
" Putri... aku mau menagih janji. " kata Andros.
Kening putri Arryan berkerut mendengar ucapan Andros. " Janji apa..? "
" Janji, bahwa setelah ini kamu akan menikah denganku. Dan ayahnu juga sudah menyetujuinya."
" Apa...? ".....
Putri Arryan hanya bisa mengerutkan alis namun tak urung dia juga tersenyum. Rupanya sang ayah telah menentukan siapa calon menantu untuk putrinya.
...----...
Seorang pria berumur sekitar dua puluh lima tahun sedang duduk di tengah hutan. Udara malam yang dingin menusuk tulang tak membuat pria muda itu bergeming. Dia tetap duduk dengan tenang bertelanjang dada di hadapan sesajen yang berupa bunga tujuh rupa setaman dan jajanan pasar tujuh macam. Berada tak jauh di sebelahnya seonggok api unggun yang menyala sejak tadi kini perlahan - lahan nyalanya hampir padam dan menyisakan beberapa bagian kayu yang menjadi bara. Bau dupa terasa menyengat hidung ketika angin bertiup semilir membawa aroma tersebut jauh ke tengah hutan. Mengundang berbagai macam makhluk astral untuk datang ke tempat itu.
Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya berpakaian serba hitam dengan blangkon di kepala dan sebuah cemeti di tangannya. Dialah Ki Prana, dukun ilmu hitam yang terkenal dengan ajian jaran goyang miliknya yang konon katanya memiliki kesaktian tiada tanding.
" Anakku Arya, aku akan mewariskan ilmu ajian pelet jaran goyang padamu. Gadis mana saja yang kau inginkan, niscaya akan bertekuk lutut padamu. Namun, syaratnya kamu harus menyerahkan tumbal seorang bayi padaku saat bulan purnama genap lima belas. Apakah kamu menyanggupi syarat dariku? "
" Saya sanggup, Ki Prana! " jawab lelaki yang bernama Arya itu. Dia tersenyum licik karena di dalam pikirannya sudah terbayang siapa yang akan dia jadikan korban pertamanya.
Annisa, mantan istrinya itu mengaku sedang mengandung anaknya saat ini. Dia sangat membenci wanita itu dan juga calon anak yang dikandungnya.
Wanita yang telah membuat dia kehilangan segalanya. Bahkan kini kekasihnya yang dia bela habis - habisan dengan mengorbankan segalanya termasuk pernikahannya juga telah mencampakkan dirinya begitu tahu dia kehilangan segalanya. rampas segala miliknya. Dendamnya kepada wanita itu mendarah daging. Saat ini dia memiliki rencana. Dia akan memikat habis Annisa agar wanita itu kembali bertekuk lutut di hadapannya dan setelah itu dia akan membuat wanita itu jatuh sejatuh - jatuhnya ke dalam jurang penderitaan dan rasa sakit hingga membuat dia merasa mati segan hidup pun tak mau.
" Baiklah, jika kamu menyatakan kesanggupanmu untuk melaksanakan semua kewajiban dan tanggung jawab itu, maka bersiaplah. Aku akan mewariskan ilmu itu padamu sekarang juga. "
Arya mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya dengan bersila dan menutup kedua mata sambil kedua tangannya bersedekah di depan dada.
" Apakah kamu sudah siap, Arya Bisma?" Pria muda bernama Arya itu mengangguk dengan kedua mata terpejam. Anisa, tunggu pembalasan dariku, bisik Arya dalam hati.
Setelah bertanya demikian, pria yang bernama Ki Prana itu memecutkan cemeti di tangannya berulang-ulang ke tanah sambil mulutnya komat kamit membaca mantra ilmu ajian jaran goyang.
"sun matek ajiku Jaran Goyang, ora goyang ing tengah latar, upet-upetku lawe benang, pet sabetake gunung gugur, pet sabetake lemah Bangka, pet sabetake segara asat, pet sabetake ombak gede sirep, pet sabetake atine wong wadon, cep sido edan ora mari-mari yen ora isun seng nambani.”
Mendadak keanehan terjadi. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang dan menggoyangkan pohon - pohon di sekitar tempat itu. Pohon - pohon itu meliuk - meliuk seakan-akan hendak tercabut dari akarnya. Semakin lama semakin kencang seiring dengan terdengarnya suara ringkihan kuda yang terdengar sayup - sayup dari kejauhan. Semakin lama suara kuda itu terdengar semakin jelas dan dekat dengan mereka.
__ADS_1
Hingga akhirnya, sesosok kuda berwarna hitam berdiri kokoh di hadapan keduanya. Bulunya yang berwarna hitam legam dan mengkilap begitu indah di pandang mata sehingga siapa saja yang melihatnya akan berdecak kagum karena terpesona akan keindahan bulunya.
Ki Prana mengelus dan membelai surai kuda sambil mulutnya berbisik sesuatu di telinga sang kuda. Sementara tangan Ki Prana yang sebelah lagi terulur menyuapkan sesajen ke mulut kuda jadi - jadian tersebut.
Seolah - olah paham dengan apa yang dikatakan oleh Ki Prana, kuda itu kemudian mendekati Arya. Kuda itu menatap tajam ke arah Arya yang duduk bersila dengan tangan bersedekap sambil menutup kedua mata. Kuda siluman itu berjalan memutari Arya, kemudian berlari cepat mengelilingi Arya . Pada putaran yang ke tiga kalinya, tiba-tiba kuda itu menghantamkan tubuhnya kepada Arya. Namun anehnya, tubuh kuda itu menembus tubuh Arya dan kembali melewati pria itu untuk yang kesekian kalinya untuk selanjutnya kuda hitam siluman itu kemudian menghilang di telan kegelapan malam.
" Bangunlah... anakku Arya. Kini ilmu ajian pelet jaran goyang itu sudah berada di dalam tubuhmu. Rapalkanlah ajian yang telah kuajarkan kepadamu untuk memanggil jarananmu. Cintailah dan menyatulah dengan jarananmu, maka kejayaan dan cinta kasih mengelilingimu.
Namun ingat, jangan lupakan segala kewajiban dan tanggung jawabmu. Jika kamu melanggarnya, maka kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya. Kamu paham anakku. "
" Saya paham, Ki. Terima kasih atas ilmu ajian pelet jaran goyang yang sudah Ki Prana berikan. Saya tidak akan lupa akan janjiku, Ki. "
Ki Prana manggut - manggut mendengar ucapan Arya. Baginya, bukan ucapan Arya yang dia harapkan, tapi pembuktiannya kelak. Karena sudah banyak pria seperti Arya yang hanya bisa berjanji namun akhirnya lupa karena terlena akan kenikmatan dan ujung - ujungnya terjerumus ke dalam kesesatan dan akhirnya membinasakan diri sendiri.
" Kalau begitu saya pamit, Ki. "
" Baiklah, pulanglah nakal Arya. Dan jangan lupa akan janjimu. " Setelah berkata demikian, tubuh Ki Prana menghilang begitu saja dari hadapan Arya.
Sementara itu, di istana bukit Duri, seorang gadis cantik sedang duduk termenung seorang diri. Ada kabut yang menggelantung di wajah sebening pualam itu.
" Sayang, apa kamu sedang merindukan ibumu? "
" Pangeran Alyan.. " Luna memeluk tubuh kekasihnya yang sudah berdiri di hadapannya.
" Aku kemari ingin bertemu ayahmu. Aku bermaksud untuk memberitahu ayahmu jika ayahku akan datang kemari besok. Ayahku ingin meminang pujaan hatiku. Karena aku sudah tak sabar ingin selalu bersama denganmu setiap saat."
" Tapi Pangeran, ayahku saat ini sedang tidak ada di istana. Aku berjanji akan menyampaikan kabar ini padanya secepatnya "
Pangeran Alyan mengernyitkan alis, dia merasa heran karena baru kali ini dia mendapati Panglima Ammar tidak berada di Istana Bukit Duri.
" Memangnya ayahmu kemana, Aluna? "
...----...
Sementara itu malam semakin beranjak larut. Di sebuah Vila yang terletak di pinggiran kota, seorang wanita cantik yang sedang hamil tua tampak sedang pulas tertidur. Wajahnya yang putih mulus tanpa noda terlihat tenang seperti bayi yang terlelap. Tanpa beban dan tanpa pikiran. Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah.
__ADS_1
Yah, Dialah Anisa. Mantan istri yang beberapa bulan yang lalu ditalak oleh Arya. Lelaki yang tak punya hati dan perasaan itu tega menceraikan istrinya walaupun dia tahu saat itu sang istri sedang mengandung. Bahkan dia juga telah menuduh Sang Istri telah berbuat zina di luar dan tidak mengakui calon bayi tersebut sebagai darah dagingnya.
Namun tak beberapa lama, wajah Anisa yang tadinya tenang kini perlahan-lahan berubah. Wajah itu menampakkan ketakutan yang luar biasa. Terlihat sepertinya wanita itu sedang berlari. Napasnya tersengal - sengal. Keringat sebesar biji jagung terlihat di dahinya. Padahal kamar itu full AC.
Wanita cantik itu tengah bermimpi. Dalam mimpinya, dia seperti dikejar-kejar sesuatu. Seperti ada bayangan hitam yang mengejar - ngejar dirinya. Dia yang sedang hamil merasa sangat kesusahan saat harus berlari, hingga akhirnya diapun menyerah. Rasnya dia sudah tak sanggup lagi untuk berlari. Bayangan itu sudah semakin dekat. Dalam mimpinya dia sepertinya mendengar ringkihan suara kuda. Lalu..... seekor kuda hitam tampak sedang berlari ke arah dirinya. Kuda itu sepertinya akan menabrak dirinya.
Anisa memejamkan matanya. Dia sudah pasrah jika kuda itu menabrak dirinya. Langkah kuda itu semakin mendekat..... semakin mendekat ke arahnya..... Anisa berteriak sambil mengucap Ya Allah...... ya Rabbi.......lalu....
"Anisa..., Anisa... bangunlah..! Anisa..! " Ammar mengguncang tubuh Anisa.
" Aghhhhh...... " jerit Anisa sambil terbangun. Wajahnya pucat pasi dan tampak sangat ketakutan. Napasnya memburu dan terputus - putus.
" Ammar... tolong aku. Tolong aku....! " jeritnya sambil menghambur dan memeluk Ammar. Ammar balas memeluk Nisa dan mengusap punggung wanita hamil itu.
" Istighfar, Nisa. Tenanglah, itu semua hanya mimpi." bisik Ammar.
Perlahan-lahan Nisa menarik napas dan mulai terlihat sedikit agak tenang.
" Tenanglah, kamu hanya mimpi buruk. Tak ada apa-apa disini." Ammar menenangkan Nisa walaupun sebenarnya mata jinnya yang tajam menangkap sebuah bayangan hitam berbentuk seekor kuda melintas di depan mereka.
" Hmmm.... ilmu ajian jaran goyang." bisiknya dalam hati. " Siapa yang telah tega menjatuhkan ilmu itu kepada Nisa? Apakah Arya...? Atau orang lain? " kembali Ammar bertanya dalam hati.
Belum hilang keterkejutan Ammar, kembali kuda itu datang menghampiri mereka. Perlahan-lahan, Ammar menutupi tubuh Nisa yang masih berada dalam pelukannya itu dengan jubah hitamnya sehingga bayangan tubuh wanita hamil itu tak terlihat lagi.
" Tidurlah kembali dalam pelukanku, aku akan menjagamu."
Nisa menganggukkan kepalanya. Wanita itu merasa nyaman dan tenang berada di dalam pelukan Ammar. Tiada terasa wanita hamil itu kemudian terlelap kembali karena masih merasa mengantuk.
Setelah Nisa tertidur kembali, Ammar menutupi tubuh Nisa dengan jubahnya hingga tak terlihat.
Lalu secara perlahan-lahan, ayah dari Hamish itu bangkit dan bergerak cepat ke arah kuda hitam siluman yang masih berada di Vila itu. Dengan sekali terjang, dia mendaratkan sebuah pukulan ke arah kuda siluman itu, membuat kuda itu terjengkang ke lantai. Kemudian, pria itu mengeluarkan sebuah cambuk dari balik bajunya. Kuda itu bangkit kembali.
" Aku Ammar, Pengusaha Bukit Duri. Aku perintahkan kamu untuk kembali kepada siapapun yang mengirimkan kesini. Kembalilah kepada pemilikmu. Wanita itu milikku, kamu tidak bisa menyentuhnya. " kata Ammar sambil melecutkan cambuk ke tubuh kuda hitam siluman itu. Ringkik kuda terdengar nyaring disertai dengan napasnya yang terdengar keras. Setelah itu, kuda itu melesat pergi dan menghilang dari hadapan Ammar.
Ammar menatap kepergian kuda itu dengan hati masghul. Di dalam hatinya ada rasa penasaran dan bertanya-tanya siapa yang telah mengirimkan pelet ajian jaran goyang itu.
__ADS_1