Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 146 Kecelakaan Tragis


__ADS_3

" Jadi benar rupanya dugaanku, bahwa Elisa mati dibunuh dan arwahnya datang menuntut balas. Dan yang mengikuti aku itu adalah rohnya Elisa dengan maksud untuk memberitahukan hal itu kepadaku. Jadi tujuan Elisa adalah ingin menuntut balas kepada para pembunuhnya! " kata Arryan.


" Kalau begitu, kamu dan Keanan berada dalam bahaya.....! " Wajah Arryan pucat pasi mendengar ucapan Sang Ayah.


Pertolongan segera datang. Orang-orang ramai berdatangan untuk memberikan pertolongan pada Keamanan dengan membongkar pintu mobil. Akhirnya mereka berhasil membebaskan Keanan yang terhimpit kemudi dan dashboard, dan segera melarikan pemuda itu ke rumah sakit. Keadaan pemuda itu sangat parah. Sedangkan Arryan, mereka juga membawa gadis itu ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan.


Di tempat yang agak jauh dari tempat kejadian, seseorang sedang memperhatikan semua kejadian tersebut. Dia sedang merekam semua kejadian itu dan mengirimkan rekaman tersebut kepada seseorang. Tak puas dengan itu, dia juga mengirimkan pesan kepada orang itu. " Tugas sudah selesai, bos. Target kita mencapai sasaran. Kondisi pria kritis, yang cewek selamat "


Pesan terkirim dan langsung dibaca oleh si penerima. Tampaknya pesan tersebut membuat si penerima merasa kurang puas, yang langsung membalas pesan tersebut.


" Aku mau yang cewek juga mengalami nasib yang sama seperti pria itu. ".


Orang itu membaca pesan tersebut dan segera pergi dari tempat itu.


" Dion, ayo pergi dari sini. Bos bilang dia juga mau tuh cewek koiit...! " katanya pada temannya yang sejak tadi menunggu di mobil.


" Hmm, kalau begitu, tunggu apalagi. Misi harus segera dilaksanakan. Buruan bang Dave, entar keburu si marahin Bos besar.!" ucapan lelaki yang bernama Dion itu sambil memasukkan gigi dan melajukan mobil tersebut ke arah rumah sakit. Tempat Keanan dan Arryan dirawat.


Mereka berdua tak mengetahui bahwa sesosok makhluk jin sedang berada di dekat mereka dan mencuri dengar pembicaraan mereka. Kini makhluk tersebut sedang mengikuti mereka yang sedang menuju ke arah rumah sakit.


" Mereka pasti berniat untuk mencelakai putri Arryan. Aku harus memberitahukan pada tuanku. "


Kedua orang tersebut sampai juga akhinya di rumah sakit tempat Keanan dan Arryan di rawat. Keduanya tampak celingukan mengamati keadaan di sekelilingnya. Mencoba mencari informasi tentang keadaan Keanan dan Arryan dengan mengaku sebagai pihak keluarga. Setelah memperoleh informasi yang akurat mereka laku menghubungi seseorang.


Waktu menunjukan pukul 21.00 malam. Keadaan di rumah sakit itu tampak lengang dan sepi. Pengunjung sudah tak ada lagi. Hanya sesekali tampak keluarga pasien yang lewat atau pengunjung emergency.


Di ruang tunggu kamar operasi, keluarga Keanan sedang berharap dengan cemas akan nasib pemuda itu. Sudah lebih tiga jam para dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu. Para dokter sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan beberapa pecahan kaca yang menancap di kepala pemuda itu. Beberapa pecahan kaca bahkan ada yang menggores dan menancap di wajah pemuda tampan itu. beberapa tulang rusuk yang patah ditambah patah tulang kaki dan lengan.


Setelah melalui perjuangan yang panjang selama empat jam lebih, akhirnya tim dokter berhasil menyelamatkan nyawa Keanan. Pemuda itu kini sudah di pindahkan ke ruang ICU.


Semua keluarga merasa lega mendengar hal itu. Mereka merasa bersyukur nyawa Keanan masih terselamatkan.


Sementara itu, di ruang terpisah, seorang gadis tampak sedang berbaring di atas tempat tidur. Berbanding terbalik dengan pemuda tadi, gadis itu tampak baik - baik saja. Dia hanya sedikit shock dan trauma akibat benturan saja. Tak ada satupun terdapat luka di tubuhnya. Padahal melihat kondisi Keanan yang sedemikian rupa, pastilah sebenarnya kondisi gadis itu tak jauh beda dengan kondisi Keanan.


Gadis itu hanya di suruh untuk beristirahat agar kondisi pisik dan mentalnya kembali normal.

__ADS_1


Polisi yang memeriksa kejadian perkara di buat terheran-heran dengan kondisi gadis itu. Mereka jadi bertanya - tanya bagaimana gadis itu bisa selamat tanpa ada satu luka pun di tubuhnya.


...-----...


Malam sudah semakin larut. Waktu menunjukan pukul 00.30. Suasana rumah sakit semakin sepi saja. Tak ada lagi orang yang lalu lalang tampak berkeliaran. Sepi dan benar-benar lengang.


Sebuah Avanza putih tampak memasuki areal parkir rumah sakit. Tak lama dari dalam mobil keluar empat orang laki-laki berbadan kekar sedang menggotong seseorang lelaki yang tampaknya sedang terluka parah.


" Mas, tolong. Salah seorang teman kami ada yang terluka, mas.!" kata salah seorang dari keempat orang itu.


Petugas medis yang sedang berjaga segera memberikan pertolongan kepada lelaki yang tampaknya menderita luka tusuk di perut itu. Walaupun tampaknya tak terlalu parah, namun perlu mendapat pertolongan segera agar pasien tidak sampai kehabisan darah.


Sementara itu, diam - diam, dua orang dari teman laki-laki yang terluka itu pergi keluar dan menyelinap ke ruangan tempat Keanan di rawat yaitu ruangan ICU. Dan seorang lagi pergi ke ruangan Arryan dirawat.


" Hmm, ini ruang ICU, bos bilang pria itu


di rawat di sinii."


Pria yang berpakaian ala dokter itu melangkah pelan - pelan mendekati Keanan yang masih belum sadarkan diri dengan tubuh yang dipenuhi oleh luka. Alat bantu pernapasan dan juga dua buah selang infusan terpasang di tubuh pemuda itu. Dia kemudian melepas selang pernapasan dan selang infus yang terhubung ke tubuh pemuda itu. Setelah memastikan bahwa selang tersebut benar-benar lepas barulah pria itu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sepeninggal pria itu, tubuh pemuda itu terlihat kejang - kejang. Setelah beberapa detik kemudian, tubuh itu diam tak bergerak lagi. Tak ada yang mengetahui peristiwa itu, karena alarm yang terpasang untuk mengontrol pasien tampaknya sengaja di matikan oleh seseorang.


Dia melangkah mendekati Arryan yang pulas tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh perawat beberapa waktu lalu.


" Ckckckck, gila ..! Bening bener nih, cewek. Andai saja bukan perintah dari bos, udah gue jadiin bini. Mana cakep bener dah.. ah.! " Laki-laki itu menatap tak berkedip, terpesona melihat kecantikan Arryan yang sedang tertidur.


Lelaki itu mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku bajunya yang ternyata adalah sebuah suntikan yang berisi cairan racun yang mematikan.


Laki-laki itu kemudian melangkah mendekati selang infusan yang terletak di samping Arryan. Tangannya terulur meraih selang tersebut, bermaksud untuk menyuntikan cairan itu melalui selang infus. Namun baru saja tangannya bergerak, mata Arryan tiba-tiba terbuka dan menatap langsung ke arah laki-laki tersebut.


Laki-laki itu sangat terkejut dan menjadi panik seketika hingga reflek suntikan di tangannya terjatuh. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba saja tangan Arryan sudah mencengkram leher laki-laki itu dan memutarnya dengan gerakan cepat dan tak terduga. Bunyi krekk...! terdengar setelah itu, laki-laki itu luruh jatuh ke lantai dan tewas seketika.


Sesosok bayangan hitam hadir di ruangan itu. Tanpa bicara dia kemudian membawa tubuh laki-laki yang sudah tewas itu dan kemudian menghilang begitu saja dari ruangan tersebut bersama tubuh lelaki itu. Sedangkan Arryan, gadis cantik itu kembali tertidur pulas, seperti tidak pernah terjadi sesuatu padanya.


Pria yang mendapat tugas memasuki kamar Keanan , sedang resah menunggu temannya yang dari tadi belum muncul juga. Dia bermaksud ingin menelpon temannya tersebut. Akan tetapi, baru saja dia mengeluarkan ponselnya, seseorang menepuk bahunya. Seketika pria itu menoleh.

__ADS_1


" Ah,... elu Dang, bikin cemas gue aje. Kemana aja sih, loe? Gue tungguin dari tadi, baru nongol sekarang.. " sungutnya. Lelaki yang bernama Dadang itu tak menjawab, dia hanya berbalik dan berjalan keluar.


" Aneh banget tuh orang. Ditanya diem aja.. kesambet setan rumah sakit ini, kali ya? " Pria itu kemudian melangkah pergi menyusul temannya yang sudah lebih dahulu berjalan di depannya.


Kedua orang itu kemudian kembali bergabung dengan kedua temannya yang sudah menunggu dari tadi di mobil.


" Kenapa lama sekali? Kalian bikin cemas kita semua di sini." Seorang pria yang tampaknya pemimpin mereka berkata dengan nada yang sedikit ketus. Tampaknya dia marah karena anak buahnya terlihat lamban dalam mengerjakan tugas yang baginya amatlah mudah itu.


"Gimana ..? Sudah kalian bereskan semua atau belum? "tanyanya kemudian.


Keduanya mengangguk bersamaan. "Beres, bang Dave.! " kata salah seorang dari mereka. Sedangkan laki-laki yang bernama Dadang itu masih saja diam tak bersuara.


" Muka lo kenapa, Dang? Pucat banget.. Kayak habis ngeliat hantu. " tanya Dion.


Laki-laki yang dipanggil Dadang itu hanya menggeleng pelan. Lalu kembali menundukkan wajah.


" Si Dadang dari tadi aneh banget, bang Dave. Dia sepertinya lagi males bicara..!"


" Sudah... sudah. Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini.! " kata Pria yang dipanggil Bang Dave itu.


" Terus si Anton, gimana Bang Dave? "


" Udah, biarin saja dia menginap dulu di rumah sakit ini, lumayan biar punya alasan untuk mengorek informasi lebih lanjut tentang cewek dan pria itu.! "


Mobil itu kemudian bergerak meninggalkan area parkir rumah sakit dan meluncur ke suatu tempat.


Sementara itu di ruangan Keanan. Hening, Pemuda itu masih diam tak bergerak. Seorang perawat masuk ke ruangan itu bermaksud untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi pasien.


Alangkah panik dan terkejutnya perawat tersebut saat mendapati pasien sudah terbujur kaku dengan selang dari alat bantu pernapasan dan infusan yang sudah terlepas semua dari tubuhnya.


Perawat tersebut segera menghubungi dokter yang segera datang ke ruangan itu untuk mengetahui keadaan pasien.


Tubuh Keanan terbujur tak bergerak di atas tempat tidur.


" Pasangkan alat pacu jantung..!" perintahnya. Perawat segera memasang alat pacu jantung ke tubuh Keanan. Mereka melakukannya beberapa kali namun hasilnya nihil.

__ADS_1


Tak ada tanda - tanda organ vitalnya kembali berfungsi. Dokter memeriksa kembali tanda - tanda vital ditubuh pemuda itu. Dia menghela nafas seraya menggelengkan kepala.


" Saya minta maaf yang sebesar - besarnya karena pasien baru saja meninggal dunia."


__ADS_2