
" Hana... maafkan mas. Mas khilaf saat itu. Namun, percayalah, mas hanya melakukannya dengan Elisa saja. Mas tidak pernah melakukannya dengan mahasiswi lainnya." Wanita itu melempar pandangan jijik pada Profesor Alfred. Tatapannya tajam menyorotkan Kebencian yang mendalam pada Sang Profesor. Tangannya kemudian menepuk ke atas dan bergerak cepat.
" Anak-anak, bawa laki - laki ini ke markas dan beri pelajaran yang sesuai dengan dosa - dosanya."
Selesai berkata demikian, beberapa orang pemuda berbadan kekar menyeret paksa profesor Alfred masuk ke dalam mobil dan membawa laki-laki itu ke suatu tempat.
Hana tersenyum sinis sambil mengeluarkan ponsel miliknya. Ponsel itu berdering pertanda ada panggilan yang masuk melalui ponselnya.
" Hallo, ya Dave ada apa?"
" Bos, cewek dan pria itu lolos lagi, Bos..!"
" Bodoh...! Menghilangkan nyawa seorang gadis muda yang lemah saja kalian tak bisa. Apa saja yang kalian lakukan hingga kalian bisa gagal untuk melenyapkan kedua orang itu? "
" Maafkan kami, bos. Kami sudah melakukan apa yang bos perintahkan. Namun, rupanya mereka masih bisa selamat, bos.! "
" Aku tak mau tahu, bunuh gadis dan pria itu, atau nyawa kalian taruhannya! " bentak Hana dengan suara dingin dan menyeramkan.
Laki-laki yang di panggil Dave itu tampak kesal. Bos mereka ini, walaupun wanita tapi sangat kejam dan sadis sekali. Ucapannya tak pernah main - main. Dia hapal sekali, jika semua keinginannya tak dipenuhi, wanita itu tak segan - segan untuk menghabisi siapa pun yang berani menghalangi semua keinginannya.
" Kenapa, Bang Dave? Wajahnya jutek banget!" seru Dion.
" Aih... Kesal habis gue. Tuh cewek.. gagal koit... Mana prianya juga masih hidup sampai sekarang..! " tutuk Dave.
" Ahh yang bener, Bang..! Kaga salah denger apa, masa... tuh cewek sama bocah laki, bisa selamat. Gimana caranya. Kan udah nyata - nyata tuh.. bocah laki koit saat gue tinggalin tempo hari.! " kata Dion tak habis pikir.
" Tau... gue juga nggak habis pikir, Dion! "
" Terus, gimana nih sekarang, Bang? "
"Nah, itu dia. Bos minta kita harus bisa tuntaskan semua atau nyawa kita jadi taruhan. "
" Wah... gawat itu, bang. Kita harus segera bertindak."
__ADS_1
Tiba-tiba, salah seorang anak buah Bang Dave masuk dan membisikkan sesuatu ke telinga laki - laki itu. Wajah Bang Dave berubah keras. Rahangnya mengetat dan kedua tangannya terkepal menahan marah.
" Sialan, si dadang mengamuk dan menyerang anak - anak yang ada di markas. Kita harus ke sana secepatnya. "
Bang Dave dan Dion segera mengambil. beberapa buah senjata dan mengajak beberapa anak buahnya yang ada di sana untuk ikut ke markas.
Alangkah terkejutnya Bang Dave dan Dion saat sudah berada di markas. Beberapa mayat anak buahnya tampak bergelimpangan di lantai.
Belum hilang keterkejutannya, sebuah mobil berhenti di depan markas. Dari dalam keluar beberapa orang anak buahnya bersama seorang laki-laki dengan kepala yang ditutup oleh kain hitam.
" Bang, kata bos simpan di markas. Perintahnya siksa saja, kata bos. "
" Bawa ke ruang bawah tanah. Dion suruh mereka segera membersihkan kekacauan ini! " kata lelaki itu. Namun baru saja Dion hendak beranjak dari tempat itu, sebuah tendang bersarang di pinggangnya hingga membuat laki-laki itu tersungkur.
Sigap lelaki itu bangun dan bersiap memasang kuda - kuda.
" Bajingan..! siapa yang berani nyerang gue? " Seorang laki-laki dengan wajah pucat sedang berdiri tak jauh dari posisi Bang Dave.
" Dadang! Kamu rupanya mau cari mati dengan berkhianat di belakang aku? Cepat katakan apa maumu?" bentak Bang Dave. Dadang yang di tanya hanya diam saja. Pandangan mata laki-laki itu terlihat kosong.
" Bodo amat, gue kagak peduli dia mau kesambet atau tidak. Yang pasti dia harus mati sekarang juga." bentak Bang Dave murka.
Namun tidaklah mudah ternyata untuk menghadapi Dadang yang nyata - nyata tubuhnya sedang dirasuki oleh sebuah kekuatan yang tak kasat mata.
Tubuh laki-laki itu kebal senjata. Dan tenaganya berpuluh-puluh kali lipat dari semula. Dave dan Dion nyaris saja kewalahan saat menghadapi Dadang.
Dor..!! Bunyi letusan senjata terdengar bersamaan dengan robohnya tubuh Dadang ke tanah.
Bang Dave dan Dion terperanjat dengan mulut menganga. Tak jauh dari mereka, Bos besar mereka sedang berdiri dengan pistol di tangan.
" Huh, ternyata peluru perakku berguna juga untuk menghabisi cecunguk itu! " sungutnya sambil melangkah masuk ke dalam markas.
" Dimana tawanan disimpan? " tanyanya.
__ADS_1
" Di ruang bawah tanah, bos! "
" Hmm, baiklah..! " wanita cantik itu tak berkata apa - apa lagi. Dia melangkah cepat menuju ruang bawah tanah.
Di sana, seorang laki-laki sedang terikat tak berdaya dengan tubuh yang sudah babak belur. Terlihat beberapa lebam di wajah dan sekitar matanya. Sudut bibirnya terlihat mengeluarkan berdarah.
" Hana,.. lepaskan aku.! Aku bisa jelasin semua ini padamu, sayang! " kata Profesor Alfred dengan wajah memelas. Dia sungguh tak menyangka, wanita berpenampilan anggun dan lembut itu, ternyata bisa berubah sadis dan kejam dalam sesaat. Selama hampir kurang lebih dua puluh tahun mereka menikah, tak pernah sekali pun dia melihat wanita itu marah.
" Hem,... sangat menyedihkan. Sebentar lagi kamu akan menyusul wanita itu ke neraka.! " katanya dingin.
" Hana... apa yang telah kamu lakukan. Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini? Aku ini suamimu, sayang." kata Profesor Alfred dengan ekspresi wajah yang sudah terlihat cemas.
Hana tertawa terbahak-bahak. " Mas Alfred sayang, apa mas belum faham juga. Aku sudah muak dengan sandiwaramu. Kau pura-pura baik dan sayang padaku, tapi nyatanya kau berselingkuh dengan mahasiswimu itu hingga hamil. Aku memergoki kalian berdua saat gadis itu datang kepadamu untuk meminta pertanggung jawaban atas anak yang dikandungnya. Aku mendengar semuanya. Hatiku sakit sekali. Aku merasa dikhianati olehmu." Hana berhenti bicara lalu mengeluarkan sebilah pisau kecil dari dalam tasnya.
" Aku mulai menyelidiki gadis itu. Hem.. namanya Elisa, sebuah nama yang indah, tapi sayang tak seindah akhlak pemiliknya. Lalu aku memerintahkan beberapa orang untuk mengikuti dan menculik gadis itu. Kau tahu, di tempat inilah aku menyekapnya dulu. Gadis itu sempat hendak meloloskan diri, namun sayangnya aku berhasil menemukannya, dan.... tanganku sendiri dengan pisau ini yang telah menghabisi gadis itu beserta anak haram dalam perutnya."
Profesor Alfred merasa Shock mendengar cerita dari Hana. Mengapa dia tidak menyadari apa yang telah dilakukan oleh istrinya itu. Istrinya itu menjadi seorang pembunuh karena dia. Dia merasa bersalah karena telah berselingkuh. Namun, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur.
Tiba-tiba, sebuah bayangan putih melintas menembus tembok ruang bawah tanah tersebut. " Elisa..! " Profesor Alfred bisa melihat Elisa yang berjalan ke arahnya. Bahkan juga, Hana. Sehingga tak ayal membuat perempuan itu terkejut.
" Kau...tidak..! kau sudah mati..! Aku sudah membunuhmu sepuluh tahun yang lalu. Kau sudah mati..! "
Dia menembakkkan senjatanya ke arah bayangan Elisa, namun bayangan gadis itu tak mau lenyap.
" Pergi.... kamu sudah mati..! Hana kembali mengarahkan pistolnya ke Elisa. Dor..! Dor..! Dor..! Bukan Elisa yang tertembak, tapi Profesor Alfred. Lelaki itu roboh bersimbah darah dengan lubang di kepala.
" Jangan bergerak..! Nyonya, anda kami tahan, atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penganiayaan." kata seorang polisi sambil menodongkan pistolnya ke arah Hana.
Hana hanya tersenyum kecil melihat beberapa anak buahnya yang di borgol oleh polisi.
Dengan tenang, wanita itu memasukkan ujung pistol ke dalam mulutnya dan menarik pelatuknya dengan cepat. Tanpa sempat di cegah, mulut pistol itu memuntahkan pelurunya di mulut Hana.
Wanita cantik itu roboh dengan isi otak yang berhamburan di lantai.
__ADS_1
Semua peristiwa itu, terjadi begitu cepat dan tak di sangka - sangka. Disaksikan oleh polisi yang mengepung ruang bawah tanah itu, dan sesosok makhluk yang tak kasat mata. Yang kemudian melangkah pergi sambil menghela nafas panjang. Lagi - lagi masalah cinta yang harus berakhir dengan tragis. Cinta yang di baluri Oleh pengkhiatan tak pernah berakhir bahagia.