
Darah Nisa terkesiap mendengar perkataan kedua orang itu. Keningnya semakin berkerut mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai target ke - 1. Itu berarti, bahwa ada target 2 dan target 3 dan selanjutnya. Jika saja orang itu berhasil menemukan mama dan juga kedua adiknya? Ya Tuhan, bagaimana nanti jadinya? Apakah mereka akan membunuh keduanya.
" Ammar, aku mohon tolonglah, aku....sangat mengkhawatirkan keadaan ibu dan kedua orang adik - adikku . Bagaimana.... ? "
" Tenang saja, aku akan membantumu."
Pria bermata abu - abu itu menarik tangan wanita hamil itu dan membawanya pergi ke suatu tempat. Sedikit aneh bagi Nisa, karena dia tak mengenal tempat itu sama sekali. Namun, dia tak peduli, yang penting baginya dia selamat untuk saat ini.
" Tapi.... bagaimana dengan ibu dan saudaraku yang lain. Juga keponakanku..? " pikir Nisa. Mendadak rasa panik menyelimuti Nisa. Bodohnya dia... mengapa dia tak memikirkan hal itu.
" Mereka sudah ada di tempat yang aman. Orang - orang itu tak bisa menemukan keluargamu. "
" Siapa mereka... Aku tak tahu mengapa tiba-tiba mereka ingin menghabisi seluruh keluargaku. Apakah mereka musuh bisnis ayahku? " Nisa tak menyangka, seumur hidupnya baru kali ini dia mengalami dikejar - kejar orang tak dikenal yang ingin membunuh dirinya dan keluarganya.
" Aku juga belum menemukan petunjuk siapa dalang di balik semua ini. Tapi aku harap kamu tidak keberatan tinggal di tempat ini. Ini adalah tempat tinggalku."
kata Ammar. Dia mengantarkan Nisa ke sebuah kamar yang lumayan besar. "Istirahatlah, hari masih malam. Jika perlu sesuatu, kamu bisa memanggilku. Kamarku ada di ujung lorong ini." Ammar kemudian berlalu setelah menutup pintu.
Nisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran cukup besar itu. Siapa sebenarnya lelaki itu... mengapa dia mau menolong Nisa. Apakah dia manusia atau makhluk jadi - jadian. Mengapa dia bisa muncul dan menghilang begitu saja dengan mudahnya. Manusia yang bagaimana yang bisa melakukan hal yang seperti itu.
Nisa meraih handphone yang ada di saku bajunya. Aneh... tak ada sinyal di tempat ini. Apakah tempat ini jauh dari keramaian? Anisa melangkah ke arah jendela. Dengan ragu, dia mencoba membuka sedikit tirai yang menutupi pandangannya ke arah luar jendela. Gelap.... tak ada apa - apa yang bisa dilihat di luar sana.
Dengan gusar, Nisa kembali menghempaskan bokongnya ke tempat tidur. Dia lantas membaringkan tubuhnya di atas kasur, mencoba untuk kembali tidur. Tapi mengapa matanya sulit sekali terpejam. Dia melirik handphone yang tergeletak di sampingnya, pukul 04.00 pagi. Sudah menjelang pagi. Sebentar lagi subuh. Nisa berusaha memaksakan diri agar matanya bisa terpejam, sampai akhirnya dia benar-benar mengantuk dan tertidur pulas.
...----...
Di sebuah apartemen yang lumayan mewah, Arya sedang duduk gelisah seorang diri di sofa ruang tamu. Sebuah handphone keluaran terbaru tergeletak begitu saja di sebelahnya. Beberapa kali dia melirik ke arah benda kecil segi empat itu untuk memastikan apakah ada panggilan telepon yang masuk.
Di atas meja tampak beberapa berkas - berkas yang tersusun tidak beraturan dan sebuah laptop berlogo apel yang digigit.
__ADS_1
Dia melirik jam di handphonenya. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
" Huh, mengapa Sani belum juga menelponku. Apa susahnya menghabisi seorang wanita. Mana hamil pula."
Lelaki itu menggerutu sambil sesekali tangannya mengutak-atik benda hitam segi empat di tangannya.
" Sayang... " seseorang memanggilnya. Arya menoleh dan tampaklah seorang wanita cantik sedang menuju ke arahnya. Pakaian wanita itu terlihat sangat menggoda sekali. Lingerie merah marun yang dia kenakan kontras sekali dengan warna kulitnya.
" Kamu belum tidur, sayang? " Arya memeluk wanita itu yang kini sudah bergeleyut manja di lehernya.
" Aku menunggumu. Apakah pekerjaanmu masih lama? " tanya wanita itu.
Arya mengernyitkan alis. " Tidak, aku sudah hampir selesai." jawabnya.
" Kalau begitu, besok saja dilanjutkan. Aku ingin tidur sekarang." rengeknya manja.
" Hm, baiklah.. pekerjaanku bisa menunggu. Tapi wanitaku tidak. Ayo kita ke kamar sekarang, sayang." ajak Arya. Wanita itu tersenyum senang saat Arya memeluknya lalu membopong tubuhnya ke dalam kamar.
Dering telpon yang berulang kali terdengar, memaksa Arya untuk menghentikan aktivitasnya. Dengan malas, lelaki itu melepaskan 'barangnya' dari bagian inti kekasihnya. Dengan tubuh yang masih polos dia menarik diri dan beranjak bangun meraih handphone yang tergeletak di atas nakas.
" Sebaiknya ini penting, karena jika tidak, aku akan membunuhmu setibanya aku di sana. " ketusnya saat menerima panggilan tersebut.
" Bos, target kita lolos. "
" Bodoh, bagaimana bisa? Bukankah kalian kutugaskan untuk mengawasi mereka selama dua puluh empat jam. Bagaimana mungkin mereka bisa lolos?"
" Kami tak tahu, Bos."
" Bodoh,... mengapa tak ada yang tahu keberadaan mereka. Cari mereka sampai dapat! " Arya berang saat mendengar laporan dari orang - orang suruhannya. Pembunuh bayaran yang dia upah untuk menghabisi seluruh keluarga Nisa, juga gagal melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Dengan marah dia melempar apapun yang ada di dekatnya hingga wanita yang sedang berada di atas tempat tidur itu meringkuk ketakutan di ujung tempat tidur.
" Cari mereka sampai dapat..! "
" Tapi Bos....tak satupun dari kami yang pernah melihat mereka meninggalkan rumah. Menurut alat pendeteksi kami, mereka masih berada di rumah itu. Hanya saja, saat kami memasuki rumah tersebut, kami tak menemukan siapa - siapa di sana. "
" Geledah semua ruangan. Cari dan temukan mereka, lalu bakar tempat itu beserta penghuninya hidup - hidup! " bentaknya dengan kasar. Rasanya dia sudah kehabisan sabar untuk menghadapi semua ini.
" Baik, Bos! "
Arya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menghela nafas panjang. Kebenciannya kepada Nisa semakin besar. Dia menyeringai menatap foto wanita itu. Sebentar lagi, aku akan menghabisi dirimu dan seluruh keluargamu....
Dulu, dia terpaksa menerima perjodohan yang telah disepakati oleh kedua orang tuanya dengan seorang gadis yang bernama Anisa. Dia tak bisa menolak, karena orang tuanya mengancam tidak akan memberi secuilpun harta warisan keluarga, jika dia menolak perjodohan itu. Sebenarnya, dia sudah memiliki seorang kekasih yang akan dia nikahi. Namun, keluarganya menolak keras wanita pilihan dirinya dengan alasan bahwa angel, wanita yang dipilihnya itu bukanlah perempuan baik - baik.
Tak tanggung- tanggung, keluarganya mengancam, jika dikemudian hari dia menceraikan Nisa, maka warisan itu akan jatuh ke tangan anak Nisa. Kecuali jika Nisa tak memiliki anak atau anak tersebut meninggal dunia, maka wanita itu akan mendapatkan bagian saham perusahaan sebesar 30%. Di sinilah awalnya Arya membenci Nisa yang dia anggap sudah merusak hidupnya. Baginya, Nisa adalah wanita yang hanya mengejar harta peninggalan orang tuanya saja. Sehingga dia amat membenci Nisa, Karena rasa benci itulah yang membuat dia di kemudian hari memperlakukan Nisa dengan kasar dan kejam.
Saat ini, keluarganya sudah mengetahui jika Arya sudah menceraikan Nisa yang sedang hamil dan memilih tinggal bersama wanita yang menjadi kekasihnya itu.
Pihak keluarganya menjadi berang. Terlebih lagi saat mengetahui apa yang sudah dia lakukan terhadap Nisa dan keluarganya. Mereka kini sudah menyiapkan beberapa kejutan untuk Arya.
Namun, pemuda itu pandai sekali berkelit demi supaya harta warisan tidak jatuh ke tangan Nisa. Di antaranya adalah dengan membuat Nisa celaka agar keguguran atau kalau bisa sekalian melenyapkan wanita itu agar tidak lagi mengganggu hidupnya.
...----...
Jam di handphone Nisa sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi mengapa suasana di luar masih gelap. Nisa tak habis pikir, apakah jam di handphonenya rusak atau salah dalam penyetelannya. Apakah benar sekarang sudah pukul tujuh pagi? Tapi mengapa suasana masih seperti pukul lima pagi? Nisa sudah tak sabar ingin cepat - cepat menapakkan kaki di luar ruangan. Bosan rasanya jika terus menerus berada di dalam kamar.
" Siapa kamu? " sebuah suara di belakangnya mengagetkan Nisa. Dia menoleh ke belakang dan matanya terpaku tak berkedip menatap seorang pemuda dengan mata yang sama seperti mata lelaki yang semalam dia temui. Mata abu - abu dengan bintik kuning di tengah.
" Namaku Nisa, aku adalah tamu di rumah ini."
__ADS_1
" Kamu, manusia? " tanya pemuda itu dengan tatapan yang aneh.
Kening Nisa berkerut saat mendengar pertanyaan pemuda itu. Apa ada yang aneh jika dirinya manusia? Apakah makhluk di hadapannya itu bukan manusia? "