Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 121 Apakah Kamu Bisa Menerimanya..!


__ADS_3

" Aku.....? Koma?" tanya Aluna seperti tak percaya.


" Iya, kamu koma dan terluka pada pertarungan kamu terakhir melawan Hades. " papar suara itu lagi.


Dia ingat sekarang. Tubuhnya terbagi menjadi dua bagian di dimensi ini aakibat sambaran pukulan Tapak Hades di dadanya.


Aluna menangis sedih saat ingat akan kedua orang tua dan adiknya. Betapa dia merindukan mereka semua.


" Jangan bersedih, anakku! kamu akan kembali pada mereka karena dunia masih membutuhkan keberadaan dirimu. Sekarang, Berbaringlah di sebelah tubuhmu! " suara itu kembali memerintahkan Aluna agar berbaring di sebelah tubuhnya yang kini terbujur di atas tempat tidur.


Aluna membaringkan tubuhnya di sebelah tubuhnya. Agak aneh terasa bagi Aluna , dia menoleh dan melihat dirinya sendiri. Saat itulah, dia melihat ada sebuah cahaya putih yang menyambar tubuhnya dan membawanya pergi melewati sebuah terowongan panjang yang berwarna putih dan melemparkan tubuhnya ke sebuah lubang hitam yang gelap.


"Akhhh.... tolong aku! Tolongggg!!! " jeritnya sekuat tenaga.


"Aluna....! Aluna bangun..! Aluna.... sadarlah! " seseorang membangunkan Aluna dengan mengguncang - guncang tubuh gadis itu dengan keras.


" Akhhh....!" jerit Aluna tersentak saat terjaga dengan nafas yang tersengal - sengal.


" Alhamdulillahhhh! akhirnya dia sadar kembali! " seru seseorang.


Aluna membuka matanya dan mulai mengumpulkan kesadarannya. Dia menoleh ke sekelilingnya. Semua temannya dan guru mereka Ki Anom sedang memandang dirinya dengan senyum bahagia bercampur cemas.


" Di mana aku, Ki?" tanya Aluna pada Ki Anom yang berada di sebelahnya.


" Kita berada di tempat persembunyian ruang bawah tanah kediamanku." jawab Ki Anom.


Seingat Aluna, terakhir kali dia sedang bertarung bersama ayahnya menghadapi Hades Sang Penguasa Gerbang Oreon dan terkena pukulan telak di dadanya. Setelah itu dia tak ingat apa - apa lagi.


" Ayahku.... mana ayahku? Ayahhh...! " Luna panik karena teringat pada ayahnya. Dia mencemaskan nasib ayahnya.


" Tenanglah.. ayahmu tidak apa-apa. Justru ayahmu yang mengizinkan aku membawamu ke tempat ini untuk mengobati lukamu." jawab Alyan.


Luna terdiam mendengar Jawaban dari Alyan. Ada rasa lega mendengar kabar bahwa ayahnya itu baik - baik saja.


" Lalu bagaimana kabar ibu dan adikku. Apakah mereka baik- baik saja? " Aluna kembali menanyakan kabar sanak keluarganya.


" Mereka juga baik - baik saja, Luna." jawab Alyan, lagi.


Semua merasa senang karena Luna sudah sadar kembali dan kini keadaan gadis itu jauh lebih baik dari sebelumnya


Demikian juga halnya dengan Alyan. Pemuda yang merupakan putra pertama dari Pangeran Hasyeem itu, jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa sangat gembira sekali.


Namun pemuda tampan itu pandai menyimpan perasaan. Ekspresi wajahnya biasa saja. Hanya senyum kecil yang tercetak di sana saat matanya bersitatap dengan gadis itu.


" Baiklah, karena sekarang kita sudah berkumpul kembali, bagaimana jika sekarang kita kembali ke atas. Aku yakin, pasti sekarang orang tua kalian sedang mencari - cari keberadaan kalian, hei bocah - bocah nakal!" seru sang guru.


" Iya, Ki! " jawab mereka serempak.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa kini keadaan Luna sudah pulih sepenuhnya dan dapat berjalan seperti sedia kala maka Ki Anom segera memerintahkan kepada semua murid - murid untuk membereskan kekacauan di tempat tinggalnya.


Mereka semua bekerja sama membersihkan dan memperbaiki kediaman sang guru yang rusak parah akibat dari perkelahian beberapa waktu yang lalu.


Sementara itu di Bukit Malaikat, sepasang suami-istri sedang berdua - duan di taman istana.


Istrinya yang cantik tampak sedang bersandar di dada bidang suaminya yang terbuka. karena bagian atas kancing bajunya dibiarkan tidak terkancing.


Wanita cantik itu adalah Asmi yang masih terlihat sangat muda walaupun usianya sudah tidak lagi muda.


Sedangkan suaminya, Pangeran Hasyeem juga tak jauh berbeda dengan dirinya. Tetap tampan dan gagah dengan rambut panjang sebahu yang terikat rapi


" Sayang, tiba-tiba aku merindukan saudara - saudaraku. Bolehkah aku pergi menemui mereka?" rengek Asmi manja kepada suaminya.


" Kenapa mesti bertanya, sayang. Jika kamu ingin ke sana aku dengan senang hati akan mengantarkan dirimu." jawab sang suami.


" Benarkah, kalau begitu ayo kita pergi ke sana sekarang! " serunya dengan gembira.


Pangeran Hasyeem geleng - geleng kepala gemas melihat kelakuan sang istri. Dia memang sangat mencintai Asmi, istrinya yang berasal dari bangsa manusia itu.


Segera dia meraih tangan sang istri dan berdua mereka kemudian bersama - sama menghilang dari pandangan mata. Mereka berdua saja pergi ke alam manusia, meninggalkan anak - anak mereka yang kesemuanya sudah beranjak dewasa.


Anak - anak Asmi semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka jarang bertemu dengan kedua orang tuanya.


Namun, hari ini mereka semuanya kecewa. Saat ingin bertemu dengan ayah dan ibundanya, mereka tidak menjumpai keduanya di istana.


" Dayang, di mana Ayahanda dan ibundaku? " tanya Arryan pada salah satu dayang istana.


" Oh, jadi mereka ke rumah paman Ardi. Pantas saja mereka tak ada di kamarnya." kata Azzura menimpali.


" Bagaimana, apakah kita mau menyusul bunda ratu dan Ayahanda? tanya Arryan pada kedua saudaranya.


" Tidak, aku dan Luna mau menemui Paman Ammar." kata Alyan.


" Aku mau! " seru Azzura. Sejak kecil,di a memang senang sekali jika di ajak pergi berkunjung ke rumah sanak saudara ibunya di alam manusia.


" hmm, baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi menyusul Ayahanda dan bunda ratu, kanda Azzura! "


Keduanya kemudian bersiap - siap pergi menyusul sang Bunda dan ayahnya. Sedang Alyan dan Aluna juga sedang bersiap untuk pergi ke Australia. Menyusul Paman Ammar, Ayahanda Luna.


...----...


Rumah orang tua Asmi di desa keadaannya masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Hanya catnya saja yang selalu diperbaharui oleh mas Ardi, kakak tertuanya yang menempati rumah itu.


Mas Ardi sudah tua. Keadaannya pun sering sakit - sakitan. Mereka tinggal bertiga saja bersama istri dan anak bungsunya.


Dua anak Mas Ardi yaitu Dina dan Aldi semuanya sudah berkeluarga. Tinggal, si bungsu Bahri, yang masih duduk di bangku kelas XII SMK.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, Mas Ardi! " Asmi mengucap salam sambil memgetuk pintu rumah kakaknya. Magrib baru saja lepas, suasana masih terlihat ramai.


Semenjak menikah dengan Pangeran Hasyeem, Asmi tak pernah datang ke rumah kakaknya dengan cara tiba-tiba langsung muncul begitu saja. Dia mesti bertamu layaknya orang lain bertamu. Karena dia tak ingin Sang kakak dan orang lain yang melihat menjadi curiga.


" Assalamu'alaikum, Mas..! Mas Ardi! Mbak Nur! " seru Asmi memanggil nama kakak dan kakak iparnya.


" Astaghfirullah, Asmi. Benarkah itu kamu? " seru seseorang dari balik pagar rumah mas Ardi. Asmi menoleh ke belakang.


" Jumirah, Ya Allah. Lama sekali kita tak bertemu. Apa kabar?" Asmi memeluk Jumirah yang kini sudah berdiri di hadapannya.


" Seperti yang kamu lihat, aku baik- baik saja. Hanya tambah tua.hahaha...!" jawabnya.


" Kamu tidak berubah sedikitpun, Asmi. Tetap cantik dan awet muda. Suamimu juga.! " kata Jumirah lagi.


" Ahh, itu hanya perasaanmu saja. Aku sudah tua. Anakku saja sudah besar semuanya.! " kata Asmi.


" Oh, iya. Mas Ardi kemana ya? " tanya Asmi.


" Oh... barangkali pergi ke rumah Mirna. Soalnya dengar - dengar suami Mirna sedang sakit. " jawab Jumirah.


Baru saja dia selesai berucap, sebuah mobil Avanza memasuki halaman rumah Mas Ardi. Semenjak Asmi menikah, kakaknya itu kini menetap di rumah orang tua mereka.


Asmi memberikan kakaknya itu semua emas dan uang yang dulu pernah diberikan oleh sang pangeran kepada kakaknya. Uang itulah yang digunakan oleh Mas Ardi untuk modal usaha hingga sukses seperti sekarang ini.


Seorang laki - laki dan perempuan paruh baya serta seorang remaja laki-laki tampak turun dari mobil.


" Assalamu'alaikum, As.. mi! Dek Asmi ! Ya Allah...Mah,.dek Asmi datang! " Seru lelaki paruh baya itu seraya memeluk sang adik penuh haru. Asmi pun juga tak dapat menahan air matanya. Dia menangis dalam pelukan kakaknya yang lama tidak pernah dia lihat.


" Mengapa kamu tidak pernah muncul mendatangi masmu, dek? Aku mencari - carimu. Mas lupa jika mas sampai sekarang tidak pernah tahu di mana kamu dan suamimu tinggal." kata kakak lelaki tertua Asmi itu dengan sedih.


" Maafkan Asmi, Mas. Asmi lupa untuk mengabari keadaan Asmi karena terlalu sibuk mengurus suami dan anak - anak, mas. " jawab Asmi. Pangeran Hasyeem memeluk sang istri memberi kekuatan agar istri cantiknya itu tidak terbawa emosi.


Hati Asmi merasa tercubit. Dia merasa bersalah karena telah menyembunyikan jati diri sang suami kepada semua keluarga. Asmi takut mereka menolak keberadaan suaminya jika tahu siapa sebenarnya Pangeran Hasyeem.


" Ayo, kita masuk ke dalam, dek.? " ajak Mas Ardi. Asmi mengangguk mengikuti ajakan Sang kakak. Dia dan suaminya masuk ke rumah Mas Ardi. Sedangkan Jumirah pamit untuk pulang.


" Anakmu mana, dek? " tanya mbak Nur.


" Oh, itu anak - anak sedang...


Baru saja keduanya ingin menjawab pertanyaan Mas Ardi, terdengar seseorang mengetuk pintu rumah rumah.


" Assalamu'alaikum! " kata orang itu mengucap salam.


" Waalaikum salam!" jawab mbak Nur dan Mas Ardi bersamaan.


Keduanya menoleh. " Siapa lagi yang datang, ya? " tanya Mas Ardi. Mas Ardi kemudian beranjak untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, tampak seorang gadis yang sangat cantik dan seorang anak muda yang gagah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


" Arryan dan Azzura!" kata Asmi. Asmi dan suaminya saling bertukar pandang. Rupanya anak - anak mereka menyusul dirinya dan suaminya ke rumah sang Uwak di alam manusia.


" Assalamu'alaikum, Uwak! "


__ADS_2