Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 81 Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

Duarrrr!!! Asmi seakan-akan di sambar petir di siang hari bolong. Dia menjadi panik. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Bagaimana ini..?, pikirnya.


Ya, Allah. Bukannya dia tak bersyukur atas Anugrah-Nya yang diberikan padanya, namun keadaannya tak memungkinkan dia untuk memiliki seorang anak. Dia tidak bersuami tapi kini sedang hamil. Apa nanti kata orang - orang. Kepala Asmi jadi bertambah pusing.


Apa nanti kata mereka jika tahu Asmi yang seorang janda saat ini sedang hamil. Bagaimana cara Asmi menjawab semua pertanyaan mereka dan bagaimana cara Asmi menjalani semua ini nantinya.


Kepala Asmi rasanya mau pecah memikirkan semua ini. Sehingga bukannya sembuh dengan pergi ke dokter, malahan dia semakin bertambah sakit. Sakit badan dan juga pikiran.


Pulang ke rumah, badan Asmi langsung meriang dan demam. Wanita cantik itu hanya bisa meringkuk ringkih sendiri di tempat tidur dengan tubuh terbalut selimut tebal.


Dalam hati sangat merindukan kehadiran dari sang Kekasih. Entahlah... Asmi tak tahu, apakah ini semua kemauan dari jabang bayinya atau memang Asmi yang rindu ingin melihat wajah sang kekasih.


Sayang sekali, jika yang dia rindukan adalah manusia biasa, mungkin dengan mudah dia bisa melihat foto sang kekasih. Tapi bagaimana jika yang dai rindukan Asmi adalah seorang lelaki dari bangsa jin. Dapatkah jin di foto oleh kamera manusia. Mata manusia biasa saja belum tentu bisa melihat jika tidak dengan seizin yang punya diri.


" Hmm, pangeran. Aku merindukanmu.. " desah Asmi dengan sedih.


Dia tahu, perpisahan ini adalah atas kehendak dirinya. Jadi mana mungkin Asmi mengemis - ngemis meminta pada Pangeran Hasyeem untuk datang menemuinya dan mengatakan bahwa ini adalah keinginan dari jabang bayi dalam perutnya.


" Maafkan aku.. !" kata Asmi pada diri sendiri. Air matanya jatuh melewati pipinya. Dia menutup mulutnya dengan tepi selimut agar isakan tangisnya tak terdengar.


" Maafkan aku pangeran. Aku terpaksa melakukan ini. Jika tidak, kamu tentu tidak akan mau menikah dengan putri Azylla. Dan jika kamu tidak menikah dengan putri Azylla, maka seumur hidup, ayahandamu akan membenciku." kata hati Asmi pilu. Tetes demi tetes air mata nya jatuh di wajahnya yang sudah terlihat basah dan sembab.


Asmi mengusap wajahnya dengan kasar. Lama dia menangis sampai akhirnya, tertidur.


Sementara di luar, hujan turun dengan deras bagai tumpahan air bah yang dituangkan dari langit. Petir menyambar - nyambar di langit. Seperti menumpahkan semua kemarahan akan nasib diri kepada sang Langit.


Saat Asmi terbangun hari sudah malam. Dia melirik ke arah jam di dinding kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Jadi dia telah tidur dengan melewatkan dua waktu solat.


Asmi bergegas bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air berwudu. Setelah solat, Asmi ke dapur dan membuat makanan untuk mengganjal perutnya yang lapar.


Setelah makan Asmi, minum obat pemberian dokter dan beristirahat di ruang tamu sambil menonton tivi.


" Assalamualaikum.... Asmi..!! seseorang memberi salam. Reflek Asmi menoleh ke arah sumber suara.


" Si... siapa? " tanya Asmi. Sesosok wanita cantik berbaju hijau emerald muncul di hadapan Asmi. Tersenyum manis mendekati Asmi.


" Apa kamu sudah melupakan aku? "


" Ibunda Ratu Kalina! maafkan atas ketidak sopananku!" jawab Asmi. Dia bangkit dan beranjak mendekati Ratu Kalina, mencium tangan wanita tercantik di istana Gunung Kahyangan itu dengan takjim sebagai tanda bakti.


" Silakan bunda duduk di manapun bunda suka !" Asmi mempersilahkan Ratu Kalina duduk.


" Terima kasih, Asmi.! " Ratu Kalina mengambil tempat duduk di sebelah Asmi.


Asmi merasa tak enak karena Ratu Kalina duduk di lantai, bukan di kursi.


" Mengapa duduk di bawah, Bunda Ratu?" Ratu Kalina tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan indah.


" Di sini sama saja. Aku ingin berbicara padamu dari hati ke hati." kata Ratu Kalina seraya menatap wajah Asmi yang terlihat pucat. Tangannya menggenggam hangat tangan Asmi.


" Hmm, baiklah. Apa yang ingin bunda Ratu katakan? " kata Asmi.


" Aku ingin kamu jujur padaku. Apakah kamu masih mencintai putraku?" tanya Sang Ratu tanpa basa basi.

__ADS_1


Asmi tampak terkejut mendengar pertanyaan Ratu Kalina. Dia menunduk menyembunyikan air mata yang mendadak ingin keluar. Air mata sialan, umpat Asmi dalam hati.


Ratu Kalina tersenyum ketika mendengar umpatan Asmi.


" Tak baik seorang wanita mengumpat. Air mata tak bersalah. Dia adalah salah satu benda yang paling peka terhadap isi hati kita. Dan lagi pula, wanita hamil harus bisa menjaga lisan dan perbuatannya demi calon bayinya." nasehat Ratu Kalina.


Perkataan Ratu Kalina membuat Asmi melongo takjub. Bagaimana mungkin Ratu Kalina bisa mengetahui jika saat ini dia sedang hamil.


" Bagaimana bunda Ratu bisa tahu jika saya sedang hamil?" tanya Asmi heran. Dia saja baru tahu hari ini jika dia tengah berbadan dua. Tetapi, Ratu dari bangsa jin itu dengan mudahnya mengetahui bahwa ada sebuah kehidupan yang tersimpan di balik perut rata Asmi.


" Asmi, kamu lupa siapa aku? aku juga seorang wanita, seorang ibu, dan juga ingat aku adalah seorang jin. Aku bisa melihat jauh hal - hal yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa." kata Ratu Kalina.


Tangan Ratu Kalina bergerak ke perut Asmi. Di belainya perut Asmi yang masih rata.


" Kamu belum menjawab pertanyaanku, asmi. Apakah kamu masih mencintai putraku?"


" Bunda Ratu Kalina sudah tahu jawabannya. Dulu, sekarang, atau nanti aku akan selalu mencintainya." jawab Asmi.


Ratu Kalina tersenyum puas mendengar ungkapan jujur dari sang calon menantu manusianya.


Kembali dia bertanya pada Asmi.


" Katakan padaku dengan jujur sekarang juga, apakah ini benar seperti dugaanku?" tanya Ratu Kalina pada Asmi seraya menunjuk perut Asmi.


Wanita cantik itu menundukkan kepalanya. Lalu mengangguk pelan. Menjawab pertanyaan Ratu Kalina melalui isyarat rasanya jauh lebih ringan daripada harus menjawab dengan lisan. Karena sejujurnya, dia tak ingin mengatakannya. Namun, kebohongan juga akan memperburuk keadaan.


" Maafkan kami, Yang Mulia Ratu!"


Ratu Kalina menghela nafas panjang. Lalu berkata dengan suara lirih tapi tegas.


Mata Asmi membulat lebar. Rasa tak percaya dengan ucapan wanita yang merupakan ibu dari mantan kekasihnya.


" Ta... tapi bunda Ratu, hamba rasa itu tidak mungkin." kata Asmi lemah. Jebol sudah benteng pertahanan Asmi. Air mata yang sejak tadi ditahannya agar tidak keluar, kini mengalir bagai anak sungai yang membanjiri kedua pipinya.


" Mengapa tidak mungkin? atau kamu mau cucuku lahir tanpa ayah? " sentak sang ratu.


" kami sudah tidak bersama lagi. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya. Aku juga sudah memintanya agar menikah dengan putri Azylla. Dan sekarang, walaupun aku hamil, tetapi aku tak ingin merusak hubungan mereka, bunda Ratu. Biar saja, aku rela. Aku anggap ini semua adalah kesalahanku. Aku akan menjalaninya.!" kata Asmi sambil terisak.


Asmi tak menyadari, jika sedari tadi sepasang mata coklat terang mendengar semua percakapan antara Asmi dan Ratu Kalina. Wajahnya berubah pias dengan rahang yang mengeras. Menahan amarah, sedih, dan rasa kecewa. Namun, ada rasa yang lebih besar lagi di dadanya, rasa rindu. Rasa rindu yang membuncah hebat di hatinya rasanya ingin sekali dia lepaskan dengan memeluk erat wanita yang kini sedang menangis pilu.


kerongkongannya terasa kering dan tercekat saat mengetahui bahwa wanita ini sedang mengandung anaknya.


Ingin rasanya dia memeluk dan mengucapkan kata-kata manis untuk membujuk dan menenangkan wanita itu. Mengatakan bahwa dia sangat mencintainya, merindukan dirinya, dan mengatakan bahwa semua akan baik - baik saja.


" Dari mana kamu berkesimpulan bahwa yang sudah kamu lakukan adalah hal yang sudah benar?" Ratu Kalina kembali bertanya setelah tangannya memberi isyarat pada seseorang.


" Karena aku yakin, bunda Ratu Kalina. Bahwa wanita yang paling pantas mendampingi hidup Pangeran Hasyeem adalah Putri Azylla. " kata wanita itu mantap.


" Atas dasar apa kamu menilai


demikian? " bentak Ratu Kalina dengan emosi. Asmi sampai tertegun dibuatnya.


" Atas dasar kenyataan bahwa yang suami anda inginkan sebagai menantunya adalah putri Azylla, dan bukan Aku!" katanya kemudian.

__ADS_1


" Dasar wanita bodoh. Apakah kamu sudah bertanya pada Pangeran Hasyeem bagaimana perasaannya? Apakah kamu tahu apa yang di inginkan olehnya? Jawab, Asmi!" kata Ratu Kalina, perkataan Ratu Kalina memanglah benar. Apakah dia pernah bertanya pada Pangeran Hasyeem tentang apa keinginannya, tentang perasaannya.


Asmi terdiam sesaat, lidahnya tak dapat lagi mendebat kata - kata Sang Ratu.


" Tahukah kamu bahwa setiap detik di hembusan nafas putraku, hanya namamu terucap. Berminggu-minggu dia tak dapat tidur dengan tenang, tak ingin merasakan sekecap makan atau seteguk air, karena selalu memikirkan dirimu. Memikirkan apa kesalahannya hingga sampai hati kamu pergi meninggalkan dirinya. Namun, kamu dengan congkaknya bersembunyi bersama anak kalian dengan dalih tak ingin merusak kehidupannya."


Dada Asmi sesak, hingga lupa dia cara bernafas, napasnya tersengal naik turun karena emosi dan tangis yang jadi satu.


" Sekarang aku bertanya padamu, siapa kini yang sudah merusak kehidupannya. Suamiku Paduka Raja Haizzar atau dirimu?"


" Suamiku hanya seorang ayah yang naif dan egois, namun kamu lebih egois lagi karena tak pernah memberinya kesempatan untuk membuktikan semua tentang cintanya dan cita - cintanya padamu. Kamu benar-benar kejam, Asmi!"


Tangisan Asmi pecah. Meraung pilu karena sakit di hatinya. Benarkah dia sekejam itu pada Pangeran Hasyeem.


" Cukup, ibunda Ratu Kalina. Jangan diteruskan lagi. Aku tahu.. aku salah. Tapi apakah anda tidak tahu, bahwa begitu tersiksanya aku saat menyuruhnya meninggalkan aku untuk menikah dengan putri Azylla. Aku sebenarnya tak ingin melakukannya.


Aku tak ingin dia pergi, aku tak ingin berpisah darinya. Aku sangat mencintainya dan selalu merindukannya bahkan hingga saat ini. Tapi aku tak bisa membuang rasa bersalah pada diriku. Karena aku suami dan putramu berselisih. Karena aku juga keponakan dan Putramu kini berseteru. Dan karena aku juga, wanita sebaik putri Azylla kehilangan calon suaminya.


Katakan... aku harus bagaimana, Bunda Ratu. Aku harus bagaimana..? Asmi putus Asa bertanya pada Ratu Kalina.


Ratu Kalina memeluk tubuh Asmi. Wanita itu menangis pilu di dada Ratu Kalina.


Pemilik sepasang mata coklat terang itu juga menangis. Dia tak dapat menahan lebih lama lagi perasaannya.


" Berhentilah menangis... aku tak ingin anakku dalam kandunganmu menjadi sedih dan ikut juga sakit!"


Asmi menoleh dan mendapati lelaki yang selalu dia rindukan dan dia tangisi diam - diam kini berada di hadapannya.


"Pangeran Hasyeem!! " Asmi menghambur ke pelukan Pangeran tampan itu. Menumpahkan segenap rasa sedih dan rindu di hatinya.


" Bodoh... apa kamu pikir aku akan mau menuruti keinginanmu untuk menikah dengan putri Azylla dan hidup bahagia tanpa dirimu? kata Pangeran Hasyeem. Di elusnya rambut hitam Asmi dengan sayang. Kemudian lelaki dari bangsa jin itu mencium lembut bibir Asmi sekilas.


"Kita akan segera menikah. Dan kali ini aku tak ingin ada penolakan lagi." kata Pangeran Hasyeem.


" Tapi bagaimana dengan ayahandamu dan juga putri Azylla? " tanya Asmi.


" Putri Azylla sudah membatalkan perjodohan itu. Dia sendiri yang datang bersama ayahandanya menemui paduka Raja Haizzar." kata Ratu Kalina.


" Tapi... mengapa dia melakukan hal itu?" tanya Asmi yang masih tak mengerti.


" Karena dia tahu bahwa pernikahan kami tak akan pernah bisa berakhir bahagia. Dia tahu, bahwa hanya ada kamu yang bertahta di hatiku, bukan dirinya. Sehingga dia memutuskan untuk membatalkan perjodohan kami." kata Pangeran Hasyeem pada Asmi.


" Hhmm, tapi aku masih takut. Aku... "


" Takut apa, sayang?" kata Pangeran Hasyeem.


" Aku takut jika kehamilanku akan di ketahui oleh orang. Apalagi di kalangan kami, wanita hamil tanpa suami bukanlah hal yang baik." kata Asmi lagi.


" Kita akan mengaturnya sayang. Kamu lupa, ya. Jika kamu itu menikah dengan siapa? "


" Bagaimana, apakah kamu mau menikah denganku Asmi bin Suherman.?


" Hmm, Ya. Aku mau... aku mau menikah denganmu, Pangeran Hasyeem." kata Asmi.

__ADS_1


Pangeran Hasyeem sangat bahagia karena Asmi mau menerima lamarannya. Asmi akhirnya mau menikah dengannya. Ratu Kalina pun tersenyum bijak penuh haru.


Ratu cantik itu kemudian berlalu pergi secara diam - diam dari tempat itu.


__ADS_2