
Alyan segera memeluk Aluna dan berusaha menenangkan gadis itu.
" Cup..cup..cup. Jangan menangis, Luna! aku akan menjagamu! Kamu jangan takut, ya! kita akan segera menemukan jalan pulang." bujuk Alyan pada Luna.
Gadis kecil itu mengangguk. Dia percaya bahwa bocah lelaki itu akan menemukan jalan dan membawanya kembali ke pulang ke rumah.
Sementara itu di istana pangeran Hasyeem, seorang wanita tampak sedang gelisah. Hari sudah semakin beranjak sore, namun sang buah hati belum juga kembali.
Dia sudah mengutus seorang dayang istana untuk memanggil sang putra, dan sekarang kata - kata sang dayang istana itu telah membuatnya cemas setengah mati.
" Maaf hamba yang mulia ratu, tapi pangeran Alyan dan nona Aluna tidak ada di taman. Kata penjaga mereka terlihat sedang bermain kejar - kejaran sambil berlatih ilmu lari cepat, yang mulia." lapor dayang istana.
Asmi mendadak cemas. Mereka bermain kejar- kejaran dengan ilmu lari cepat. Apa tidak salah?
" Ah, kalau begini, aku juga kan yang repot. Aku sudah bilang sama ayahnya, agar tidak melatih putra kesayangannya dengan ilmu kanuragan. Nah... kini, dia mana tahu, kalau putranya dari tadi belum pulang! " pikir Asmi kesal.
" Hmm, kenapa kamu marah padaku, sayang? " sebuah suara yang dia kenal sudah hadir di telinganya. Aahhh.. dia lupa kalau suaminya itu bisa mendengar isi hati dan membaca pikirannya.
" Pangeran Alyan, sayang! aku mencemaskan putra kita. Dari tadi dia bermain dengan Luna, namun hingga kini belum kembali. Kata dayang, menurut penjaga yang melihat mereka, putra Kita dan Aluna terlihat bermain kejar - kejaran sambil berlatih ilmu lari cepat yang kamu ajarkan. Sayang, ini sudah sore, dan mereka belum kembali. Aku cemas... takut terjadi sesuatu dengan mereka!" kata Asmi.
Asmi menangis kesal karena cemas. Dia sangat menyayangi pangeran Alyan dan juga anak-anaknya yang lain. Hingga jika terjadi sesuatu yang menimpa mereka, dia tak akan rela.
" Sudah, jangan cemas! aku akan minta pengawal untuk mencari mereka!" tenanglah... jangan terlalu khawatir. Aku sudah membekali putra kita dengan kemampuan bela diri yang cukup. Sekarang.. kamu sedang hamil, sayang. Jangan terlalu cemas, aku takut akan berdampak buruk pada kehamilanmu..!"
Asmi mengangguk pasrah. Pangeran Hasyeem membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
" Tenanglah... jangan menangis! aku akan mencari putra kita! "
Setelah menenangkan sang istri, pangeran Hasyeem keluar menuju taman istana. Dia menemui penjaga istana yang terakhir kali melihat sang putra bermain di sana.
" Kapan kamu melihat putraku bermain di sini? "
" Maafkan hamba, tuanku. Hamba melihat pangeran Alyan dan nona Aluna tadi siang. Mereka bermain petak umpet dan kemudian berlatih ilmu lari cepat ke atas sana! " kata pengawal sambil menunjuk ke atas.
Pangeran Hasyeem manggut-manggut mendengar keterangan sang pengawal. Dia menduga ada yang tidak beres pada putra kesayangannya itu.
" Pengawal , panggil beberapa pengawal lainnya dan segera ikut aku! kita cari pangeran Alyan dan Aluna!" titahnya.
" Segera, Tuanku! " pengawal itu segera pergi memanggil beberapa orang pengawal lainnya, bersama - sama dengan pangeran Hasyeem mereka pergi mencari tuan muda mereka pangeran Alyan.
Sementara itu Alyan dan Aluna sedang berusaha untuk mencari jalan pulang.
Di tengah perjalanan, mereka kembali di hadang oleh lelaki tadi. Kali ini dia bersama dengan dua orang temannya. Yang juga seorang penyihir. Rupanya lelaki tadi tidak menyerah untuk mendapatkan Alyan dan Luna.
Rupanya para penyihir dari bangsa jin juga sedang berlomba - lomba untuk mendapatkan hadiah dari penguasa hutan larangan.
" Hahaha, mau kemana lagi kalian. Kali ini kalian tak akan bisa lolos! Ja'far, Maliq, kalian kepung kedua anak jelmaan jin itu! " kata lelaki itu.
" Kanda, apakah mereka anak yang sedang kanda cari? "
" Benar sekali! merekalah pundi - pundi emas kita! para penyihir dan penguasa hutan larangan bersedia membayar mahal untuk kepala mereka, terutama yang laki-laki! " kata lelaki itu.
__ADS_1
" Kalau begitu, tunggu apa lagi, kanda Ayo kita kepung mereka agar tidak bisa lolos lagi! "
Bertiga, mereka mengepung Alyan dan Aluna. Alyan menatap ketiganya satu persatu. Tidak ada ketakutan yang terpancar dari matanya.Sedikit pun tak ada rasa gentar di hati anak itu. Dia menarik tubuh Aluna agar berada di sebelahnya.
" Aluna, tetap di sisiku. Aku akan menghadapi mereka! "
" Kita hadapi bersama, pangeran. Aku akan membantumu mengalahkan mereka! " bisik Aluna.
Keduanya kini tengah bersiap-siap untuk menghadapi kepungan dan serangan dari lelaki itu dan dua orang temannya.
" Hahaha, Ayo kita serang bersama anak jelmaan jin ini. Ingat jangan pandang remeh kemampuannya. Serang dia dengan segenap kemampuan kalian!" kata lelaki itu kepada dua orang temannya.
Segera mereka menyerang dan mengepung Alyan dan Aluna. Terjadilah perkelahian yang terlihat aneh. Tiga orang lelaki dewasa mengeroyok dua orang bocah kecil ingusan.
Sungguh jika dilihat, tentulah orang akan tertawa dan pasti mencibir kepada ketiga orang dewasa itu.
Serangan demi serangan berhasil dipatahkan oleh kedua bocah kecil itu. Walaupun kecil, mereka sudah dibekali oleh Pangeran Hasyeem ilmu kesaktian karena Pangeran Hasyeem sudah dapat meramalkan, mereka akan berhadapan dengan hal seperti sekarang ini.
Hiaatt.. ! wusss! pukulan lelaki itu sekali lagi hanya mengenai angin.
Ketiga lelaki itu merasa geram. Mereka merasa di kecoh dan dipermainkan oleh kedua bocah itu.
Salah seorang di antara mereka kemudian membaca sebuah mantra. Dalam sekejap di hadapan Alyan dan Aluna bermunculan makhluk - makhluk berwajah mengerikan.
" Kepung dan tangkap mereka! kalau perlu, bunuh sekalian! aku butuh kepala kedua bocah itu! " kata lelaki itu dengan geram. Segera makhluk - makhluk mengerikan itu mengepung dan menyerang Alyan dan Aluna.
Kini, kedua bocah sakti itu berbalik kerepotan menghadapi para pengeroyoknya. Mereka harus menghadapi ketiga orang penyihir itu dan juga makhluk jadi - jadian hasil ciptaan penyihir itu.
Alyan menatap ke arah makhluk makhluk mengerikan yang kini semakin banyak mengepung mereka.
Kembali keduanya terlibat perkelahian hebat menghadapi semua pengeroyok mereka yang kini semakin kalap.
Namun, sehebat-hebatnya kedua bocah itu, mereka tetaplah hanya anak - anak.
Tak butuh waktu lama, ketiga penyihir itu berhasil meringkus kedua bocah itu. Mereka tertawa senang karena berhasil mengalahkan kedua bocah itu.
" Huh, akhirnya takluk juga mereka! cepat ikat keduanya! jangan biarkan mereka lolos lagi! " kata lelaki itu.
Salah seorang dari ketiga penyihir itu mengeluarkan tongkat sihirnya dan segera mengikat keduanya dengan tali ghaib.
" Tenang, kanda. Aku sudah mengikat kedua bocah itu dengan ikatan ghaib. Mereka tak akan bisa berkutik lagi! "
" Bagus! sekarang kita bawa mereka ke hutan larangan! Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan hadiahku! "
Ketiga penyihir akan beranjak meninggalkan tempat itu dan membawa kedua bocah tersebut ketika, ...
" Mengapa terburu-buru? kalian melupakan aku! "
Ketiga penyihir itu menoleh bersama. Wajah mereka pucat seketika ketika melihat siapa yang berkata barusan.
" Ayah!! seru Alyan.
__ADS_1
" Pangeran Hasyeem! "
Sretttt!! pedang emas pangeran Hasyeem bergerak cepat membabat ketiga penyihir tersebut tanpa sempat mereka berkelit.
" Akhhh!!! " jerit mereka bersamaan. Tubuh ketiga penyihir itu roboh dan terpotong menjadi dua bagian. Lalu kemudian perlahan-lahan lenyap tak berbekas seperti abu tertiup angin.
" heh, silahkan ambil hadiah kalian di neraka!! "
Para pengawal pangeran Hasyeem segera membebaskan kedua bocah itu dari ikatan ghaib mereka.
"Hm, bocah nakal! kau membuat ibumu cemas!" kata pangeran Hasyeem pada Alyan.
" Maafkan aku, ayah! Aku tidak tahu jika bakal terjadi seperti ini."
" Sudahlah, Jadikan ini pelajaran bahwa kalian berdua harus lebih waspada lagi! masih banyak di luar sana, musuh - musuh yang mengincar nyawa kalian! " ucap sang ayah Alyan kepada kedua bocah itu.
Keduanya mengangguk bersamaan.
" Paman! bolehkah aku memohon sesuatu? " tanya Aluna pada pangeran Hasyeem.
" Hm, katakan. Apa itu, Luna! "
" Tolong katakan pada ayah dan ibuku, agar jangan marah padaku. Aku berjanji tak akan nakal lagi! " kata gadis kecil itu menatap pangeran Hasyeem dengan sorot mata menghiba.
" Baiklah, nanti paman yang akan bicara pada kedua orang tuamu! " jawab pangeran Hasyeem.
" Ayo kita pulang! Ayah takut bundamu akan menghukum kita semua! kalian tahu sendiri jika bunda kalian sudah marah, semua bisa kacau! "
Keduanya bocah itu mengangguk kemudian bersama mereka meninggalkan tempat itu.
...----...
Di Istana pangeran Hasyeem, seorang wanita terlihat sedang berdiri menatap ke arah luar. Pandangannya jauh menyentuh ke taman istana.
Terlihat sekali bahwa wanita cantik itu sedang berpikir. Siluet tubuhnya terbentuk indah walaupun tubuhnya sedang hamil.
Asmi, wanita cantik itu adalah Asmi. Ratu istana bukit Malaikat. Dia sedang memikirkan bagaimana nasib putra sulungnya. Haruskah putranya itu setiap hari hidup dalam bahaya. Mengapa takdir begitu kejam pada sang putra menuliskan garis tangan yang begitu keras padanya.
Setetes air mata jatuh di sudut bening matanya yang indah.
Sesosok lelaki bertubuh tegap berjalan mengendap di belakang wanita itu.
" Hmm, rupanya ratuku yang cantik sedang berada di sini. Apa yang membuat hatimu gusar? " tanya lelaki itu.
Kemudian dia membalikan tubuh wanita cantik itu hingga posisinya kini berhadapan dengan wanita itu.
Tubuh kekar pangeran Hasyeem mengukung tubuh mungil Asmi.
Segera matanya menelisik dalam ke titik terdalam netra indah sang istri.
__ADS_1
" Jangan lagi bersedih atas garis takdir putra kita. Karena jika yang maha kuasa sudah menentukan demikian, maka selalu akan ada pertolongan Allah padanya. Percaya dan serahkan semua kepada Allah yang mengatur dan menentukan nasib dan takdir manusia." kata sang pangeran dengan lembut.