Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 67 Pertanyaan Ratu Kalina


__ADS_3

Hari masih pagi sekali ketika Asmi terbangun oleh kokok ayam jantan yang berbunyi nyaring membangunkan seisi dunia.


Ada sesuatu yang berat serasa menindih perutnya. Sebuah tangan kekar dan kokoh sedang memeluk pinggang Asmi dengan erat. Asmi menoleh ke belakang. Seraut wajah tampan sedang tidur dengan pulas dalam posisi memeluk pinggangnya.


Entah sejak kapan kekasih tampannya itu tidur di sisinya, yang jelas Asmi tidak tahu menahu akan kehadirannya. Sedari kemarin siang, lelaki tampan dari bangsa jin itu menghilang dari istana. Sehingga seharian kemarin, dia hanya ditemani oleh Nyi Embun, dayang istana yang diperintahkan pangeran Hasyeem untuk menjaga dan melayani dirinya.


Asmi membelai wajah tampan itu. Entah mengapa dia baru menyadari, betapa sempurna pahatan wajah ini diciptakan.


" jangan memandangku terlalu lama, aku takut kamu akan terpesona dan makin jatuh cinta padaku!" sebuah suara serak khas bangun tidur membuat gerakan tangan Asmi terhenti.


Tatapannya beralih pada netra coklat terang milik Sang Pangeran.


" Aku memang sudah jatuh cinta pada seseorang. Dan sayangnya, aku terpaksa harus mengakuinya padamu." senyum Asmi nakal menggoda yang sukses membuat Sang Pangeran bergerak bangun dan menerkam tubuhnya.


" Oh, begitu. Kalau begitu kamu harus katakan siapa lelaki yang telah berani menggoda ratuku!"


Asmi tertawa renyah sambil meronta melepaskan diri dalam kukungan tubuh perkasa Sang Pangeran.


" Hahaha, tentu saja tak akan kukatakan, Pangeranku harus mencari tahu sendiri, siapa lelaki yang telah mengambil hatiku."


" Hm, baiklah. Mungkin cara ini ampuh untuk kupakai."


Pangeran Hasyeem lalu meraih kedua tangan Asmi dan mengangkatnya ke atas kepala. Setelah itu, bibirnya mencium kepala Asmi, lalu dahi, lalu turun ke hidungnya. Mata Asmi terpejam menahan gejolak dan debaran jantung di dada.


Wajah Asmi terasa panas, terlebih saat bibir kenyal Sang Pangeran kini mencium kedua pipi, dagunya, dan berakhir dengan ******* panas di bibirnya.


" Masih tak mau mengatakan juga. Hmm.. baiklah. Kau akan mengatakan siapa lelaki itu dalam desahanmu, sayang! " Seringai iblis Sang Pangeran keluar mendapati wajah Asmi yang masih saja tersenyum nakal menggodanya.


" Aku tak akan mengatakannya!" Asmi menatap wajah Sang Pangeran dengan wajah menantang. " Aku mau lihat bagaimana caramu melakukannya!" katanya lagi.


Pangeran Hasyeem menjadi gemas. Kini bibirnya bergerak turun menjelajahi kedua gundukan kenyal yang menyembul keluar dari balik baju tidur Asmi.


" Ahh, Hasyeem. Ohh.... Aku... " wajah Asmi merah merona menahan kabut gairah yang kini sudah menguasainya.


" Hm.... akhirnya aku tahu siapa lelaki yang ada dihatimu!" bisik Pangeran Hasyeem tersenyum penuh kemenangan.


Asmi mendesah sembari menatap kesal pada Sang kekasih. Ternyata dia telah dicurangi oleh Sang Pangeran yang kini sedang tersenyum menggoda.


" Auk ah, nggak lucu. Aku tak pernah menyebutkan nama seseorang. Aku hanya kelepasan tadi memanggil namamu, karena aku merasa geli.!"


" Oh, masih berani mengelak. Baiklah apa perlu aku mengulang adegan tadi, atau.... jangan jangan kau sengaja berkata demikian supaya aku mengulang kembali adegan tadi, karena kamu memang menyukainya. Iya, kan. Aih, Ratuku memang pandai sekali mengatur siasat. " kata Sang pangeran.


Tangannya bergerak hendak menarik Asmi ke dalam pelukannya, Namun Asmi sudah keburu lari menjauh.


" Tangkap aku, jika kau bisa! " serunya sambil berlari. Jadilah pagi hari itu di awali Asmi yang harus berlari untuk menghindari kejaran Sang Pangeran.


" Baik, aku terima tantanganmu, sayang. Tapi jika sudah kudapatkan dirimu, maka aku tak akan melepasmu, kecuali jika kamu bayar dendamu.! " Selesai berkata demikian, Sang Pangeran bangkit dan kini mengejar Sang kekasih yang sudah berlari jauh ke taman istana.


...-----...

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini Asmi kembali ke rumah. Ada berita heboh yang tersebar di desa Asmi. Ilham dikabarkan menghilang. Banyak yang mengaitkan berita hilangnya Ilham dengan kepergian Asmi. Mereka menduga Asmi pergi bersama lelaki yang merupakan mantan suaminya itu.


Asmi geleng-geleng kepala mengetahui hal itu. Dia heran, mengapa orang - orang bisa punya pikiran seperti itu.


" Apa karena aku janda, dan Ilham yang merupakan bekas suami aku, maka mereka mengira aku melarikan diri bersama Ilham? " Asmi bergumam sendiri. Ada ada saja, pikirnya geli.


Pagi ini Asmi ingin ke toko Mirna. Sudah lama dia tak datang ke toko. Dia juga sudah rindu sama adik dan keponakannya.


" Hei, Janda mandul, kemana kamu bawa dan kamu sembunyikan suamiku?" Asmi menoleh ke belakang. Dia tak jadi menstarter motornya karena di belakangnya sudah berdiri Ayu yang sedang menahan motor Asmi agar tak bisa bergerak.


" Mana aku tahu, emangnya aku istrinya? seharusnya kamu lebih tahu suamimu ada di mana! "


" Eh, janda mandul. Jangan kamu kira aku tidak tahu, kalau Mas Ilham sering ke sini! Pasti kamu, kan, yang sudah merayu dan mengajak mas Ilham pergi.!? "


" Ngomong pake otak, mbak. Kalau aku merayu dan ngajak suamimu pergi, nggak mungkin kan, kalo aku masih ada di sini.


Mungkin saja suamimu itu di culik orang. Mending lapor polisi, noh. Daripada situ sibuk ngerecokin aku. Nggak guna, banget! " kesal Asmi sambil berlalu pergi dengan motornya.


Ayu menghentakkan kaki dengan kesal. Sudah lebih dua minggu, Mas Ilham suaminya nggak pernah pulang. Terakhir pamit katanya mau beli makanan cepat saji buat makan malam. Namun sampai sekarang, batang hidungnya tak pernah muncul lagi.


Wajar saja dia mengaitkan kepergian suaminya dengan Asmi. Karena bersamaan dengan hilangnya Ilham, janda cantik itu juga menghilang.


Tak pernah terlintas dalam pikirannya, jika saja Sang suami ada kemungkinan di culik seseorang seperti ucapan Asmi. Tapi siapa yang mau menculik suaminya. Selama ini yang dia tahu, suaminya itu tidak memiliki musuh. Jadi... dia masih meragukan, kemungkinan Ilham di culik oleh orang.


Sementara itu, Asmi yang sudah sampai di toko, bergegas masuk dan segera membantu Ali yang mulai tampak kerepotan melayani pembeli.


" Tadi malam dek. Gimana toko, lancar ?"


" Aman terkendali, mbak! " katanya sambil mengangkat kedua jempolnya ke atas.


Asmi tersenyum menatap pemuda tanggung itu. Memang adiknya Mirna mengatakan bahwa Asmi sedang pergi ke rumah saudaranya di luar kota. Maka wajar saja Ali mengira jika ketiadaannya selama beberapa hari karena pergi ke rumah saudara.


Hari ini, Asmi cepat - cepat menutup toko. Dia ingin segera pergi ke rumah Mirna. Rasa rindu pada saudara dan keponakannya sudah tak bisa dia tahan. Sepuasnya dia bermain bersama keponakannya yang semakin hari semakin menggemaskan.


Magrib sudah lama lewat. Asmi bersiap untuk kembali pulang, setelah tadi sholat maghrib di rumah Mirna sekalian makan malam.


Namun, baru saja Asmi ingin menjalankan motornya, sebuah suara halus menyapa wanita itu.


" Assalamu'alaikum, Asmi! " Asmi menoleh ke asal suara. Dia terkejut saat mengetahui siapa yang menyapanya.


" Ibunda Ratu Kalina!"


Asmi segera menghampiri dan mencium tangan wanita yang merupakan ibu dari kekasihnya.


Ratu Kalina tersenyum kecil. Dia faham akan adat dan etika bangsa manusia yang mencium tangan sebagai tanda hormat dan bakti terhadap yang lebih tua.


" Ada hal apa, yang membawa bunda ratu sampai kemari? " tanya Asmi dengan rasa penasaran yang tidak bisa dia sembunyikan.


" Aku hanya ingin berbincang dan mengenalmu. Apakah kamu keberatan untuk ikut denganku? "

__ADS_1


" tentu saja, tidak. Tapi tunggu sebentar, saya akan mengunci motor dulu, bunda Ratu."


" Baiklah."


Segera setelah mengunci motornya, Asmi melangkah mengikuti Ratu Kalina yang berjalan melewati sebuah lorong.


Asmi tak tahu, dari mana lorong itu muncul. Tahu - tahu sudah muncul saja di hadapan mereka.


Lorong itu membawa Asmi dan Ratu Kalina ke sebuah taman yang sangat indah.


" Di mana ini. Apakah ini istana ayahanda Pangeran Hasyeem? Aduhhh.... bagaimana jika paduka raja mengetahui keberadaanku.... apakah dia akan menghukum dan memenjarakan aku juga?" berbagai pertanyaan hadir di benakmu Asmi.


" Jangan takut, ini adalah istanaku. Raja Haizzar membangunnya khusus untuk diriku. Letaknya di sisi timur istana Gunung Kahyangan. Jadi kamu aman, dan lagi pula Paduka Yang mulia Raja Haizzar tak akan datang kemari. Dia sedang sibuk dengan urusan istana." kata Ratu Kalina menjelaskan semuanya seolah mengetahui isi kepala Asmi.


Asmi menarik nafas lega. Tapi tunggu dulu, dari mana bunda Ratu mengetahui kegelisahan hatinya. Mungkinkah.....


Asmi menepuk jidatnya, mereka adalah ibu dan anak, sudah pasti kemampuan Pangeran Hasyeem turu dari Sang Ibu.


" Asmi, bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Ratu Kalina. Asmi menelan ludah yang mendadak terasa kering di tenggorokan.


" bunda Ratu mau bertanya apa?" tanya Asmi dengan perasaan was - was. Dia khawatir apabila nantinya perempuan yang melahirkan Pangeran Hasyeem itu ujung - ujungnya akan bertanya tentang hubungannya dengan Sang anak.


" Jawab dengan jujur, seberapa besar kamu mencintai anakku?"


Deg!! jantung Asmi seakan berhenti. Nah.... apa kan kubilang! dia ditanya tentang perasaan cintanya pada Sang Pangeran, pasti ujung - ujungnya nanti nanyain tentang kelanjutan hubungan Asmi dengan Pangeran Hasyeem.


Asmi menghela nafas, lalu tanpa ragu dan takut dia menatap ke arah Ratu Kalina.


" Andai bunda memintaku untuk melepaskan nyawaku dan diberikan padamu sebagai tebusan atas cinta Pangeran Hasyeem padaku, niscaya pasti akan ku berikan." jawab Asmi.


Ratu Kalina balas menatap manik mata Asmi. Dia tidak menemukan adanya kebohongan di sana.


" Bagaimana jika aku memintamu untuk tinggal di sini. Di dunia bangsa jin dan melahirkan anak - anak untuk putraku. Apakah kamu bersedia?"


Pertanyaan itu simpel dan mudah. Jawabnya hanya tinggal menyebutkan kata bersedia atau tidak. Namun terasa sulit bagi Asmi untuk menjawabnya. Asmi menundukkan wajahnya. Menyembunyikan riak bening yang menyeruak di sudut matanya sebagai wakil dari riak badai dahsyat di hatinya.


Mungkin, jika hanya untuk tinggal di negeri jin dan mendampingi Sang kekasih di sisinya saja merupakan hal yang mudah baginya. Namun bagaimana dengan melahirkan anak bagi Sang Pangeran.


Asmi menelan ludah, pahit sekali hidup ini ternyata. Ada hal yang pastinya sama, baik di dunia manusia ataupun dunia jin, menikah dan memperoleh keturunan merupakan tujuan utama dari dua insan yang saling mengikatkan diri.


" Maafkan hamba karena belum bisa menjawab pertanyaan itu untuk saat ini, Bunda Ratu." jawabnya.,


" Hmm, baiklah. Aku tak akan memaksa. Kamu boleh menjawabnya kapan - kapan saja, kamu mau! " kata Sang Ratu.


Asmi menelan ludah dan menjadi serba salah. Dia sebenarnya tak ingin mengecewakan hati Sang ibunda Ratu.


Visual Pangeran Hasyeem. Mohon Maaf ya, readers. Mina mencoba mencari Visual dari Sang Pangeran. Kira kira seperti inilah Visual Pangeran jin kita yang tampan itu.


__ADS_1


__ADS_2