bisa berbicara.
" Tentu saja dia bisa, Luna. Dia juga manusia. Sama seperti kita. Hanya saja dia berubah seperti itu karena pengaruh ilmu sesat yang dipelajarinya."
"Jadi Pangeran sudah tahu, bahwa makhluk itu makhluk jadi-jadian? "
" Tentu saja aku tahu, dan kini tugasku adalah melindungimu dan ibuku. Tapi, untuk ibuku, aku percaya jika ayahku akan sanggup untuk melindunginya."
Merasa tak digubris, makhluk itu kembali menyerang Alyan dan Luna. Berdua, mereka menghadapi makhluk itu bersama - sama.
Aluna menyerang makhluk itu dari arah depan. Sedangkan Alyan menyerang dari arah Belakang.
Namun, rupanya makhluk itu lebih cerdik lagi. Dia menghilang secara tiba-tiba saat Luna berniat kembali hendak melancarkan serangan.
Tiba-tiba, makhluk itu muncul secepat kilat di belakang tubuh Aluna.
Arrrggghhh! Makhluk itu berhasil mencengkram bahu kiri Aluna dan menancapkan kuku - kukunya yang runcing dan tajam ke bahu gadis itu.
Alyan yang melihat hal itu berusaha untuk membebaskan Aluna dari cengkraman makhluk itu.
Crass! pedang Alyan menebas lengan makhluk itu. . Lengan kanan makhluk itu nyaris putus oleh tebasan pedang Alyan.
Makhluk itu meraung marah karena merasakan rasa sakit dan nyeri di lengannya.
" Pangeran, pedangmu berhasil melukainya! " kata Luna.
" Benar, tapi makhluk itu masih kuat bertahan. Hati - hati Luna, makhluk itu semakin kalap !!"
Benar saja, makhluk itu kini semakin kalap menyerang keduanya, hingga membuat Aluna dan Alyan tampak kewalahan.
Warga pun semakin banyak yang berdatangan. Mereka ingin melihat menyaksikan Aluna, cucu dari Bu Endang dan temannya yang sedang berhadapan dengan makhluk jadi - jadian yang selama ini selalu menyerang warga.
Pertempuran itu berlangsung lama hingga fajar menjelang. Suara kokok ayam jantan membuat makhluk itu menghentikan serangannya. Makhluk itu menghilang secara tiba-tiba dari hadapan mereka.
__ADS_1
Alyan yang tidak mau kehilangan buruannya, cepat - cepat mengikuti makhluk itu. Namun, kembali dia kehilangan jejak. Makhluk itu lenyap tak berbekas di antara kegelapan hutan larangan.
Sementara, Aluna tidak ikut mengejar makhluk. Gadis itu terduduk lemas, karena kehabisan tenaga dan juga kehilangan banyak darah.
Tak lama kemudian, Aluna pingsan tak sadarkan diri. Alyan yang sudah kembali ke tempat itu, buru-buru mengangkat tubuh Aluna dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Warga yang melihat pun, buru-buru memberikan pertolongan kepada gadis cantik itu. Namun mereka tak bisa melakukan apa - apa, karena luka di tubuh gadis itu cukup serius.
Luka yang di derita oleh Aluna di bahu kirinya memang cukup parah. Bahu gadis itu robek akibat cengkraman kuku - kuku makhluk itu. Luka itu terbuka lebar, menganga dan dalam serta tak berhenti mengeluarkan darah.
" Duh, gusti. Gimana ini. Kasihan sekali keadaan cucuku..." isak Bu Endang.
Alyan memeriksa keadaan Luna dengan teliti. Setelah memastikan keadaan gadis itu maka Alyan memberanikan diri untuk meminta izin membawa Aluna ke istana Bukit Duri.
" Nek, bolehkah saya membawa Luna kembali ke tempat ayahnya.? " kata Alyan.
" Mengapa ? .... apa tidak bisa di obati di sini. Di sini banyak dokter. Bagaimana kalau kita bawa saja Luna ke rumah sakit? " tanya Bu Endang.
" Luka Aluna cukup serius, dan lagi pula, luka bekas cakaran makhluk itu mengandung bisa yang bisa membuat tubuh Luna keracunan dan mati. Yang lebih buruk lagi adalah dia bisa saja berubah menjadi seperti makhluk itu juga." kata Alyan menjelaskan dengan sabar kepada Bu Endang masalah yang akan di hadapi oleh Aluna.
Bu Endang membekap mulutnya, tak ingin mempercayai akan nasib buruk yang bakal menimpa Sang cucu di kemudian hari. Air matanya mengalir deras di pipinya yang sudah mulai keriput. Sedih hatinya memikirkan nasib Sang cucu.
-
-
-
Tubuh Aluna di baringkan di atas pembaringan. Gadis itu masih belum sadarkan diri sejak kemarin. Luka bekas cakaran makhluk itu kini sudah terlihat menghitam. Juga daerah di sekitar bahu Aluna hingga lengan bagian bawah, semuanya berwarna kehitaman.
Akhirnya nenek Luna, Bu Endang mengizinkan Alyan membawa Luna kembali ke kediaman Sang ayah di Bukit Duri karena melihat kondisi Sang cucu yang mengkhawatirkan.
"Bisakah kamu menjaga Aluna sebentar, karena aku harus menemui seorang. Paman rasa hanya dia yang bisa mengobati Aluna. Aku harus bergerak cepat, karena kita hampir kehabisan waktu."
" Tak masalah, Paman. Aku selalu siap sedia untuk menjaga Aluna." kata Alyan.
Ammar segera pergi menemui seseorang yang dia tahu dapat mengobati luka yang dialami oleh Aluna. Seorang teman lama yang berada jauh di Negeri Panda, yaitu negeri China.
-
-
-
Ammar memasuki sebuah bangunan berbentuk wihara yang jika terlihat ramai oleh para Biksu yang lalu lalang di tempat itu. Namun, oleh mata biasa manusia, hanyalah berupa kuil tua yang tidak terurus dan terbengkalai.
" Salam, biksu. Dimana saya bisa menemui Biksu Campala." tanya Ammar dengan sopan kepada salah seorang biksu yang lewat.
" Biksu Campala saat ini sedang bermeditasi tak bisa diganggu !" jawab biksu tersebut.
" Tolonglah saya, biksu. Nyawa putriku sedang dalam bahaya. Jika aku tak segera menemui Biksu Campala , maka anakku tidak dapat terselamatkan." pinta Ammar dengan sangat, berharap biksu itu mau bermurah hati untuk menolongnya.
Biksu itu menatap Ammar dengan seksama. Matanya tajam, jauh menelisik ke dalam sanubari Ammar. Tak ada kebohongan di sana. Yang ada adalah hati seorang ayah yang sedang mencemaskan keadaan putrinya.
" Biksu Campala saat ini berada di atas puncak pegunungan Himalaya. Dia sedang bertapa di mata air keabadian. Jika anda beruntung, anda bisa menemui beliau di sana." kata Biksu tersebut.
Setelah mohon diri, Ammar kemudian meneruskan perjalanannya ke Puncak Himalaya untuk menemui Biksu Campala.
__ADS_1
Puncak Himalaya atau yang terkenal dengan sebutan " Mount Everest" merupakan puncak tertinggi di dunia yang terletak di sebelah barat Dataran tinggi Nepal dan berbatasan langsung dengan China.
Ketinggian gunung Himalaya mencapai 884.886 m dari permukaan laut membuat gunung itu selalu diselimuti oleh salju abadi. Salju tersebut tak pernah mencair walaupun sudah beribu-ribu tahun lamanya.
Di sebelah Utara Pegunungan Everest, jauh tersembunyi agak ke dalam. Terdapat sebuah gua kecil yang terletak di celah air terjun shangri-la.
Ammar memasuki celah tersebut, yang menurut keterangan biksu yang ditemukan Ammar adalah jalan masuk menuju gua tempat pertapaan biksu Campala.
Di dalam gua itulah terletak mata air keabadian yang barang siapa berhasil meminumnya akan memiliki umur panjang dan keabadian.
" Siapakah saudara ini. Mengapa sampai saudara berada di tempat ini? "
Ammar melihat seorang lelaki sedang duduk bersemedi di atas sebuah batu besar yang bentuknya mirip seperti sebuah meja besar. lelaki itu membuka matanya dan menatap kearah Ammar dengan sorot mata tajam.
" Namaku Ammar. Aku datang kemari untuk menemui Biksu Agung Campala. " jawab Ammar.
" Ada kepentingan apa, hingga ingin menemui biksu Campala?" sebuah suara yang Ammar yakin berasal dari tenaga dalam tingkat tinggi terdengar menyapa gendang telinga Ammar.
" Maafkan aku, Biksu agung. Maksud kedatanganku kemari adalah memohon pertolongan anda. " jawab Ammar.
" Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu, wahai saudarku?" tanya biksu itu lagi.
" Putriku sedang sakit parah sekarang ini.Nyawanya sedang terancam jika penyakitnya tidak segera diobati."
" Hmm, kalau boleh aku tahu, penyakit apa yang sedang diderita oleh putrimu? " tanya biksu tersebut.
" Putriku terkena racun akibat cakaran dari makhluk baik - Jadian yang menyerangnya. " jawab Ammar.
" Luka bekas cakaran itu ternyata mengandung racun yang membuat putriku tidak sadarkan diri dan separuh lengannya yang sebelah kanan sudah menghitam mulai dari bahu hingga ke ujung jarinya."
" Apakah makhluk yang menyerang putrimu itu sosoknya menyerupai iblis?" tanya Sang biksu. Ammar mengangguk dengan cepat membenarkan pertanyaan biksu tersebut.
" Bisa iblis kala. Putrimu terkena racun dari makhluk yang bernama Iblis Kala. Makhluk jadi - jadian yang berasal dari manusia yang berwujud seperti iblis. Mereka adalah penganut ilmu Hitam dan bersekutu dengan raja iblis Lucifer. Mereka adalah manusia yang ingin hidup abadi." kata biksu tersebut sambil menghela nafas dalam.
" Lalu, apa yang harus aku lakukan, biksu. Tolonglah putriku. Kami juga baru saja berduka. Istriku, ibu dari putriku itu baru saja meninggal dunia oleh makhluk yang sama. " kata Ammar dengan raut wajah yang sedih dan hampir putus asa.
" Baiklah, aku akan menolongmu untuk menyembuhkan putrimu. Bawalah air dari sumur mata air keabadian ini. Minumkan dan oleskan pada luka di tubuh putrimu. Mudah - mudahan Tuhan memberikan kesembuhan pada putrimu." kata biksu tersebut.
Ammar mengambil sebotol kecil air dari sumur mata air keabadian yang ada di hadapannya. Setelah itu dia mohon diri sambil tak lupa berterima kasih kepada biksu tersebut.
...-----...
Ammar tiba kembali di istananya, sesaat setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada biksu Campala.
" Paman Ammar, bagaimana? Apakah paman sudah berhasil menemukan obat untuk menyembuhkan Aluna? " tanya Alyan dengan tidak sabar.
Dia sangat mencemaskan kekasihnya yang sampai kini belum juga sadar.
Ammar kembali memeriksa luka di tubuh Aluna. Kini separuh tubuh Aluna sudah menghitam.
" Alyan, cepatlah kamu minumkan air ini pada Luna. Kita sudah tak ada waktu lagi. Mudah-mudahan racunnya belum mencapai jantung."
Alyan segera meminumkan air itu pada Aluna. Segera setelahnya, Ammar membasuh seluruh luka di tubuh Luna dengan air dari sumur mata air keabadian itu.
Ajaib...! setelah meminum air dari sumur mata air keabadian itu dan membasuh semua luka ditubuhnya, secara perlahan-lahan tubuh Luna yang menghitam berubah menjadi seperti sedia kala. Juga luka akibat cakaran makhluk itu, pun lenyap tak berbekas.
Hueekkkkkk! Huekkkk! Luna terbangun dan langsung memuntahkan darah yang berwarna kehitaman dari mulutnya.
__ADS_1
" Aluna! " seru Alyan dan Ammar bersamaan.