Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 154 Namaku Ammar.....


__ADS_3

Makhluk itu terlambat menyadari dengan siapa dia tengah berhadapan. Sebuah sinar terang kembali melesat menghantam tubuhnya, membuatnya kembali jatuh tersungkur, untuk kemudian tak bisa bangkit kembali.


Bersamaan dengan jatuhnya makhluk berwujud iblis itu, sebuah jeritan kesakitan terdengar dari arah lantai dua rumah juragan Barja.


" Birah....!tu suara Abirah.. " kata Juragan Barja yang langsung saja bergegas mendatangi kamar istri keduanya itu.


Luna dan Panji serta bibinya juga tak mau ketinggian. Mereka segera bergegas menyusul Juragan Barja berlari ke kamar yang letaknya nomor dua dari tangga.


Sesampainya di depan kamar, terlihat Juragan Barja yang kesulitan membuka pintu kamar, karena terkunci dari dalam. Panji terpaksa mendobrak pintu kamar tersebut, agar mereka semua bisa masuk ke dalam kamar.


Saat pintu kamar berhasil dibuka, mereka semua terpana dengan pemandangan yang mereka lihat. Bahkan istri pertama Juragan Barja itu langsung menjerit histeris. Sedangkan Juragan Barja, lelaki itu hanya terpaku sambil menatap istri mudanya yang kini sudah tergeletak tak bernyawa di atas tempat tidur.


" Bi ... rah...! Bi..rah " Juragan Barja tergagap menyebut nama wanita itu. Wanita cantik yang bernama Abirah, istri muda juragan Barja itu tewas dengan cara yang menggenaskan. Tubuh wanita itu bersimbah darah. Terdapat luka menganga di lehernya. Dan yang lebih mengerikan, dada wanita itu terbuka lebar dan jantungnya sudah tidak ada lagi di tempatnya. Benar-benar sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.


" Wanita ini sudah melanggar perjanjian, maka sebagai ganti, dia harus menebusnya dengan nyawanya .. " sebuah suara terdengar sebelum kemudian ruangan itu .. hening.


Bibi Panji, yang merupakan istri pertama juragan Barja jatuh pingsan. Sedangkan juragan Barja, hanya bisa terduduk lemas seperti orang linglung.


"Panji, kami mohon diri dulu. Sebaiknya kamu urus secepatnya jenazah wanita itu. Dan untuk pamanmu, Insya Allah, tak ada lagi gangguan pocong yang akan menggangunya. Perbanyak sedekah dan amal kebaikan. Insya Allah semua itu akan menolong kita dari bala dan bencana. " Selesai berkata demikian, Pangeran Alyan menghilang bersama Aluna. Mereka telah kembali ke Bukit Malaikat. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahanda dan ibunya, Ratu Asmi.


Pemuda tampan berdarah separuh jin dan manusia itu akan meminta restu sekaligus bantuan pada Ayahandanya yang tampan itu untuk datang ke Bukit Duri untuk melamar Aluna, kekasih hatinya.


Sedang Panji, pemuda santun dan sholeh itu hanya bisa terpana dan takjub melihat semua itu. Kekagumannya pada sosok Pangeran Alyan yang berhasil mengalahkan makhluk iblis itu dengan mudah, membuat dia harus mengangkat topi untuk pemuda itu.


Siapa sebenarnya Alyan. Tadi sekilas, dia sempat mendengar Aluna memanggil Alyan dengan sebutan ' Pangeran'. Apakah memang benar, jika Alyan adalah seorang pangeran, tanya pemuda itu dalam hati. Tapi pangeran dari mana? Kerajaan mana? Mengapa Aluna sepertinya tahu banyak tentang pemuda itu? Hati Panji dipenuhi oleh banyak pertanyaan seputar Pangeran Alyan dan Luna.


Namun, Siapapun Alyan, Panji tak peduli. Baginya, Alyan sudah berjasa bagi dirinya dan juga bagi keluarganya, terutama keluarga sang Paman. Dia harus berterima kasih pada Alyan dan Aluna.


Jenazah Abirah sudah dimakamkan di pekuburan umum milik desa itu. Memang benar, sejak malam itu, tak ada lagi pocong - pocong yang menampakkan diri dan menggangu ketenangan keluarga juragan Barja. Juragan Barja kini bisa bernapas lega dan menjalani hidup dengan tenang bersama keluarga.


Sebagai bentuk rasa Syukur Juragan Barja karena terbebas dari gangguan pocong - pocong yang selama ini menggangunya, juragan sapi itu mengorbankan lima ekor sapinya dan membagi - bagikan dagingnya kepada seluruh penduduk desa.


Bukan hanya itu saja, dia juga menggelar pengajian di rumahnya dan memberikan santunan kepada anak yatim serta fakir miskin yang ada di desa mereka.


...-----...

__ADS_1


Kita tinggalkan saja kebahagiaan Juragan Barja yang kini sudah terbebas dari gangguan para pocong yang datang menyatroni kediamannya. Kini kita beralih ke sebuah rumah kecil yang letaknya di pinggiran kota.


Seorang wanita yang sedang hamil tampak sedang duduk termenung seorang diri di dalam kamar. Tatapan matanya terlihat kosong. Ada bekas air mata yang masih belum kering di kedua belah pipinya. Sakit bekas tamparan di pipi dan tubuhnya tidak sebanding dengan hinaan yang baru saja di lontarkan oleh suaminya.


Plak... plak..! dua tamparan melayang di pipi kanan dan kiri wanita itu. Tubuh Anisa, wanita itu terhuyung - huyung sebelum akhirnya jatuh ke atas kasur. Dia tak menyangka akan kembali menerima perlakuan kasar suaminya, setelah dia menunjukkan hasil test pack yang dia dapatkan dari dokter yang memeriksanya tadi pagi.


" Dasar perempuan murahan. Pelacur....! Anak siapa yang kau kandung itu, hah? Aku merasa tak pernah menyentuhmu. Katakan..! siapa yang menghamilimu!" dengan beringas, laki-laki itu kembali mendekat ke arah wanita itu dan kali ini menjambak rambutnya dan menarik tubuh ringkihnya hingga jatuh ke lantai.


Wanita yang sedang hamil itu meringis menahan sakit seraya memegangi perutnya. Air mata sudah membanjiri wajahnya yang terlihat pucat dan tirus.


" Mas Arya, kamu kok berkata begitu. Ini anak kamu, Mas. Demi Allah, aku berani bersumpah, tak ada laki-laki lain yang menyentuhku, selain kamu, mas. " jawab Nisa dengan wajah memelas sambil memegangi kedua pipinya yang terasa perih dan panas.


" Dasar perempuan pembohong. Sudah murah, pembohong lagi. Cuih...sejak kapan aku tertarik menyentuhmu. Bernafsu saja aku tidak saat melihatmu, apalagi menyentuhmu. Jangan bermimpi. Kamu tahu dengan pasti, bahwa aku tak pernah mencintaimu. Pernikahan ini bukan atas keinginanku. Kamu hanya wanita yang di jodohkan oleh orang tuaku karena perjanjian bodoh itu. Aku sudah memiliki seorang wanita yang sangat aku cintai. Jadi... mana mungkin aku sudi untuk menyentuhmu! Haram bagiku menyentuhmu, perempuan sial. " Setelah berkata demikian, Arya mendorong tubuh Nisa dan berlalu begitu saja dari hadapan istrinya seraya membanting pintu kamar dengan keras. Wajahnya terlihat sangat kesal dan marah.


Anisa mengurut dada mendapati perlakuan kasar Arya yang bukan baru pertama kali ini dia terima. Hatinya sakit dikatakan sebagai pelacur oleh suaminya sendiri. Tapi mungkin juga benar perkataan Arya bahwa dirinya perempuan sial.


Dia memang sial karena menikah dengan Arya. Laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya. Dia sebelumnya tak mengenal siapa Arya. Mereka hanya bertemu sekali, saat acara perkenalan kedua keluarga malam itu. Setelah beberapa minggu kemudian, dia resmi menjadi istri dari Arya.


Awalnya sikap Arya sangat baik dan penuh perhatian pada dirinya. Namun, semua itu hanya kedok. Sikap Arya berubah ketika laki-laki itu kemudian membawanya tinggal di sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota, yang sengaja dikontrak Arya dengan alasan dirinya dan Nisa ingin belajar hidup mandiri.


Nisa tak menolak karena merasa bahwa itu adalah hak Arya sebagai suaminya yang sah. Namun, siapa sangka justru Arya sendiri yang telah mengingkari semua perbuatan yang telah dia lakukan.


Anisa tersadar dari lamunannya karena bunyi handphone yang terletak di sebelahnya. Sebuah panggilan masuk yang berasal dari Adel, kakak perempuannya segera dia terima.


" Halo..! "


" ..... "


" Apa..? Ya Allah....! " tangis wanita itu langsung pecah saat suara Adel kakaknya mengabarkan bahwa sang Ayah baru saja meninggal dunia karena serangan jantung.


" .... "


" Iya, kak. Aku akan segera ke sana." Anisa bergegas meraih handphone dan juga kunci motornya lalu berangkat ke rumah orang tuanya.


Sampai di sana, tampaknya bendera kuning dan putih sudah di tancapkan di depan rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Anisa berlari mendatangi mayat sang ayah yang sudah terbujur kaku di ruang tengah rumahnya. Tetangga mereka sudah banyak yang berdatangan ingin melayat.


" Apa yang terjadi pada ayah, bu. Kenapa ayah bisa mendadak mengalami serangan jantung? " Anisa bertanya pada ibunya yang sedang duduk termenung di samping tubuh ayahnya. Wanita itu hanya diam membisu tanpa bisa menjawab pertanyaan Nisa.


" Semua ini karena Arya, dek. " Kak Adel berucap dengan suara serak karena habis menangis. " Suamimu tadi datang kemari sambil marah - marah dan berteriak - teriak mengatakan bahwa kamu adalah perempuan murahan dan pelacur. Ayah yang tidak terima dengan perkataan Arya menjadi marah dan memukul suamimu. Arya yang marah berkata bahwa dia telah menalak dirimu. Sepeninggal Arya, ayah langsung jatuh dan meninggal karena serangan jantung." cerita kak Adel pada Nisa yang langsung jatuh pingsan karena shock mendengar cerita Kak Adel.


Adel dan ibunya terkejut melihat Anisa yang pingsan. Mereka berdua langsung memapah tubuh Anisa untuk di baringkan ke kamar. Malang sekali nasib wanita muda itu. Ditinggal pergi menghadap Sang Khalik oleh ayahnya, lalu di talak oleh suami pada saat yang sama.


Pemakaman sangat ayah baru saja selesai. Tampaknya hadir di pemakaman itu, kedua orang tua Arya. Sedangkan Arya sendiri, tak tampak sama sekali batang hidungnya.


Keduanya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Anisa dan ibunya. Mereka sangat menyesalkan keputusan Arya yang menjatuhkan talak kepada Nisa tanpa berunding dulu dengan mereka. Tetapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Mereka hanya bisa berjanji akan menyelesaikan masalah antara Arya dan Nisa secepatnya.


Nisa hanya terdiam saja tanpa berniat menanggapi ucapan dari kedua mertuanya. Hatinya sudah terlanjur sakit karena perbuatan Arya pada dirinya dan keluarganya.


Anisa menghela napas berat. Sekarang, sudah hampir dua bulan sejak ayahnya meninggal. Mas Arya juga tak pernah muncul lagi. Lelaki itu menghilang bak di telan bumi. Tinggal dia seorang diri dengan status janda yang resmi dia dapatkan setelah kemarin surat talak dari pengadilan sampai ke tangannya.


Anisa meraba perutnya yang kini sudah mulai membuncit. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke lima.


" Dek, makan dulu." suara kak Adel memecahkan lamunan Nisa. Dia melirik ke arah jam dinding yang berdetak setia menghitung waktu. Pukul 08.00 malam. Dia malas sekali untuk sekedar beranjak turun ke dapur untuk makan malam.


"Dek, ... cepatan. Sudah ditunggu ibu."


" Makan aja dulu, kak. Nisa masih belum lapar. " akhirnya aku bersuara.


Hening.. tak ada sahutan dari luar. Kakaknya mungkin sudah kembali lagi ke bawah. Kak Adel tinggal di rumah ini bersama suami dan anak-anaknya atas permintaan ayah dan ibu.


"Sreikk...!" gorden kamar Nisa bergerak dengan sendirinya. Awalnya Nisa tak terlalu memperdulikan karena menganggap mungkin saja angin yang menggerakkannya.


" Sreiikkk.... ! " kembali gorden kamarnya bergerak dengan sendirinya. Kali ini gerakannya agak lama. Seperti ada seseorang yang dengan sengaja menggerakkannya dan kini gorden itu sudah tersingkap dengan sendirinya. Matanya menangkap sesosok bayangan orang yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya.


Lutut Anisa gemetar saking takutnya. Apalagi kini bayangan itu sudah masuk ke dalam kamarnya dengan cara menembus dinding. Mulut Anisa makin terbuka lebar.


" Si.. siapa..ka.... ka.. mu.. " akhirnya pertanyaan itu berhasil juga dia ucapkan. Seorang lelaki bermata abu - abu dengan bintik kuning di tengah sedang berdiri di depannya. Matanya tajam menatap ke arah Nisa.


" Namaku... Ammar..! "

__ADS_1


__ADS_2