Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 126 Kematian Ratu Amirah


__ADS_3

Alyan berdiri saat mengetahui bahwa yang melintasi mereka sebelumnya tadi bukanlah makhluk yang berasal dari jenis bangsa ayahnya....


Siapa yang melintas tadi....??


" Luna, apa kamu melihat apa yang baru saja melintasi kita? " tanya Alyan.


Luna menggeleng tak tahu apa maksud perkataan Alyan. Dia tak melihat apa - apa dari tadi.


Alyan jadi heran, mengapa hanya dia saja yang bisa melihat sinar putih kebiruan yang melintas di hadapan mereka. Mengapa Luna tidak. Apa karena Luna seorang manusia?.


" Alyan, kenapa tiba-tiba perasan aku tak enak, ya? kata Luna.


" Mengapa, apa yang terjadi? " tanya Alyan.


" Aku teringat ibuku. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibu dan adikku." kata Luna yang kini sudah berdiri bersiap untuk pergi.


" Bukannya ibu dan adikmu kini sedang bersama dengan ayahmu? "


" Iya, tapi saat ini mereka semua masih berada di bukit Duri. Mereka akan pergi nanti malam. Ayahku masih ingin membicarakan sesuatu dengan ayahmu." kata Aluna menjelaskan.


" Kalau begitu, ayo kita segera pulang. Aku akan mengantarmu ke Bukit Duri." kata Alyan.


Keduanya kemudian menggunakan ilmu lari cepat agar lekas sampai ke bukit Duri. Sebenarnya Alyan bisa saja menghilang dengan cepat. Namun dia tak ingin melakukan hal itu. Karena kebersamaan dengan Luna lebih baik dari apapun.


Saat tiba di Bukit Duri, keduanya bertemu dengan Ammar yang baru pulang dari Istana Bukit Malaikat


" Assalamu'alaikum, Paman Ammar!" Alyan memberi salam di susul Luna yang tiba dan langsung memberi salam


* Assalamu'alaikum, ayah! " kata Luna.


" Waalaikum salam! " jawab Ammar. Luna bergegas masuk kedalam istana sedangkan Alyan lebih memilih mengobrol dengan Ammar


"Bagaimana kabar anda, Paman Ammar?" tanya Alyan seraya memeluk Ammar.


" Aku baik - baik saja, Alyan. Aku berencana untuk membawa anak dan istriku ke Mansion" ujar Ammar.


" Apakah termasuk Luna? " tanya Alyan.


Ammar berdeham kecil. Dia tahu kemana arah pembicaraan mereka.


* Tidak, Luna memutuskan untuk tinggal sementara di sini. Dan aku berharap kamu bisa menjaganya. Paman titip Luna padamu, Alyan! " kata Ammar lagi.


" Tentu paman, aku pastikan bahwa aku akan selalu berusaha untuk menjaga dan melindungi Aluna dengan segenap kemampuanku." kata Alyan pada Ammar.


" Bagus.... paman percaya padamu! " kata Ammar sambil menepuk bahu Alyan. Dia amat bangga mengetahui bahwa pemuda inilah yang telah dipilih oleh putrinya sebagai tambatan hati.


Keduanya kemudian melangkah bersama memasuki Istana. Tanpa mereka sadari, sepasang mata yang tajam dari sesosok makhluk tak kasat sedang mengintai mereka .


Setelah memastikan keadaan aman, barulah makhluk itu keluar dari tempat persembunyiannya.


makhluk itu menyelinap masuk ke istana Bukit Duri dengan mengendap - endap.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, bibi Amirah! " Alyan memberi salam pada ibunda Luna yang tampak sedang sibuk mempersiapkan makan makan malam.


"Apakah bibi benar-benar akan ikut Paman ke sana? Hmm, aku akan kesepian karena tak ada bibi dan Hamish." kata Alyan menggoda Sang Bibi.


Amirah terkekeh seraya mencubit pipi pemuda yang sudah menjadi teman putrinya itu dari kecil. Baginya, Alyan dianggapnya sudah seperti layaknya putranya sendiri.


" Entahlah, Alyan. Bibi hanya ingin tahu saja bagaimana rasanya tinggal di negeri orang." jawab bibi Amirah.


Wanita cantik paruh baya itu, terlihat cekatan mempersiapkan segalanya, padahal dia tak harus bekerja karena sudah ada dayang-dayang yang bertugas di sana.


Setelah makan malam, Luna dan Alyan berbincang - bincang bersama dengan Ammar di ruang kerjanya. Tak berapa lama kemudian, Alyan pun pamit ingin kembali ke istana Bukit Malaikat.


Hamish dan ibunya, Amirah sedang berada di dalam biliknya masing-masing. Selepas makan malam tadi keduanya memilih melepas lelah dan beristirahat di kamar.


" Paman, Aku pamit pulang dulu karena rasanya aku sudah terlalu lama keluar main."


" Baiklah, Alyan. Datang lah...... "


" Akhhhhhh.....Ammar tolong....! " Tiba-tiba terdengar jeritan dari arah bilik Ibunya Luna.


" Amirah..!! "


" Bunda..!! "


Ketiganya langsung berlari menuju ke dalam bilik Amirah. Alangkah terkejutnya mereka menyaksikan wanita itu sudah bersimbah darah di ruangannya dengan leher terkoyak.


Di sebelahnya berdiri sesosok makhluk dengan mulut terbuka menyeringai. Mulut makhluk itu penuh darah.


Sedangkan Aluna dan Hamish, mereka berusaha memberikan pertolongan pada ibu mereka dengan cara menghentikan pendarahan di lehernya.


" Sial... makhluk ini tak mempan senjata, Alyan! " seru Ammar.


Makhluk itu memang benar-benar mengerikan. Tubuhnya tinggi besar dan memiliki wajah yang sangat mengerikan. Kedua taring di sudut bibirnya masih saja meneteskan darah segar.


Tubuh makhluk itu kebal senjata, walaupun sudah beberapa kali pedang Ammar berhasil mengenai tubuhnya.


Alyan kemudian mengeluarkan pedang Naga Jiwo miliknya. Pemuda itu kembali menyerang makhluk itu menggunakan pedang Naga Jiwo. Perkelahian seru pun kembali terjadi.


Pada suatu ketika, pedang Alyan berhasil melukai tubuh makhluk itu. Makhluk itu mengerang keras dan mengamuk membabi buta.


" Hati - hati, Alyan. Makhluk itu marah karena berhasil kau lukai! " seru Ammar.


Alyan meloncat ke atas langit - langit karena makhluk itu berusaha untuk menerkamnya. Akibatnya, makhluk itu malah mengenai Ammar.


Bahu Ammar berdarah karena cakaran kuku makhluk itu.


" Sial, makhluk itu melukaiku! " kata Ammar.


Alyan segera meluncur ke bawah dan menusukkan pedangnya ke Kepala makhluk itu.


Makhluk itu tak menyangka akan mendapat serangan dari Alyan. Tubuh makhluk itu ambruk ke lantai dengan kepala tertusuk pedang Alyan.

__ADS_1


Secara perlahan-lahan, tubuh makhluk itu berubah wujud kembali menjadi sosok manusia.


Mereka yang ada di ruangan itu terkejut dengan apa yang terjadi pada makhluk itu.


Rupanya, makhluk yang datang menyerang ke istana mereka adalah makhluk jadi - jadian. Manusia yang menerapkan ilmu hitam dan mengubah dirinya menjadi makhluk mengerikan penghisap darah.


Pantas saja dia menyerang Amirah, karena ibu dari Luna itu murni merupakan keturunan manusia. Demikian halnya dengan Aluna. Namun dia tak menyerang Luna, tetapi menyerang sang Ibu, yang paling lemah diantara semua.


" Ayah, keadaan ibu semakin lemah! " seru Hamish .


Ammar bergegas berlari menghampiri istrinya yang kini keadaannya semakin kritis karena kehilangan banyak darah dari luka di lehernya.


" Segera pnggilkan tabib istana! " seru Ammar.


Dengan berlari, Luna memanggil tabib istana. Tak lama kemudian tabib istana datang tergopoh - gopoh bersama Luna.


Segera, tabib istana memeriksa keadaan Amirah. Sang tabib geleng-geleng kepala tanda menyerah dengan keadaan Sang ratu mereka.


" Ampun, tuanku. Dengan menyesal hamba katakan bahwa hamba tak mampu untuk mengobati luka ibunda ratu Amirah . Beliau kehabisan banyak darah . "


" Ibuuuu.... ! " jerit Aluna dan Hamish.


Ammar memeluk wanita yang sudah mendampinginya selama lebih dari dua puluh tahun ini dengan pilu.


Wanita cantik itu menghembuskan napasnya dalam pelukan suaminya.


" Amiiraahh...!! Ammar meratap memanggil nama Sang istri yang kini sudah terkulai lemah tak bernyawa.


Semua yang berada diruang itu tak dapat menahan kesedihan mereka. Ibunda ratu Amirah telah wafat.


Aluna menangis histeris memanggil - manggil Sang ibu. Gadis itu benar-benar sangat terpukul dengan kejadian yang tiba-tiba saja terjadi di istana mereka.


Alyan berusaha menenangkan Luna. Dia mendekap erat Sang kekasih yang menagis histeris karena kehilangan Sang ibu.


Sedangkan Hamish, pemuda itu tampak lebih tabah dari Aluna. Dia hanya menunduk sedih sambil memegang tangan Sang ibu.


Hatinya hancur karena wanita yang sangat dicintainya itu pergi dengan cara yang tragis. Rasanya dia ingin sekali mencincang habis tubuh makhluk itu yang kini sudah berubah bentuk kembali menjadi wujud manusia.


" Sebaiknya kita mengurus jenazah Ibunda ratu Amirah.! " kata Sang tabib istana.


Ammar menangis pilu sambil memeluk tubuh Sang istri yang masih bersimbah darah. Tak rela dia jika harus kehilangan wanita itu.


Wanita yang tidak pernah mempermasalahkan tentang asal usul dirinya.. Dia, Amirah . Wanita cantik itu mau menerima dirinya apa adanya tanpa banyak menuntut.


Selama hidupnya, tak pernah sekali pun wanita itu mengeluh. Dengan sabar dia melayani dan mengabdi pada Ammar Sang suami, dengan sepenuh hati.


Ammar yang mulanya hanya merasa iba dan berniat ingin melindungi wanita itu, lama - lama rasa itu berubah menjadi rasa sayang dan cinta.


Kini, setelah dia begitu mencintai dan menyayangi wanita cantik yang sudah memberinya dua orang putra dan putri itu, wanita itu pergi secara tiba-tiba dengan cara yang tragis.


Berita tentang kematian Ratu Amirah tersebar dengan cepat. Seluruh warga istana Bukit Duri berduka. Demikian juga halnya dengan penghuni istana Bukit Malaikat. Seluruh rakyat di negeri itu menyatakan berkabung atas wafatnya Ratu Amirah. Ratu istana Bukit Duri.

__ADS_1


Pangeran Hasyeem dan Asmi yang sedang hamil bergegas menyusul ke istana Bukit Duri bersama - sama dengan Azzura dan Arryan


__ADS_2