Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 161 Perjanjian Ghaib ( part 4 )


__ADS_3

" Sebelum kita melakukan hal ini. Marilah kita semua berdoa untuk memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa.. Karena hanya dengan kuasanya, pekerjaan kita akan berhasil."


Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala dan berdoa dalam hati untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Penguasa Alam Semesta.


Malam semakin beranjak larut. Dari kejauhan, suara lolongan suara anjing terdengar pilu seakan seperti menyuarakan kesedihan yang mendalam. Sebuah suara yang mampu mendirikan bulu roma untuk didengar. Suasana di lantai dua rumah kediaman Keanan juga semakin terasa mencekam. Hawa dingin mulai merambati tempat itu. Pertanda akan kehadiran sebuah kekuatan tak kasat mata yang mengancam keberadaan orang - orang yang berada di tempat itu.


Pangeran Hasyeem meminta Eyang Hadi Wijaya dan putranya Hutama Wijaya untuk hadir di tempat tersebut. Karena mereka berdua yang terkait langsung dengan perjanjian ghaib yang dulu pernah di sepakati antara Eyang Hadi Wijaya dengan Pengusaha Hutan Alas Purwo.


Dengan kekuatan yang dimilikinya, Pangeran Hasyeem membuka mata bathin semua anggota keluarga Hadi Wijaya agar mereka semua bisa bertemu dan melihat wajah Eyang buyut mereka.


Saat mata batin mereka sudah terbuka, terdengar jeritan kengerian dari beberapa mulut mereka yang kini sudah bisa melihat wujud asli Eyang Hutama yang mengerikan.


" Astaghfirullahalazim.... Ya Allah, makhluk apa itu? " mereka bertanya - tanya penuh kengerian. Baru kali ini mereka melihat makhluk yang begitu mengerikan wujudnya seperti ini.


" Inilah wujud dari Eyang buyut Kalian yang kini menjadi budak dari Penguasa Hutan Alas Purwo. Berpuluh - puluh tahun yang lalu karena kesalahan yang aku lakukan, aku harus membayarnya dengan menukar sisa hidupku dan putraku sebagai budak dari Penguasa Hutan Alas Purwo. Beruntung ada seseorang yang bermurah hati membebaskan aku. Namun, sayangnya putraku masih berada dalam jeratan perjanjian itu, sehingga sampai saat ini aku tak bisa tenang untuk meninggalkan dunia ini. " kata Eyang Hadir Wijaya dengan sedih.


Semua yang hadir di tempat itu terdiam mendengar perkataan kakek tua itu. Mereka juga turut prihatin atas takdir yang menimpa leluhur keluarga mereka itu.


" Saudara - saudaraku semua, kita semua sebagai keturunan Hadi Wijaya, marilah bersama - sama, kita berdoa untuk Eyang Hutama, agar bisa segera terbebas dari jeratan perjanjian terkutuk itu." Papa Keanan kali ini angkat bicara. Dia sebagai keturunan langsung saudara lelaki Eyang Hadi Wijaya merasa sangat bertanggung jawab atas nasib dari paman kakeknya itu.


Semua yang hadir di tempat itu, menganggukkan kepala. Mereka setuju dengan perkataan Papanya Keanan.


" Kita tak punya banyak waktu. Jadi sebaiknya kita mulai saja sekarang."


Pangeran Hasyeem beranjak bangun dan kini berdiri menghadap ke arah Timur rumah keluarga Keanan. Posisi di mana Hutan Alas Purwo berada. Kedua tangan lelaki yang masih saja tetap terlihat tampan walaupun sudah memiliki beberapa orang putra dan putri itu terentang ke atas.


Seberkas cahaya putih seperti cahaya kilat berkelebat sesaat di ruangan yang luas itu, setelah itu sebuah pedang berwarna keemasan tiba-tiba muncul di tangan Pangeran tampan suami dari Asmi tersebut. Itulah pedang Halilintar, pedang sakti milik Penguasa Bukit Malaikat yang melegenda karena kehebatannya.


Semua yang melihat kejadian itu terkesima dan menahan nafas karena tegang dan juga kagum. Mereka bertanya - tanya, siapa sebenarnya lelaki tampan dengan rambut panjang di kuncir ke belakang itu. Lebih aneh lagi saat mereka melihat bola mata lelaki itu yang seperti mata kucing. Tak ada yang menyadari bahwa keempat manusia yang hadir bersama mereka itu bukanlah manusia biasa. Terlebih dua pria yang masing-masing memegang pedang berwarna keemasan dan pedang perak.


Mereka hanyalah manusia biasa. Saat melihat hal yang seperti itu, rasanya seperti menonton sebuah pertunjukan sulap, atau menonton sebuah film laga fantasi.


Pangeran Hasyeem menyabetkan pedang Halilintar beberapa kali ke arah dinding ruangan. Secara ajaib, di dinding rumah yang semula berwarna putih, kini muncul sebuah jalanan yang membentang di hadapan mereka. Jalanan itu di kiri kanannya di kelilingi oleh hutan yang lebat dan gelap.


Rupanya Pangeran Hasyeem sudah membuka jalan ghaib untuk mereka semua menuju ke Hutan Alas Purwo, tempat Siluman Serigala, Penguasa Alas Purwo berada. Semua orang menganga tak berkedip memandang ke arah jalan aneh tersebut.

__ADS_1


" Kak Arryan, apa kita akan melalui jalan itu? " Alice menghampiri Arryan dan bertanya pada putri cantik itu yang dari tadi berdiri di sebelah Keanan.


" Sepertinya begitu, dek. Jika kamu takut, kamu boleh tidak ikut."


" Iya, Alice takut, kak. Mama dan Alice akan tinggal disini saja. Biar Papa dan kak Keanan saja yang ikut." katanya.


Alice dan mama Keanan memutuskan untuk tidak ikut karena mereka merasa takut terjadi sesuatu. Apalagi saat melihat jalan ghaib yang terbentang di hadapan mereka. Demikian juga para wanita yang hadir di tempat itu.


Rombongan itu kini hanya diikuti oleh sembilan orang. Pangeran Hasyeem dan ketiga putra putrinya, Papa Keanan dan Keanan serta David dan papanya. Lalu ada Eyang Hadi dan juga Eyang Hutama.


" Saudara - saudaraku sekalian, saya telah membuka jalan ghaib menuju hutan Alas Purwo. Tolong dengarkan apa yang akan saya katakan. Karena ini menyangkut keselamatan kita semua. Kita akan melakukan perjalanan yang penuh bahaya karena memasuki dunia ghaib. Tujuan perjalanan kita adalah ke negeri Siluman di Hutan Alas Purwo.


Saya berpesan, jika nanti saat kalian berjalan melewati Hutan Alas Purwo, apapun yang kalian lihat atau kalian dengar, kalian tidak di perbolehkan untuk menegurnya atau mendekatinya ataupun berbicara kepada mereka. Jika hal itu kalian langgar, maka kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya." pesan Pangeran Hasyeem kepada semua yang ikut dalam rombongan itu.


Semuanya mengangguk faham dengan apa yang diucapkan oleh ayah dari Pangeran Alyan, Pangeran Azzura dan putri Arryan itu.


Setelah menyampaikan pesannya kepada semua orang yang akan ikut ke Hutan Alas Purwo, Pangeran Hasyeem kemudian melangkahkan kakinya memasuki jalan yang terlihat di tembok dinding rumah Keanan. Perjalanan ghaib pun kini sudah di mulai.


Perjalanan mistik melalui jalan Ghaib menuju Hutan Alas Purwo. Menyusul semua orang yang memutuskan untuk ikut bersama mereka. Mereka berjalan mengikuti langkah pangeran Hasyeem yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan bersama Putri Arryan dan Eyang Hadi Wijaya.


Pangeran Alyan dan makhluk jelmaan Eyang Hutama yang berwujud Siluman Serigala berjalan di belakang bersama Pangeran Azzura. Kakak beradik itu berjalan bersisian sambil sesekali mereka mengawasi keadaan di sekelilingnya.


" Dinda, bagaimana kabar putri Ambika. Apakah kamu sudah menyatakan perasaanmu padanya.?" tanya Pangeran Alyan kepada adiknya.


" Entahlah, kanda. Tapi aku tak punya keberanian untuk mengakui perasaanku. Lagi pula, aku ragu apakah ayahanda akan menyetujuinya jika aku memilih putri siluman Harimau itu sebagai pendamping hidupku." jawab Pangeran Azzura.


Baru saja beberapa langkah setelah mereka melewati jalan ghaib tersebut, Suasana di sekitar mereka langsung berubah seketika.


Jika sebelum memasuki jalan ghaib, yang terpampang di hadapan mereka adalah suasana malam yang di selimuti oleh warna hitam pekat oleh kegelapan. Maka setelah mereka masuk dan menapakkan kaki, suasana langsung berubah menjadi terang oleh warna kemerahan. Tak ada lagi kegelapan malam. Semua tergantikan oleh semburat warna merah darah yang menutupi sekeliling hutan itu. Bahkan jalanan yang mereka lalui pun berubah warna. Tanah yang mereka pijak semuanya berwarna semerah darah. Demikian juga rumput dan juga hutan yang tertutupi oleh warna merah.


Rasa takut mulai merasuki hati keempat manusia yang ikut dalam rombongan itu.


Berbagai macam makhluk tak kasat mata sudah mulai bermunculan dan menjadi pemandangan yang mengerikan bagi mata yang tak terbiasa dengan hal itu.


Mereka kini bisa melihat dengan mata kepala sendiri, makhluk - makhluk berwajah seperti Iblis dengan kedua taring panjang yang menyembul di kiri kanan mulutnya. Bahkan ada juga yang bertanduk sangat panjang.

__ADS_1


Beberapa makhluk sebangsa siluman yang muncul menampakan diri dengan berbagai bentuk.


Ada juga penampakan roh gentayangan dan makhluk jadi - jadian yang muncul dan menggoda mereka.


Karena sekarang mata bathin mereka sudah terbuka. Maka dari itu, mereka harus siap dengan resiko yang harus mereka terima. Kini mereka bisa melihat berbagai penampakan makhluk - makhluk ghaib yang berkeliaran di sepanjang jalan ghaib yang mereka lewati tersebut.


Di tengah perjalanan mendadak David, sepupu Keanan kejang-kejang dengan mata yang melotot ke atas. Rupanya pemuda itu mengalami kerasukan makhluk penunggu hutan Alas Purwo. David mungkin saja sedang melamun sehingga jiwanya kosong. Jiwa yang kosong membuat kita lemah dan mudah sekali di masuki oleh benda dan juga makhluk yang tak kasat mata, laksana pintu yang terbuka lebar. Mudah sekali untuk keluar masuk.


Sigap Pangeran Azzura membantu pemuda itu. Dengan mudah dia mengeluarkan makhluk yang memasuki tubuh David sehingga tak perlu waktu lama, David kembali terbebas dari ganguan makhluk - makhluk tersebut.


" Kalian semua, harap jangan melamun dan berpikir ke mana-mana. Lebih baik kalian berdoa memohon keselamatan pada Allah agar kita semua selamat kembali ke rumah kalian masing-masing." Pangeran Alyan yang berjalan di belakang mengingatkan. Agar peristiwa yang terjadi pada David, tidak terjadi pada yang lain.


Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, kini tibalah mereka semua di depan pintu gerbang Hutan Alas Purwo yang terkenal angker dan banyak memakan korban.


Beberapa penjaga pintu gerbang bermunculan menghampiri Pangeran Hasyeem. Mereka bertanya apa tujuan Pangeran Hasyeem dan juga orang - orang tersebut mendatangi tempat itu.


Setelah Pangeran Hasyeem menyampaikan maksud kedatangan mereka semua, salah seorang penjaga pergi dan melaporkan kepada pimpinan mereka. Pimpinan mereka kemudian datang dan menemui Pangeran Hasyeem.


Dia membawa Pangeran Hasyeem dan juga yang lainnya masuk dan menemui junjungan mereka yaitu Raja Siluman Serigala, penguasa Hutan Alas Purwo.


Baru saja rombongan kecil itu akan menapakkan kakinya ke halaman istana, sebuah suara berat menghentikan langkah mereka.


" Maaf, yang boleh masuk ke istanaku hanyalah bangsa siluman saja. Bangsa manusia tak bisa memasukinya, kecuali jiwa mereka yang tergadai sebagai budak. "


" Jika seperti itu peraturannya, bagaimana bisa kami menemuimu, wahai penguasa Hutan Alas Purwo! " kata Pangeran Hasyeem.


" Hem, rupanya aku kedatangan tamu penting." Sebuah sinar berwarna merah melesat cepat mendatangi Pangeran Hasyeem.


Saat sudah berada di hadapan Penguasa Bukit Malaikat, sinar itu berubah bentuk menjadi sesosok makhluk yang berwujud manusia berwajah Serigala. Wajah dan seluruh tubuh makhluk itu dipenuhi oleh bulu. Sepasang taring panjang menyembul dari kedua sisi mulutnya yang penuh dengan gigi - gigi yang runcing dan tajam.


" Oh, angin apa yang membawa seorang Penguasa Bukit Malaikat hingga sudi menginjakkan kaki ke tempat ini. Apakah sedemikian penting hal tersebut hingga membuat seorang Pangeran dari bangsa jin mau datang ke istanaku..? " tanya Siluman Serigala pada Pangeran Hasyeem dengan wajah yang menyeringai menyeramkan.


Sedangkan keempat manusia yang juga hadir di tempat itu menjadi terperanjat mendengar makhluk itu mengatakan bahwa lelaki yang bersama mereka adalah jin. Pias wajah Keanan.


" Berarti Arrryan dan kedua orang saudaranya juga adalah jin." ucap Keanan tanpa sadar.

__ADS_1


Hah???


__ADS_2