
Sementara itu Nazwa sedang berada di rumah Datuk Melenggang langit. Gadis cantik itu menemui tetua adat Kemang Dalu itu selain untuk memperoleh informasi mengenai penelitian yang dia ambil, juga dia bermaksud ingin menanyakan perihal masalah Doni yang sampai saat ini belum sadar juga.
" Datuk, sebenarnya ada masalah lain yang ingin saya tanyakan pada Datuk. Namun saya ragu, apakah Datuk bersedia untuk membantu kami. " kata Nazwa dengan hati - hati seakan takut Datuk melenggang langit akan marah nantinya.
" Bagaimana kamu tahu aku akan membantu kalian atau tidak, jika bicara saja kau belum. " kata Datuk melenggang langit sambil tersenyum geli.
" hm, iya benar, Datuk." Nazwa tersipu malu menyadari kesalahannya.
" Salah seorang dari kami, saat ini sedang terbaring tidak sadarkan diri. Kami tak faham, apa yang sudah berlalu pada teman kami itu. Hingga Sampai detik ini, tiada lah teman kami itu sadar diri. " kata Nazwa kemudian.
Datuk Melenggang langit pun terdiam. Lalu dengan bijak dia berkata.
" Anak Nazwa, baiknya kamu bawa dulu Datuk bertemu dengan temanmu itu, barulah setelahnya kita akan menentukan langkah apa yang akan kita lakukan. " jawab Datuk melenggang langit dengan bijak.
" Nazwa faham, Datuk. Dapatkan hari ini kita pergi ke rumah teman saya itu. Karena kami ingin masalah ini segera di tuntaskan ? " kata Nazwa lagi.
" Jikalau seperti itu keadaan nya. Ayo kita berangkat sekarang.! " jawab Tetua adat desa Kembang Balu.
Setelah berganti baju, Tetua adat desa Kembang Dalu bersama Nazwa pergi ke rumah sakit dimana Doni di rawat.
Ryan yang sedang menunggu Doni terkejut saat melihat kedatangan Nazwa bersama tetua adat desa Kemang Dalu . Dia tak menyangka lelaki paruh baya itu bersedia membantu mereka datang ke rumah sakit ini.
" Assalamu'alaikum, Datuk. " Ryan bangkit dan mencium tangan lelaki paruh baya itu lantas mempersilahkan tetua adat itu untuk duduk di kursi yang tersedia di bilik kamar Doni.
" Hm, aku akan memeriksa temanmu dulu, anak muda. " Datuk Melenggang langit kemudian mendekat ke arah Doni dan memegang dahi serta telapak tangan cowok itu yang terasa amat dingin.
Sejenak lelaki itu memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi untuk membuka mata batinnya. Dia mencoba untuk mencari tahu penyebab kejadian itu.
Setelah beberapa lama, lelaki paruh baya itu membuka kembali matanya. Sebuah tarikan panjang keluar dari jalan pernapasannya. Dia menatap Ryan dan Nazwa yang juga sedang menatap ke arah lelaki tua itu.
" apa yang Datuk lihat, apa yang terjadi dengan teman kami ini. ? " tanya Ryan dengan tidak sabar.
" Jiwa temanmu saat ini sedang berada di tempat lain. Tepatnya di desa gaib dekat air terjun Alas Tirta." jawab tetua adat itu dengan ekspresi datar.
" Jiwa Doni ada di desa gaib. Mengapa dia bisa berada di sana, Datuk? " tanya Nazwa heran.
" Ada asap, sudah tentu ada api. Teman kalian sudah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Untuk itulah, kini dia sedang mempertanggungjawabkan hasil perbuatannya. Jika sampai besok malam, teman kalian belum juga sadar, itu artinya jiwanya akan selamanya berada di tempat itu. "
" Jadi bagaimana cara kami untuk menyelamatkan nasib teman kami ini? " tanya Nazwa lagi.
" mudah - mudahan belum terlambat. Carilah di rumah teman kalian ini, sebuah batu giok putih berukuran sebesar telur ayam. Karena benda itulah yang kulihat melalui mata batinku yang di ambil oleh teman kalian ini di air terjun Alas Tirta beberapa hari yang lalu. "
__ADS_1
Nazwa dan Ryan saling pandang. Rupanya Doni menyembunyikan sesuatu yang di ambilnya dari air terjun Alas Tirta. Pantas saja mereka di ikuti oleh makhluk ghaib penunggu air terjun Alas Tirta.
Tanpa membuang waktu, bergegas Nazwa pergi ke tempat kosan Doni untuk mencari batu giok putih yang di ambil Doni dari air terjun seperti yang di sebutkan oleh Datuk melenggang langit.
Cukup lama Nazwa mengobrak-abrik kamar Doni hingga akhirnya gadis cantik itu menemukan apa yang dia cari.
Nazwa nyaris berteriak saking senangnya. Ternyata Doni menyimpan batu giok putih itu di bawah kasur tempat tidurnya. Pantas saja Nazwa kesulitan mencari batu giok putih itu, karena Nazwa mencarinya di semua laci dan lemari serta tempat lain di rumah itu. Sedangkan tempat tidur Doni adalah pilihan terakhirnya.
Setelah menemukan batu giok putih tersebut, Nazwa segera kembali ke rumah sakit untuk menemui Datuk melenggang langit dan Ryan yang masih menunggu di sana.
" Apakah ini, Datuk. Batu giok putih yang datuk maksud. "
Datuk melenggang langit mengambil batu giok putih itu dari tangan Nazwa , mengamatinya sesaat lalu mengangguk.
" benar, ini adalah batu giok putih milik pemimpin desa Raden. Sebuah Desa ghaib yang terletak di air terjun Alas Tirta. "
" desa ghaib? "
" ya, desa ghaib. desa itulah yang selama ini kalian bicarakan. Namanya desa Raden. Pemimpin desa itu seorang wanita, Nyi Mirah namanya. "
" lantas bagaimana cara kami kesana untuk menyelamatkan teman kami, datuk? " tanya Ryan.
" Begini, saat ini desa Raden sedang sibuk mengadakan persiapan pesta pernikahan. "
" pesta pernikahan? siapa yang akan menikah, datuk? tanya Nazwa dan Ryan hampir bersamaan.
" Teman kalian dan Nyi Mirah. " jawab Datuk melenggang langit dengan tenang.
" APA !!?? " Nazwa dan Ryan lagi lagi terpekik bersama.
" untuk itulah, aku punya rencana. Namun sepertinya kamu harus berkorban. Aku bertanya sebelum kita ke sana, apakah kamu sanggup menjalankan syarat yang aku pinta..?" tanya datuk melenggang langit sambil menatap manik Nazwa dengan dalam. Mencari kesungguhan di mata gadis itu.
" Bagaimana Nazwa?? " tanya Ryan yang sudah tak sabar menanti jawaban Nazwa.
...-----...
Sementara itu Doni merasa heran dengan pemilik rumah ini. Menurut Nyi Waru, wanita tua yang mengajak Doni masuk ke dalam rumah itu pemilik rumah ini adalah seorang wanita yang bernama Nyi Mirah.
Hanya saja yang Doni heran, sejak dia memasuki rumah ini hingga sekarang Doni tidak pernah bertemu dengan Nyi Mirah. Menurut Nyi Waru Nyi Mirah sedang menjalani masa pingitan.
Doni juga baru tahu jika sebagian besar penghuni desa ini semuanya adalah wanita. Tak heran jika pemimpinnya juga adalah seorang wanita.
__ADS_1
"Doni, Doni. Kamu dimana? " Doni yang sedang asyik melamun seperti mendengar suara Nazwa.
" Nazwa, Nazwa, kamu di mana? "
Doni bergegas beranjak keluar rumah untuk mencari asal suara itu. Dia hapal sekali, itu suara Nazwa.
" Doni, datang lah aku di sini. " kembali Doni mendengar suara Nazwa memanggilnya. Doni bergegas mencari keberadaan Nazwa.
" Nazwa, kamu di mana? " tanya Doni.
" Doni, aku di sini. Terus ikuti saja suara ku itu akan membimbingmu untuk menemukan aku. "
Doni terus berlari mengikuti suara Nazwa hingga sampailah dia di tepi air terjun.
" Nazwa, kamu di mana? " Doni menoleh ke sana ke mari untuk menemukan keberadaan Nazwa.
" Don. Doni!! " sebuah seruan yang sudah tak asing lagi menyapa gendang telinga Doni.
Doni menoleh dan tampaklah Nazwa dan Ryan juga Datuk melenggang langit berdiri tak jauh dari hadapannya.
Tak dapat di ungkapkan betapa senangnya hati Doni saat berjumpa kembali dengan orang orang yang sudah di kenalnya.
" Bagaimana kalian bisa menemukan aku? tanya Doni .
" Itu semua tidak perlu di tanyakan. Ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan sekarang sebelum terlambat. " kata Nazwa.
Doni bingung dan tak mengerti maksud ucapan Nazwa.
Datuk melenggang langit menepuk bahu pemuda itu.
" ayo kita kembalikan batu giok putih itu ke tempat semula.! " kata Datuk melenggang langit.
Doni terkejut dengan ucapan tetua adat desa Kemang Dalu itu. Dari mana lelaki paruh baya itu mengetahui apa yang telah dia lakukan.
Doni menunduk malu seperti maling yang terciduk saat melakukan kejahatan.
Belum sempat mereka bergerak ke arah air terjun untuk mengembalikan batu giok, ketika sebuah suara bentakan terdengar dari arah belakang.
" Apa yang kalian lakukan di daerah kekuasaanku!? "
" Nyi Mirah! "
__ADS_1