
Berita tentang Asmi yang resmi menjadi janda cepat sekali tersebar. Tetangga sekitar rumah Asmi ramai membicarakan gosip tentang perceraian Asmi. Ada yang menaruh simpati namun tak sedikit yang mencibir.
Gelar janda kembang tersebar sampai ke desa- desa sebelah. Gelar yang membuat Asmi menjadi sedikit risih. Banyak para ibu yang menjadi cemas karena takut suami - suami mereka di rebut Asmi. Sehingga banyak para ibu yang menaruh sikap curiga jika mendapati Asmi tersenyum pada suami - suami mereka.
Asmi menjadi serba salah. Mau senyum takut dibilang genit, tidak senyum takut dibilang sombong. Hadeuh.....
Pagi ini, Asmi pergi ke rumah Mas Anto. Sepupunya itu menelpon dan mengabarinya kalau bayi Bagas sedang sakit. Asmi merasa sedih sekali sehingga dia memutuskan untuk datang ke rumah mas Anto sekaligus untuk menengok bayi Bagas.
Siang hari, Asmi sampai di rumah Anto, sepupunya. Dia disambut oleh budenya yang sedang menggendong bayi Bagas.
Asmi memeluk satu - satunya saudara ibunya yang masih tersisa dari keluarganya.
" Bagaimana kabar bude?" tanya Asmi setelah melepaskan pelukannya. Diambilnya bayi Bagas dari gendongan budenya.
" seperti yang kau liat sendiri, budemu ini sehat walafiat. Bude kangen sama kamu, nduk." jawab budenya seraya merangkul pundak Asmi.
" Kamu pasti lapar. Bude sudah masak gudeg, Bude ingat masakan kesukaanmu. Kebetulan kemarin Masmu Anto dari kebun dan bawain bude nangka muda. Jadi.. sekalian saja hari ini bude masak gudeg. Mumpung kamu ada di sini." kata budenya.
Asmi tidak menolak lagi tawaran budenya untuk segera makan. Dia memang sudah lapar dan kebetulan sekali gudeg adalah salah satu makanan favorit Asmi.
" Assalamu'alaikum, bu! " suara Mas Anto dari luar memberi salam.
Lelaki tinggi besar itu masuk bersama seorang temannya yang berwajah tampan namun bertubuh agak kurus.
" Eh, dek Asmi. Sudah lama nyampenya?" tanya Mas Anto.
" Baru aja, Mas. Ini langsung di tawarin bude makan pake gudeg. Mas dari mana?" Asmi balik bertanya.
" Anu, itu.. mas tadi dari rumah teman langsung singgah ke makam mbak inah." kata Anto sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
Asmi menghela nafas panjang. Rupanya sepupunya ini belum bisa merelakan kepergian sang istri menghadap Sang Khaliq.
" Mas harus belajar buat mengikhlaskan mbak Inah. Kasian mbak Inah, mas.. Dia sudah tenang di sana. Kalau mas sayang, ya perbanyak kirim doanya. Tapi mas juga harus pikirkan masa depan mas dan juga Bagas. Kasian mas, bude sudah tua. Masa harus ngurus mas terus." nasehat Asmi.
" Iya, dek. Makasih sudah ngingetin mas. Mas akan berusaha buat ikhlas menghadapi semua ini." kata Anto.
__ADS_1
Anto kemudian melirik pada temannya yang sedang berdiri di sebelahnya. Lelaki itu tampak sedang mencuri pandang pada Asmi yang kini kembali meneruskan makannya. Anto tersenyum penuh arti.
" Dek Asmi, kenalin ini Andika, teman mas Anto. Andika, kenalin ini Asmi sepupuku dari desa sebelah." kata Anto seraya menarik lengan lelaki itu yang tampak salah tingkah. Wajahnya memerah menahan malu seraya mengulurkan tangan ke arah Asmi.
" Kenalin, Andika, mbak." kata lelaki itu sambil tersenyum malu-malu pada Asmi yang membalas uluran tangan lelaki itu. Asmi tersenyum manis seraya menjawab perkenalan lelaki itu.
" Asmi, mas!" jawabnya. Andika melongo menatap senyum Asmi.
" Astaga, cantik banget..!" bisiknya dalam hati.
" Dika, sudah dong salamannya. Tuh lihat, tangan Asmi sampai pegal nahannya!" ledek Anto pada temannya.
" Eh, maaf. Kelupaan.!" jawabnya dengan wajah semakin merah. Buru - buru dilepasnya tangan Asmi dari genggaman tangannya.
" Sialan nih,Anto. Bikin gue malu di hadapan sepupunya." rutuk Andika dalam hati.
" Mas Anto mau makan?" tawar Asmi pada Anto yang kemudian mengambil tempat duduk di sebelah Asmi.
" Kayaknya masakan ibu enak banget, Bu.. aku juga mau makan. Sekalian sama Andika."kata lelaki itu pada ibunya.
"Andika, ayo duduk di sini. Makan dulu baru kita pergi! " ajak Anto pada Andika yang masih berdiri di belakang Asmi.
" Iya, mari makan,. Mas andika. Maaf tadi lupa nawarin. Abisnya, keasyikan makan." kata Asmi yang tersipu malu merasa tak enak karena lupa etika untuk menawarkan makanan pada tamu.
Andika mengambil tempat duduk di depan Asmi di sebelah Anto. Bude menyodorkan piring kepada Anto dan Andika. Tanpa banyak bicara Anto segera mengambil nasi dan lauk pauknya dan tak lupa sayur gudeg yang menjadi masakan kesenangan Asmi. Hal serupa diikuti pula oleh Andika. Mereka makan dengan lahap sambil sesekali Andika melirik ke arah Asmi yang kini sedang sibuk bermain dengan Bagas di lantai.
" Nto, sepupu kamu sudah nikah?"tanya Andika sambil melirik Asmi.
" Sudah...." jawab Anto. Sontak wajah Andika yang tadinya cerah jadi kelabu.
" Yah, apes deh!" katanya sambil menatap Asmi.
" tapi sekarang sudah jadi janda." lanjut Anto. Seketika wajah Andika menjadi berbinar kembali.
" ****** lo, nto. Bikin mood gue jadi naek turun kayak tensimeter.! " umpat Andika yang merasa di permainkan Anto.
__ADS_1
Anto tertawa terbahak - bahak. Puas hatinya sudah mengerjai Andika. Dari tadi sebenarnya dia sudah faham saat melihat gelagat Andika yang salah tingkah terhadap Asmi. Dia tahu kalau temannya terpesona dan jatuh hati pada sepupunya Asmi.
" Lagian, lo langsung main nyaut aja. Aku kan belum selesai ngomong!" bela Anto.
" Serius, sepupu lo janda. Kalo gitu gue boleh dong ngedeketin sepupu lo." bisik Andika yang kembali melirik Asmi.
" Boleh, tapi itu kalo Asminya mau sama lo, tapi kalo kaga, aku nggak bisa maksain Asmi buat nerima lo." jawab Anto. Raut wajahnya berubah serius.
" Iya, Tapi lo kudu bantuin gue dong buat deketin Asmi! " kata Andika dengan nada memelas.
" Kalo itu pasti gue lakukan." jawab Anto. Senyum bahagia terlukis di wajah tampan milik Andika.
Selesai makan Anto pamit pada ibunya. Dia sudah berjanji untuk mengantarkan Andika membeli spare part motornya ke kota.
"Bu, Anto pamit mau nganter Andika ke kota. Andika mau beli spare part motornya." kata Mas Anto seraya mencium punggung tangan Sang ibu.
Andika juga berpamitan pada ibunya Anto. Kedua lelaki itu kemudian pergi ke kota dengan mengendarai motor Anto. Sebelum berangkat, Andika masih sempat menghampiri Asmi.
" Eh, anu Asmi, bolehkah saya minta nomor kamu." kata Andika seraya melirik Anto yang setengah mati menahan senyum.
" Nomor? nomor apa Andika? Nomor hape atau nomor lain?" goda Asmi.
" Anu... iya itu. Nomor hape maksudnya." jawab lelaki bertubuh kurus itu sambil cengar - cengir memamerkan sederet barisan gigi - giginya yang rapi.
" Oh, kalo itu, kamu minta saja sama Mas Anto, dia punya kok nomor aku. Aku lagi mager buat ambil tas aku. Soalnya aku nggak hapal nomor aku. Maklum saja baru ganti nomor." kata Asmi sambil balas memamerkan senyum manisnya.
Hati Andika berdebar-debar saat melihat senyuman Asmi.. Aduhhh. Ya Tuhan kalo begini bisa - bisa aku kena serangan jantung dan mati mendadak melihat senyuman manis janda cantik ini, pikirnya.
" Sialan Lo, Nto. Katanya nggak punya!" kata Andika seraya mengepal tinjunya ke arah Anto. Lepas sudah tawa Anto melihat senyum malu Andika.
" Iya, deh. Kalo gitu aku pamit dulu. Daah Asmi.! "pamit lelaki itu seraya beranjak duduk di jok belakang motor Anto.
Sementara itu, tanpa Andika tahu, sedari tadi seorang lelaki yang wujudnya tak terlihat oleh mata sedang menatap tajam ke arahnya. Sorot matanya menyimpan amarah hingga buku-buku tangannya terkepal menahan geram.
" Berani sekali dia mau menggoda Asmi. Awas saja, tak akan kubiarkan kamu merebut kekasihku.!" kata Pangeran Hasyeem kesal.
__ADS_1