
Keanan memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe yang terletak di tepi Pantai. Sebelum turun, mata jeli putri Arryan menangkap sosok Andros di antara beberapa pengunjung cafe.
" Andros.. " tanpa dia sadari putri Arryan bergumam sendiri.
Sudah hampir satu purnama, Andros tak pernah datang ke kosan Putri Arryan. Jujur saja, Putri Arryan sebenarnya merasa kehilangan keriangan pemuda jin yang tampan itu. Biasanya Andros selalu bisa memahami apa yang dia mau dan bisa mengerti isi hati Putri Arryan ( Terang aja.... dia kan Jin, hehehe..).
Andros sangat pandai mengambil hati seluruh keluarganya, sehingga pemuda itu disukai oleh semua anggota keluarga. Bukan itu saja, tampaknya ayahandanya Pangeran Hasyeem menaruh kepercayaan pada pemuda berambut hitam panjang itu terhadap dirinya. Buktinya, saat ini dia yang ditugaskan oleh ayahnya untuk menjaga dan mengawasi Putri Arryan. Itulah sebabnya, dia selalu berada di sekitar Putri Arryan menggantikan tugas Pangeran Azzura yang kini menjadi penguasa di negeri siluman Hutan Alas Purwo.
" Arryan.... " panggil Arnetta membuyarkan lamunan Putri Arryan.
" Apaan, sih. Ganggu orang, aja..! Nggak bisa apa, lihat orang senang dikit..! " ketusnya.
" Wee.... ya udah, kalau tak mau denger berita baik, aku balik aja. " rajuk Arnetta.
" Apaan, sih... Cepetan ngomong. Aku masih mau tidur. " Putri Arryan tidak berbohong.Dia memang merasa mengantuk sekali. Sudah dua hari dua malam, dia berjaga di rumah sakit. Tadi malam pukul setengah tiga, dia memutuskan untuk pulang dan beristirahat di kosan karena merasa tubuhnya sudah sangat lelah sekali. Sebenarnya ada ruangan di rumah sakit yang disediakan untuk para dokter yang bertugas tapi susah rasanya untuk bisa beristirahat total jika masih berada di sana.
" Diluar ada yang nyari kamu.. "
" Cewek atau cowok? " putri Arryan lagi.
" Cewek... cakep, putih, semampai kaya kamu.." Putri Arryan terdiam. Siapa yang nyariin aku? pikirnya....
Dia sibuk menerka-nerka siapa tamu yang datang mencarinya. Rasa penasaran membuat dia akhirnya bangkit dan meraih cardigan yang tersangkut di balik pintu kamar untuk menutup tubuhnya yang hanya terbalut tank top dan celana pendek baby doll. Setengah berlari, dia menyamperi ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, seorang wanita terlihat berdiri membelakanginya. Hanya rambutnya yang panjang sebahu yang terlihat indah menjuntai ke bawah.
" Si...siapa, ya? " Dia bertanya dengan ragu. Wanita itu pun kemudian berbalik...
" Ya, Allah, Aryyan..... kamu sudah sebesar ini? " Pelukan Hangat dan mesra dia dapatkan dari pemilik rambut indah itu.
" Kak Nadia....? Ini beneran kak Nadia, kan? " tanya Putri Arryan tak percaya. Dia membalas hangat pelukan wanitaitu. Wajar jika dia tidak mengenali wanitaitu sebagai kakak sepupunya karena memang sudah beberapa tahun dia tidak pernah bertemu dengan kakak sepupunya yang cantik itu.
" Apa kabar, kakak. Makin cantik, aja! " serunya setelah melepas pelukan mereka.
" Kakak baik saja, Arryan. Oh, ya... gimana kabarnya ayah dan bundamu? "
" Mereka baik, sekarang aku punya sepasang adik kembar. Jadi bunda sekarang sedang sibuk ngurus mereka berdua. Gimana kabarnya sama tante Mirna dan papamu..? "
" Alhamdulillah, mereka baik - baik saja. Tapi mama, begitulah... keadaannya. Beliau sudah tua. Sering sakit - sakitan." kata Nadia dengan raut yang sedikit sedih. Iya, tidak seperti Asmi, semua saudara - saudaranya menua. Mereka termakan oleh usia sehingga kondisi phisik mereka saat ini semakin lemah karena faktor usia.
" Oh.... mudah - mudahan mereka selalu diberi Allah berkah kesehatan dan umur panjang." Doa Putri Arryan tulus.
__ADS_1
" Amin. "
" Oh.. ya, kakak ada apa sampai kemari?" tanya Putri Arryan kemudian.
" Oh, iya. Karena keasyikan ngobrol aku jadi melupakan sesuatu. Gini, Dek. Sebenarnya kakak mau menanyakan sesuatu padamu. Tapi lebih tepatnya sih, sama ayahmu. Tapi jujur saja, kakak tak berani menanyakannya."
" Emangnya, kakak mau bertanya apa? "
Nadia lalu menceritakan kejadian aneh yang menimpa salah seorang temannya.
Cerita Nadia....
Hari itu, aku dan teman - temanku pergi bertamasya ke Grobogan Sewu. Kami semua berjumlah tujuh orang pergi ke air terjun yang terkenal dengan keindahannya itu dengan mengendarai mobil salah satu teman kami yang kebetulan juga ikut dalam kegiatan Tamasya itu.
Sampai sini, Nadia menghentikan ceritanya dan menatap ke arah Putri yang tengah serius mendengarkan cerita Nadia.
Tak ada yang aneh dengan perjalanan kami. Semua berjalan baik - baik saja. Dari awal kepergian kami hingga pulang. Kami memutuskan pulang keesokan harinya setelah menginap sehari di sana.
Kami sempat kemalaman di jalan karena agak terlambat saat memulai perjalanan kembali. Hari sudah mulai agak siang, namun kami baru mulai perjalanan kembali kami.
Sebenarnya, saat pulang, tak ada kejadian aneh yang menimpa kami. Kami melewati perjalanan pulang dengan aman sampai tujuan. Hanya saja mobil yang kami tumpangi memang sempat mogok karena kepanasan di suatu tempat yang tidak kami kenal. Tapi hanya sebentar saja. Setelah mobil kembali dingin, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang hingga sampai kembali ke rumah masing-masing.
" Entar dulu, Dek. Cerita kakak belum selesai. " ingat Nadia.
" Oh, maaf, Kak. Silahkan dilanjut lagi... " katanya sambil nyengir.
" Beberapa hari kemudian, kami semua di gemparkan oleh berita yang sangat mengejutkan. Rima, salah seorang temanku yang ikut dalam acara tersebut dinyatakan hilang. Keluarganya melaporkan bahwa Rima tidak pulang ke rumah setelah pamit ke rumah Sherly, temannya. Polisi juga sudah menginterogasi Sherly karena dia merupakan saksi terakhir yang mengetahui keberadaan Rima. Namun, penyelidikan polisi tak membuahkan hasil. Sherly bersih karena memang tak ada bukti yang menunjukkan bahwa Sherly terlibat dengan hilangnya Rima.
Handphone Putri Arryan berdering. Rupanya itu adalah panggilan dari Keanan yang menanyakan keberadaannya. Setelah berbicara dengan Keanan sebentar, Putri Arryan lalu memutuskan telepon itu dan kembali menemui kakak sepupunya sambil menenteng beberapa camilan dan dua botol teh kemasan.
" Astaga... aku sampai tegang mendengar cerita kakak. Ayo, kak. Lanjut lagi ceritanya sambil kita makan cemilan."
" Wah... pantas saja badanmu nggak gemuk - gemuk. Makanan kamu yang begini - gini, dek. Kamu itu, loh.. calon dokter. Dokter makannya nggak bergizi." Putri Arryan meringis mendengar omelan kakak sepupunya.
" Biasa, Kak. Nasib anak Kos." jawabnya sambil nyengir. Sebenarnya dia bisa saja memerintahkan kepada beberapa orang dayang istana untuk mengurus segala keperluannya di sini. Tapi, dia sudah berjanji bahwa dia tak akan menggunakan segala fasilitas itu. Dia mau merasakan hidup normal seperti anak manusia pada umumnya.
" Ayo, kak. Lanjut lagi ceritanya...! "
" Baiklah... kakak lanjutin, ya..? "
Putri Arryan mengangguk sambil mencomot kudapan di depannya.
__ADS_1
" Beberapa minggu kemudian, terjadi lagi keanehan, dek. "
Kening Putri Arryan berkerut." Keanehan apa, kak? "
" Seperti halnya, Rima. Sherly pun dikabarkan hilang tanpa jejak setelah pamit pergi ke rumah Amris."
" Amris...? Bukankah Amris itu teman kakak yang rumahnya dekat dengan rumah kakak, kan? " tanya Putri Arryan. Dia ingat, Amris itu adalah teman kakaknya yang sering main ke rumah tante Mirna karena memang rumah mereka berdekatan.
" Iya, .... Aku, Rima dan Amris satu sekolah. Sedangkan Sherly adalah pacar Amris. Kami memang sudah saling mengenal satu sama lain."
" Sangat mengherankan sekali.. " gimana Putri Arryan.
" Iya... padahal baru - baru ini sebelum hilangnya Sherly, kami sempat kumpul - kumpul bersama pada hari ulang tahun Keponakannya Amris. Tak ada tanda - tanda yang mencurigakan pada Sherly. Dia terlihat normal - normal saja. Tetap terlihat ceria seperti biasa."
" Apakah mungkin Sherly dan Amris terlibat pertengkaran? "
" Menurut Amris, tidak. Mereka tidak terlibat pertengkaran apa pun. Hanya saja, menurut Amris ada yang aneh dengan sikap Sherly. Dia tampak terlihat murung beberapa hari sebelum dinyatakan hilang."
" Apa Sherly sedang ada masalah, ya? "
" Nah, itu yang kami tak tahu, Sherly itu anaknya memang sedikit tertutup. "
" Kak... "
" Hmm, apa? "
" Boleh aku lihat foto Sherly dan Rima? "
Nadia lalu mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri. Dia lalu memperlihatkan foto - foto yang mereka ambil saat tamasya ke Grobogan Sewu.
" Aneh... kenapa gambar Rima yang ini terlihat buram, ya? Wajahnya tidak terlihat. " Nadia memperlihatkan kepada Putri Arryan foto Rima dan mereka semua yang diambil sesaat setelah mereka sampai di depan rumah Nadia.
" Iya, aneh ya, Kak? Foto yang lainnya bagus, kok. Hanya di foto ini saja, wajah Rima tidak terlihat jelas. Seperti buram. Mungkin efek cahaya." ucap Putri Arryan menimpali ucapan Nadia.
Kemudian mereka melanjutkan melihat - lihat foto yang lain. Kembali keanehan terjadi. Foto Sherly yang diambil saat pesta ulang tahun keponakannya Amris, juga sama seperti foto Rima. Buram tak terlihat. Di Foto itu, kepala Sherly malah terlihat seperti hilang. Hanya potongan tubuhnya saja yang terlihat. Nadia bergidik ngeri saat menyadari keanehan pada foto Sherly."
" Lantas... bagaimana hasil penyelidikan polisi, kak? "
" Yah... begitulah, dek. Polisi juga tak menemukan petunjuk terkait kasus hilangnya Sherly dan juga Rima." kata Nadia.
" Hmm, kasus ini semakin membuatku penasaran. Sepertinya kita memang harus segera menemui ayahku"
__ADS_1