
" jangan bersedih! Kamu bisa bebas bermain bersama Aluna. Gunakan saja kemampuanmu untuk menemuinya kapan saja kamu mau!" kata sang Ayah dalam hati.
Alyan menatap sang ayah. Senyum lebar tercetak di bibirnya. Ayahnya memang ayah yang terbaik.
15 Tahun kemudian.
" Aluna.! Tunggu! Hey... Tunggu aku!" seru seorang pemuda tampan pada seorang gadis cantik dengan rambut ekor kuda.
Pemuda itu hanya mengenakan pakaian berupa celana panjang hitam saja, sedangkan bagian atas tidak berbaju alias topless.
Rambutnya yang berwarna coklat kemerahan terikat rapi semua kebelakang.
Membuat siap saja yang menatap pemuda itu akan terpesona dan langsung jatuh cinta.
Dialah Alyan. Putra sulung Pangeran Hasyeem itu sekarang sudah berumur dua puluh tahun. Dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
Kesaktian pemuda itu pilih tanding. Sama seperti sang ayah. Membuat dia disegani dan di takuti oleh lawan maupun kawan.
Sedangkan, gadis cantik yang di kejar oleh pemuda itu dialah Aluna.
Gadis itu tumbuh mekar laksana bunga mawar yang indah. Cantik menawan namun mematikan.
Gadis itu hanya mengenakan baju berlengan panjang hitam yang menutupi kulit putih dan mulusnya serta celana gombrang yang menutup hingga mata kaki. Tak ada baju indah yang terbuat dari sutra seperti kebanyakan para putri istana biasa memakainya.
Gadis itu berpakaian sangat sederhana namun semua itu tidak mengurangi kadar kecantikannya.
" Aluna, tunggu dulu! Aku masih belum selesai memakai baju. Aluna..! " teriaknya jengkel karena teriakannya tidak di hiraukan oleh sang gadis.
Gadis itu tak menggubris. Dia malah semakin mempercepat larinya.
" Hahaha, kejar aku, Pangeran! Aku berani bertaruh, ilmu lari cepatmu pasti kalah dengan ilmu lari cepatku!" Dia berlari sambil tertawa mengejek ke arah pemuda yang mengejarnya.
Panas hati pemuda itu mendengar ejekan dari sang gadis. Di percepatannya larinya agar bisa menyusul lari si gadis.
" Hmm, awas kau Luna. Aku pasti bisa mengejarmu! " gumannya sambil tersenyum licik. Sepertinya pemuda itu punya rencana di otaknya.
Dia berhenti berlari, dan memutar arah. Lalu... Blesss!!! tubuh pemuda itu hilang dan tau - tau sudah berada di belakang gadis yang sedang berlari kencang di depannya.
__ADS_1
Dengan enteng, dia berlari melesat melewati gadis itu. Senyum penuh kemenangan bercampur ejekan terlontar di wajah tampannya.
" hahaha, aku bilang apa? aku pasti bisa mengalahkan dirimu!" ujarnya masih dengan senyum yang menjengkelkan di mata gadis itu.
Mata gadis cantik itu menyipit dengan senyum sinis. Ada rasa tak percaya bercampur kesal di wajahnya.
" Curaaanggg!" seru gadis itu kemudian, dengan penuh kekesalan.
Pemuda itu terkekeh penuh kemenangan. Aih... gemasnya, pikir pemuda itu dalam hati.
Dia suka sekali melihat wajah putih bersih itu kini berubah merah seperti kepiting bakau habis di rebus karena kesal.
Gadis itu menghentikan laju larinya. Dengan kesal dia menghentakkan kaki ke tanah.
" Huh!! Kesal! Pangeran Alyan selalu saja curang. Aku benci, pangeran! benci!! " Dia berbalik pulang dengan raut wajah kesal dan gondok.
Merasa tak ada yang mengejar pemuda itu menghentikan larinya. Dia berbalik ke belakang. Wajahnya celingak celinguk mencari seseorang.
" Luna kemana, ya ?" tanya pemuda itu dengan heran. Senyumnya terbit saat mendapati orang yang dia cari berada tak jauh di bawah sana.. Sedang duduk dengan wajah cemberut.
" Luna! Kenapa berhenti dan duduk di sana?" dia bertanya heran.
Alyan tersenyum dan berjalan menghampiri gadis cantik yang merupakan teman bermain dan juga teman berlatihnya dari kecil.
Dia hapal sekali dengan segala tabiat gadis cantik itu. Mudah sekali marah dan ngambek namun mudah pula untuk memaafkan.
" Oh... jadi itu masalahnya. Baiklah.. kalau mengaku kalah. Aku tak keberatan menerima pengakuanmu. " kata Alyan dengan senyum yang belum hilang dari wajahnya.
" Aku tidak kalah! Pangeran yang curang!" bentak gadis itu emosi. Dadanya membusung naik pertanda dia sedang marah. Matanya berkilat marah menahan air mata yang dari tadi di tahannya. Dia berdiri menentang Alyan.
Kepala Aluna mendongak ke atas. Postur tubuhnya memang jauh kalah tinggi dengan postur tubuh Alyan.
" Pangeran pasti menggunakan kemampuan untuk menghilang dan muncul tiba-tiba di belakangku, kan? Itu namanya curang, pangeran! " katanya.
Alyan menunduk menatap ke arah Aluna.
" Aku tidak curang! Aku berlari di belakang mengejarmu! Kamu saja yang larinya lam.... "
__ADS_1
" Aku tidak lambat! " potongnya berapi-api. Sebelah tangannya sudah terangkat ingin mendaratkan pukulan.. Namun dengan sigap Alyan menangkap tangan mungil itu di udara.
" Jika tidak lambat, Apa namanya? kalah?" kata Alyan. Matanya semakin dalam menatap Luna. Dia tahu, bahwa gadis di hadapannya ini benar-benar marah.
" Aku tidak kalah!" kau saja yang curang dan tidak mau kalah oleh orang lain. Dasar egois! Aku benci pa..."
Cup! sebuah kecupan singkat mendarat di bibir kenyal gadis itu, sehingga membuatnya urung untuk meneruskan kalimatnya.
Pipinya bersemu merah. Astaga.... apa yang telah terjadi? pikirnya. Dadanya mendadak berdebar - debar tak karuan. Mengapa pangeran Alyan menciumnya.
Tapi apa ini? Tiba-tiba mata gadis itu mendelik marah.
"Pangeran!! kamu mencuri ciuman pertamaku! " katanya sambil memukuli dada pemuda itu dengan kesal. Merasa tak terima jika ciuman pertamanya harus di lakukan oleh sahabat yang dari kecil sudah bersamanya.
Dalam bayangannya, seseorang yang dia cintai akan mencium dia dengan mesra dan penuh kelembutan hingga dia terbuai.
Namun semua angannya sirna dan rusak, oleh ciuman tiba-tiba dari sang pangeran.
" Mengapa, itu juga pertama kalinya aku mencium seorang gadis! Jadi seharusnya kamu merasa beruntung dong, karena itu juga ciuman pertamaku!" kata pemuda itu tanpa rasa bersalah.
Aluna terdiam. Jadi ciuman itu juga merupakan ciuman pertama pangeran Alyan. Astaga.... muka Aluna memerah. Kini dia menjadi malu untuk menatap pemuda itu.
" Pa.. pangeran. Anda...!?? " dia tak tahu harus berkata apa. Dia pikir, selama ini pangeran Alyan pastilah sudah pernah merasakan berciuman dengan seseorang. Karena hidupnya selalu saja dikelilingi oleh para wanita cantik.
Bahkan setahu Aluna, kehidupan di istana itu penuh kemewahan. Karena dia sendiri merasakan nikmatnya hidup bersama Pangeran Alyan di istana ayahandanya, pangeran Hasyeem.
Mereka hidup enak dengan si layani oleh dayang istana yang terkenal cantik dan ramah.
" Sudahlah, ayo kita pulang! Ayah ibu kita pasti sudah menunggu! " Kata Alyan seraya meraih tangan Aluna. Mengajak gadis cantik yang masih termangu sendiri itu untuk segera pulang.
Aluna masih terpaku diam. Alyan yang tak sabar segera menarik Aluna agar segera bergerak mengikutinya.
" Aluna, ayo! Aluna! " serunya.
Aluna masih enggan beranjak. Ada perasaan aneh diam - diam menjalari hatinya. Hangat dan penuh bunga.
Cup! kembali sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya.
__ADS_1
" Pangeran Alyan!! "