
Matahari pagi baru saja hadir menuliskan absensi harian di atas nafas kehidupan semesta alam dengan sinarnya yang sejuk. Kicauan burung - burung di pagi hari ramai berkisah tentang hidup, seolah lupa akan kisah gelapnya malam mencekam yang terjadi semalam.
Nazwa bangun dari tidur dan segera cuci muka dan gosok gigi lalu pergi ke depan rumahnya. Dia melakukan beberapa aktivitas olahraga di pagi hari sebelum sarapan untuk menjaga bentuk tubuh, katanya ( hehehe ada - ada aja neng.. memangnya masih kurang bahenol tuh body).
Nazwa berlari - lari kecil di seputar halaman lalu menggeliatkan tubuh dengan nikmat ke kanan dan ke kiri. Meregangkan kedua tangan dan juga kakinya yang di rasa pegal dan keram. Lalu mengangkat sebelah paha kanannya ke atas dan menahannya.
Mata Nazwa tertuju pada paha kanan yang sedang di angkatnya. Tampak seperti ada bekas memar kebiruan yang menyerupai telapak tangan di paha kanan Nazwa. Nazwa yang penasaran menurunkan pahanya dan meraba memar tersebut. Terasa sakit dan panas.
" Eh... bekas apa ini. Perasaan kemarin nggak ada. Kayak bekas telapak tangan. " Nazwa mengingat - Ingat kalau - kalau dia pernah jatuh atau di pukul seseorang di area itu. Tapi seingat Nazwa tidak ada.
" Apa ini reaksi alergi karena makan sesuatu, ya ? " Nazwa lantas mengusap paha kanannya dan menekan - nekan dengan telunjuk. Tapi tak terjadi apa - apa selain rasa nyeri dan panas.
" Ah, sudahlah. Paling juga hilang sendiri setelah beberapa hari. Sebaiknya aku telpon kak Asmi. Semoga saja dia sudah sembuh. " pikir Nazwa.
Nazwa segera menelpon sepupunya yang cantik dan bahenol itu untuk bertanya kabar. Dia juga kemudian bercerita banyak hal kepada Asmi.
Dari masalah KKN hingga masalah pernikahan sirinya dengan Doni dengan dalih menyelamatkan nyawa Doni.
Asmi yang mendengar hal itu menjadi marah. Dia menyesalkan tindakan Nazwa yang mau saja menyerahkan kesuciannya pada Doni walaupun Doni yang pada akhirnya menikahi Nazwa, tapi Asmi sungguh tak rela jika sepupunya hanya di nikahi secara siri.
Asmi baru berhenti mengomel setelah Nazwa berkata bahwa mereka akan segera menikah setelah kembali dari Sumatera.
" ...... "
Nazwa terhenyak saat sepupunya itu kembali bertanya alasan dia menelpon tadi malam.
__ADS_1
" Ah, itu, anu. Nazwa sepertinya melihat bayangan kak Asmi lewat di jendela kamar Nazwa, tapi saat Nazwa bukakan pintu, nggak ada siapa - siapa. Makanya Nazwa segera nelpon kak Asmi.. Cuma mo mastikan kalo memang bukan kak Asmi yang lewat barusan di jendela Nazwa. " kata Nazwa.
" ...... "
" Eh, ya itu. Nazwa juga bingung. Kalau kak Asmi sedang di rumah kak Mirna, terus yang Nazwa lihat itu siapa? " kata Nazwa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" ...... "
" Iya, Sudah lah kak. Nggak usah terlalu di pikirkan. Bisa aja Nazwa salah liat. Satu lagi, tadi pagi Nazwa itu heran, karena saat olahraga barusan nih, Nazwa tengok ada bekas memar kebiruan yang besarnya setelapak tangan. Addaaa aja... kejadian aneh. Bikin pusing Nazwa aja, kak! " kekeh Nazwa di ujung obrolannya dengan Asmi.
Nazwa lalu memutuskan telepon kemudian lantas pergi mandi. Dia mau ke rumah Doni sekalian ngajak suaminya itu nyari sarapan bareng.
...----...
Asmi masih termenung sendiri di kamarnya. Kondisi Asmi sudah lumayan baik sejak kemarin. Putri azylla membantunya dengan menyalurkan sedikit tenaga dalamnya dan menyalurkan energi positif ke dalam tubuhnya untuk membuang penyakit yang tengah bersarang di tubuh Asmi.
Putri Azylla bahkan berjanji untuk membantunya bertemu dengan pangeran Hasyeem. Asmi menarik nafas. Dadanya sesak oleh rasa rindu yang terus - menerus menghantam kalbu.
Seandainya saja dia memiliki kekuatan seperti putri Azylla yang bebas muncul dan menghilang semau hatinya, maka sudah barang tentu dia akan pergi menemui lelaki tampan keturunan bangsa jin itu.
Namun lagi-lagi karena keterbatasan dirinya yang hanyalah makhluk berjenis manusia dan berlabel biasa, maka semua itu hanya tinggal angan-angan saja. Asmi hanya bisa menangis menahan kerinduan di hatinya.
Tadi dia sempat berbincang dengan Nazwa sepupunya yang sedang KKN di Sumatera. Beberapa waktu yang lalu,Nazwa sempat di bawa oleh Pangeran Hasyeem ke rumah kosan Nazwa dan di sana dia dan Pangeran Hasyeem menjumpai sesosok makhluk mengerikan yang mencoba mengganggu Nazwa.
Saat mengingat kejadian itu, mendadak Asmi jadi mencemaskan keadaan Nazwa. Apalagi tadi Nazwa sempat menceritakan kejadian aneh yang menimpanya semalam, semakin membuat Asmi cemas dan takut sesuatu yang buruk akan menimpa gadis itu.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut. Asmi masih tak dapat memejamkan matanya. Bayangan wajah Pangeran Hasyeem dan kilasan peristiwa indah yang sudah mereka lalui bergantian hadir silih berganti di pelupuk matanya.
" Assalamu'alaikum! " seseorang memberi salam padanya. Asmi menoleh ke arah orang yang memberi salam.
" Walaikum salam." jawabnya. Kening Asmi berkerut heran. Siapa wanita cantik di hadapannya ini. Walaupun dia tahu bahwa wanita cantik yang tengah berdiri menatapnya itu bukanlah sebangsa manusia, namun Asmi tidak merasa takut. Mungkin akibat karena terlalu sering berhadapan dengan makhluk tak kasat mata, kali ya hehehe.
"Siapakah anda, wahai tuan? " jawab Asmi. Mata Asmi tak berkedip menyaksikan kecantikan wanita di hadapannya. Tampak agung dan berwibawa. Membuat Asmi merasa segan untuk berbuat lancang.
Wanita itu masih terdiam menatap ke arah Asmi. Ada keraguan yang dapat di lihat Asmi di mata wanita itu.
Kembali Asmi bertanya kepada wanita itu.
" Tuan putri, ada perlu apakah sehingga anda sampai datang kemari dan kalau boleh tahu siapakah anda ?"
Sejenak keadaan hening, wanita itu masih tak menjawab sehingga Asmi menjadi salah tingkah dan kikuk.
'Mengapa wanita ini hanya diam. Apakah wanita itu salah satu anggota keluarga pangeran Hasyeem yang ingin menangkap dan membuat perhitungan dengannya, pikir Asmi dalam hati.
Wanita itu mengerjapkan matanya yang berwarna hijau toska terang. Kemudian wanita bermata toska berjalan menghampiri Asmi dan duduk di hadapan Asmi.
" Aku adalah Ratu Kalina, ibunda Pangeran Hasyeem Hasyeem, permaisuri dari Raja Kaizzar. " ada nada kesedihan dari suaranya saat memperkenalkan dirinya pada Asmi.
Mulut Asmi ternganga tak percaya. Benarkah... wanita yang berdiri di hadapannya ini adalah ibu dari kekasihnya. Ibunda dari Pangeran Hasyeem. OMG!! Asmi tak dapat berkata-kata lagi. Dia terlalu takjub untuk berkata-kata walaupun hanya sekedar basa - basi untuk menyambut dan menghormati tamu.
" Maa....maafkan saya. Saya tidak mengetahui jika yang datang adalah ibunda ratu Kalina. Terimalah sembah saya, Ibunda ratu! " setelah berkata demikian, Asmi membungkukkan badannya dan menundukkan kepalanya tanda hormat pada Ratu Kalina, ibunda Pangeran Hasyeem.
__ADS_1
" Bangunlah, kita harus bicara! " kata Ratu Kalina dingin. Jantung Asmi berdebar tak berhenti mendengar ucapan Ratu Kalina. 'Apa yang ingin Ratu Kalina bicarakan, ya? ' pikirnya kalut.