
Asmi menangis memeluk Pangeran Hasyeem. Dia merasa sedih sekali. Ucapan Nyi Kedasih menyadarkannya. Bahwa dia sungguh tak pantas untuk Sang Pangeran.
Sejujurnya dia merasa lelah dan putus asa dengan semua ini. Hatinya sakit setiap kali menerima cibiran masyarakat padanya. Dan hati itu semakin bertambah sakit ketika dalam bangsa jin juga ternyata masih mengenal kasta dan kedudukan.
Tertangkap jelas maksud dari ucapan Nyi Kedasih yang mengatakan bahwa dia tidak pantas jika harus disandingkan dengan Putri Azylla, yang notabene seorang putri keturunan bangsawan dari kalangan bangsa jin.
Asmi langsung tersadar akan posisinya. Dia seperti merasa di tampar akan kenyataan baru tentang dirinya. Ya.. dia hanya seorang janda. Bukan dari golongan bangsawan di dunia manusia juga bukan orang yang mulia atau pun berharta.
Hal baik apa yang bisa dia banggakan, sedangkan Putri Azylla, wanita cantik yang berasal dari golongan bangsa jin itu memiliki segalanya. Pantas saja Ayahanda Pangeran Hasyeem yaitu Raja Haizzar tidak menyetujui hubungan mereka dan lebih memilih Putri Azylla sebagai calon menantu, karena wanita itu memiliki kelebihan atas segalanya dari dirinya.
Kegagalannya berumah tangga dengan mantan suaminya Ilham, penolakan Ayahanda Pangeran Hasyeem dan juga penolakan masyarakat karena statusnya yang janda membuat Asmi semakin merasa kalau dia tak berguna sebagai wanita.
Baginya cukup sakit rasanya karena hanya tatapan yang mengandung kecurigaan, kata kata sindiran, dan cibiran di belakangnya saja yang Asmi terima. Tak ada lagi senyum tulus dan sapaan ramah yang dia dapatkan. Hanya kekecewaan demi kekecewaan saja yang harus dia telan. Sebegitu tak berarti hidup seorang wanita berstatus janda dengan embel-embel mandul.
" Hasyeem, ... aku tak bisa lagi melanjutkan ini. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan kita. Tinggalkan saja aku dan menikahlah dengan Putri Azylla!" kata Asmi di sela-sela isaknya.
Jantung Pangeran Hasyeem seakan berhenti saat mendengar ucapan Asmi.
" Sayang, jangan bicara seperti itu. Kamu tidak serius kan dengan ucapanmu?" Pangeran Hasyeem menatap wajah cantik Asmi yang masih berurai air mata. Hatinya sakit melihat air mata sang kekasih dan semakin sakit saja saat mendengar ucapan Asmi yang menginginkan perpisahan mereka.
Asmi menggelengkan-gelengkan kepala. Disekanya air matanya yang kembali lolos di ujung netranya.
" Aku tidak main-main dengan ucapanku, Hasyeem!" kata Asmi.
__ADS_1
" Aku sadar diri , Pangeran. Aku tidak diterima oleh keluargamu, bahkan bangsamu saja tidak menerimaku. Apa aku harus memaksakan diri dan menutup mata dengan semua itu. Karena aku kamu menderita dan harus di kurung oleh Ayahandamu Raja Haizzar. Karena aku juga putri Bilqis harus ikut menanggung sengsara karena ikut di kurung oleh Ayahandamu. Wajar jika Nyi Kedasih tidak menyukai diriku. Wanita dari bangsaku sendiri saja juga tidak menyukaiku. Aku harus apa, Hasyeem? katakan aku harus bagaimana?" tanya Asmi dengan nada putus asa.
" Tapi, sayang. Aku mohon jangan punya pikiran seperti itu. Aku tidak keberatan bahkan jika ayahandaku harus Mengurungku seribu tahun lama. Aku tak peduli walaupun semua bangsaku menentangnya. Aku tak peduli walaupun semua makhluk di dunia ini tidak menyukaimu. Atau tidak menyukai kita berdua sebagai pasangan. Sungguh aku tak peduli. Bagiku cukup hanya kamu mencintai dan menerimaku, selalu bersamaku aku sudah bahagia. Kau nafas kehidupanku.Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Aku mohon... cabut kembali kata-katamu, sayang. Jangan pergi dariku... jangan menyerah dengan semua ini." Isak Sang Pangeran yang tak kuasa jika harus berpisah dengan Sang kekasih.
" Tidak, Hasyeem. Aku mohon, pergilah. Aku tak sanggup lagi, Pangeran. Biarkan aku sendiri. Aku mohon, pergilah!" Asmi bersimpuh memohon kepada Sang Pangeran untuk segera pergi dari hadapannya.
Pangeran Hasyeem memandang wajah Sang kekasih yang menghiba menatapnya. Ada luka yang dia lihat di sana. Ada kekecewaan dan putus asa. Hatinya sangat iba. Dia ingin memeluk Sang kekasih hati dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun dia tahu, kekasih hatinya sedang tidak baik-baik saja. Sang kekasih yang merupakan belahan jiwanya ini sedang berada di titik terbawah dari hidupnya. Dia tahu, adalah bijak baginya untuk membiarkan Asmi sendiri. Karena wanita itu butuh ketenangan hati untuk berfikir.
Akhirnya Pangeran Hasyeem mengangguk pasrah. Diciumnya dahi Sang kekasih dengan lembut, sebelum menghilang dari hadapan Asmi. Sebenarnya hatinya tak rela jika harus pergi dari sisi Sang kekasih hatinya. Dia tak ingin Asmi memutuskan hubungan dengan dirinya.
Asmi menangis terisak sepeninggal Hasyeem. Dadanya sesak oleh rasa sakit yang menghujami tanpa kenal ampun. Bagaimana pun juga, dia sangat mencintai pangeran Hasyeem, pangeran penguasa Bukit Malaikat.
Sementara itu, di istana Raja Haizzar di Gunung Kahyangan, suasana mendadak geger. Sang Pangeran mengamuk menghancurkan semua yang ada di dalam kamarnya. Tak ada yang bisa membujuk Sang pangeran yang hatinya sedang galau itu.
Beruntung Raja Haizzar sudah
memasang pagar gaib di sekitar kamar pangeran Hasyeem, Sehingga Sang putra mahkota tak bisa mengamuk di luar dan tidak bisa kemana-mana.
Pangeran Hasyeem terpekur menangis di sisi tempat tidur yang kini sudah tak berbentuk tempat tidur lagi. Hatinya sakit oleh cinta yang kini terputus oleh kasta dan perbedaan. Hatinya terluka karena Asmi memutuskan hubungan dengannya dan meminta dia untuk menikah dengan Putri Azylla.
Dia menyesali segala keputusan Asmi. Wanita itu memutuskan cinta mereka karena lelah harus menghadapi segala perbedaan yang selalu saja membuatnya merasa tersudutkan. Sejatinya, hal itu bukanlah menjadi hal yang harus di besar-besarkan. Dia menerima wanita itu apa adanya.
__ADS_1
Kini apalah dayanya, setelah Sang kekasih memutuskan hubungan dengannya dan memintanya untuk menikah dengan wanita lain. Rasanya dia hampir gila memikirkan semua rasa di hatinya.
Dia tak akan sanggup jika harus berpisah dengan Asmi. Wanita itu sungguh sangat berarti dalam hidupnya. Dia tak ingin kehilangan Asmi. Dia juga tak ingin untuk membagi cintanya untuk wanita lain. Hanya Asmi yang dia inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya. Sampai akhir hayat wanita itu.
Sementara itu di tempat lain, seorang wanita dengan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuh, tampak sedang bersemedi dengan khusuk. Wajahnya tampak mengerikan seperti habis mengalami luka bakar yang menutupi lebih separuh dari wajahnya.
Tiba-tiba wanita itu membuka matanya. Dia terjaga dari semedinya. Senyum licik terhias di bibir yang tampak miring tertarik ke bawah.
"Hmm menarik sekali, ini berita bagus. wanita itu kini sendiri." gumannya dengan wajah sinis.
Segera dia menghubungi seseorang yang dia tahu pasti akan merasa senang mendengar kabar ini.
" Halo, Pak Panca. Aku punya kabar gembira untuk anda." kata Nyi Darsih begitu sambungan teleponnya tersambung.
" ......."
"Wanita incaranmu tampaknya kini hanya seorang diri. Aku melihatnya tadi dalam semediku. Aku melihat tidak ada lagi sosok hitam yang biasanya selalu
saja mengikuti langkah wanita itu. Aku memberitahukan hal ini pada anda, Pak Panca. Siapa tahu anda ingin berbuat sesuatu pada wanita tersebut. Karena inilah saat yang tepat untuk mereka membalaskan dendam anda padawanita itu." kata Nyi Darsih .
Sebersit senyuman licik tergurat di wajah seram milik Nyi Darsih. Dia bisa membalas sakit hatinya pada kekasih pangeran jin yang telah membuat dia kehilangan kecantikan dan kemolekan tubuhnya beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu, Pak Panca kini sedang menelpon seseorang.
__ADS_1
" Siapkan orangmu. Bawa wanita ****** itu padaku. Aku menunggu di tempat biasa!" kata lelaki berwajah dingin itu seraya menutup telpon.