Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 155 Namaku Ammar ( part 2 )


__ADS_3

Lutut Anisa gemetar saking takutnya. Apalagi kini bayangan itu sudah masuk ke dalam kamarnya dengan cara menembus dinding. Mulut Anisa makin terbuka lebar.


" Si.. siapa..ka.... ka.. mu.. " akhirnya pertanyaan itu berhasil juga dia ucapkan. Seorang lelaki bermata abu - abu dengan bintik kuning di tengah sedang berdiri di depannya. Matanya tajam menatap ke arah Nisa.


" Namaku... Ammar..! "


Setelah mengucapkan dua patah kata itu, Bayangan Ammar kemudian lenyap dari pandangan mata Nisa.


Wanita itu langsung tersadar dari lamunan dan segera berlari ke luar kamar. Perasaannya begitu ketakutan. Apa itu tadi yang dia alami. Siapa laki-laki yang tadi datang menemuinya. Mengapa tubuh laki-laki itu bisa menembus dinding kamarnya.


" Nisa, kamu kenapa? " tanya ibunya yang kebetulan berpapasan dengannya di tangga. " Wajahmu kok, pucat sekali. Pasti karena kamu belum makan dari tadi siang, kan? " Nisa mengangguk membenarkan ucapan sang ibu. Dia tak mau memberitahukan ibunya tentang apa yang baru saja dia alami. Dia tak ingin membuat ibunya menjadi cemas.


Ibunya langsung menggandeng tangan Putri bungsunya itu. Menuntunnya berjalan menuruni anak tangga menuju ke dapur. Dengan sigap dia mengambil makanan untuk putrinya dan kemudian menyodorkannya ke hadapan Nisa. "Makanlah, kamu butuh tenaga untuk tubuhmu dan bayi yang kau kandung." kata ibunya sambil mengelus kepala Nisa dengan sayang.


Anisa terenyuh mendapati perlakuan sang ibu. Tak ada yang berubah. Sama seperti dulu, ibunya masih saja memperlakukan dirinya seperti putri kecilnya yang selalu dia manjakan.


" Makasih, ya Bu. Nisa memang sudah lapar sekali dari tadi.. " kata Nisa dengan wajah tak berdosa.


" Huh.. kamu itu harus ingat bahwa sekarang kamu itu sedang hamil. Wanita hamil memang harus banyak - banyak makan, agar bayinya tumbuh sehat. " nasehat ibunya.

__ADS_1


Anisa mengangguk dan kemudian makan dengan lahap, karena memang dia sedari tadi sudah merasa lapar. Hanya saja karena rasa malas yang mendera, membuatnya terpaksa harus menahan lapar.


...------...


Seminggu sudah berlalu sejak kejadian munculnya bayangan yang bisa menembus dinding dan berubah menjadi sosok lelaki bermata abu - abu dengan bintik kuning di tengah.


Hari ini Nisa pergi ke klinik dokter kandungan karena sudah janji untuk memeriksakan kehamilannya. Sebenarnya ibunya tadi sudah bersiap - siap untuk mengantarkan dia ke dokter, tetapi mendadak ada telepon dari kantor, sehingga ibunya tak jadi menemani Nisa pergi ke dokter. Semenjak ayahnya meninggal, yang pegang kendali atas perusahaan keluarga adalah sang ibu dengan di bantu oleh suami kak Adel.


Mau minta tolong kak Adel, kakaknya itu sedang berada di Sekolah Silva. Silva adalah keponakannya yang baru berusia lima tahun dan sekarang duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Mana mungkin dia tega menyuruh kak Adel untuk menemani dia pergi ke klinik dan harus meninggalkan Silva.


Dan sekarang, di sinilah Nisa berada. Di ruang tunggu klinik bersalin. Nisa sedang duduk menunggu giliran namanya untuk dipanggil. Tiba-tiba matanya tak sengaja menangkap sosok Arya yang sedang menggandeng seorang wanita yang tampaknya juga sedang hamil seperti dirinya. Wanita itu terlihat bergelayut manja di lengan pria muda itu.


Keduanya duduk di depan pintu masuk ke ruangan dokter di ruangan yang sama dengannya. Sebenarnya, Anisa sudah berniat hendak beranjak dari tempat itu. Dia malas untuk bertemu kembali dengan Arya. Tapi mendadak ia mendengar namanya di panggil. Sekilas, Nisa melihat ada keterkejutan di mata Arya saat mendengar nama Anisa disebutkan. Pandangan matanya langsung tertuju pada wanita yang berdiri di sudut ruangan yang tak lain adalah Nisa. Senyum sinis terlukis dari wajahnya. Namun senyum itu mendadak lenyap saat dia melihat seorang laki-laki tampan juga terlihat ikut berdiri di samping tubuh mantan istrinya itu. ' Siapa laki-laki yang sedang berdiri di samping Nisa? '


Dengan langkah lebar, Nisa langsung berjalan melangkah melewati Arya dan wanitanya. Dari sudut matanya dia bisa melihat Arya yang sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit dia artikan.


Nisa tak tahu, jika Arya bukanlah sedang menatapnya melainkan pria yang berjalan di sisi nya. Dalam pandangan Arya, ada seorang laki-laki tampan yang sedang berjalan di samping wanita itu sehingga membuat Arya seperti kebakaran jenggot.


Arya merasa tak suka melihat ada laki-laki lain yang kini sedang mendekati mantan istrinya itu. Bukan karena dia masih mencintai wanita itu, tetapi karena egonya merasa tersentil karena secara phisik, laki-laki itu terlihat lebih unggul darinya.

__ADS_1


" Silahkan duduk, bu Nisa." dokter itu mempersilahkan Nisa untuk duduk setelah selesai memeriksa kandungannya. " Sampai hari ini, kondisi kandungan bu Nisa normal saja. Hanya HB ibu sedikit rendah. Untuk wanita hamil, itu tidak boleh terjadi, ya bun. Maka dari itu saya akan memberi obat penambah darah dan juga nafsu makan. Jangan lupa, obatnya di minum, ya bu Nisa. " Nisa mengangguk sambil menerima resep obat dari dokter tersebut.


Saat keluar, dirinya berpapasan dengan Arya yang akan masuk bersama wanita itu. Sejenak Arya berhenti dan menatap wanita yang pernah menjadi istrinya itu dengan sinis. " Hem, baru saja bercerai sudah jalan dengan laki-laki lain. Dasar perempuan murahan. " desisnya sambil berlalu namun Nisa masih bisa mendengar ucapan pria itu. Ingin rasanya dia berhenti dan berbalik mendatangi pria itu lalu memberikan tamparan sebagai hadiah untuk mulutnya yang tajam tak bersaring itu.


Namun, dia urung melakukannya karena dilihatnya seseorang sudah berdiri di belakang pria itu dan menarik tubuhnya lalu kemudian memberikan pukulan yang keras pada pria itu. Anisa nampak terkejut.


Demikian juga Arya yang tak menyangka bahwa laki-laki yang tadi dilihatnya bersama Anisa, kini sudah berdiri di belakangnya dan menarik tubuhnya lalu menghadiahkan sebuah pukulan di wajahnya.


Arya jatuh tersungkur dengan mulut berdarah akibat pukulan Ammar yang tepat mengenai rahangnya.


" Belajarlah sopan santun saat berbicara dengan wanita. Jangan seperti banci.." Orang itu kemudian berpaling ke arah Nisa. Betapa terkejutnya Nisa, dia mengenali orang itulah yang dilihatnya malam itu. Laki-laki yang bisa menembus dinding rumahnya. Laki-laki tampan yang bernama.... Ammar.


Mulut Nisa tak bisa berucap lagi, apalagi ketika kemudian laki-laki itu menarik lengannya dan membawanya keluar dari klinik itu disaksikan oleh beberapa pasang mata yang menatap tak berkedip pada lelaki tampan pemilik mata abu - abu itu.


Sesampainya di luar klinik, Nisa langsung tersadar dan buru - buru segera menepis lengan lelaki itu. Ia merasa jengah dan malu. Saat ini dia takut jika dilihat oleh orang-orang yang mengenalnya, bisa jadi fitnah dan bahan gosip.


" Apa sih maumu, kenapa kamu ikutin aku terus. " Nisa menegur laki-laki di sampingnya itu dengan ketus.


" Stt...jangan bicara padaku. Saat ini tak ada orang yang bisa melihatku. Jadi kamu sebaiknya tak usah bicara padaku. Berlaku seperti biasa saja. Nanti orang - orang mengira kamu gila karena bicara sendiri."

__ADS_1


" Astaga... ' seru Nisa dengan tangan yang membekap mulut.


Nisa makin bingung. Siapa laki-laki itu. Mengapa tak setiap orang bisa melihat dirinya.


__ADS_2