
Walaupun sakit, tapi dia bahagia melihat Delia sudah berbaikan kembali dengan suaminya. Dia ikhlas walaupun tidak mendapatkan Delia, tapi dia cukup senang melihat wanita cantik itu bisa kembali tertawa bahagia bersama suaminya. Ammar, oh... Ammar!!!
Sementara itu di tempat lain di dunia manusia. Pangeran Hasyeem dan Asmi sedang berada di rumah Asmi bersama Alyan. Keluarga Asmi sangat kaget mendapati Asmi yang datang bersama seorang bayi mungil yang sangat tampan.
" Loh, Dek Asmi, anak siapa ini, ganteng sekali! " kata mbak Nur.
" Anak aku lah, mbak? masa anak orang. Nggak liat apa wajahnya saja mirip sekali sama suami aku! " kata Asmi sewot. Dia kesal karena sepertinya semua orang tidak percaya jika dia bisa juga melahirkan dan punya anak.
" Eh, iya. Soalnya kamu lo lama banget nggak kemari, jadi nggak tahu kalau kamu hamil." kata Mirna Sang adik yang ikut menimpali.
" Delia, mana? " tanya Asmi yang heran karena tidak melihat kehadiran Sang adik bungsunya itu.
" Mungkin sebentar lagi sampai, Mbak!" kata Mirna.
" Mbak Asmi, belum tahu ya, kabar terbaru. Sekarang Delia sudah jadi istrinya Revan. Itu lo, kakak dari Yovan, suami pertama Delia.!"
" Oh, ya.. Kok bisa? "
" Iya, tante Yunita maunya agar Delia tidak pergi kemana-mana, maka dia minta agar Revan menikah saja dengan Delia, toh.. Revan juga sudah lumayan berumur tetapi masih single. jadi Klopp deh, Janda sama bujang lapuk, hihihi! " kata Mirna cekikikan sambil bercerita soal adiknya yang baru saja menikah lagi.
"Ohhh, gitu. Yah... bagus deh. Biar Delia tidak terlalu bersedih atas kehilangan Yovan. Lagian jadi janda itu nggak enak!" kata Asmi sambil ikut juga tertawa bersama Mirna.
Mas Ardi yang sedang minum kopi sambil menonton TV hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik - adiknya.
Pangeran Hasyeem hanya tersenyum saja mendengar percakapan istri dan adik-iparnya.
" Sayang, sini Alyan biar aku saja yang gendong, kamu istirahat saja, dulu.! " kata Jin tampan itu sambil tersenyum menggoda.
" Nggak papa, beneran.. Soalnya aku memang lelah sekali! "
Pangeran tampan itu lalu mengambil putranya yang berada dalam gendongan Asmi.
" Alyan, sama papa, ya! bunda, mau istirahat dulu. Soalnya bunda mau boboin papa juga nanti malam! " katanya dengan senyuman smirk yang khas. Matanya mengedip genit pada Asmi, Sang istri.
" Huhhh, dasar mesum.. Udah jagain Alyan! aku mau bobo, sayang! "
Asmi pun merebahkan dirinya di atas kasur empuk di kamarnya. Tak lama kemudian, wanita cantik itu sudah tertidur pulas. Wajah cantiknya tampak menggemaskan di telan bantal.
Membuat Sang suami rasanya ingin menerkam tubuhnya andai tak ada anak yang harus dijaga.
Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Asmi terbangun ketika mendengar suara Alyan yang menangis karena kehausan.
"Sayang, kamu sudah bangun. Putra kita sepertinya sudah kehausan sejak tadi." pangeran Hasyeem menyerahkan putra mereka kepada Asmi, dan membiarkan wanita itu menyusui putra mereka sampai kenyang.
Sore harinya, Delia datang ke rumah Asmi karena mendengar bahwa kakaknya itu akan datang berkunjung ke rumah orang tua mereka yang sudah selesai dipugar dan sekarang di tempati oleh mas Ardi dan keluarganya.
Setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Akhirnya kakaknya itu datang juga, pikirnya.
Delia memandang Asmi dengan pandangan yang aneh. Terlebih pada suami kakaknya itu. Dia menatap pangeran Hasyeem dengan lekat.
" Aku belum mengucapkan terima kasih secara langsung pada suamimu, kak! karena telah menyelamatkan aku beberapa waktu yang lalu." kata wanita itu.
Asmi menoleh ke arah suaminya. Heran. Mengapa dia tidak mengetahui cerita itu langsung dari suaminya sendiri.
" oh, ya?! kok aku tidak tahu, ya? kamu tidak pernah cerita sama aku, sayang! " kata Asmi pada Pangeran Hasyeem.
" bagaimana aku mau cerita, kamu saja masih belum sadarkan diri saat itu! " kata Pangeran Hasyeem.
__ADS_1
Asmi menepuk jidatnya karena merasa kelupaan mengenai peristiwa yang pernah terjadi dengannya saat dia melahirkan.
" mbak Asmi, bolehkah Delia berbicara empat mata saja, sekarang? " tanya Delia.
Asmi menatap Delia dengan bingung. Tetapi walaupun tak faham akan maksud dan tujuan Delia dengan mengajaknya berbicara secara pribadi, namun Asmi tetap mengiyakan saja maunya Delia. Asmi mengajak Delia bicara berdua empat mata di kamarnya.
" Ayo, noh. mau ngomong apa sih, kayaknya serius sekali? " kata Asmi setibanya mereka di kamar Asmi.
" Mbak Asmi, aku sudah tahu, siapa sebenarnya suami kakak yang tampan itu! " kata Delia. Dia menatap kakaknya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
asmi terdiam sesaat. Dia tak bisa berbicara karena sangking terkejutnya.
" Kau sudah tahu kalau Hasyeem adalah seorang Jin?"
" Iya, dan yang aku sesalkan, kakak tidak mengatakan yang sejujurnya mengenai siapa sebenarnya kakak ipar kami kepada semua keluarga! " kata Delia lagi.
Asmi menatap Delia tajam.
" Jika aku mengatakan hal yang sebenarnya, kau pikir apa keluarga kita akan bisa menerima dia? " tanya Asmi balik bertanya pada Delia.
Delia terbungkam, tak bisa menjawab pertanyaan Asmi.
Memang benar, apakah kelak keluarganya akan mau menerima kehadiran pangeran Hasyeem setelah mereka semua mengetahui siapa jati diri lelaki itu sesungguhnya.
" Kamu saja tak bisa menjawab pertanyaan aku? aku ragu apakah semua keluarga kita akan mau menerima suamiku jika tahu bahwa dia adalah seorang Jin? " kata Asmi dengan nelangsa.
Delia terdiam tak bisa menjawab perkataan kakaknya. Memang benar adanya. Dia saja mati - matian menolak keberadaan Ammar, walaupun sudah berulang kali lelaki tampan dari golongan Jin itu menolongnya dan menyatakan perasaannya secara langsung.
Tetap saja Delia menolak dan lebih mempertahankan pernikahan keduanya yang tanpa cinta dari pada hidup bersama dengan Ammar. Walaupun sebenarnya dia sudah mulai nyaman. dengan lelaki Jin berwajah maskulin itu.
...---...
Langit malam ini berwarna merah terang mirip darah. Malam ini konon di ramalkan akan terjadi gerhana bulan darah. Gerhana bulan yang sangat di tunggu oleh para penganut ilmu sesaat dan tukang sihir. Awalnya langit yang semula gelap perlahan-lahan berubah warna menjadi merah karena bayangan bulan yang terlibat lebih besar dari biasanya dengan warna semerah darah.
Hutan yang angker itu kini semakin terasa angker karena kemunculan beberapa manusia aneh yang memakai jubah hitam. Sepertinya mereka akan mengadakan semacam ritual upacara.
Dari dalam hutan yang gelap, muncul beberapa makhluk yang berwajah mengerikan. Wajah mereka mirip dengan beruk, ada juga yang berwajah mirip seperti babi dan harimau.
Di sebuah desa yang letaknya tak jauh dari hutan Larangan, seorang lelaki tampak berjalan sendiri menyusuri kegelapan malam. Sesekali kepalanya menoleh kebelakang. Suatu saat, dia mengangkat wajahnya ke atas memandang bulan yang besar dan berwarna merah.
Lelaki itu adalah Ammar. Seusai mengantar Revan bertemu Delia, Jin tampan itu memutuskan untuk pergi diam - diam dari keduanya. Dia butuh kesendirian.
" hmm, malam ini gerhana bulan darah akhirnya muncul juga. Gerhana bulan ini langka terjadi dan sepertinya akan terjadi hal yang besar! " gumannya.
Tiba-tiba, matanya menangkap suatu gerakan yang mencurigakan.
Dari atas pohon, mata abu - abu terangnya menangkap sesosok bayangan mengendap-endap di samping rumah penduduk.
Dengan perlahan-lahan, bayangan itu mencoba mendekati rumah kecil yang di dalamnya ada seberkas cahaya redup dari sebuah pelita.
Secepat kilat Ammar masuk ke rumah penduduk yang sedang di incar oleh sosok bayangan itu.
Dengan mudahnya dia menembus dinding rumah yang hanya terbuat dari kayu itu. Yah, karena dia adalah seseorang Jin, maka semua itu mudah untuk dia lakukan.
Tampak seorang wanita sedang berjuang melahirkan seorang diri. Tak ada seorang pun yang menemani wanita itu. Tubuh wanita itu bergetar ketika jabang bayinya memaksa keluar dari jalannya.
Tangis bayi memecah keheningan malam di rumah kecil berdinding kayu itu. Wanita itu tergolek lemah kehabisan tenaga. Untuk selanjutnya kemudian wanita itu tak sadarkan diri akibat kelelahan sehabis melahirkan.
__ADS_1
Seseorang tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam rumah itu dan mengambil bayi yang masih menangis itu dan membawanya pergi dengan tergesa-gesa.
Ammar merasa ada yang tidak beres dengan orang itu. Pastinya orang itu bukan keluarga wanita karena gerak - geriknya begitu mencurigakan.
Ammar memutuskan untuk mengikuti kemana perginya orang yang membawa bayi wanita itu.
Sementara itu suasana di hutan larangan terasa sangat mencekam. Sang Penguasa Hutan larangan hadir menampakkan dirinya di kerumunan manusia - manusia berjubah hitam dan makhluk - makhluk berwajah mirip binatang yang kini sudah menanti dengan tak sabar.
"Malam ini, gerhana bulan berdarah akan tiba. Apakah kalian sudah mendapatkan bayi yang lahir malam ini? " tanya penguasa Hutan larangan.
Tampak seseorang sedang berjalan tergesa-gesa sambil menggendong seorang bayi yang masih merah. Bahkan ari - ari bayi itu saja masih melekat pada tubuh Sang Bayi.
Orang tersebut segera menyerahkan bayi merah yang masih berlumur darah karena belum dibersihkan kepada sesosok makhluk tinggi besar yang merupakan kaki tangan Sang Penguasa Hutan larangan.
Bayi yang berjenis kelamin perempuan itu kini sedang menangis dalam gendongan sesosok makhluk berwajah seperti monyet raksasa. Tubuhnya penuh bulu berwarna hitam dengan kuku - kuku panjang yang runcing.
Tangis bayi itu semakin kencang ketika tubuhnya di letakkan di atas sebuah batu besar yang mirip dolmen ( batu besar tempat untuk meletakkan sesaji).
Orang - orang yang memakai jubah hitam dan para makhluk mengerikan itu kini sudah berkumpul mengelilingi dolmen itu untuk kemudian mereka mulai melakukan ritual persembahan.
Mereka mulai membaca beberapa mantra yang pelafalannya mirip seperti orang yang sedang bernyanyi dengan gerakan - gerakan tertentu. Semakin lama, semakin cepat mereka menyanyikan mantra itu dan semakin cepat juga gerakan tubuh mereka.
Hingga pada suatu ketika, Salah seorang diantara mereka mengangkat tubuh bayi mungil yang tak berdosa itu tinggi - tinggi sambil mengacungkan sebuah belati kecil berbentuk bulan sabit.
Rupanya mereka ingin mengorbankan bayi itu untuk menambah kekuatan mereka dalam menghadapi Sang Penghancur. Darah bayi yang lahir pada saat gerhana bulan darah dipercaya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Untuk itulah mereka berniat untuk mengorbankan bayi tersebut untuk di minum darahnya sebagai tumbal untuk kekuatan mereka.
Tepat pada saat pisau terayun ke udara, sesosok bayangan secepat kilat melesat dan menyambar tubuh bayi itu dan membawanya pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Meninggalkan kerumunan manusia yang berhati iblish dan kumpulan iblish yang sedang haus akan kekuatan dan kekuasaan.
Penguasa hutan larangan sangat murka. Segera dia memerintahkan kepada mereka semua yang ada di sana untuk mengejar bayangan yang telah membawa lari bayi itu.
Kejar - kejaran pun terjadi. Ammar tidak kehabisan akal. Secepatnya dia membawa bayi itu ke arah Bukit Malaikat. Dia tahu, siapa orang yang tepat untuk dia mintai pertolongan pada saat ini.
Ammar sampai di bukit Malaikat dengan segera. Dia meminta pada penjaga pintu gerbang utama untuk membukakan pintu. Penjaga pintu gerbang utama segera melaporkan hal ini pada junjungannya yaitu pangeran Hasyeem.
Sementara itu, Ammar yang masih berada di depan pintu gerbang utama kerajaan bukit Malaikat menunggu dengan tidak sabar kapan pintu gerbang akan di buka.
" Hei, Jin busuk. Cepat kembalikan bayi yang kau curi dari kami! " sebuah suara bentakan membuat Ammar menoleh.
Segera saja dia bersiap-siap menghadapi serangan dari manusia - manusia berjubah hitam dan juga beberapa makhluk berwajah binatang yang kini sudah mengepungnya.
" Aku tak akan menyerahkan bayi ini ke tangan makhluk - makhluk seperti kalian. Coba saja kalau kalian berani, hadapi aku dulu!! " bentaknya marah.
Segera, perkelahian pun tak dapat di hindari. Ammar berjuang mati-matian untuk menyelamatkan bayi dalam gendongannya agar tidak jatuh ke tangan para manusia berhati iblish dan juga makhluk - makhluk mengerikan tersebut.
Berkali-kali tubuhnya terkena pukulan karena gerakannya yang terbatas akibat hanya sebelah tangan saja yang leluasa dia gerakan. Pada suatu ketika, Ammar terkena pukulan hingga menyebabkan lelaki dari bangsa Jin itu terlempar ke belakang dan bayi dalam gendongannya terlempar ke udara.
Sebelum bayi itu jatuh menyentuh bumi, salah seorang dari manusia berjubah itu melesat cepat ke arah bayi itu. Namun sosok bayangan hitam jauh lebih cepat menyambar bayi itu dan memberikan pukulan telak pada manusia berjubah hitam itu hingga jatuh terhempas ke bumi dan tewas seketika.
Semua mata terbelalak kaget. Sosok tinggi dan gagah berdiri di sana dengan pedang berwarna keemasan yang sudah terhunus.
" Aku beri kalian kesempatan untuk pergi dari tempat ini sebelum nasib kalian harus berakhir sama seperti teman kalian itu! "
Manusia berjubah hitam dan makhluk berwajah mirip binatang memandang tak berkedip pada Pangeran Hasyeem yang dengan entengnya mengacungkan pedangnya ke arah mereka.
Rasa gentar terselip di hati mereka. Sehingga tanpa di komando lagi mereka langsung mengundurkan diri kembali pulang dengan tangan hampa.
Ammar meringis menahan rasa sakit dan panas di dadanya akibat pukulan tenaga dalam yang maha Kuat menghantam telak dadanya.
__ADS_1
" Hmm, apalagi yang kau lakukan, saudara ku, setelah kemarin kamu membawa kabur istri orang, hari ini kau kembali lagi membawa kabur seorang bayi! "
hadeuh, Ammar!??