
Putri Arryan menangis meraung saat melihat kondisi ibunya. Demikian juga halnya dengan kedua adiknya. Kedua bocah kembar itu menangis sambil memanggil - manggil Ibunya.
Melihat hal itu, Mas Ardi segera bertindak. Dia bergegas membawa Asmi ke dalam mobil dan melarikan adiknya ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Sementara putri Arryan dan adiknya menyusul sang Uwak yang telah lebih dahulu pergi membawa sang bunda.
...---...
Sudah tiga hari, Asmi di rawat di rumah sakit daerah yang ada di tempat tinggal sang Uwak. Selama tiga hari juga istri dari Pangeran Hasyeem itu tidak sadarkan diri akibat benturan di kepalanya. Wanita cantik itu mengalami koma.
Putri Arryan bersama kedua orang adiknya masih berada di rumah sakit menunggu Sang bunda dengan sabar di temani oleh Uwak dan bibinya.
Kehadiran kedua bocah kembar itu menyita banyak perhatian orang. Wajah mereka yang tampan dengan kedua mata yang mencolok membuat semua orang selalu saja menoleh dan memperhatikan keduanya dengan pandangan aneh dan heran. Hal ini bukannya tidak disadari oleh Putri Arryan, namun dia tak bisa membiarkan adiknya tinggal di rumah Uwak atau bibinya, karena bisa saja mereka menjadi sasaran empuk para iblis yang menjadi musuh sang ayah.
Sementara itu di Bukit Malaikat pertempuran masih berlangsung dengan sengit. Bala tentara Iblis itu berdatangan seolah tak ada habisnya. Pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Hasyeem dan Ammar mulai kewalahan. Mereka kalah oleh jumlah.
" Yang mulia Pangeran Hasyeem, bagaimana ini? Pasukan kita kalah oleh jumlah. Mereka banyak sekali. Jika terus begini, kita akan kalah." kata Ammar
" Ki Anom, apakah kamu punya saran? " tanya sang Pangeran.
" Tuanku, mereka adalah pasukan Elathan, Putra Raja iblis penguasa neraka ke tiga. Jika anda ingin mengalahkan pasukan Elathan melalui pertarungan phisik, maka kita tak akan sanggup untuk menghadapinya. Apakah anda lupa bagaimana kita mengalahkan pasukan Hades, sama seperti halnya Hades, jalan satu - satunya adalah dengan mengalahkan Elathan."
" Tapi, bagaimana kita bisa menemukan Elathan? Kita tak pernah melihat ataupun berhadapan langsung dengan Iblis itu. Selama ini kita hanya berhadapan dengan para Panglima dan pasukannya saja."
" Benar, kita tak pernah melihat Elathan secara langsung, bagaimana kita bisa mengalahkannya."
" Elathan adalah Raja Iblis yang menguasai Pulau Hantu. Sebuah Pulau yang terletak di segitiga Bermuda kepulauan Andaman. Pulau ini terletak di antara Samudera Hindia dan Pulau Australia. Ayahnya bernama Aim, adalah iblis yang ke 27 yang di segel oleh king Salomon. Kerajaan Elathan berada persis di tengah - tengah Pulau Hantu yang terletak di tengah. Dia memiliki 24 Legion yang berada di bawah kuasanya. Setiap Legion berisi sepuluh ribu prajurit. Maka jika kita ingin mengalahkan Elathan, jalan satu - satunya kita harus ke Istana iblis itu dan mengalahkannya. "
" Tapi, apakah kamu tahu di mana letak Pulau Hantu itu tepatnya, Ki Anom?"
" Hamba dulu pernah ke sana, tuanku. Saat itu, kami tujuh orang pertapa dan tujuh ksatria datang ke Pulau Hantu dengan misi untuk menyelamatkan para biarawan yang datang ke Pulau itu terlebih dahulu sebelum kami.
__ADS_1
Saat tiba di tempat itu, para biarawan itu semua sudah tewas dan berubah menjadi makhluk terkutuk penghisap darah. Bahkan, teman - teman hamba yang datang bersama - sama hamba, semua juga tewas dengan cara yang sama. Hanya hamba dan seorang teman hamba yang pertapa saja yang selamat dan bisa kembali dari Pulau itu dalam keadaan hidup - hidup." Cerita Kita Anom tentang pengalamannya saat di Pulau Hantu.
" Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita pergi ke Pulau Hantu secepatnya. Kita tak bisa membiarkan keadaan ini berlarut-larut."
"Ammar, aku menyerahkan keadaan di sini di bawah kendalimu dan Pangeran Azzura. Aku dan Pangeran Alyan yang akan pergi Pulau Hantu, tempat Raja Iblis itu bersemayam. " kata Pangeran Hasyeem.
" Aku rasa sebaiknya kalian meminta bantuan kepada Pangeran Anggada dan Raja Bana. Mereka adalah dua kerajaan yang letaknya dekat dengan Kerajaan kita."
" Jangan lupakan, kita bisa minta bantuan kepada Istana di Gunung Kahyangan. Hamba rasa Paduka Yang Mulia Haizzar akan membantu kita. " usul Ki Anom.
" Itu usul yang bagus, Ki Anom. Ammar, pilihlah beberapa orang kepercayaaanmu dan utuslah mereka ke beberapa negeri tetangga, untuk memohon bala bantuan." titah Pangeran Hasyeem.
Ammar mengangguk faham. Panglima jin istana Bukit Malaikat itu kemudian melesat pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Pangeran Hasyeem. Sedangkan Pangeran Azzura, dia menggantikan Pangeran Hasyeem memimpin pertarungan melawan pasukan Elathan.
" Kamu tidak mengundangku, Pangeran Azzura? "
" Putri Ambika..! " Pangeran Azzura sedikit terkejut dengan kedatangan Putri Ambika yang tidak disangka - sangkanya. Gadis cantik, putri dari Siluman Harimau itu datang bersama pasukannya.
" Sama-sama, Pangeran. Ayo kita hadapi bersama pasukan Elathan. Kita usir mereka kembali ke negerinya." seru Putri Ambika dengan bersemangat sambil menghunuskan pedangnya, siap bertempur bersama Pangeran Azzura.
Sedangkan di lain tempat, Pangeran Hasyeem juga sudah berangkat ke Pulau Hantu bersama Putranya Pangeran Alyan dan Juga Ki Anom sebagai penunjuk jalan. Pangeran Hasyeem hanya membawa lima orang pengawalnya untuk menemani mereka ke Pulau Hantu.
Ki Anom memimpin di depan karena pria paruh baya yang masih saja kuat dan gagah itu tahu betul dimana letak Pulau Hantu.
Istana Raja Iblis Elathan terletak di tengah Samudera. Saat tiba di tengah - tengah Samudera Hindia, tampaklah ujung pintu gerbang istana yang terlihat dari udara.
" Kita sebaiknya masuk melewati pintu utara saja, tuanku. Sebab, jika kita langsung masuk lewat pintu gerbang utama istana, banyak sekali penjaga yang berjaga-jaga di depan pintu. "
" Baiklah, kamu yang lebih tahu, Ki Anom."
__ADS_1
Mereka kemudian melesat terbang menuju utara istana dan masuk melalui pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa makhluk yang berwajah mirip anjing serigala.
Baru saja mereka memasuki pintu gerbang istana Raja Iblis Elathan, sebuah sinar berwarna kebirua langsung menyerang mereka. Salah seorang pengawal Pangeran Hasyeem terpental dan jatuh ke tanah. Pengawal itu tak apa - apa, hanya mengalami cedera pada bagian bahunya.
" Hahahaha, berani sekali bangsa jin datang ke istanaku ini. Apa sudah bosan menjadi makhluk setengah abadi." Sebuah suara tanpa wujud bergema menyambut kehadiran ketujuh makhluk jin dari Bukit Malaikat itu.
" Tampakkan saja wujudmu wahai penguasa tempat ini. Jangan bisanya hanya bersembunyi saja." kata Pangeran Hasyeem.
" Sombong sekali! Apa kalian tidak faham sedang berada dimana dan berhadapan dengan siapa? " kata suara itu lagi. Ada nada geram yang terdengar dari suaranya saat berbicara.
" Tentu saja kami tak tahu karena kami baru menginjakkan kaki di tempat ini." jawab Pangeran Hasyeem lagi.
" Aku Elathan, Putra Aim, Raja Iblis ketiga yang menguasai neraka kegelapan." kata suara itu memperkenalkan diri.
" Aku tak peduli kamu putra siapa. Tapi yang jelas kedatangan kami kemari untuk memberimu pelajaran agar tidak lagi menyebarkan huru hara di Kerajaan kami." kata Pangeran Hasyeem kesal.
" Hahaha, pulanglah, selagi aku berbaik hati.. " ejek Elathan.
Pangeran muda itu kesal dan heran dengan kesombongaan Raja Iblis itu.
" Keluarlah...! Aku mau melihat tampangmu yang menjijikkan itu." Ejek Pangeran Alyan.
" Kalau mau melihat wujudku, tanyakan saja pada temanmu itu. Aku pernah membiarkan dia dan temannya keluar dari tempat ini hidup - hidup agar bisa bercerita tentang tempat ini. " katanya dengan senyum mengejek.
" Ternyata, baik Raja Iblis maupun putranya sama - sama sombong. Pantas saja terusir dari neraka." ejek Pangeran Alyan.
Dari arah dalam istana, menyongsong dengan cepat ke arah Pangeran Hasyeem dan rombongannya, asap tebal berwarna hitam pekat yang bergulung - gulung menyelimuti ketujuh Makhluk jin Yang berasal dari Tanah Dwipa ini.
" Awas, Pangeran. Tetap saling berpegang, jika tidak salah seorang dari kalian akan hilang begitu saja." kata Ki Anom seraya menyambar tangan Pangeran Alyan.. "
__ADS_1
Mereka bertujuh segera membentuk formasi melingkar dan saling berpegangan tangan. Asap tebal berwarna hitam kini sudah menyelimuti mereka. Ki Anom mengeluarkan sesuatu dari saku tas ransel yang dibawakannya. Sebuah botol kecil berisi air putih yang bening segera dia percikkan di sekitar mereka yang diselimuti oleh asap hitam yang bergulung - gulung. Jerit kesakitan terdengar manakala air tersebut terpercik di sekitar mereka.
" Auuuh... panas!..panas! " sebuah raungan terdengar. Mereka bertujuh saling berpandangan. Suara siapa yang meraung di bawah kaki mereka saat ini.?