Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 83 Datang Melamar


__ADS_3

Keadaan Asmi kini sudah jauh lebih sehat. Dia juga sudah kembali ke rumah. Banyak hal yang ingin dia kerjakan di rumahnya.


Atas saran Pangeran Hasyeem, Asmi kemudian memutuskan untuk memugar ulang rumahnya. Untuk itulah, dia ingin meminta bantuan kepada kakaknya, Mas Ardi.


Asmi lalu menghubungi saudara lelaki tertuanya itu dan meminta kakaknya untuk datang ke rumah Asmi.


" Jadi, kapan mas bisa ke rumah Asmi? "


" ..... "


"kelamaan, mas. Asmi mau mas datang secepatnya. Ada sesuatu yang ingin Asmi bicarakan, dan rasanya agak sungkan kalau melalui handphone."


" ..... "


" Ada, deh."


" ...... "


" Ya ampun, mas. Kalau cuma masalah itu, biar nanti Asmi yang kirimkan. Mas kirim aja nomor rekening yang aktif. berapa ya, mas. Kira-kira lima juta, cukup nggak buat ongkos tiket? "


"..... " Asmi terkekeh ketika mendengar pertanyaan kakaknya darimana dia memperoleh uang untuk tiket kakaknya sekeluarga.


" Ya, udah dulu, mas..! Asmi mau istirahat. Assalamu'alaikum." Asmi lalu mematikan sambungan teleponnya.


Beberapa hari kemudian, kakaknya mas Ardi datang bersama istrinya, Mbak Nur dan anak-anaknya. Tubuh Mas Ardi sekarang tampak lebih berisi ketimbang beberapa waktu yang lalu.


" Assalamu'alaikum!"


" Waalaikum salam, .... Mas Ardi!" Asmi melonjak kegirangan menyambut kedatangan kakak lelaki satu- satunya itu.


" Apa kabar, dek? " tanya Ardi pada Asmi setelah dia mengambil tempat duduk di kursi ruang tamu. Tampak mbak Nur, istri kakaknya itu sibuk mengatur barang- barang bawaan mereka.


" Letakkan di kamar ibu saja, mbak Nur!" kata Asmi. Kamar almarhumah ibu mereka memang terletak paling belakang, namun ukurannya lebih luas di banding kamar lainnya. Karena Mas Ardi datang sekeluarga, maka Asmi menyuruh keluarga kakaknya itu tidur di kamar ibu mereka. Toh .. kamar itu sudah tidak di gunakan lagi.


" Dek, sebenarnya ada apa, sih kamu menyuruh mas datang ke sini? " tanya Ilham penasaran.


" Asmi mau minta restu sama Mas."


" Restu? restu untuk apa? atau.. jangan jangan kamu mau menikah lagi?" tebak Ardi.


Asmi tersenyum mendengar tebakan terakhir Ardi, sehingga membuat Ardi menjadi penasaran.


" Jadi benar dugaan Mas, kamu akan menikah lagi. Terus... siapa calonnya?" tanya Ardi.


" Ada, deh! " jawab Asmi.


" Siapa, dek? apa si Wira?" Ardi ingat sama lelaki itu karena terakhir kali bertemu, sewaktu lelaki itu berkunjung ke rumahnya beberapa waktu yang lalu.


Asmi tertegun, ketika nama Wira terlontar dari mulut kakaknya. Iya, kenapa dia lupa kalau lelaki pemilik kulit sawo matang itu juga pernah melamarnya. Hanya saja saat Asmi menolak lamaran Wira, Wira mengatakan agar dia memikirkan kembali tawarannya.


" Dek! ... Apa si Wira yang melamar kamu? " suara Ardi kembali terdengar di telinga Asmi.


" ah.. bukan, mas! Entar deh.. Asmi perkenalkan dengan, mas! "


" Oh... ya udah kalo gitu. Terus... itu banyak sekali material bangunan di depan. Punya siapa, dek? "


" Punya Asmi, mas! Asmi mau merenovasi rumah ibu. Maka dari itu, Mas Ardi Asmi suruh datang kemari. Adek mau Mas Ardi bantuin Asmi buat mengurus semua ini. "


" Loh, .. serius kamu, dek mau merenovasi rumah ibu. Dapat duit dari mana? "


" Hmm, itu semua dari pacar Asmi, Mas?" kata Asmi. Mata Ardi membulat sempurna, saat mendengar bahwa adiknya itu mendapat uang untuk renovasi rumah ibu mereka dari sang Pacar.


" Lah, pacar kamu duitnya banyak, emang kerjanya apa? "


" Ah, dia ndak kerja, Mas. Wong dia bosnya!"


" Ohh, begitu. Wes, baiklah. Akan mas bantu buat renovasi rumah ibu, itung - itung mas nyumbang tenaga saja, karena mas nggak punya duit."


" Mas jangan khawatir. Ada koq.. buat ganti keringat dan belanja bumbu dapur buat mbak Nur." kata Asmi kalem.


"hmm, kalau masalah itu ndak usah kamu pikirkan."


" Makasih banyak, mas. Oh., iya. Mas sudah makan apa belum? "

__ADS_1


" Mas belum makan, dek. Tadi saat tiba di bandara langsung saja kemari."


" Oke, deh. Asmi siapin makan dulu."


Mbak Nur, istri Mas Ardi segera mengikuti Asmi ke dapur.


" Mbak Nur siapin saja nasinya buat Mas Ardi. Asmi akan hangatkan lauk dan sayurnya.! " kata Asmi. Tangannya bergerak menyalakan kompor untuk memanaskan lauk pauk dan sayur yang sudah menjadi dingin. Semua itu tadinya sudah tersedia di dalam lemari makan. Karena seperti biasa, Kekasih tampannya itu selalu memerintahkan kepada beberapa dayang untuk menyiapkan dan mengurus berbagai keperluan dan masalah dapur. Asmi hanya tinggal ongkang kaki saja.


Makanan telah tertata rapi di meja.


" Mas, ayo makan. Ajak anak - anak sekalian buat makan, mas.! "


Ardi segera memanggil ke dua anaknya yang rupanya sedang bermain di luar bersama anak - anak tetangga.


Setelah menyuruh kedua orang anaknya untuk mencuci tangan dan kaki, Mas Ardi, Mbak Nur, dan kedua anaknya makan bersama dengan lahap bersama Asmi.


" masakan kamu tumben enak banget, dek!" Asmi mendelik kesal pada kakaknya.


" oh, jadi mas mau ngatain Asmi kalo selama ini nggak bisa masak? "


" Hahaha... adek mas. Cepat banget sih tersinggungnya? kata Ardi


" Sudah, jangan ribut saat makan. Nanti rezekinya lari." kata Mbak Nur menengahi. Wanita sabar itu sedang sibuk menyuapkan makanan kepada anak bungsunya. Asmi baru sadar, jika dia selama ini punya satu lagi keponakan.


" Eh, ponakan bibi yang cantik! "


" Koq, cantik? Asmi, anakku laki-laki, loh! "


" oh, maafin tante ya, Tapi tunggu dulu, Asmi ada sesuatu untuk Mbak Nur." kata Asmi..Dia lalu bergegas masuk ke kamarnya kemudian kembali lagi dengan terburu.


" Ini, mbak. Buat mbak Nur. Ambilah.!" Dia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada istri kakaknya itu. Ardi menatap heran pada Asmi.


" Apa ini, dek? " tanya Mbak Nur


" Itu buat mbak Nur. Buka saja Mbak! kata Asmi.


Mbak nur membuka kotak kecil pemberian Asmi yang terbuat dari kayu itu dengan rasa penasaran. Saat kotak itu terbuka, mata Nur tak bisa berkedip memandang. Hal itu membuat Ardi semakin ingin tahu.


Ardi juga tak kalah terkejutnya saat melihat benda berkilauan itu di tangan sang istri.


" itu emas benaran, dek? duitmu kayaknya banyak, dek. Bisa belikan kalung emas buat kakak iparmu?"


" Mas Ardi ini gimana, sih! masa iya aku mau kasih buat mbak Nur, kalung imitasi. kan nggak lucu! " kata Asmi pada Ardi dengan wajah ngambek.


" eh, maafin mas, ya dek. Baik.. mas Terima hadiah kamu buat mbakmu. Makasih banyak, ya dek! " Asmi akhirnya mengangguk walaupun hatinya masih kesal pada masnya.


Mereka akhirnya kembali melanjutkan acara makan mereka yang tadi sempat tertunda.


...^^^-----^^^...


Rencana renovasi rumah Asmi sudah mulai dilakukan. Ardi mempekerjakan tiga orang tukang untuk membantunya bekerja.


" Mas, istirahat dulu! ini, ada makanan kecil dan kopi. Silahkan di nikmati! "


Ardi berjalan mendekati Asmi.


" Hm, tau aja lagi suntuk, dek. Mbak kamu mana? "


" di dalam, mas. lagi tidurin Wahyu." Wahyu adalah nama anak Ardi yang terakhir.


" Pak Taufik, Mas Agus.. ayo istirahat dulu. Pak Adnan... ayo tinggal dulu pekerjaannya sebentar. Kita istirahat, dulu! " kata Mas Ardi sambil dia juga duduk dan mengambil secangkir kopi dan mencomot sebuah gorengan, lalu memakannya.


" Neng Asmi hebat, ya mas Ardi! sekarang sudah bisa merenovasi rumah ibunya segala! kata Pak Adnan.


" Kemarin, sempat perbaiki kamar mandi sama saya." kata Pak Taufik.


" Iya, Pak. Yah, maklum.. rumah ibu saya sudah tua. Sebenarnya sudah nggak layak huni. Tapi mau kemana lagi, adek saya tinggal ketika kemarin di cerai dan di usir suaminya, kalau nggak di tempat ini." kata Ardi dengan mata menerawang.


Hatinya sedih saat membayangkan nasib adiknya yang di ceraikan begitu saja oleh Ilham dan di usir dari rumah. Sayang sekali.. dia tak bisa membantu saat itu, karena dia juga dalam kondisi sakit.


" Tapi sekarang mbak Asmi sudah berhasil, mas. Denger - denger sih, bisnis online mbak Asmi berkembang pesat. Itulah sebabnya, mbak Asmi jarang ada di rumah." kata Agus.


Ardi tersenyum mendengar ucapan lelaki muda itu.

__ADS_1


" Alhamdulillah, doakan mas, semoga usaha adek saya bertambah lancar."


" Amin! " seru mereka serempak.


Meeka kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Malam hari, suasana di rumah Asmi ramai oleh canda riang anak - anak Mas Ardi dan Mirna. Mirna datang ke rumah Asmi bersama Afdal suaminya, karena ingin bertemu dengan Mas Ardi. Sekalian dia juga membawa Nadia dan bayinya.


" Nadia, jangan teriak- teriak. Sudah malam." ingatnya pada Nadia ketika gadis kecil itu berseru kencang pada sepupunya Dila.


" Assalamu'alaikum!! "seseorang memberi salam dari luar.


" Waalaikum salam! " balas Mas Ardi yang kebetulan berada di ruang tamu menonton televisi. Dia bergerak membuka pintu.


Tampak seorang lelaki tampan berdiri di depan pintu.


" Cari siapa, ya? "


"Asmi nya ada, mas? " tanya lelaki itu.


" Oh, ada.. sebentar ya! " Ardi lalu memanggil Asmi yang sedang berada di dapur membantu mbak Nur.


" Dek, di luar ada seorang lelaki. Katanya mau ketemu sama kamu."


" Siapa mas, Wira? tanya Asmi


" Bukan, orangnya ganteng. Mirip bule. Rambutnya panjang... " belum selesai Ardi berucap, Asmi sudah berlari ke ruang tamu.


" Hasyeem! " serunya. Lelaki yang di panggil Hasyeem itu tersenyum ke arahnya.


Ardi datang menghampiri mereka.


" Suruh temanmu masuk, dek. Nggak enak sama tetangga!"


Asmi lalu menyuruh Hasyeem masuk dan duduk di ruang tamu yang sedikit berantakan karena masih dalam tahap renovasi.


" Mas, kenalin. Ini Hasyeem, calon suami Asmi." Asmi memperkenalkan Hasyeem pada Mas Ardi.


" Hasyeem, mas! " kata Pangeran Hasyeem memperkenalkan diri dan menjabat tangan Ardi.


" Ardi! " jawab Ardi singkat. Kedua lelaki itu saling bersitatap. Ardi memperhatikan Pangeran Hasyeem. Lelaki ini sepertinya bukan dari kalangan biasa, pikirnya.


Merasa ditatap oleh Ardi, Pangeran Hasyeem merasa risih. Dia memberi kode pada Asmi untuk memulai berbicara pada Ardi, kakaknya.


" Mas,... ada yang ingin di sampaikan Hasyeem pada Mas Ardi." Ardi menoleh ke arah Hasyeem.


" oh... iya. Ada apa dek.. Katakan saja.!" kata Ardi. Lelaki itu kemudian mematikan televisi dan kini fokus pada Pangeran Hasyeem.


" Begini, mas. Maksud kedatangan saya kemari adalah saya bermaksud ingin melamar Asmi untuk menjadi pendamping hidup saya. menjadi istri saya dan ibu dari anak - anak kami kelak." kata lelaki tampan dari bangsa jin itu dengan mantap.


Sejenak Ardi tertegun dengan ucapan lelaki itu.


" Apakah mas sudah memikirkan masak - masak, niat baik dari mas tersebut. Saya tidak ingin mas dikemudian hari akan menyesal menikahi adik saya dan nantinya akan berakhir seperti sebelumnya.? " kata Ardi dengan serius.


" Maksud mas, apa? "


" Kamu pasti nya sudah faham siapa asmi..! "


" Oh.. kalau itu maksudnya saya sudah faham, mas. Keluarga saya juga sudah tahu dan bisa menerima Asmi."


" Bukan itu saja, kamu pastinya tahu pasti apa sebab mantan suaminya itu menceraikannya, bukan? "


" Iya, mas. Saya sudah tahu dengan sangat jelas. Tapi insyaallah , saya akan ikhlas menerimanya."


Ardi menarik nafas lega. Kini kecemasan dihatinya sedikit hilang, walaupun belum sepenuhnya hilang.


" Baiklah, saya terima lamaranmu. Namun, berjanjilah jika suatu hari kamu tidak menyukainya lagi. Kembalikan dia pada kami dengan baik - baik. Karena kami menyayangi saudara kami itu. Dia sudah cukup banyak menderita."


" Insya Allah, mas. Saya akan selalu berusaha untuk menjadi suami yang akan selalu menyayangi dan mencintai istrinya." kata Hasyeem dengan yakin.


Asmi tersenyum mendengar ucapan kekasih hatinya yang tampan itu.


" Terima kasih, sayang." Pangeran Hasyeem menggengam tangan Asmi dan mengecupnya. Hati Asmi terasa lega dan berbunga-bunga. Dia merasakan juga bagaimana rasanya di lamar oleh lelaki dari bangsa jin.

__ADS_1


__ADS_2