Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 103 Mengikhlaskan Kamu


__ADS_3

" Mas Revan, di depan ada penjaga pintu gerbang, jangan mengucap sepatah katapun juga atau dia akan tahu jika kita bukanlah dari golongan mereka. Oh ya, oleskan ini di tubuh mas, agar bau kalian tersamarkan! " katanya seraya menyodorkan minyak atsiri ke tubuh Revan dan Digta.


Minyak berbau harum itu dipercaya bisa menyamarkan bau tubuh manusia yang sudah sangat mereka hapal.


Sementara ketiga orang itu memasuki alam Jin, seorang lagi teman Revan, ki Sabdo perintahkan untuk menjaga sesajen di kamar Revan agar lilin besar yang tadi di nyalakan oleh Ki Sabdo dan


dupa yang di nyalakan harus tetap menyala. Tidak boleh mati.


Revan dan Digta mengikuti langkah Ki Sabdo yang berjalan menyusuri jalanan sunyi dan sepi yang terbentang di hadapan mereka.


Revan mengamati keadaan di sekelilingnya. Sepertinya dia mengenal tempat ini.


Yah, tempat ini mirip sekali dengan tempat tinggal di lingkungannya namun hanya sedikit berbeda.Tempat ini lebih mirip lingkungan tempat tinggal mereka dalam versi lama.


Ki Sabdo memasuki sebuah bangunan. Revan semakin ternganga heran saat matanya menatap ke arah bangunan tersebut. Ahh.... ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah, pikirnya.


Dia seperti sangat


familiar dengan bangunan ini. Ini jelas - jelas adalah apartemen Revan namun, sekali lagi juga dalam versi lama.


" Ki, sepertinya aku mengenal tempat ini. Ini adalah daerah tempat tinggalku dan sekarang kita sepertinya berada di apartemenku, hanya saja aku sepertinya berada dalam kurun waktu zaman dahulu. Ini adalah penampakan apartemenku tempo dulu! " bisik Revan pada Ki Sabdo.


Ki Sabdo tersenyum pada Revan.


" Benar sekali. Kita memang sedang berada di apartemen Mas Revan. "


Revan dan Digta melongo. Dari tadi mereka sudah berjalan cukup lama dan berputar - putar, nyatanya mereka tetap masih berada di apartemen mewah milik Revan. Tapi memang ada yang berbeda. apartemen ini tidak semewah apartemen milik Revan. Agak kurang berkelas dan


terkesan lama. --


" Mas Revan benar, kita memang sedang berada di apartemen mas Revan, namun di dimensi lain. Karena Jin yang menempati tempat ini , sejatinya juga menempati rumah Mas Revan karena posisinya yang berada di titik yang sama." jelas Ki Sabdo.


" Siapa kalian, ada perlu apa mendatangi kediamanku! " suara bentakan halus terdengar oleh ketika orang itu.


Serentak ketiganya menoleh. Sosok tampan bertampang pria latin hadir di hadapan mereka. Namun yang aneh, pria itu memiliki mata berwarna abu-abu terang dengan bintik kuning di tengah.


" Maafkan kami ki sanak, Aku adalah Ki Sabdo, dan ini adalah saudaraku Revan dan temannya saudara Digta." Ki Sabdo memperkenalkan diri.


" ada apa kalian semua datang ke tempatku ini? tanya lelaki itu dengan sorot mata yang tajam menusuk.


" Kalau boleh tahu, siapakah ki sanak ini? Apakah ki sanak pemilik tempat ini? " tanya Ki Sabdo lagi.


Lelaki itu mengamati ketiga manusia yang sedang berdiri di hadapannya. Tatapannya yang tajam berkilat aneh, terutama saat menatap ke arah Revan.

__ADS_1


" Namaku Ammar. benar sekali tebakanmu, aku adalah pemilik tempat ini." ucapnya.


Jantung Revan berdetak kencang. Apakah lelaki yang ada di hadapannya ini adalah wujud dari sosok bayangan hitam yang dia lihat di kamarnya. Wujud dari Jin yang telah membawa pergi Delia, istrinya.


Ada rasa tidak suka dan marah di hatinya membayangkan Delia dalam gendongan lelaki yang sedang berdiri menatapnya dengan tajam.


" Maafkan jika kedatangan kami ke mari telah mengusik ketenangan ki sanak. Namun, ada hal yang kiranya harus diluruskan segera agar tidak terjadi ke salah fahaman di antara kita." Jawab ki Sabdo dengan tenang dan bijak.


" Hmm, maafkan aku tapi aku sungguh tak mengerti apa maksud anda mengatakan demikian. Sungguh aku tidak mengenal kalian semua, hingga mustahil terjadi ke salah fahaman diantara kita." kata lelaki itu.


" Salah satu di antara kami merupakan manusia yang bertempat tinggal sama dengan ki sanak. Ada baiknya bagi kita untuk saling mengenal." kata Ki Sabdo.


Ammar tersenyum mengejek mendengar kata - kata ki Sabdo.


" pergilah aku tak ingin berurusan dengan kalian. Kalian telah mengusik ketenanganku! " kata Ammar ketus. Dirinya sudah beranjak ingin pergi.


" Wanita yang kau bawa itu istriku, Jin busuk! " kata Revan dengan berapi-api.


Sudah sejak tadi lelaki itu menahan amarahnya. Perasaan tidak suka pada lelaki Jin di depannya itu karena sudah membawa istri yang walaupun tidak di sukainya, namun tetap saja telah mencoreng harga dirinya sebagai suami dan juga lelaki.


" Mas Revan! harap dapat menahan emosi. Jika Mas Revan tidak bisa menahan emosi, sebaiknya kita kembali saja" ucap Ki Sabdo tajam.. Lelaki itu kesal karena Revan tidak bisa menahan emosinya.


" Bro, lo harus sabar! Tahan emosi.! " kata Digta sambil memegang sebelah lengan Revan.


" Jin busuk sialan ini tidak mau mengaku kalau dia sudah membawa lari Delia, Ki! "


" istri siapa? aku tidak pernah mengenalmu, dan aku tidak pernah membawa istri siapapun! " ucapnya dingin dan ketus.


" Dasar Jin keparat!! kembalikan Delia padaku! Atau aku hancurkan tempat tinggalmu sekarang juga! " bentak Revan tanpa bisa di tahan.


Keangkuhan dan kesombongannya membuat dirinya tidak bisa menerima jika lelaki yang bersama Delia berada jauh di atasnya. Ketampanan Ammar dengan sosok yang sempurna membuat rasa cemburu di hatinya berkobar.


Habis sudah kesabaran Ammar, dengan sekali gebrakan, tubuh Jin tampan bertampang maskulin itu melesat ringan, terbang ke arah Revan dan melayangkan pukulan tepat di dada Revan, membuat lelaki itu terhuyung ke belakang sambil memegangi dadanya yang terasa panas dan sakit.


Ki Sabdo dan Digta buru - buru mendatangi Revan.. Lelaki paruh baya dengan blangkon di kepala itu segera memeriksa dada Revan yang terkena pukulan dari Ammar. Tampak jelas bekas telapak tangan Ammar yang membekas biru di sana. Tubuh Revan kini sudah tersungkur lemah tak berdaya. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.


" Kau tidak apa-apa, Mas Revan? " tanya ki Sabdo. Lelaki itu khawatir jika Revan akan mengalami luka dalam yang parah karena yang memukul Revan bukanlah sebangsa manusia biasa, tetapi Jin.


" Bawalah kembali saudaramu itu, ki Sabdo! Katakan bahwa istrinya tidak ingin kembali padanya! " kata Ammar.


"Tapi ki sanak, kedatangan kami ke sini adalah untuk mendapatkan kepastian tentang semuanya. Banyak hal yang belum kami ketahui, terkait masalah Delia dengan mantan suaminya dan juga masalah dengan ki sanak. Jika ki sanak tak keberatan, dapatkah ki sanak menjelaskan pada kami mengenai hal itu!" mohon Ki Sabdo pada Ammar yang kini sudah merubah wujud aslinya yaitu menjadi sesosok harimau putih yang besar.


Revan dan Digta mengkeret ketika Sang Harimau putih itu mengaum keras.

__ADS_1


" Aku yang menyelamatkan Delia ketika wanita itu berusaha bunuh diri karena patah hati dan putus asa akibat perselingkuhan suaminya. Kematian suaminya adalah akibat tembakan dari pemilik penginapan saat suaminya berusaha menyelamatkan Delia dari cengkraman pemilik penginapan yang ingin melecehkan Delia. Dan aku juga yang akhirnya menyelamatkan Delia dari pemilik penginapan itu. Aku merasa iba akan penderitaannya. untuk itulah aku memutuskan untuk mengikutinya sampai ke tempat ini. Dan terakhir, aku juga yang menyelamatkan wanita itu, ketika dengan tanpa berperikemanusiaan, suami barunya yang kejam itu menyiksanya bagai binatang hingga hampir mati dan kemudian meninggalkannya begitu saja!" kata Ammar dengan marah.


Dia mengaum mendekat ke arah Revan dan Digta. Revan beringsut ke belakang Ki Sabdo. Nyali lelaki sombong itu mendadak ciut.


" Bagaimana, apa masih belum faham akan penjelasan dariku? Kamu memang lelaki yang berpikiran picik dan sempit. Kamu sombong dan takabur. Adikmu jauh lebih baik. Walaupun dia berselingkuh, tapi dia tak pernah menyakiti Delia secara pisik. Hanya saja dia gampang sekali tergoda oleh nafsu duniawi yang membawanya pada kehancuran ! Delia tak ingin mengatakan kenyataan yang sebenarnya karena ingin menutupi aib suaminya."


Revan, Digta, dan Ki Sabdo terdiam hening mendengar kata - kata Ammar.


Ada penyesalan di hati Revan saat mengetahui kenyataan yang baru saja terungkap.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Delia benar adanya. Hanya saja Delia enggan untuk berterus terang kepada keluarganya karena ini menyangkut aib dia dan Yovan.


Diam - diam Revan menangis karena merasa bersalah telah menyakiti Delia. Dia ingin bertemu dengan istrinya itu dan meminta maaf. Bahkan kalau perlu bersujud di kakinya untuk memohon ampun.


" Ammar, tolonglah. Dapatkah aku bertemu dengan istriku. Aku ingin meminta maaf dan memohon ampun atas semua kesalahanku." kata Revan sambil menangis. Dadanya sesak oleh penyesalan yang Bertalu-talu menghantam jiwanya.


" Aku ragu bisa membantumu! karena Delia amat sangat terpukul dan menderita sekali. Namun jika kamu benar-benar ingin minta maaf, aku akan membawamu padanya.! " kata Ammar.


Walaupun sebenarnya dia tak rela jika harus membiarkan Revan bertemu dengan Delia. Namun, bagaimanapun juga Revan masih suami Delia. Revan berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki pernikahannya dengan Delia. Walaupun hal itu akan membuat dia harus kehilangan Delia, jika pada akhirnya wanita itu memilih untuk memaafkan dan kembali pada suaminya.


Setelah mengobati luka Revan, Ki Sabdo lalu menemani anak muda itu pergi bersama Ammar untuk menemui Delia.


Di sebuah taman yang indah, seorang wanita cantik sedang duduk termenung seorang diri. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang putih mulus.


Luka- luka di tubuhnya sudah mengering. Akan tetapi, luka hatinya yang menganga dan berdarah tidak kunjung sembuh.


" Delia! "


Delia menoleh dan mendapati Revan yang berdiri di belakangnya. Sontak wanita cantik itu berdiri dan menghindar dengan cepat. Ada trauma dan ketakutan yang terpancar jelas di matanya. Hati Revan teriris oleh pemandangan itu.


" Pergi! pergi! Ammar..! Jauhkan mereka dariku! Aku takut! Revan jahat padaku, Ammar..! " isaknya ketakutan.


Ammar memeluk Delia dan menenangkan wanita cantik itu.


" Delia tenanglah! dia tak akan menyakiti dirimu lagi. Aku sudah menceritakan semuanya pada Revan. Dia menyesal dan ingin meminta maaf padamu." Hati Revan sesak. Sesak saat menyadari bahwa betapa dia telah membuat wanita yang bergelar istri baginya itu begitu terluka hingga menimbulkan trauma pisik dan phisikis.


" Delia, aku mohon maafkan aku. Betapa bodohnya aku karena tidak mempercayai segala ucapanmu. Aku mohon maafkan aku. Maafkan segala dosa-dosaku dan kembalilah bersamaku! " kata Revan. Sekarang lelaki sombong itu sudah kehilangan kesombongannya. Dia menangis bersimpuh di bawah kaki Delia.


Delia memandang Revan yang kini sedang bersimpuh di kakinya. Lalu pandangannya beralih kepada Ammar yang berada di sampingnya.


" Mas Revan, bangun mas. Mas Revan jangan begini. Aku sudah memaafkan semua kesalahan mas. Aku juga minta maaf karena tidak berterus terang mengatakan yang sebenarnya tentang kematian mas Yovan. Aku minta maaf, mas! " kata Delia berlinang air mata.


" Tidak, aku juga seharusnya tidak berbuat kasar padamu. Aku bersalah, maafkan aku Delia! " kata Revan. Lelaki itu berdiri lalu kemudian memeluk tubuh Delia erat. Delia balas memeluk tubuh suaminya. Keduanya saling berpelukan sambil menangis.

__ADS_1


Digta dan ki Sabdo diam - diam terharu dengan pertemuan keduanya. Sedangkan Ammar, Jin tampan itu diam - diam beranjak pergi dari tempat itu meninggalkan Delia dan suaminya serta dua orang manusia lainnya.


Walaupun sakit, tapi dia bahagia melihat Delia sudah berbaikan kembali dengan suaminya. Dia ikhlas walaupun tidak mendapatkan Delia, tapi dia cukup senang melihat wanita cantik itu bisa kembali tertawa bahagia bersama suaminya. Ammar, oh... Ammar!!!


__ADS_2