Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 160 Perjanjian Ghaib ( Part 3 )


__ADS_3

Widarti menghentikan tangisnya dan berdiri mendekati sang abdi.


" Bicara yang jelas, mbok. Den Hutama kenapa? "


" Anu, Ndoro. Den Hutama kecelakaan. Kereta kudanya masuk ke jurang dan meninggal dunia saat itu juga, Ndoro."


Tubuh Widarti kembali ambruk ke lantai. Wanita itu tak sadarkan diri setelah mendengar berita kematian sang putra.


Semenjak kematian putranya, Widarti mengalami depresi hingga akhirnya wanita itu jatuh sakit.


Semakin lama, sakitnya semakin parah hingga akhirnya wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di hadapan putra bungsunya.


Barata Putra Wijaya, adalah satu-satunya penerus keluarga Hadi Wijaya yang masih tersisa. Pemuda tanggung itu kini harus menjadi Yatim piatu karena sang ibu juga telah berpulang menyusul sang Kakak yang tewas dalam kecelakaan yang menggenaskan.


...-----...


Eyang Hadi Wijaya menghela nafas panjang. Ada air mata yang bergulir di pipinya setelah lelaki itu selesai bercerita.


" Lantas, apa hubungan anda dengan makhluk siluman yang tadi menyerang kami." tanya Pangeran Azzura yang masih belum menemukan titik temu dari cerita Eyang Hadi Wijaya.


" Makhluk yang kalian temui tadi adalah putraku, Hutama Wijaya yang diambil paksa oleh siluman Serigala itu sebagai budak."


Mulut Pangeran Azzura dan Putri Arryan ternganga lebar. " Apa.?? Jadi makhluk siluman itu adalah putra Eyang Hadi Wijaya? " seru Arryan dengan wajah tak percaya.


" Benar, makhluk itu adalah putraku, Hutama Wijaya. Buyut dari Keanan."


Kini Putri Arryan faham, mengapa makhluk itu berkata ' Jauhi dia " . Rupanya yang dimaksud dengan dia adalah Keanan. Makhluk itu mengetahui jika Arryan adalah sebangsa manusia setengah jin. Dia hanya bermaksud ingin melindungi keluarga dan anak cucunya.


" Tapi, ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan, Eyang. Mengapa wujud Eyang bisa kembali seperti ini, sedangkan Hutama Wijaya, putra Eyang masih tetap berwujud seperti itu? " tanya putri Arryan.


Eyang Hadi Wijaya menatap sendu ke arah Putri Arryan. " Dia tak bisa kembali ke wujud semula dan terlepas dari ikatan perjanjian itu, kecuali ada yang mau membebaskannya. " kata Eyang Hadi Wijaya dengan sedih.


" Dahulu, ayah kalian berhasil membebaskan aku, karena dia berhasil mengalahkan Raja Siluman Serigala penguasa Hutan Alas Purwo yang menggantikan Dewi Sekar Wulan. Sebagai imbalan atas kemenangannya, dia diberi hadiah seorang budak dari bangsa manusia yang mereka ambil setelah masa perjanjian di dunia usai."


Eyang Hadi Wijaya menghela nafas berat. " Ayah kalian memilih aku dan kemudian membebaskanku setelah melihat kilasan kisah hidupku melalui mataku. Namun sayangnya, dia tak bisa membebaskan anakku, karena dia hanya diperbolehkan mengambil satu budak saja. Meskipun ayahmu waktu itu berniat untuk menebusnya. "


Putri Arryan dan Pangeran Azzura terhenyak setelah mendengar kisah Eyang Hadi Wijaya.


" Jadi, intinya, jika ada yang bisa membebaskan Kakek buyut Keanan, maka dia terbebas dan bisa kembali ke. wujudnya semula, ya Eyang? " tanya Putri Arryan kepada Eyang Hadi Wijaya.


Kakek tua itu mengangguk kemudian berkata. " Untuk itulah, saat melihatmu beberapa waktu lalu di rumah sakit, aku yakin bahwa doa - doaku di dengar oleh Allah. Aku melihat bayangan ayahmu di dalam dirimu. Sehingga aku tahu, bahwa kamu adalah Putri dari Ayahmu, Pangeran Hasyeem."

__ADS_1


" Lalu, apa yang Eyang inginkan darimu kami? "


" Aku berharap kalian bisa menolong kami. Tolong bebaskan anakku Hutama Wijaya dari ikatan perjanjian Ghaib antara aku dan Siluman itu. " kata Eyang Hadi Wijaya sambil kemudian kakek tua itu bersujud di hadapan Pangeran Azzura dan putri Arryan.


Pangeran Azzura dan Putri Arryan langsung beringsut sambil menarik tubuh Eyang Hadi Wijaya agar bangun dari sujudnya.


" Eyang, jangan seperti ini. Kami berjanji akan membantu Eyang. Tapi kami akan bertemu dulu dengan Ayahanda Pangeran Hasyeem. " Kata Pangeran Azzura kepada Eyang Hadi Wijaya.


Wajah kakek tua itu tampak berbinar cerah. Ada setitik harapan di hatinya akan pertolongan untuk putranya.


" Baiklah, aku mengerti. Aku sangat berharap kalian dapat menolong putraku."


" Kami akan ke Bukit Malaikat untuk menemui ayah. Jadi kami akan kembali lagi nanti. Semoga ayah bersedia untuk membantu Eyang."


...----...


Pangeran Hasyeem termangu sesaat setelah mendengar cerita Pangeran Azzura dan Putri Arryan tentang Eyang Hadi Wijaya dan Putranya.


Dia ingat dulu memang dia pernah mengalahkan raja Siluman Serigala dan sebagai hadiahnya, Raja siluman itu menghadiahkan seorang budak padanya. Namun, dia akhirnya melepaskan budak itu karena iba dengan kisah hidupnya.


" Ayah menyarankan agar kalian meminta tolong pada kakanda kalian, Pangeran Alyan. Hanya dia yang bisa menolong kalian untuk membebaskan putra Hadi Wijaya dari ikatan perjanjian itu. Karena yang bisa menolongnya adalah laki-laki yang tidak terikat. Sedangkan aku, aku sudah mengikatkan diri dengan ibu kalian. "


Arryan langsung teringat dengan Keanan. Keanan adalah darah murni keturunan Hadi Wijaya dari garis Barata Putra Wijaya. Tapi yang jadi permasalahan, apakah Keanan dan orang tuanya bersedia untuk memberikan darahnya sebagai persyaratan tumbalnya."


" Biar aku saja yang bicara pada Keanan. Siapa tahu mereka bersedia untuk membantu. " kata putri Arryan.


Pangeran Alyan kemudian hadir setelah mendengar panggilan ayahnya. Ketiganya kemudian menceritakan tentang permohonan Eyang Hadi Wijaya dan perjanjian yang terjadi antara dirinya dan Penguasa Hutan Alas Purwo.


Pangeran Alyan menyatakan kesanggupannya untuk membantu Eyang Hadi Wijaya dan berjanji akan membantu melepaskan putranya.


Arryan tersenyum lega mendengar semua keluarganya bersedia untuk membantu keluarga Keanan.


Kini, tugas yang terberat adalah menyakinkan keluarga Keanan tentang semua yang sudah terjadi. Apakah mereka akan mempercayai semua cerita mereka tentang asal usul keluarga mereka yang sebenarnya adalah aib mereka di masa lalu.


Setelah bertemu dengan Pangeran Alyan dan Ayahandanya, kedua putra dan putri Pangeran Hasyeem itu kembali lagi menemui Eyang Hadi Wijaya.


Kali ini, Arryan sendiri yang sengaja datang bertamu ke rumah Keanan.


Tentu saja Mama dan Papa Keanan sangat senang menyambut kedatangan Arryan. Terlebih lagi Keanan. Senyum pemuda itu tak pernah lepas dari bibirnya.


" Arryan, apa kamu sudah merasa baikan, sekarang? " tanya Mama Keanan seraya memeluk gadis itu dengan hangat.

__ADS_1


" Sudah, tante. Tempo hari itu aku hanya sedikit lelah dan masuk angin. Setelah dibawa istirahat, demam kuning langsung hilang dan aku kembali sehat." terang Arryan.


Keanan tersenyum menatap Arryan. Gadis yang telah merebut seluruh tempat di hatinya itu kini sudah berada di hadapannya. " Oh, ya. Ada apa kamu kok tumben kemari sendiri. Kemarin harus dipaksa dulu baru mau kemari." kata Keanan sambil mencubit pipi gadis itu.


Arryan melotot marah karena merasakan sakit di pipinya. " Kak Keanan. Kok dicubit, sih? Sakit tau..! " Keanan tergelak sambil merengkuh tubuh mungil Arryan.


" Keanan, kamu jangan gitu sama Nak Arryan. Nanti dia kapok main kemari. " kata mama Keanan yang kini ikut - ikutan membela gadis itu.


" Iya, ... iya. Bilang saja mama tak mau kalau calon mantunya kabur." perkataan Keanan sukses membuat pipi Arryan bersemu merah. Dan itu tak luput dari pengamatan Keanan yang semakin yakin, jika sebenarnya gadis itu juga mencintanya. Tapi mengapa gadis itu menolaknya.


" Begini, tante dan om. Arryan kemari karena menyampaikan amanat dari Eyang Hadi Wijaya." Kening Papa Keanan langsung berkerut mendengar nama Hadi Wijaya. Bukankah itu adalah nama dari kakek buyutnya. Ayah dari kakeknya.


" Sebentar dulu, nak Arryan. Bagaimana bisa kamu mengenal Eyang buyutku. Apakah silsilah keluargamu masih berhubungan dengan keluarga Hadi Wijaya? " tanya Papa Keanan tak mengerti.


" Begini om, tante..... Saya memiliki kelebihan untuk bisa melihat hal - hal yang tidak bisa dilihat oleh mata orang awam. Beberapa hari yang lalu, saat saya kemari. Saya bertemu dengan Eyang Hadi Wijaya dan juga.... makhluk setengah manusia setengah hewan. Beberapa waktu kemudian kami saling mengenal dan dari sanalah akhirnya Eyang Hadi Wijaya menceritakan semua kisah yang terjadi dalam keluarga kalian." Arryan kemudian menceritakan semua kisah yang dialami oleh Eyang Hadi Wijaya pada keluarga Keanan yang merupakan keturunan langsung keluarga Hadi Wijaya.


Setelah mendengar semuanya, Papa Keanan menghela napas panjang. Laki-laki itu sebenarnya sudah tahu akan kisah kelam keluarga Hadi Wijaya. Namun, dia tak tahu akan takdir buruk yang menimpa salah satu leluhurnya itu.


" Jadi apa yang bisa kami lakukan untuk menolong Eyang Hutama agar terbebas dari perjanjian itu? "


Arryan kemudian mengatakan apa yang sudah di katakan oleh ayahnya dan taksyarat yang berupa darah murni keluarga Hadi Wijaya sebagai tumbal.


Saat mendengar kata tumbal, mama Keanan langsung berdiri menyatakan keberatannya. Dia tidak rela jika salah satu keluarganya dijadikan tumbal sebagai syarat untuk membebaskan Eyang buyut suaminya.


" Tidak, mama keberatan, Keanan. Mama tak mau kamu dijadikan tumbal oleh keluarga Hadi Wijaya. " Wanita itu langsung menyatakan keberatannya saat mendengar putranya mengatakan bersedia untuk membantu.


" Aku hanya minta darah murni dari keturunan Hadi Wijaya. Bukan nyawanya!" sebuah suara tanpa wujud tiba-tiba terdengar di ruangan itu ketika Keanan dan mamanya bersitegang tentang persyaratan tersebut.


Seketika, semuanya terdiam. Arryan dapat melihat kehadiran Eyang Hadi Wijaya beserta makhluk berwajah mirip anjing Serigala itu. Kali ini makhluk itu hanya diam saja menatap Arryan, tidak lagi terlihat garang dan buas.


Setelah melalui perundingan, maka akhirnya mama Keanan mengizinkan putranya itu untuk memberikan darahnya sebagai tumbal untuk syarat membebaskan Eyang Hutama dengan syarat, semua proses harus di ikuti dan disaksikan oleh semua anggota keluarga Hadi Wijaya.


Malam Jumat Kliwon pada purnama ke tujuh, di rumah Keanan di lantai dua telah hadir seluruh anggota keluarga Hadi Wijaya. Mereka ingin menyaksikan proses pelepasan ikatan perjanjian ghaib yang terjadi antara leluhur mereka dengan penguasa Hutan Alas Purwo.


Pangeran Hasyeem dan Ketiga Putranya, yaitu Pangeran Alyan, Pangeran Azzura dan Putri Arryan tampak hadir di tempat itu. Arryan memperkenalkan mereka pada keluarga Keanan.


" Baiklah, karena semua sudah hadir, maka sebaiknya kita mulai saja prosesnya."


" Sebelum kita melakukan hal ini. Marilah kita semua berdoa untuk memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa.. Karena hanya dengan kuasanya, pekerjaan kita akan berhasil."


Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala dan berdoa dalam hati untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta.

__ADS_1


__ADS_2