
" Ingatlah sayang, namaku Ammar.. dan aku adalah kekasihmu. Camkan itu ratuku..!" dilumatnya kembali bibir merah Delia dengan sepenuh gairahnya. Lalu setelah itu lelaki itu melesat ringan meninggalkan Delia yang masih terpaku di tempatnya.
Beberapa saat berlalu Delia masih diam tak beranjak dari tempatnya. Bahkan dia juga belum menyadari jika sedari tadi Yovan sudah berdiri di depan pintu apartemen dengan mata membelalak tak percaya.
" Delia,... kamu belum Mati? Oh.. syukurlah. Delia... Delia!" Yovan memeluk Delia dengan perasaan yang sulit di pahami.
Delia diam bergeming. Pelukan Yovan dia acuhkan dan berjalan terus menuju kamar utama. Dia mengemas semua barang - barangnya, lalu memindahkannya ke ruang tamu.
" Delia, kenapa kamu memindahkan barang - barangmu ke ruang tamu? "
Yovan menatap Delia dengan wajah memelas.
" Maaf, tapi aku merasa jijik jika harus sekamar dengan seorang penghianat! " kata Delia ketus. Dia benar-benar muak melihat wajah Yovan.
" Delia, tentang peristiwa kemarin, aku mohon maaf. Aku salah karena telah berkhianat pada pernikahan kita. Tapi semua itu aku lakukan karena aku merasa kesepian. Kamu selalu sibuk dengan dirimu dan karier kamu." Delia mendelik jengkel ke arah Yovan.
" Kamu bilang aku selalu sibuk dengan diriku sendiri? dengan karier aku? hey bung! sadar diri anda. Apakah pernah anda ada waktu untukku? apa tidak terbalik perkataan anda. Justru andalah yang jarang pulang ke rumah dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Ternyata pekerjaannya menggarap sekretaris!"
" Delia!!" bentak Yovan yang tidak terima dengan perkataan Delia.
" Apa?!! jangan pernah menyebut namaku dengan mulut kotormu!! bentak Delia tak kalah sengit. Emosinya sudah mulai terpancing karena Yovan masih saja tak sadar diri. Sudah salah tapi malah menyalahkan dirinya dengan alasan yang dibuat - buat.
" Delia, aku mohon maafkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik dan setia untukmu!"
" Cuih, kenapa aku merasa ingin muntah mendengar bualanmu ,Yovan!" Bentak Delia. Hilang sudah panggilan ' Mas ' yang biasa di sematkan Delia ketika memanggil Yovan. Yovan sedikit terkejut dengan bentakan Delia. Selama ini Delia yang dikenalnya adalah Delia yang lemah lembut dalam bertutur kata.
" Delia, kamu kenapa sekarang bisa kasar begini, sayang?! mana Deliaku yang dulu?"
" SUDAH MATI!! " bentaknya sambil memalingkan wajah. Dia makin sebel liat tampang Yovan.
" Tahu tidak?Aku merasa hidup kita terlalu membosankan. Aku merasa kesepian, Delia. Andai saja kita memiliki seorang anak, mungkin dengan kehadirannya di antara kita, sedikit banyak aku mungkin tak akan merasa bosan dan sepi. Dan mungkin juga aku tak akan selingkuh darimu." kata Yovan.
Makin naik emosi Delia mendengar perkataan Yovan yang menyinggung pernikahan mereka dengan ketidakhadiran seorang anak setelah sekian lama mereka menikah.
" Jadi kamu menyalahkan aku karena sampai sekarang kita belum memiliki seorang anak. Hey, dengar ya, Yovan. Ketiadaan seorang anak diantara kita bukan alasan yang tepat untukmu selingkuh dariku. Jadi mentang-mentang aku belum bisa memberimu anak, kamu dengan seenaknya colok sana colok sini? kamu pikir aku mau apa berbagi? maaf, tapi aku tak suka memakai barang bekas. Terutama bekas jalangmu, yang ada aku yang ketularan penyakit, hiiii ! kata Delia dengan nada yang mengandung ejekan. Merah telinga Yovan mendengar ucapan Delia. Wanita ini sekarang sudah pandai berbicara. Dan mulutnya sudah setajam silet.
" Cukup Delia! Cukup kamu menyudutkan aku. Aku hanya ingin kamu memaafkan aku dan melupakan semuanya. Toh semua ini terjadi bukan semuanya murni kesalahanku. Kamu juga turut bersalah. Karena itu aku mohon.... maafkanlah kesalahanku. Lupakan saja semua, sayang. Anggap saja itu tak pernah terjadi. Kita bisa memulainya kembali dari awal lagi. Aku akan berusaha memperbaiki diri, sayang!"
" Hah, mimpi saja kamu, Yovan. Apa kau pikir aku sudi memungut barang bekas. Kamu tuli, ya. Aku sudah bilang, aku tak sudi memakai barang bekas jalangmu!!' Emosi Delia kini sudah mencapai puncaknya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga di terjangnya Yovan dan mendaratkan pukulan dan cakaran di wajah dan tubuh Yovan. Yovan hanya bisa pasrah membiarkan Delia menumpahkan seluruh emosinya hingga akhirnya tubuh perempuan cantik itu jatuh tersungkur ke bawah karena kehabisan tenaga dan pingsan.
" Delia..! Delia!..sadar sayang, Delia! " Yovan panik dan segera mengangkat tubuh lemah Delia ke tempat tidur. Tak di hiraukan olehnya wajah dan tubuhnya yang babak belur bekas hantaman Delia. Karena dia tahu, hati Delia lebih sakit dibandingkan dengan rasa sakit yang dia rasakan di seluruh wajah dan tubuhnya.
Yovan membiarkan Delia tidur dan beristirahat. Dia keluar dari kamar tamu dan berniat untuk membersihkan dirinya. Dia juga berpikir untuk memasak sesuatu untuk dirinya dan Delia. Karena dia pikir istrinya itu belum makan apapun dari kemarin.
" Hmm, tidurlah, sayang. Aku akan melindungimu dari lelaki bajingan itu!" sesosok bayangan hitam muncul di atas tempat tidur Delia dan memeluk erat tubuh wanita cantik itu. Dia menutupi tubuh Delia dengan jubah hitamnya yang panjang. Dan dalam sekejap tubuh Delia sudah tidak terlihat lagi.
Yovan yang kembali ke kamar Delia menjadi panik ketika mendapati Delia sudah tak ada lagi di kamarnya.
" Delia! Delia! Di mana kamu, sayang. Aku sudah membuatkan kamu sarapan. Ayo.. kita sarapan bersama.! " Yovan mencari Delia ke kamar mandi. Siapa tahu, istrinya sedang berada di kamar mandi. Namun, dia harus kecewa karena dia tak mendapati istrinya di sana.
" Kemana Delia pergi? bukankah tadi dia masih pingsan dan terbaring di ranjang? mustahil dia bangun secepat itu dan pergi dari kamar ini tanpa kuketahui." pikir Yovan.
Dia tak tahu, bahwa Delia masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya dengan dipeluk oleh Ammar. Tubuh keduanya tak terlihat karena di tertutup oleh jubahnya Ammar. Ammar tersenyum menyeringai menatap ke arah Yovan. Di kecupnya pipi Delia yang masih pulas tertidur.
" hhm, lelaki pecundang, kamu tidak pantas untuk Delia. Lihat saja aku akan merebutnya darimu. Dia akan segera menjadi milikku." bisiknya lirih.
Tentu saja Yovan tak mendengar apa yang di ucapkan oleh Ammar, karena memang Ammar tak menginginkan Yovan melihat atau mendengarnya.
Yovan menjadi prustasi dengan ketiadaan Delia. Dia pikir Delia pergi karena masih kesal dengannya. Dengan terburu-buru dia meraih kunci mobil dan keluar menuju tempat parkir gedung Apartemen mereka. Dia mengemudikan kendaraannya tidak terlalu laju karena berharap masih bisa menemukan Delia.
Pikirnya pasti Delia berjalan kaki karena mobil Delia masih terparkir di sana. Tak bergerak sama seperti hari sebelumnya.
Sesampainya di apartemen, dia terkejut karena menemukan Delia yang tertidur pulas di tempat tidurnya masih dalam posisi dan keadaan yang sama seperti saat dia meletakkan istrinya itu.
Yovan mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang terjadi dengan dirinya. Apakah tadi dia berhalusinasi saat melihat Delia tak ada di tempat tidurnya. Buktinya sekarang Delia masih tertidur pulas di ranjangnya.
Yovan mendekati Delia. Perlahan di sentuhnya bahu istrinya yang tampaknya tertidur lelap sekali.
" Delia, bangun. Aku sudah memasak makanan untukmu. Ayo.. bangun...!" Yovan menyibak rambut panjang Delia sehingga terlihat lah wajah cantik Delia. Tak tahan menatap wajah Delia yang polos dan menggemaskan, Yovan pun menunduk dan mencium bibir Delia sekilas. Karena tak ada respon, Yovan kembali mencium bibir Delia, namun kali ini lebih lama dan menuntut.
Merasa ada yang menyentuhnya, mata Delia terbuka. Didapatinya wajah Yovan yang begitu dekat dengan wajahnya. Bukan itu saja, bibir Yovan sudah ******* habis bibirnya.
Sekuat tenaga Delia mendorong tubuh Yovan hingga lelaki itu terjatuh ke lantai. Delia bangun dan mengusap kasar bibirnya.
" Cuih, kurang ajar. Berani sekali kamu menyentuhku dengan bibirmu yang kotor itu! "
" Apa salahnya Delia. Aku masih lagi suamimu. Dan aku masih berhak menyentuhmu.! " kata Yovan sambil berdiri mendekati Delia.
__ADS_1
" Stop..! jangan mendekat. Aku tak ingin kamu menyentuhku. Sudah aku bilang, aku tak sudi di sentuh olehmu. Najis!! " kata Delia berapi-api. Yovan menjadi jengkel mendengar perkataan Delia.
" Dengar Delia, aku masih suamimu. Jadi suka atau tidak, kamu harus mau jika ku sentuh atau melayaniku. Karena berdosa hukumnya jika kamu menolakku! "
" Cih, dosa katamu. Lalu apa yang kamu lakukan itu bukan dosa? "
" Bukan begitu, Delia. Aku hanya... " Yovan sudah kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan Delia.
" Baiklah, segera aku akan membuat diriku menjadi haram untuk kau sentuh. aku akan menggugat cerai dirimu. Dan aku pastikan kamu tidak punya cara lagi untuk menyentuhku! " setelah berkata demikian Delia berlalu pergi dari hadapan Yovan. Dia menyambar telpon, dompet dan kunci mobilnya.
Dengan kasar Delia membanting pintu dan keluar dari apartemen meninggalkan Yovan yang kesal karena merasa gagal untuk membujuk Delia agar mau berdamai dengannya.
Yovan menghela nafas panjang. Mengapa Delia menjadi kasar dan keras kepala sekali, pikir Yovan. Dulu Delia selalu bersikap lemah lembut dan manis. Tapi kini semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat. Delia sangat membencinya dan seolah membangun tembok yang tinggi agar tak bisa lagi di sentuh olehnya.
Dengan lesu Yovan melangkah keluar dari kamar Delia. Dia mengambil kunci mobilnya lalu melangkah keluar meninggalkan apartemen menuju ke kantor.
Sementara itu, Delia masih saja menjalankan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Dia tak ingin kembali lagi ke apartemen. Namun dia juga tak ingin pergi ke kantor. Moodnya sedang kacau. Tak ada yang ingin dia lakukan selain keluar dari masalah ini. Tapi dia tak tahu harus bagaimana. Pikirannya kacau.
Dengan kasar Delia memarkirkan mobilnya di depan sebuah penginapan yang terletak di pinggiran kota. Berjalan masuk ke penginapan dan menemui resepsionis. Dia memesan sebuah kamar. Setelah mendapatkan kunci, petugas layanan kamar mengantar Delia menuju kamarnya.
Delia menutup pintu dengan kasar setelah petugas layanan kamar pergi. Di hempaskannya tubuh ripuhnya ke atas kasur yang empuk. Rasanya sedikit nyaman. Delia memejamkan matanya sambil memijat - mijat kepalanya yang dirasa agak sedikit pusing.
" Mencoba kabur dari rumah, sayang? "
Delia hampir melompat karena kaget dengan kemunculan Ammar yang tiba-tiba.
" Kau!!... mau apa kamu kemari?? bentaknya.
" hhm, great !! Ternyata selain keras kepala kamu juga sangat ganas! seperti singa betina! well, tapi aku suka !" kata Ammar dengan senyum sinis.
" Tak ada urusannya denganmu! sekarang keluar dari kamarku! aku ingin sendiri. Aku sedang tak ingin di ganggu! " kata Delia dingin dan ketus.
" Mana bisa begitu, sayang. Kamu lupa, aku adalah Ammar kekasihmu. Dan aku tak akan pergi dari tempat ini, tugasku adalah mengawalmu dimanapun kamu berada. Aku tak akan membiarkan sesuatu atau seseorang mencelakaimu."
" Aku baik-baik saja sampai saat kamu hadir. Jadi berhentilah mencemaskan aku, Ammar! "
" hmm, kamu sudah mulai menyebut namaku. Bagus... itu artinya kamu sudah mulai menerima keberadaanku. Baiklah aku akan... pergi agar kamu merasa nyaman. Selamat tinggal, sayang.!" Ammar berucap demikian sambil memeluk dan mengecup sekilas bibir Delia lalu menghilang.
"Tuan, mengapa tuan pergi meninggalkan wanita itu. Bukankah dia dalam bahaya? "
__ADS_1
" Tak apa - apa! Garriel Aku akan mengawasi dan memantaunya dari tempat ini. Dia perlu privasi dan ketenangan. Karena keadaannya sedang kacau. Kau awasi saja sipemilik penginapan ini. Kalau dia berani macam - macam dengan ratuku. Baru kita bertindak." titah Ammar.
" Baiklah, Tuanku. kalau begitu hamba mohon diri."