Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 178 Catatan Perjalanan Arryan ( Part 3 )


__ADS_3

Aku kembali masuk ke dalam kamar. Namun betapa terkejutnya diriku saat sudah berada di dalam kamar. Di kursi meja belajar tempat aku duduk tadi, seseorang sedang duduk di sana menghadap ke arah Laptopku. Dari postur tubuhnya, aku tahu dia pasti seorang gadis yang sebaya denganku.


" Siapa kamu? Mau apa mendatangiku malam - malam begini? " aku bertanya dengan hati - hati. Aku tahu bahwa yang sedang duduk di hadapanku saat ini bukanlah manusia.


" Dia....... membunuh kami....."


Jantungku seakan berhenti berdetak. Siapa yang dimaksud dengan 'dia' oleh gadis itu.


" Dia? dia.. siapa? " Aku bertanya dengan suara bergetar. Jujur saja, bukannya aku takut dengan gadis itu, hanya saja, ucapannya tadi sungguh membuat aku merasa cemas akan nasib teman - temanku saat ini. Lagi pula, aku masih tak tahu siapa yang dimaksud dengan 'Dia' oleh gadis itu.


Gadis itu tak menjawab perkataan Arryan. Dia berdiri masih dengan posisi membelakangiku.


" Dia...., membunuh kami.... dia telah membunuh kami.... dia telah membunuh kami.....!!! " teriak gadis itu dengan suara yang melengking tinggi lalu kemudian lenyap, menghilang begitu saja dari hadapanku.


Aku terkesiap setelah melihat gadis itu hilang dari hadapanku. Sungguh, aku jadi benar-benar mencemaskan ketiga orang temanku itu.


Suara ketukan di pintu membuat aku tersadar kembali dari keterkejutan dan lamunanku.


" Arryan, tolong bukain pintunya, dong! " Itu suara Melda.


Bergegas aku melangkah ke ruang tamu dan membukakan pintu untuk ketiga temanku.


" Kok, kalian baru pulang jam segini? " tanyaku pada ketiganya.


" Iya, Pak Sahar meminta kami untuk tinggal sambil bermain domino. Seru juga, sih. Main domino sambil minum tuak. " kata Tano.


Memang aku mencium aroma minuman itu saat tadi membuka pintu untuk mereka.

__ADS_1


" Kalian minum tuak? Astaga..... kalian ini gimana, sih? Besok loh kita masih ada kegiatan di desa Padang Alas." aku mengingatkan mereka tentang rencana esok hari.


" Tenang, Arryan. Kita masih bisa pergi, kok. Dah, yah.. kami mau tidur dulu. " kata Tyas sambil menarik Tano masuk ke dalam kamar. Sekilas aku melihat Afdal yang sudah tertidur di kasur cadangan yang ada di lantai.


" Ya, udah.. Aku juga mau lanjut tidur lagi." kataku sambil menutup pintu dan menguncinya rapat - rapat. Setelah memastikan bahwa semua sudah aman, aku melangkah masuk ke kamar menyusul Melda. Aku langsung merebahkan diri di ranjangku hingga tak. lama kemudian aku dan Melda sudah tenggelam di alam mimpi.


...-------...


" *Jangan bunuh kami...... "


" Tolong....... tolong......... jangan bunuh kami....! Tolong....! Tolong*.....! "


Sret....!!! satu tebasan parang dileherku membuat semua menjadi hitam. Lalu hilang......


Aku terbangun dengan nafas tersengal - sengal. Leherku terasa panas dan tenggorokan terasa sakit sekali. Masih kurasakan betapa tajam parang itu menebas leherku. Rasa sakit dan panas menjadi satu hingga nafasku serasa putus. Aku bermimpi.... Oh Astagfirullah.... Mimpi itu terasa sangat.. sangat nyata sekali. Juga sangat mengerikan untuk diingat.


Tak lama kemudian.... beberapa orang memasuki tempat itu dengan menenteng senjata tajam berupa parang panjang. Setelah itu... yang terdengar hanyalah jeritan pilu yang memohon agar tak di bunuh yang menyayat hati bercampur dengan jerit kesakitan. Lalu setelah itu lenyap dan sunyi. Ada darah..... dan darah ..... Darah berhamburan di mana-mana. Bagian - bagian tubuh yang terpotong - potong. Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengerikan.


Aku terbangun dalam keadaan menangis terisak - isak dengan nafas yang tersengal - sengal.


" Arryan, are you okay? " Melda bertanya kepadaku. Dia menatapku dengan pandangan heran.


" Yeah.... I am okay. Aku hanya bermimpi buruk. " jawabku. Aku bergegas meraih handphone dan membuka layarnya. Pukul 08.00.


" Melda.... kayaknya kita telat. Ayo buruan, kita harus segera ke Dusun Padang Alas. " ucapku pada Melda yang kulihat sudah kembali menarik selimut.


" Kayaknya sih, nggak jadi. Kata Tano di undur besok. Soalnya hari ini ada kegiatan di desa ini." katanya dari balik selimut.

__ADS_1


Keningku berkerut mendengar perkataan Melda. " Kegiatan? Kegiatan apa, Mel? " tanyaku penasaran.


" Entahlah... tapi kata Tano, sih. Upacara penyerahan kurban oleh penduduk desa untuk para dewa atau semacamnya, gitu. Aku juga kurang faham, Arryan. " kata Melda.


" Ya, udah. Kalau gitu sebaiknya kita siap - siap saja. Siapa tahu, mereka membutuhkan bantuan kita." Melda tak menjawab. Sepertinya dia sudah kembali tertidur. Aku kemudian memutuskan untuk segera mandi dan bersiap - siap.


Aku dan kawan - kawan berbaur dengan penduduk desa, bekerja sama saling tolong menolong dalam mempersiapkan upacara kurban yang akan diadakan besok, bertepatan dengan malam satu suro.


Sebenarnya aku dan teman - temanku agak sedikit heran. Apa tujuan dari upacara tersebut. Namun, kami semua ingat pepatah orang tua yang mengatakan bahwa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Artinya kami harus menghormati adat dan istiadat orang lain dimana pun kami berada. Jadi tanpa banyak tanya, kami membantu dengan sikap riang dan terbuka.


Waktu berlalu tanpa terasa. Siang sudah beranjak sore, lalu merangkak menuju malam. Setelah lelah seharian membantu para warga desa Wentira yang sedang mempersiapkan Upacara Adat Ngurban, kami pun kembali ke rumah setelah makan malam di rumah kepala desa.


Malam hari, pukul 11.23...


Aku menguap sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Lelah sekali kurasa setelah selesai menulis laporan di laptop tentang agenda kegiatan kami selama berada di desa ini. Tiada terasa sudah hampir sebulan kami berada di desa ini. Waktu kami hanya tinggal beberapa hari lagi. Jadi, kami diburu waktu untuk menyelesaikan agenda dan juga laporan.


Melda sudah selesai dari tadi. Untuk masalah pekerjaan, kuakui, gadis itu bekerja dengan cepat dan akurat. Dia juga gadis yang sangat cerdas dan mudah bergaul. Tak heran, banyak pemuda di kampus yang suka dengan gadis itu.


Lampu pelita di kamarku berkedap - kedip lalu kemudian menyala kembali. Namun, sesaat kemudian lampu tersebut sudah benar-benar padam kembali. Aku menatap heran. Harusnya memang lampu ini sudah lama mati. " Minyaknya sudah habis. " kata Afdal.


Akhirnya aku memutuskan untuk segera pergi tidur. Aku tidur mengikuti melda yang sudah lebih dulu beranjak ke pulau kapuk. Dasar kebo..! makiku saat ini sambil menarik selimutku. Selanjutnya aku juga tidur seperti melda karena aku sudah merasa mengantuk dan lelah.


" Putri Arryan.... putri... bangunlah..! " seseorang menyentuh bahuku. Tangannya yang sedingin es membuat aku mau tak mau terpaksa membuka mata untuk melihat siapa yang telah membangunkan diriku.


" Andros... ? Apa yang kamu lakukan di sini? " Aku bertanya karena kaget mendapati pemuda tampan jelmaan jin itu di kamarku.


" Cepat tinggalkan tempat ini.... Kamu dan teman - temanmu dalam bahaya.. "

__ADS_1


__ADS_2