Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 116 Pedang Naga Jiwo


__ADS_3

Aluna memandang gadis itu dengan pandangan yang sulit di mengerti. Hanya sesama gadis saja yang faham akan arti pandangan itu.


" Tampaknya gadis bernama Sonia itu menyukai Alyan." bisiknya dengan hati yang cemburu.


Dengan kesal Aluna mengikuti langkah mereka dari belakang. Ingin rasanya dia meninju Sonia dari belakang , namun diurungkan niatnya karena tak ingin ada orang lain yang tahu tentang kehadirannya.


Sonia menoleh ke belakang. Sesaat tadi dia merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya.Tapi saat dia menoleh tadi, tak ada siapa pun.


" Hmm, aneh. Tapi tadi aku merasa seseorang sedang berdiri di belakangku dan sedang mengawasi kami, tapi siapa, ya? " pikirnya.


Sementara Azzura, Alkan, dan Sonia bermain di istana Raja Haizzar, Alyan menyempatkan diri untuk menemui kakeknya dan menceritakan masalah yang sedang dia hadapi.


Paduka Raja Haizzar memandang ke arah Sang cucu dengan pandangan serius. Cerita dari Alyan mengenai apa yang terjadi pada Aluna dan juga terbukanya gerbang Oreon membuat penguasa Gunung khayangan itu sedikit cemas.


Bukan apa - apa, dia mencemaskan Alyan. Bukan dia tidak tahu menahu mengenai ramalan yang tersurat pada garis takdir Sang cucu. Namun, dia lebih berharap bahwa ramalan itu tak akan terjadi.


" Alyan, kakek sangat mencemaskan dirimu. Sebenarnya kakek tak ingin kamu kembali lagi ke Australia, karena itu sama saja dengan menyodorkan dirimu kembali ke neraka." kata Sang kakek dengan wajah yang tidak membuang rasa khawatirnya.


" Tapi Alyan tak ada pilihan, kek. Alyan harus kembali ke sana demi Aluna, demi paman Ammar dan juga nasib manusia dan juga bangsa kita." kata Alyan.


Sang kakek menatap Sang cucu dengan haru. Cucu yang sempat tak dia inginkan karena bukan berasal dari ras yang sama dengannya, kini justru berjuang demi bangsanya.


" Jika itu keputusanmu, kakek tidak bisa menghalangi. Tapi sebelum itu, kakek ingin menyerahkan sesuatu padamu. Mungkin saja, suatu saat ini berguna untuk dirimu saat menghadapi musuh - musuhmu!" kata Sang kakek.


Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah dinding di samping tempat tidurnya.


Dia memegang salah satu hiasan pada dinding dan secara menakjubkan dinding itu bergeser menjadi terbelah dua.


Di balik dinding itu terselip sebuah pedang yang bersinar terang. Pedang itu terbuat dari platina atau emas putih dan sangat panjang. Sepintas terlihat lebih menyerupai samurai.


Alyan memandang dengan takjub ke arah pedang tersebut.


" Inilah pedang suci Naga Jiwo. Pedang yang mampu membunuh Raja iblis sekalipun. Pedang ini adalah pedang yang sangat diburu oleh seluruh penghuni langit dan bumi karena kesaktiannya." kata Paduka Raja Haizzar kepada sang cucu yang masih saja memandang tak berkedip pada pedang Naga Jiwo.


Alyan kembali mengamati pedang Naga Jiwo yang masih berada di tempatnya.


Pedang itu benar-benar sangat indah di matanya.


Ujung pedang dibuat runcing berbentuk segitiga dengan ujung mata berlapis intan hingga mampu membelah baja sekalipun. Yang menarik, gagang pedang terbuat dari campuran emas dan platina dengan hiasan dua ekor naga yang saling melilit.


Sang kakek mengambil pedang tersebut dari tempatnya dan mengeluarkan dari dalam sarung.


Pedang itu semakin berkilauan. Rupanya cahaya terang yang keluar tadi berasal dari pedang ini.


" Pedang ini adalah pasangan pedang emas milik ayahmu. Di buat oleh seorang empu dari bangsa manusia pada zaman prabu Sanjaya berkuasa dulu." kata Sang kakek seraya menyerahkan pedang itu kepada Alyan.


Alyan menerima pedang tersebut dengan perasaan ragu. Dia sangat kagum dengan aura pedang yang menurut Sang kakek adalah pasangan dari pedang emas milik ayahnya.


" Pergunakanlah pedang ini untuk membela keadilan dan melawan musuh - musuhmu. Karena di tangan orang yang tepat dia akan berubah fungsi sesuai dengan kebutuhan tuannya." kata Sang kakek.


Alyan tak faham dengan maksud dari perkataan Sang kakek yang mengatakan bahwa pedang perak itu bisa berubah fungsi sesuai dengan kebutuhan tuannya. Apa maksudnya? tanya Alyan dalam hati.


Sementara itu, di istana Bukit Malaikat, seorang wanita tampak sedang duduk anggun di atas sebuah kursi yang menghadap ke arah taman.

__ADS_1


Wanita itu berumur sekitar empat puluh lima tahunan, namun terlihat masih seperti berumur tiga puluh tahun.


" Apa yang sedang kau pikirkan, sayang? " tanya seorang lelaki yang sudah berdiri di belakangnya. Di peluknya wanita cantik itu dengan penuh kelembutan.


" Pangeran tahu dengan pasti, apa yang sedang kupikirkan, sayang." jawab wanita itu.


" Dia akan baik - baik saja. Doamu merupakan kekuatan baginya. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa." kata suaminya.


" Hm, anak siapa, dulu? " tanya wanita itu manja. Dia menggengam tangan sang lelaki yang sedang memeluknya seraya memberikan kecupan kecil di pipi dan bibirnya.


Keduanya tersenyum bahagia seperti tak ada beban hidup yang mereka alami. Pangeran Hasyeem sangat menyayangi dan mencintai sang istri.


Wanita cantik itu adalah Asmi. Dia dan Pangeran Hasyeem hidup bahagia bersama dengan tiga anak mereka. Alyan, Azzura, dan Arryan.


Sampai kini, Sang pangeran tetap setia dan tak pernah berniat ingin memiliki wanita lain. Walaupun banyak wanita di kalangan bangsa jin yang dengan terang-terangan atau pun secara tersembunyi berniat ingin menjadi selir dari suaminya itu. Dan Asmi bukannya tidak menyadari akan hal itu.


" Sayang, bagaimana kabarnya dengan Luna? " tanya Asmi tiba-tiba.


Pangeran Hasyeem mengernyitkan alis, heran dengan pertanyaan Asmi.


" Sayang, kenapa bertanya demikian? Pertanyaan itu lebih tepat kau tujukan pada Alyan, sayang! " jawab Sang pangeran.


" Tapi putraku itu jarang. sekali pulang, sayang! " keluh Asmi.


" Kamu masih memiliki seorang putra dan seorang putri lagi selain putramu Alyan, sayang ku." ingat Sang suami sambil tersenyum menarik hidung Asmi yang bangir.


" Huh, mereka sama saja! sibuk dengan urusannya masing-masing! " Asmi mendengus sambil memalingkan wajah dengan kesal.


Pangeran Hasyeem terkekeh melihat kekesalan Sang ratu. Yah... anak mereka kini sudah dewasa semuanya dan Sang Ibunda yang merasa kesepian sering uring-uringan sendiri karena tidak ada yang bisa di ajak bercerita atau bermain.


" Aahh, sayang. Sifat mesummu nggak hilang - hilang! "


" Biar saja. Yang penting, aku tidak pernah mesum dengan wanita lain, sayang." jawabnya santai.


Asmi terdiam. Iya, benar. Suaminya itu tidak pernah sekali pun berniat untuk menduakan dirinya. Apalagi berbuat yang tidak - tidak dengan wanita lain. Sungguh, dia merasa sangat beruntung sekali.


" Sayang... Kok diam sih? " Pangeran Hasyeem menoel dagu Asmi yang terdiam melamun.


Asmi tersadar dari lamunannya. Dia tersipu malu saat matanya bertatapan dengan mata elang Sang suami. Pasti suaminya itu sudah dapat menebak apa yang ada dalam pikirannya.


" Hmm, aku tahu kamu sedang memikirkan aku. Hmm,... tapi aku tak ingin hanya ada dalam pikiranmu, aku ingin 'memasuki' tubuhmu." katanya dengan senyum devilnya.


"Auk ak! " jawab Asmi yang kini pipinya sudah merona merah karena malu saat tahu suami tercintanya itu ingin meminta 'jatah'.


Pangeran Hasyeem kemudian menggendong tubuh Sang Ratu menuju ke peraduan mereka. Lalu... tak lama kemudian terdengar suara - suara ******* mereka yang menembus dinding - dinding kamar yang menjadi saksi bisu betapa panasnya permainan cinta antara dua insan yang berbeda alam itu.


Sementara itu Alyan dan Azzura pamit pulang kepada Sang kakek. Namun, Aluna memutuskan untuk tinggal di sana.


Dengan alasan ingin bermain di istana Gunung khayangan, Aluna mohon agar dia diizinkan untuk tinggal sesaat di sana.


Alyan dengan berat hati terpaksa mengizinkan Aluna.


" Baiklah.. Aku mengizinkanmu untuk tinggal di sini sebentar. Tapi ingat, jangan berbuat hal - hal yang mencurigakan. Dan jangan berbuat ulah. Aku akan menjemputmu nanti! " kata Alyan pada Aluna yang berdiri di balik tiang istana.

__ADS_1


Sonia yang sejak tadi selalu memperhatikan semua gerak - gerik Alyan, merasa heran.


" Alyan berbicara dengan siapa, ya? " Penasaran gadis itu mencoba melongok lebih dekat ke arah Alyan.


" Tidak ada siapa - siapa. Tapi tadi jelas - jelas aku melihat Alyan sedang berbicara dengan seseorang. " guman Sonia pada diri sendiri. Dia pun berlalu dari sana pergi menemui Alkan.


" Pangeran, aku melihat dari tadi sepertinya gadis itu sedang mengamatimu. Aku yakin dia suka padamu! " kata Aluna.


" Cih, itu hanya dugaanmu saja. Bilang saja kalau kau cemburu karena ada gadis lain yang perhatian padaku."


" Hah, cemburu? Mana mungkin aku cemburu padamu, Pangeran Alyan! Lagi pula aku tidak menyukaimu. Kamu bukan type aku. Aku suka lelaki yang lembut dan hangat. Tidak seperti dirimu! " kata Aluna jutek. Dia marah karena dituduh cemburu oleh Alyan. Padahal, dalam hatinya dia membenarkan tuduhan itu.


" Aku bagaimana? Apa yang salah denganku? "


" Hei, tuan. Apakah kamu tak pernah menyadari bahwa anda terlalu bersikap dingin pada kaumku! " seru Aluna sambil terkekeh geli. Alyan menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal karena mendengar ucapan sahabatnya itu.


Akhirnya, Alyan dan Azzura pergi meninggalkan istana Gunung khayangan. Meninggalkan Aluna yang masih ingin tinggal di sana untuk melihat - lihat keindahan istana Gunung khayangan.


Sepeninggal Alyan dan Azzura, Aluna bergegas mencari keberadaan Sonia. Dia melihat gadis itu sedang bersama Pangeran Alkan.


" Pangeran Alkan, aku ingin berpamitan pulang, karena pasti ayah dan ibuku sudah mencemaskan diriku. Aku bermain sudah terlalu lama." katanya.


" Baiklah, tapi jangan lupa, mampirlah kemari jika kamu ada waktu. Kita bermain lagi nanti! jawab Pangeran Alkan.


Gadis cantik bermata coklat itu melesat pergi meninggalkan istana Gunung khayangan. Aluna yang melihat hal itu segera menyusul mengikuti jejak Sonia yang sudah bergerak ke arah Hutan Larangan.


" Mau apa Sonia ke hutan Larangan?" pikir Aluna. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan gadis itu. Dia pun mengikuti Sonia hingga sampai di suatu tempat. Hari sudah menjelang magrib.


Sonia berhenti di atas sebuah bukit. Dia seperti menunggu seseorang atau sesuatu?


Tak berapa lama kemudian, seberkas sinar kuning keemasan melesat terbang menghampiri gadis itu. Sinar keemasan itu perlahan berubah wujud menjadi sesosok makhluk berwujud tinggi besar.


" Terima sembah hamba, yang Mulia!" Sonia menghaturkan sembah sujudnya kepada makhluk itu.


Aluna mendekap mulutnya agar tidak bersuara. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.


Sonia adalah salah satu abdi pengikut dari Penguasa Hutan Larangan.


" Sonia anakku, bagaimana sudah hasil pendekatanmu pada keluarga itu? " tanya Penguasa Hutan larangan itu padanya.


" Tampaknya target masih belum menyadari akan keberadaan kita di tengah - tengah mereka. Hamba sudah menempatkan beberapa mata - mata di istana Bukit Malaikat dan Gunung khayangan.


Tadi Pangeran Aly dan adiknya mendatangi Sang Kakek."


" Apakah kamu tahu, apa yang mereka bicarakan? "


" Maafkan hamba, tapi hamba tidak bisa mencuri dengar pembicaraan mereka karena ada Pangeran Alkan dan Adiknya Pangeran Alyan, Pangeran Azzura yang selalu mendekati hamba."


" Tampaknya kita tidak boleh lengah. Tetap awasi terus setiap pergerakan mereka. Bagaimana dengan 'gadis bulan darah' itu? "


" Menurut mata - mata, gadis itu masih belum sadarkan diri. Huh... aku yakin dia tak akan pernah sadar. Karena jarang ada orang yang selamat dari pukulan yang mulia Hades."


Aluna tak sadar mengepalkan jari - jari tangannya. Dia geram. Ternyata Sonia adalah mata - mata dari Hades yang ditugaskan untuk mengawasi segala gerak - gerik Alyan dan dirinya.

__ADS_1


Dia mendengus geram. 'Huh, Awas saja. Aku akan membuat perhitungan denganmu, Sonia! ' kata Aluna dalam hati.


" Siapa di sana? " bentak Penguasa hutan larangan dengan suara keras. Dia merasa seseorang sedang berdiri mengawasi dia dan Sonia.


__ADS_2