
Bayangan itu kemudian menghilang seiring dengan menghilangnya makhluk bertubuh tinggi besar dan hitam itu. Asmi menghela nafas panjang. Dia belum sempat berterima kasih pada orang itu.
Ya... walaupun sekelebat, namun Asmi dapat memastikan bahwa bayangan yang menolongnya tadi adalah sesosok manusia berjenis kelamin perempuan. Hanya saja orang itu keburu menghilang dari pandangan matanya sebelum Asmi sempat mengucapkan Terima kasih.
Asmi sangat kagum akan ilmu orang tadi. Gerakannya sangat cepat dan gesit serta tenaga dalamnya kuat sekali. Terbukti hanya dalam sekali gebrakan, makhluk bertubuh tinggi besar itu terlempar ke belakang.
Asmi kemudian bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan menghampiri Nazwa yang masih terbaring dengan mata terpejam.
" Nazwa, bangunlah. Ini aku Asmi. " kata Asmi sambil menggoyang - goyangkan tubuh Nazwa.
Nazwa terbangun oleh guncangan Asmi. Dia terkejut dengan kehadiran wanita itu di kamarnya.
" Kak Asmi. Bagaimana bisa kakak berada di sini. Bukankah kakak ada di rumah kakak ? tanyanya dengan wajah keheranan.
Doni datang mendekati mereka dan menyodorkan air minum untuk Nazwa.
" minumlah dulu. Banyak yang ingin kakak tanyakan! " kata Asmi pada Nazwa. Gadis itu menurut dan mengambil gelas yang di sodorkan oleh Asmi serta meminum isinya sampai habis. Dia sangat haus sekali.
" Mengapa kamu sampai bisa berurusan dengan makhluk seperti itu. Untung saja dia tidak menggagahimu. Jika tidak kasus.. ini! " kata Asmi. Nazwa bergidik ngeri saat membayangkan makhluk mengerikan itu sampai keterusan menggagahinya.
" ih, amit amit deh. Tujuh turunan Amit amit jangan sampai kejadian! " kata Nazwa sambil mengibas - ngibaskan tangannya.
Nazwa tersenyum geli melihat tingkah laku Nazwa.
" terus, itu makhluk nyantol di mana? nggak mungkin makhluk itu datang sendiri.! " tanya Nazwa lagi.
Nazwa memutar bola matanya ke atas mencoba mengingat tempat mana saja yang pernah dia singgahi. Lalu mengangkat bahu karena tak menemukan jawabannya.
" Masa sih, nggak inget sudah pergi kemana saja kamu baru - baru ini! " desak Asmi.
" Sayang, coba kamu ingat - ingat tempat - tempat mana saja yang pernah kamu datangi? " kata Doni yang mencoba membantu istrinya mengingat - ingat kembali tempat mana saja yang pernah dia atau mereka berdua pernah datangi.
" Apakah air terjun Alas Tirta termasuk juga.? " tanya Nazwa. Mendadak pipinya bersemu merah kala menyebut tempat itu.
Ingatannya melayang kembali pada saat dirinya yang malu - malu menatap Doni yang 'memasuki' tubuhnya di balik selimut. Meskipun hanya karena keharusan dan keterpaksaan namun tampaknya lelaki itu menikmatinya.
" Sepertinya bukan dari sana. " geleng Asmi.
" Ah, aku ingat sekarang. Sebelum sampai ke tempat ini, rombongan kita sempat singgah ke air terjun Ngarai Sihanouk." pekik Nazwa. Dia baru ingat tempat itulah yang terakhir dia datangi sebelum dia sampai ke desa Kemang Dalu.
Asmi mendelik ke arah Nazwa sambil menutup kedua telinganya karena gadis itu memekik persis di samping telinga Asmi.
" Bisa jadi, dari sanalah makhluk itu berasal. " kata Nazwa.
__ADS_1
" Kalau boleh tahu, makhluk apa yang barusan menggangguku, kak? " tanya Nazwa yang penasaran seperti apa wujud makhluk itu.
" itu genderuwo! Makhluk yang mengganggumu adalah genderuwo!" kata Asmi membuat Nazwa menutup mulutnya karena ngeri.
Jadi dia di ganggu oleh makhluk mengerikan itu. Nazwa bergidik ngeri. Seumur hidupnya baru kali ini dia mengalami di ganggu oleh makhluk mengerikan yang bernama genderuwo.
Konon katanya, mereka yang pernah berurusan dengan makhluk bertubuh tinggi besar dan berbulu hitam legam itu, genderuwo adalah makhluk yang sangat suka sekali mengganggu wanita - wanita cantik, khususnya wanita yang sering di tinggal sendirian.
Mereka sering merupakan wujud mereka seperti suami atau seseorang yang di kenal. Lantas kemudian makhluk itu memperdaya mereka hingga kadang - kadang sampai hamil dan melahirkan anak hasil perkawinan manusia dan genderuwo. Nauzubillah minzalik. Semoga kita semua terhindar dari ganguan makhluk itu.
Asmi memutuskan untuk tinggal dan menginap beberapa hari di tempat kosan Nazwa. Nazwa merasa senang karena ada Asmi yang mau menemaninya. Sekarang gadis itu jadi merasa takut jika harus tinggal sendiri di rumah.
Sebenarnya Doni sudah kembali menawarkan pada Nazwa agar gadis itu tinggal bersamanya di kosan Doni. Lagi pula kosan yang Doni tempati jauh lebih besar daripada kosan milik Nazwa serta dilengkapi dengan dua kamar tidur.
Namun lagi - lagi Nazwa kembali menolak dengan alasan masih malu dan takut anggapan orang lain karena mereka belum memiliki surat nikah resmi.
Asmi bisa memaklumi alasan Nazwa, namun dia juga prihatin dengan nasib gadis itu jika harus tinggal sendiri saja.
Seminggu sudah berlalu tanpa adanya gangguan dari genderuwo itu. Nazwa pun kembali menjalani hari - harinya dengan tenang seperti biasa.
Ini adalah malam jum'at. Nazwa minta ditemani tidur oleh Asmi di tempat tidur karena biasanya Asmi tidur di kasur cadangan di bawah tempat tidur Nazwa.
" Hiss, sudah besar masih manja saja. Kalau nggak mau tidur sendiri, kenapa nggk minta di temani tidur sana Doni saja. Biar sekalian di keloni. " goda Asmi pada Nazwa.
Sebuah bantal melayang ke wajah Asmi. Asmi menyambut bantal yang di lemparkan kepadanya sambil terkikik geli.
" Yeelahh, sekarang aja ngomong gitu, padahal di hati menikmati juga.!" sindir Asmi.
Wajah Nazwa memerah. Jujur saja dia mulai menikmati status sebagai istri Doni. Gadis itu tak menampik -- bahwa dia juga menyukai Doni. Apalagi sekarang lelaki itu berstatus sebagai suaminya. Meski status mereka masih belum sah di mata hukum.
" Udah ah, aku mau tidur. Ngantuk! " kata Nazwa mengakhiri percakapan mereka. Dia lalu menarik selimut di bawah kakinya lalu membungkus tubuhnya dengan selimut. Asmi juga menarik selimutnya mengikuti jejak Nazwa dan segera tidur di samping Nazwa.
Malam semakin larut membuai anak adam yang lelah karena hari - harinya, hingga membuat mereka semakin terlelap dalam buaian mimpi.
Brukkk! sebuah suara benda terjatuh membuat Nazwa terbangun demikian juga halnya dengan Asmi. Keduanya lantas segera beranjak bangun untuk mencari tahu apa yang terjadi.
" Suara apa itu tadi, Nazwa. Apa jangan - jangan ada pencuri yang masuk? " tanya Asmi.
Nazwa segera mengambil sepotong balok berukuran 5 x 10 yang memang sudah dia sediakan untuk berjaga - jaga.
" Ayo kak, kita habisi pencuri yang masuk itu. " bisik Nazwa.
Mereka berdua melangkah mengendap - ngendap ke ruang tamu untuk menyergap pencuri yang masuk ke rumah Nazwa.
__ADS_1
Namun sesampainya di ruang tamu, mereka tak menjumpai siapapun di sana. Mereka berdua saling berpandangan. Lalu suara tadi... suara apa..???
Nazwa memandang Asmi, Ketika wanita itu memegang cincin di jari manisnya yang mendadak saja mengalirkan hawa dingin seperti es.
" Kenapa, kak? "
" Entahlah, perasaanku nggak enak. " jawab Asmi.
Mendadak bulu kuduknya merinding.
"erggghhh..... erghhhh!! " sebuah geraman terdengar dari arah belakang mereka. Reflek mereka membalikkan tubuh. Dan alangkah terkejutnya mereka saat berbalik.
Di hadapan mereka berdiri sosok makhluk tinggi besar dan berbulu lebat berwarna hitam legam.
" Kak Asmi, makhluk itu. Genderuwo itu datang lagi! "jerit Nazwa ngeri.
Asmi terpaku menatap makhluk itu.
" Ternyata kamu masih belum jera juga. Awas saja, kali ini aku tak akan memberi ampun! " bentak Asmi pada makhluk itu.
Mulut Asmi kemudian komat kamit membaca doa - doa dari ayat - ayat suci Alquran yang dia ketahui bisa mengusir makhluk itu. Dan benar saja, tak beberapa lama kemudian makhluk itu tampak menjerit kepanasan.
Namun bukannya pergi, makhluk itu malah semakin marah dan beringas. Dia menyerang Asmi dan Nazwa sehingga membuat kedua terlempar dan jatuh menghantam dinding ruang tamu.
" Aaahhhh, kak Asmi. Aduh sakit!! " jerit Nazwa kesakitan.
" eight... Nazwa bertahanlah.! " kata Asmi yang kembali berusaha untuk bangkit. Dia kembali mengumpulkan tenaga dalamnya dan balas menyerang makhluk itu.
Karena tak menyangka akan mendapat serangan balik, makhluk itu tak sempat lagi mengelak serangan Asmi. Akhirnya makhluk itu jatuh terjengkang ke belakang.
Genderuwo itu bangkit dengan marah.
" Dek, Ayo kita menyingkir dari sini.! " Asmi menarik tangan Nazwa. Lantas keduanya bergegas membuka pintu dan berlari ke luar rumah.
Mereka berteriak minta tolong pada tetangga sebelah rumah Nazwa. Tapi anehnya tak seorang pun dari mereka yang mendengar atau pun terbangun oleh teriakan mereka.
Asmi dan Nazwa terus saja berlari hingga sampai di dekat persimpangan jalan menuju rumah Datuk Melenggang Langit.
Saat melewati jembatan kecil, keduanya di kejutkan oleh kemunculan makhluk itu yang menghadang mereka. Wujudnya makin terlihat menyeramkan di bawah sinar bulan yang menjadi satu-satunya penerbangan di tempat itu.
Asmi dan Nazwa saling berpelukan. Keduanya pasrah sambil berdoa memohon pertolongan Allah sang Pencipta segala Makhluk. Dialah maha Kuat lagi maha Perkasa.
Tiba-tiba sebuah suara yang sangat Asmi rindukan berbisik di telinganya.
__ADS_1
" Sayang, menyingkirlah. Biar aku sendiri yang akan menghadapi makhluk itu ! " Asmi menoleh ke belakang dan tampaklah pangeran Hasyeem telah berdiri di belakang mereka.
" Hasyeem!!!? " gumannya lirih.