Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 175 Perempuan Setengah Immortal


__ADS_3

Pangeran Hasyeem lalu memberikan air itu untuk diminum oleh Sang istri. Ajaib.. setelah meminum air tersebut, tubuh Asmi merasa segar dan sehat. Dia tak lagi merasakan sakit dan juga lemah seperti saat pertama kali dia terbangun dari komanya.


" Terima kasih, Panglima Ammar. Kini aku sudah merasa baikkan. Aku rindu dengan istana Bukit Malaikat. Apakah kita sudah bisa pulang hari ini. " Semua yang hadir di tempat itu saling pandang lalu tertawa bersamaan.


Keadaan sudah kembali seperti sedia kala. Mas Ardi yang masih rindu dengan Asmi dan juga keponakannya, maka dari itu dia meminta untuk tinggal beberapa hari lagi di rumahnya.


Jadilah Asmi dan keluarganya menginap untuk beberapa hari di rumah Mas Ardi. Hanya Putri Arryan saja yang kembali ke tempat kostnya karena ada beberapa tugas yang harus dia selesaikan karena sempat terbengkalai akibat mengurus ibundanya selama sakit.


Malam sudah semakin larut. Sebagian besar penduduk desa sudah terlelap dalam mimpi. Pangeran Hasyeem memeluk istri tercintanya dengan erat setelah pergumulan panasnya mereka beberapa saat yang lalu.


" Pangeran..."


" Hmm....apa..? " tanya lelaki dari bangsa jin itu.


Asmi memandangi wajah tampan suaminya itu. Wajah yang masih saja terlihat tampan. Wajahnya tak berubah sedikitpun dari sejak pertama kali dia bertemu dengan lelaki itu.


Pangeran Hasyeem mencium pucuk kepala Asmi lalu melabuhkan ciuman di bibir Asmi. Dalam dan lama.


" Mengapa kamu memikirkan hal itu? " Tanya Pangeran Hasyeem setelah melihat sorot mata Sang istri.


" Karena aku tak seperti dirimu, Pangeran. Kami bangsa manusia tidak seperti dirimu yang dikaruniai umur panjang sampai ribuan tahun. Umur manusia hanya sesaat saja."


" Tapi aku tak bisa hidup tanpa dirimu, Asmi sayang."


" Mengapa seperti itu, Pangeran. Hiduplah bahagia.. sepeninggalanku. Carilah wanita yang mencintaimu dan juga anak - anak kita." kata Asmi sendu.


Pangeran Hasyeem menggeleng sambil memeluk Asmi semakin erat.


" Aku rela menantang maut demi untuk tidak kehilangan dirimu. Jadi apa kamu tidak berkeinginan untuk menantang maut demi untuk bersamaku? "


" Aku.... aku mau Pangeran. Aku sangat mencintaimu... Tapi aku.. tidak bisa selamanya mendampingimu. Jauh di lubuk hatiku.... aku ingin selamanya hidup bersamamu.... bersama anak - anakku. Tapi.. di antara kita semua, hanya aku yang manusia. Semua anak - anak kita memiliki darah ayahnya. Walaupun wujud mereka manusia, sejatinya mereka adalah jin."

__ADS_1


Pangeran Hasyeem kembali membungkam Asmi dengan ciuman.


" Kamu melupakan sesuatu." katanya sambil mencubit hidung Asmi yang bangir.


" Apa?" Asmi mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti akan maksud ucapan suaminya.


" Air yang kamu minum. Air pemberian Panglima Ammar. Itu adalah air keramat yang diambil dari mata air sumur keabadian di puncak Himalaya. Barang siapa yang meminumnya, maka dia akan abadi. Jadi.... apakah kamu mengerti sekarang? "


Mulut Asmi ternganga takjub. " Jadi maksud Pangeran, aku abadi. Aku tidak akan mati? "


" Sama seperti Aluna. Kalian dianugerahi keabadian. Jadi... mengapa harus takut. Kita akan bersatu selamanya. "


" Benarkah..... "


" Hmmm, apa kamu masih meragukan aku. Atau mungkin kamu memang berkeinginan untuk meninggalkan aku. Baiklah... jika begitu, aku terpaksa harus mencari ratu yang baru untuk istanaku. Karena mustahil sebuah istana tanpa seorang ratu... " kata pangeran Hasyeem sambil tersenyum jahil.


Asmi membuang wajah kesal mendengar ucapan suaminya.


" Baiklah.... jika memang Pangeran sudah merasa bosan padaku. Aku juga tak bisa memaksa. Aku akan di sini saja. Silahkan Pangeran kembali ke istana Bukit Malaikat dan mencari ratu baru. Aku yakin, banyak sekali wanita dari bangsa jin yang bersedia menjadi ratumu." kata Asmi ketus seraya bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang masih berbungkus selimut. Wanita itu kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Namun dengan sigap tangan kokoh Pangeran Hasyeem menahan.


" Aku mau membersihkan tubuhku."


" Kita belum selesai babak kedua. Nanti saja.. " kata Pangeran Hasyeem sambil mendekap kembali Sang istri.


Namun Asmi mendorong tubuh Pangeran Hasyeem lalu buru -buru masuk ke kamar mandi. Namun, baru saja Asmi menutup pintu, suaminya sudah muncul di hadapannya. Astaga.. .... Asmi lupa siapa suaminya. Tentu saja Pangeran Hasyeem bisa masuk atau keluar dengan mudah karena dia seorang jin.


" Mau lari kemana? Apa kamu marah dengan kata - kataku.?" Pangeran Hasyeem mengangkat wajah Asmi. Asmi berusaha membuang pandangannya. Tak ingin bertatapan langsung dengan mata elang suaminya yang menggetarkan hati. " Maafkan aku... aku hanya bercanda saja. Aku hanya ingin menggodamu. Aku tak bermaksud sungguh-sungguh untuk mencari ratu lain. Yang ku mau hanya Ratu Asmi seorang. Aku hanya mau kamu saja istriku. Aku tak ingin ratu - ratu yang lain.... " kata Pangeran Hasyeem sambil meraih tangan Asmi.


" Pangeran..! " Asmi jengkel karena selimut yang dia pegang kini melorot ke lantai hingga tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun kini terpampang nyata.


" Mengapa, aku sudah melihatnya ribuan kali. Bahkan sudah merasakannya. Tubuh itu milikku." Pangeran Hasyeem menunjuk bagian tertentu tubuh dari tubuh Asmi. " Semua yang ada di sini..

__ADS_1


di sini... dan di sini... semua milikku. "


katanya sambil tersenyum mesum.


" Dasar jin mesum... "


Ting!!! Pangeran Hasyeem menjentikan jarinya dan kini tubuh Asmi sudah memakai pakaian lengkap. Lalu... Ting!!! kembali jin tampan itu menjentikkan jarinya. Tubuh Asmi dan Pangeran Hasyeem hilang dari kamar mandi dan muncul kembali di atas puncak sebuah gedung.


Asmi memandang ke bawah dan bergidik ngeri. Kejadian ini pernah dia alami. Dulu, Pangeran Hasyeem juga pernah membawanya ke atas sebuah puncak gedung yang tinggi.


Pangeran Hasyeem tersenyum lalu tiba-tiba dia mendorong tubuh Asmi hingga jatuh ke bawah.


Asmi sungguh-sungguh tak menduga akan hal ini. Tubuhnya melayang cepat ke bawah di ikuti oleh tubuh pangeran Hasyeem yang melayang di atasnya. Jarak tubuhnya dengan tanah sudah semakin dekat namun tak ada tanda - tanggal bahwa suaminya akan menolongnya. Sehingga akhirnya tubuhnya benar-benar jatuh terhempas ke tanah.


Asmi merasakan tubuhnya terhempas sedemikian kerasnya ke tanah. Rasanya sakit sekali. Serasa dadanya ingin pecah karena tak kuat menahan debaran jantungnya yang berlomba-lomba ingin meloncat keluar sangking takutnya.


Namun, anehnya.... dia tak apa - apa. Selain rasa sakit di kepala dan punggung, dia tak mengalami segores luka pun. Tubuhnya tetap utuh dan tak terluka sedikitpun. Dilihatnya, wajah Sang suami yang tersenyum tepat di atas wajahnya. Mendadak dia merasa jengkel kepada Sang suami.


" Jahat..... Pangeran, jahat. Apakah Pangeran bermaksud untuk membunuhku? " isaknya seraya bangkit dari tanah. Dia memandang ke atas. Ya Allah, .... tinggi sekali.


" Maaf, sayang. Hanya itu satu - satunya cara untuk membuktikan padamu, bahwa kamu itu tak akan mati karena kamu telah mendapat anugrah keabadian. "


kata Pangeran Hasyeem dengan wajah yang penuh penyesalan. Dia tak bermaksud ingin mencelakakan istrinya. Dia hanya ingin membuktikan kepada istrinya bahwa kini wanita itu adalah manusia yang dianugrahi keabadian akibat meminum air dari sumur mata air keabadian.


Asmi terdiam sejenak. Dia berpikir... tadi aku jatuh dari lantai sepuluh, tapi aku tidak mati. Apakah itu berarti bahwa aku benar-benar tidak bisa mati seperti yang dikatakan oleh Pangeran Hasyeem.


Asmi lalu meraba seluruh tubuhnya. Benar, dia tetap utuh, berdiri, tak terluka sedikitpun, masih hidup dan masih tetap bersuamikan lelaki dari bangsa jin.


Wanita itu berjingkrak - jingkrak kegirangan sambil memeluk Sang Suami dengan erat.


" Aku tidak mati..Aku sekarang tidak bisa mati. Aku abadi... Terima kasih, sayang." katanya sambil berlari memeluk Sang suami. Kemarahan di hati wanita itu yang mengira bahwa Sang suami sengaja ingin membunuhnya langsung hilang.

__ADS_1


" Iya, sayang. Kini kamu sudah percaya bahwa kita akan bersama selamanya. Jangan marah lagi."


Asmi mengangguk dan tersenyum bahagia. Dia kini adalah perempuan setengah immortal, pikirnya.


__ADS_2