
Dia melajukan motornya kembali ke rumah. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika tiba di rumah, tampaknya olehnya Pangeran Alyan dan Luna sudah berdiri di depan rumahnya.
" Kalian..! " Pemuda itu terpana takjub. Bagaimana bisa Luna dan Alyan sudah berada di depannya, sedangkan tadi mereka masih berada di belakangnya.
" Ayo, Panji. Cepatlah... antarkan kami ke tempat pamanmu! " Suara Aluna memecahkan ketertegunan Panji. Pemuda itu segera memarkirkan motornya dan berjalan mendahului keduanya.
" Ayo, ikuti aku! "
Panji membawa Pangeran Alyan dan Luna ke rumah Pamannya yang terletak beberapa rumah di sebelah rumah kediamannya. Rumah ini terbilang cukup besar dan mewah, yang terdiri dari dua lantai. Halamannya sangat luas dan terdapat peternakan sapi di samping rumah yang meluas hingga ke belakang rumah. Di depan rumah sang Juragan terparkir sebuah Toyota Yaris keluaran terbaru. Belum termasuk dua buah mobil yang terparkir di garasi yang terletak di samping rumahnya. Rumah Juragan Barja adalah rumah yang paling mewah di desa ini.
Saat pangeran Alyan dan Luna baru memasuki halaman rumah Juragan Barja, pandangan mata keduanya menangkap beberapa sosok makhluk tak kasat mata yang berada di tempat itu. Makhluk - makhluk itu kemudian terlihat takut dan lari menyingkir saat melihat siapa yang datang.
Di depan pintu, Pangeran Alyan juga melihat sosok makhluk tinggi besar yang berwajah menyeramkan. Makhluk itu berdiri tegak dengan posisi menghadap ke arahnya. Saat melihat dirinya, makhluk itu berubah ketakutan. Terlebih saat tajam mata Pangeran Alyan menatap ke arah makhluk itu. Segera makhluk itu menundukkan kepalanya dan menyingkir untuk memberi jalan kepada Pangeran Alyan dan Aluna serta Panji.
Pangeran tampan itu tersenyum sendiri. Rupanya rumah Juragan Barja telah menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi beberapa makhluk tak kasat mata seperti jin dan Genderuwo. Dan Pangeran Alyan menjadi penasaran, apa yang menyebabkan mereka semua begitu tertarik untuk tinggal di rumah Juragan sapi tersebut.
Panji mengetuk pintu rumah pamannya.
" Assalamu'alaikum, bibi..! Ini Panji." Panji memanggil istri pamannya itu untuk memintanya membuka pintu.
Tak lama kemudian, terdengar pintu rumah dibuka dari dalam dan menampilkan wajah seorang wanita muda yang cantik. Wajah Panji langsung berubah masam dan tidak suka. " Mana bibiku? " tanya Panji dengan wajah yang tampak sekali tidak sukanya.
"Perempuan tua itu ada di lantai atas menemani suaminya yang gila."
" Hei, jaga mulutmu, perempuan sundal! Andai saja kau bukan istri pamanku juga, sudah ku tampar mulutmu dari tadi." kata Panji dengan tatapan tajam dan wajah yang tidak bersahabat.
Wanita cantik itu tak menggubris ucapan Panji. Pandangan mata wanita itu beralih pada Pangeran Alyan dan Aluna. Senyum mengejek terlontar dari sudut bibirnya.
" Siapa lagi yang kamu bawa ke sini, Panji? "
" Bukan urusanmu..! Yang jelas, saat laki-laki yang kamu sebut gila tadi sudah sembuh, maka aku pastikan kamu akan terusir dari rumah ini. " jawab Panji dengan ketus.
Wanita itu terlihat acuh, dia membuang pandang seraya mencibir.
" Huh, ... aku pastikan, ucapanmu tak akan jadi kenyataan. Karena aku akan lebih dahulu mengusirmu dari rumah ini begitu pamanmu itu mampus. " kata wanita itu dalam hati. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Panji dengan dua orang temannya, setelah terlebih dahulu melempar senyum genitnya kepada Pangeran Alyan.
Pangeran Alyan tersenyum mendengar umpatan wanita itu. Sedangkan Aluna dan Panji menatap tajam ke arah wanita itu.
" Di mana pamanmu, Panji? " tanya Aluna ketika mereka wanita cantik itu sudah menghilang dari hadapan mereka.
" Pamanku ada di kamarnya. Dia mungkin.... " belum selesai Panji berucap, dari lantai atas rumah juragan Barja terdengar jeritan ketakutan dan minta tolong.
" Tolong.... tolong... setan.... tolong.. pocong... pergi.... pergii...kalian.... ! "
__ADS_1
Ketiganya segera berlari ke lantai atas. Sesampainya di sana, Panji bergegas menuju ke kamar Sang Paman yang terletak paling ujung. Namun, baru saja mereka sampai di depan pintu, sesosok makhluk berwajah seram dengan tanduk yang panjang mendadak muncul dan menghadang ketiganya. Panji mundur ke belakang. Wajahnya ketakutan setengah mati.
Pangeran Alyan menatap makhluk itu dengan santai. " Iblis banaspati! " lirihnya.
" Pergi kalian..!!" usir Makhluk itu dengan suara yang berat dan keras. " Kalian tidak boleh berada di rumah ini, jika masih sayang dengan nyawa kalian!!"
" Siapa yang berani mengusirku? Mengapa aku tidak boleh berada di tempat ini. Wah... ini sangat menarik!" seru Pangeran Alyan. Dia berjalan maju mendekati makhluk itu yang terlihat sedikit terkejut. Makhluk itu baru menyadari jika manusia yang kini sedang berdiri depannya bukanlah manusia biasa. Tampak jelas kini, siapa yang dia lihat.
"Siapa kamu, Hai anak muda? Aromamu seperti manusia, namun wujud aslimu adalah jin. "
" Tak perlu kamu tahu siapa aku, namun aku memintamu untuk pergi dari rumah ini selama - lamanya. Karena tempat makhluk sepertimu bukanlah di sini."
Pangeran Alyan kemudian membuka pintu kamar juragan Barja. Tampaklah lelaki tua itu dan istrinya sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar. Keduanya saling berpelukan dengan wajah ketakutan.
Panji segera mendekati paman dan bibinya dan membawa keduanya berdiri mendekati Pangeran Alyan dan Aluna.
" Jangan takut, Paman. Temanku ini akan mencoba mengusir setan - setan itu dari rumah paman. "
Juragan Barja yang ketakutan segera berlindung di balik tubuh Pangeran Alyan. Sementara bibinya berdiri di dekat Panji.
" Keparat. Rupanya kamu memang bernyali besar, anak muda. Siap - siaplah kamu mempertanggung jawabkan perbuatanmu.! " Makhluk itu menjadi berang. Matanya nyalang menatap ke arah Pangeran Alyan.
" Aku tak takut. Makhluk sepertimu tidak perlu ditakuti. Sebaiknya kamu saja yang bersiap - siap keluar dari tempat ini. Jika tidak, maka aku akan berlaku kasar padamu."
" Hahaha, anak muda. Bicaramu berani sekali. Sayangnya... aku tak tertarik untuk mematuhi ucapanmu. Karena kamu bukanlah tuanku." katanya dengan seringai ejekan di wajahnya yang memang sudah seram itu.
" Aku peringatkan sekali lagi, Pergilah sekarang !...Tinggalkan tempat ini. Jika tidak, maka tanggung sendiri akibatnya." kata makhluk itu dengan wajah marah. Rupanya dia tersinggung dengan ucapan Pangeran Alyan yang meremehkan dirinya.
" Hahaha, aku tidak takut ancamanmu..!" kata Pangeran Alyan.
Makhluk itu menjadi semakin marah. Dia mengeluarkan sesuatu dari telapak tangannya. Dan dalam sekejap mata,
dari berbagai arah, tiba-tiba muncul banyak sekali makhluk serupa guling besar berwarna putih dan berwajah menyeramkan. Wajah pocong - pocong itu menghitam dengan sorot mata yang menyorot merah dari arah dalam rongga mata mereka. Kini pocong - pocong itu sedang mengepung mereka semua.
"Pocong.... Luna... Alyan... i.. tu pocong! " selesai berkata demikian, Panji jatuh tergeletak tak sadarkan diri. Pemuda itu pingsan saking takutnya melihat banyaknya pocong yang mengepung mereka. Bibi Panji yang melihat keponakannya tergeletak tak sadarkan diri, langsung beringsut mendekati suaminya yang berada di belakang Pangeran Alyan
Sedangkan Aluna , gadis itu sudah bersiap - siap menghadapi serangan pocong - pocong itu.
Namun, lain halnya dengan Pangeran Alyan. Pemuda sakti putra dari Pangeran Hasyeem itu tampak tenang - tenang saja menghadapi semua itu.
" Hmm, jadi semua ini rupanya hasil pekerjaanmu. Kamu yang mendatangkan pocong - pocong itu dan menggangu keluarga juragan Barja? " tanya Pangeran Alyan.
" Kalau memang iya, kamu mau apa? " bentaknya makhluk itu.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Setidaknya aku tidak mati penasaran karena tidak tahu siapa dan apa yang sedang ku hadapi." jawab Pangeran Alyan.
" Seseorang menginginkan kematiannya. Agar semua harta juragan Barja bisa jatuh ke tangannya. Namun, orang itu ingin melihat juragan Barja menderita terlebih dahulu, barulah merasakan kematian. " kata makhluk itu seraya menyeringai menatap buas ke arah Pangeran Alyan. " Dan sekarang, bersiaplah untuk mati. Karena aku sudah memberitahu mu apa yang ingin kau tahu." katanya lagi sambil bersiap melancarkan serangan.
Pangeran Alyan tersenyum mengejek ke arah makhluk itu. " Lakukanlah, kalau kamu bisa..! " tantangnya.
Makhluk itu menjadi semakin marah. "Bunuh anak muda itu dan juga temannya. Lalu habisi seluruh penghuni rumah ini! "
Selesai berkata demikian, makhluk - makhluk yang berbentuk mirip guling besar berwarna putih itu mengepung dan menyerang Pangeran Alyan dan Aluna. Aluna yang dari tadi sudah siap, segara menghunuskan pedangnya dan mengayunkan nya ke berbagai arah.
" Rupanya mereka adalah jin - jin kafir yang menyerupakan diri dalam wujud seperti ini. Mereka benar-benar berniat untuk menyesatkan anak manusia dengan pandangannya." kata Pangeran Alyan.
Dengan mudah Pangeran Alyan dan Luna mengalahkan pocong - pocong itu. Terlebih lagi dengan adanya pedang Naga Jiwo di tangan Pangeran Alyan, dalam sekejap saja, semua pocong - pocong itu terbakar habis.
Melihat Pangeran Alyan membabat habis semua pocong - pocong itu dengan pedang Naga Jiwo miliknya, membuat makhluk itu menjadi murka. Dia kemudian mengeluarkan kesaktian miliknya untuk mengimbangi kesaktian Pangeran Alyan.
" Baiklah anak muda, aku tunggu kamu di luar. Kita lihat sampai di mana kemampuanmu. Jika aku kalah, maka aku akan dengan suka rela meninggalkan tempat ini dan menjadi abdi setiamu, tapi jika kamu yang kalah, kepalamu jadi jaminannya! " Setelah berkata demikian, tubuh makhluk itu menghilang. "Keluarlah sekarang. Kita bertarung di luar. Dan buktikan ucapanmu, anak muda! "
Pangeran Alyan mendekati Aluna, "Sayang, kamu jaga mereka. Aku akan memberi sedikit pelajaran pada iblis yang sombong itu. "
" Baik, Pangeran. Hati-hati.! " Setelah itu tubuh pangeran Alyan melesat keluar menembus dinding . Mata juragan Barja dan istrinya terbelalak tak percaya melihat pemandangan itu. Tubuh pemuda itu kemudian muncul di halaman samping rumah juragan Barja.
Makhluk itu langsung menyerang Pangeran Alyan dengan pukulan tenaga dalam yang kuat, saat melihat kemunculan pemuda itu. Pangeran Alyan yang tidak menduga serangan itu terlempar beberapa depa ke belakang dan jatuh tersungkur ke tanah.
" Hahahaha, cuih..!! Rupanya hanya sampai disitu saja kemampuanmu, anak muda.Hanya dengan satu pukulan tenaga dalam saja kamu sudah jatuh tersungkur. Sungguh..lemah. Ayo, bangkit dan lawan aku! " ejek makhluk itu.
Pangeran Alyan melesak bangun dan langsung mengambil posisi duduk bersila dan memyilangkan kedua tangan di depan dada. Dia mengatur nafas dan menyalurkan tenaga dalamnya ke dada yang tadi sempat terkena pukulan tenaga dalam dari makhluk itu.
Setelah beberapa saat, kondisi pangeran Alyan kembali pulih seperti sediakala. Makhluk itu menjadi terkejut. Di pikirnya, Pangeran Alyan akan terluka parah akibat pukulan tenaga dalam yang dia lancarkan tadi, tapi nyatanya pangeran itu tampak segar bugar saja.
" Brughhh!!! " seberkas sinar terang melesat mengenai dada makhluk itu. Itulah pukulan Halilintar yang dilancarkan oleh Pangeran Alyan dan tepat mengenai dada makhluk itu.
"Arghhhh..! " terdengar raungan kesakitan dari mulut makhluk itu.
" Keparat, apa tadi dia baru saja menggunakan ilmu pukulan Halilintar. Siapa dia? apa hubungannya dia dengan pangeran Hasyeem? "
Dadanya serasa perih dan terbakar. Dia sangat terkejut dan tak menyangka bahwa dia akan mendapatkan serangan yang demikian dahsyat dari anak muda itu. Pukulan ilmu Halilintar bukanlah ilmu sembarangan. Pemiliknya pasti memiliki tenaga dalam tingkat dewa, jika tidak, tentulah tidak bisa mengimbangi dahsyat nya ilmu yang melegenda tersebut.
Belum hilang terkejutnya akibat mendapat pukulan Halilintar dari pemuda itu, kini kembali serangan pemuda itu hampir mengenai dirinya andai saja dia tak keburu mengelak.
" Tunggu, siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Pangeran Hasyeem? "tanyanya penasaran.
" Dia ayahku! " jawab Pangeran Alyan.
__ADS_1
Makhluk itu terlambat menyadari dengan siapa dia tengah berhadapan. Sebuah sinar terang kembali melesat menghantam tubuhnya, membuatnya kembali jatuh tersungkur, untuk kemudian tak bisa bangkit kembali.
Bersamaan dengan jatuhnya makhluk berwujud iblis itu, sebuah jeritan kesakitan terdengar dari arah lantai dua rumah juragan Barja.