Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 26 Memikirkan kembali


__ADS_3

" Putri Azylla!! "


Begitu mendengar Hasyeem menyebutkan nama putri Azylla, Asmi yang berada di balik punggung Pangeran Hasyeem sontak melongokkan kepalanya. Penasaran olehnya bagaimana rupa calon istri dari kekasihnya yang dipilih oleh ayahanda mereka.


Oh astaga! astaga! wanita bangsa jin yang sedang berdiri di hadapan mereka ini, sungguh sangat sangat cantik. Kecantikannya sungguh membuat asmi sebagai seorang wanita merasa insecure.


'Bagaimana mungkin Hasyeem menolak wanita secantik ini? 'pikir Asmi.


" kanda Hasyeem, tolong katakan padaku ! Apa salah dan kurangku hingga kanda lebih memilih wanita ini daripada aku! " tanya putri Azylla dengan wajah memelas. Ada airmata yang kini perlahan lolos dari kedua mata indahnya.


Sungguh pandai wanita ini menyimpan perasaan. Di saat - saat seperti ini dia masih bisa mengontrol diri dan tidak berbuat hal yang bisa merendahkan dan mempermalukan dirinya sendiri.


Pangeran Hasyeem menatap putri Azylla dengan pandangan bingung. Dia ingin menjawab pertanyaan putri Azylla namun dia takut menyinggung perasaan wanita itu, terlebih ada Asmi di sana.


Ada tatapan terluka di mata putri Azylla yang membuat dada Asmi terasa bolong , terluka.


Dia menjadi teringat akan dirinya sendiri di saat berada dalam posisi seperti itu. Sangat sakit sekali. Asmi jadi membenci dirinya sendiri. Dia merasa menjadi seorang pelakor dan berperan sebagai tokoh antagonis dalam kisah cinta antara dirinya, Hasyeem, dan putri Azylla.


Merasa tak ada jawaban dari pangeran Hasyeem, putri Azylla pun pergi. Wanita itu lenyap dari hadapan Asmi dan Pangeran Hasyeem yang masih saja terdiam kelu, tanpa bisa berkata - kata.


Pangeran tampan itu menghela nafas berat. Dia tak menyangka putri Azylla akan mengetahui rahasia ini lebih cepat dari yang dia duga.


Sebenarnya sudah lama Pangeran Hasyeem ingin membicarakan perihal masalah ini pada putri Azylla, namun dia masih menunggu waktu yang tepat.


Karena bukan putri Azylla yang sebenarnya dia cemaskan, namun Asmi. Dia takut jika murka sang Ayahanda bisa membuat Asmi celaka.


" Sebaiknya kamu segera menyusul putri Azylla. Aku takut dia berbuat sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri.! " kata Asmi pada Pangeran Hasyeem.


Pangeran Hasyeem mengangguk seraya memeluk dan mengecup kepala wanita itu dengan lembut.


' Ah, dia resah dan sedih,' pikirnya.


Ada sesak di dada pangeran Hasyeem saat mengetahui isi hati dan pikiran Asmi. Sebegitu terluka kah wanitanya saat mengetahui kenyataan bahwa ada wanita lain selain dirinya dalam hidup Pangeran Hasyeem.


Pangeran Hasyeem melepas pelukannya pada Asmi, lalu sejurus kemudian pangeran tampan penguasa Bukit Malaikat itu menghilang dari pandangan.


Yah.., Asmi berkata seperti itu. Terdengar seolah - olah dia adalah wanita yang bijak dan pengertian terhadap orang lain. Walaupun itu adalah rivalnya.


Namun pada kenyataannya, dia saat ini sama terlukanya dengan putri Azylla. Dia merasa malu dan sedih mendapati kenyataan bahwa dia tak lebih hanyalah orang ketiga yang merusak hubungan yang sudah terjalin antara pangeran Hasyeem dan putri Azylla.


Dia ingin sendiri dan merenungkan segala yang terjadi. Memikirkan kembali apakah benar langkah hidup dan garis takdir yang sudah dia pilih. Apakah dia sanggup untuk kehilangan kembali orang yang dia cintai. Berbagai pertanyaan itulah yang kini ingin dia cari jawabannya.

__ADS_1


...---...


Sementara itu, Nazwa sudah bangun dari tidur kebingungan karena mendapati Asmi yang tidak berada di kamar. Nazwa panik, segera menelpon Asmi.


" Hallo, kak Asmi! kakak di mana? "


".... "


" Hah..!! kakak sudah di rumah. Bagaimana mungkin? bukannya kakak tadi pagi masih tidur bareng Nazwa? " tanya Nazwa yang heran karena perkataan Asmi yang mengatakan jika sekarang dia sedang berada di rumahnya.


" ..... " Asmi menampar pipinya yang keceplosan ngomong kalau dia kini sudah berada di rumah.


'Tolol banget, sih Asmi !' ucap Asmi pada diri sendiri. ' terang aja si Nazwa heran, karena secara logika aja, jarak antara kosan Nazwa dan rumahnya itu sangat jauh dan hanya bisa di tempuh dengan pesawat dan juga berkendara. ' Asmi geleng - geleng kepala karena menyadari kebodohannya.


" Ya, udah deh. Aku bingung aja nyari kak Asmi. kalo gitu aku mau mandi dulu. Dah.. kakak! " Nazwa lalu menutup telpon dan segera pergi ke kamar mandi.


Hari ini, dia mau mengajak Isna ke rumah Doni. Ada hal penting yang ingin dia katakan pada cowok ganteng itu.


Nazwa dan Isna baru saja sampai di tempat kosan Doni. Hari sudah semakin siang. Jam makan siang sudah lama terlewatkan. Kini waktu Ashar sudah menjelang tiba.


" Assalamu'alaikum, Don. Doni! " Nazwa mengetuk pintu kosan Doni. Namun tak ada jawaban dari dalam rumah.


Namun Nazwa heran, jika cowok ganteng itu tak ada di rumah, kenapa motornya ada di rumah. Atau jangan - jangan Doni pergi ke rumah Ryan, sepupunya dengan di bonceng. Bisa saja dia tidak memakai motornya dan memilih di bonceng sama Ryan.


Berpikir demikian, akhirnya Nazwa menghubungi nomor Doni. Sayangnya, nomor Doni aktif namun tak di angkat.


Nazwa yang kesal, akhirnya menelpon Ryan setelah mendapatkan nomor cowok gondrong itu dari Isna. Eh.. Isna punya nomor Ryan.. Mengetahui hal ini membuat senyum usil Nazwa terbit, alisnya naik turun menggoda Isna.


"Apaan sih , Nazwa! " dengus Isna salah tingkah.


" Apa?? aku nggak ngomong apa - apa loh.! "


" Nggak ngomong, tapi wajah dan senyum usil dikau, mengganggu diriku.!! "


"Hehehe, ada yang lagi pedekate." kata Asmi sambil melirik ke arah Isna. Yang dilirik cuma mendelik keki.


" Hallo, Ryan! " seru Nazwa setelah nomornya kini tersambung ke nomor Ryan.


" ...... .. "


" Nggak, gue mo nanya, apa Doni ada sama lo? "

__ADS_1


" ..... "


" lah, gue sekarang ada di depan rumah Doni. "


" ..... "


" sudah, gue panggil panggil dari tadi kagak nyaut. Motornya masih ada di luar. "


" ....... "


" Ah, sudah. gue pusing. Mending lo kemari , deh. Gue tungguin di sini. Ngga pake lama.! "


" .... "


Ryan menjauhkan speaker handphone dari telinganya. Suara cempreng Nazwa yang panik dan setengah kesal sudah mirip suara petasan renteng yang di bunyikan saat kawinan anak cina.


" tadi Nazwa bilang, Doni nggak ada di rumah, tapi motornya ada. Ah.. pergi ke mana tuh anak?"


Ryan bergegas menyambar jaket kulit yang tergantung di belakang pintu kamarnya, lalu mengambil kunci motor dan melesat pergi ke rumah Doni.


Sesampainya di sana, sudah menunggu Nazwa dan Isna dengan wajah kesal karena lelah menunggu.


Ryan tersenyum pada Isna, yang membalas dengan malu-malu.


'Adem banget hati babang Ryan ... liat senyuman adek. 'soraknya dalam hati.


" Lo sudah cek belum ke dalam? " tanya Ryan saat sudah berada di depan pintu rumah kosan Doni.


" ceile, masuk gimana? kan di kunci abaaang.! " kesal Nazwa.


Ryan garuk kepala menghadapi kejudesan Nazwa. 'Kenapa Doni bisa suka sama cewek judes kayak Nazwa, ya? ' pikirnya. ' Cantik sih cantik. Tapi judesnya, ampun deh gue! ' Ryan tersenyum sendiri.


" Lo kenapa senyum - senyum sendiri, kesambet ya! " Nazwa bergidik ngeri membayangkan jika Ryan beneran kesambet jin penghuni rumah ini.


Tanpa menunggu lama, mereka berhasil mendobrak pintu rumah kosan Doni. Mereka lalu bergegas masuk untuk memeriksa keberadaan cowok ganteng itu.


" DON! ....DONI...!!! "


Mereka semua terkejut saat menemukan Doni yang terkapar tak berdaya di lantai kamar kosannya dalam keadaan pingsan.


Apa yang sudah terjadi pada Doni , Ryan berpikir keras sambil memapah tubuh sepupunya itu ke tempat tidur, dengan di bantu oleh Nazwa dan Isna

__ADS_1


__ADS_2