
Aku tidak mati..Aku sekarang tidak bisa mati. Aku abadi... Terima kasih, sayang." katanya sambil berlari memeluk Sang suami. Kemarahan di hati wanita itu yang mengira bahwa Sang suami sengaja ingin membunuhnya langsung hilang.
" Iya, sayang. Kini kamu sudah percaya bahwa kita akan bersama selamanya. Jangan marah lagi."
Asmi mengangguk dan tersenyum bahagia. Dia kini adalah perempuan setengah immortal, pikirnya.
...----...
Catatan Perjalanan Putri Arryan
Pagi hari sekali aku sudah bangun dari tidur dan segera bersiap - siap untuk berangkat ke Bandara. Hari ini, aku dan empat orang mahasiswa kedokteran dari kampusku akan berangkat ke kota Palu. Mereka adalah Tyas, Afdal, Tano, dan Melda. Keberangkatan kami semua adalah dalam rangka melaksanakan KKN di salah satu desa terpencil di kota Palu, Sulawesi Tengah.
Aku sendiri pada awalnya tak menyangka sama sekali jika aku akan memilih desa yang letaknya di Pulau Celebes itu sebagai tempat tujuan KKN. Letak desa itu sungguh sangat terpencil sekali. Bahkan letak keberadaannya saja tak tercantum di dalam peta. Tapi herannya mengapa nama desa itu muncul dalam daftar desa - desa tempat tujuan KKN di list.
Akhirnya, setelah memesan tiket ke Palu, aku dan keempat orang kawanku akhirnya berangkat ke Palu dengan penerbangan pagi pukul 08.15.
Jika mengikuti kegiatan sesuai jadwal, maka lusa adalah hari pertama aku dan teman-teman mulai melaksanakan KKN di desa itu.
Sebelum ke tempat ini, kami sudah memperoleh informasi dari pihak yang terkait tentang lokasi dan tempat KKN kami semua. Lokasinya berada di desa Wentira. Sebuah desa yang sangat terpencil yang terletak di Kabupaten Parigi Moutong, kota Sigi, Palu, Sulawesi Tengah. Konon, desa ini letaknya jauh di pedalaman hutan Donggala dan berada di dataran tinggi. Sampai saat ini, desa Wentira sama sekali belum bersentuhan dengan peradaban karena sulitnya akses masuk untuk menuju ke sana.
Pukul 08.00 tepat aku, Melda, Tyas dan Afdal sudah berkumpul di Bandara. Hanya tinggal menunggu Tano. Selang beberapa saat, Tano akhirnya muncul juga. Cowok blasteran Jepang - Sunda itu setengah berlari mendatangi tempat kami berkumpul.
" Sorry, guys. Aku kejebak macet...! " katanya dengan nafas terengah-engah.
Sesuai jadwal penerbangan, pesawat kami take off pada pukul 08.30.
__ADS_1
Perjalanan Jakarta - Palu memakan waktu sekitar dua jam waktu setempat.
Pukul 11.30, rombongan kami sudah berada di kota Palu. Dari Kota Kendari, ibu kota Palu kami lalu meneruskan perjalanan ke kota Sigi. Rupanya perjalanan belum lagi berakhir karena kemudian masih berlanjut hingga sampai ke kabupaten Parigi Moutong.
Di Sanalah, kehadiran kami sudah ditunggu oleh dua orang pria dan seorang wanita yang katanya utusan dari desa Wentira. Dua pria yang kemudian memperkenalkan diri kepada kami. Pria bertubuh kurus tinggi dan sedikit gondrong itu bernama Taju. Ada tato kepala harimau di tangan kirinya. Pria itu mengenakan koas hitam yang dipadu dengan celana bahan hitam dan kemeja yang sepintas mirip baju silat yang juga berwarna hitam.
Sedangkan pria yang satunya, bernama Sira. Pria itu bertubuh lebih proposional. Tubuhnya lumayan tinggi dengan berat yang aku yakin sangat sesuai dengan ukuran tinggi tubuhnya yang menunjang. Sira terlihat jauh lebih muda dari Taju. Aku taksir usianya tak jauh beda dengan usia kami.
Sedangkan wanita itu, yang kemudian kutahu bernama Kenanga. Wanita yang aneh, menurutku karena semenjak bertemu dengan diriku, dia selalu mengindari aku. Dia seperti enggan untuk berada di dekatku. Aku curiga, apakah wanita itu mengetahui identitas asliku.
Ketiga orang itulah yang kemudian berlaku sebagai pemandu jalan bagi kami berlima.
Di kabupaten Parigi Moutong kami sempat bermalam di sebuah penginapan karena menurut Taju, kami tidak bisa meneruskan perjalanan ke desa Wentira berhubung hari sudah menjelang sore.
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali kami semua sudah bersiap - siap untuk langsung berangkat menuju lokasi.
Setelah menempuh perjalanan panjang kurang lebih delapan jam, maka tibalah kami di sebuah perkampungan kecil di tengah hutan belantara celebes.
Aku adalah yang paling terakhir turun dari mobil. Sedangkan keempat temanku sudah turun lebih dahulu menyusul ketiga orang penjemput kami yang kini sedang berjalan di depan menuju ke sebuah rumah yang ukurannya paling besar.
Rumah itu terletak di tengah - tengah perkampungan yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Menurut data yang kami peroleh, ada sekitar dua puluh tujuh kepala keluarga yang tinggal di desa Wentira ini.
Letak rumah yang satu dengan rumah yang lain agak sedikit berjauhan. Namun ada yang aneh dengan bentuk bangunan di desa ini. Jika umumnya rumah - rumah di desa identik dengan kesederhanaan bangunannya, maka di desa ini, semua hal itu tak bakal kita jumpai. Semua rumah dibangun dengan bentuk dan arsitektur yang sangat indah dan mewah. Dan yang paling indah dan mewah tentu saja rumah yang berada di tengah kampung itu. Rumah kepala desa Wentira.
Aku menatap dengan pandangan takjub ke arah rumah - rumah yang berjajar rapi di kiri kanan jalan yang terbuat dari beton. Di sana bahkan tersedia sebuah mesjid kecil yang sangat indah. Arsitektur mesjid itu bergaya mogul dengan lapisan hijau keemasan pada bagian kubahnya.
__ADS_1
Sedangkan rumah kepala desa adalah rumah yang kami tuju saat ini. Rumah itu berdiri paling megah dengan bangunan bergaya Eropa dan mogul. Halamannya terbentang luas dengan taman bunga yang sangat indah.
Disinilah, kami semua sekarang berada, di rumah kepala desa Wentira.
Dengan perasaan takjub kami semua melangkahkan kaki memasuki halaman rumah kepala desa yang luas dan indah.
Hilang sudah semua di dalam pikiran kami paradigma tentang desa tertinggal yang selama ini menjadi gambaran umum tentang sosok keberadaan desa - desa terpencil di Indonesia, yang ada dalam benak kami sebelum menginjakkan kaki ke tempat ini. Saat ini yang ada dalam pikiran kami semua adalah... Ini adalah surga yang hilang..!
Dari kejauhan, beberapa orang terlihat seperti sedang menanti kedatangan kami. Jujur saja, ada perasaan aneh di hatiku sesaat setelah menapakkan kaki pertama kali di desa ini tadi. Entahlah.. sepertinya aku merasa pulang kembali ke kampung halamanku, yaitu istana Bukit Malaikat.
Akhirnya, kami berhadapan langsung dengan kepala desa Wentira. Pria paruh baya berkulit sedikit gelap dan masih terlihat kuat dan gagah itu berdiri tegak persis di hadapanku. Menatap tajam diriku seolah - olah menelisik jauh ke dalam sanubariku. Dia tersenyum ramah menyambut kedatangan kami semua.
" Selamat datang di desa kami, saudara dan saudari sekalian. Perkenalkan, nama saya Saharuddin. Saya adalah kepala desa Wentira. Kalian boleh memanggil saya dengan panggilan Pak Sahar. Seperti warga desa ini memanggil saya. Selama saudara saudari melaksanakan KKN di desa saya ini, kalian boleh meminta bantuan apa saja kepada kami. Kami semua dengan senang hati akan melayani dan membantu kalian." katanya dengan ramah.
Setelah memperkenalkan diri masing-masing dengan tuan rumah dan beberapa tokoh masyarakat yang kebetulan juga hadir di sana saat itu, kami pun dijamu makan bersama oleh mereka di tempat yang telah mereka siapkan sebelumnya. Mereka sepertinya sudah mempersiapkan acara penyambutan yang cukup meriah untuk kedatangan kami layaknya tamu agung yang harus dihormati.
Yang aku tak habis mengerti, dari mana mereka mendapatkan semua bahan makanan yang terhidang di hadapan kami. Masalahnya... makanan yang terhidang di hadapan kami bukanlah makanan yang umumnya warga desa sajikan untuk para tamu. Namun makanan yang mereka sajikan adalah makanan mewah yang hanya bisa di jumpai di kota - kota besar. Seperti Rendang, ayam bakar dan juga roti dengan berbagai varian rasa. Bahkan buah - buahan seperti buah anggur, buah pir, dan buah apel.
Malam harinya, kami menginap di sebuah rumah yang memang sudah disiapkan untuk kami tempati. Rumah itu terdiri dari satu ruang tamu, dua kamar tidur, dapur dan dua kamar mandi. Yang kembali membuatku heran adalah, mereka juga sudah menyiapkan segala kebutuhan kami selama tinggal di rumah ini.
Aku bertiga dengan Tyas dan Amel menempati kamar di dekat dapur. Sedangkan Tano dan Afdal menempati kamar di depan.
Malam semakin larut. Karena kelelahan, kedua teman sekamarku sudah terlelap terlebih dahulu. Sedangkan aku masih belum bisa memejamkan mata. Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan - pertanyaan seputar kejanggalan yang terjadi di desa ini.
Semakin lama, semakin terasa aneh bagiku. Dari mana mereka memperoleh bahan - bahan untuk membangun rumah - rumah mewah itu. Walaupun ukurannya tidak terlalu besar. Namun, biaya untuk membangun sebuah rumah saja Kutaksir mencapai ratusan juta. Lantas apa pekerjaan masyarakat di desa ini? Mustahil jika mereka hanya berprofesi sebagai petani biasa, bisa membangun rumah - rumah mewah itu. Otakku berpikir keras mencari jawaban semua ini sampai akhirnya aku lelah sendiri dan tertidur tanpa sadar.
__ADS_1
Tengah malam, aku tersentak bangun karena dikejutkan oleh suara keras seperti benda jatuh yang berasal dari luar rumah. Aku bergegas membuka pintu kamar dan setengah berlari menuju keluar rumah.
Aneh sekali, semua temanku masih pulas tertidur di kamar. Mereka semua sepertinya tidak mendengar bunyi apapun. Apa mungkin efek dari rasa lelah akibat perjalanan jauh membuat mereka tidur seperti kerbau.