Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 62 Apakah Aku tidak Pantas Untukmu?


__ADS_3

Asmi memutuskan untuk menginap di Rumah budenya sambil membantu budenya untuk merawat Bagas. Balita itu terlihat sangat dekat dengan Asmi, sehingga Asmi menjadi tak tega untuk meninggalkan Bagas apalagi dalam keadaan sakit seperti sekarang.


" Asmi, sudah malam. Tidurlah! kamu butuh istirahat. Seharian ini kamu sudah mengasuh Bagas . Sekarang istirahat dulu! " kata Bude.


Bude mengambil Balita lucu itu dari gendongan Asmi. Bagas rupanya sudah tertidur sejak tadi dalam gendongan Asmi.


Asmi menghela nafas panjang. Sedih rasanya melihat Bagas yang sakit tanpa adanya sentuhan seorang ibu yang biasa merawatnya. Sedari lahir Bagas sudah ditinggal oleh ibunya.


"sst, cup.. cup... bobo ya cah bagus!" bisik bude sambil mengelus pelan punggung Balita itu ketika dia terjaga untuk sesaat karena perpindahan tubuhnya dari Asmi ke neneknya.


" Bude, Asmi istirahat ke kamar dulu!" pamit Asmi. Bude mengangguk sambil membawa Bagas ke dalam kamar.


.


" Hai, lagi ngapain? 😍😍."


Sebuah pesan masuk melalui aplikasi Whatsapp. Tak ada nama pengirimnya. Asmi mengernyitkan alisnya tanda tidak ingat atau tidak mengenal siapa yang telah mengiriminya pesan whatsapp.


" Kok nggak dijawab? 😔😔" kembali pesan dari nomor yang sam masuk ke nomor whatsapp Asmi.


Asmi melihat dua isi pesan tersebut dengan heran. Siapa sih orang iseng yang sok kenal bangett dengannya.


Namun Asmi memilih untuk tidak menghiraukan isi pesan tersebut. Dia akhirnya menekan aplikasi game di hapenya dan mulai bermain game online kesukaannya.


Bluss! sesosok bayangan nampak lewat sekelebat di hadapannya. Asmi melongo heran. Itu tadi yang lewat sekelebat apa bukan sang kekasih. Mengapa Hasyeem berlalu begitu saja? Apa dia sedang marah sama aku?, pikir Asmi.


Sumpah, Asmi dibuat penasaran bayangan siapa tadi yang lewat di hadapannya. mustahil jka itu kekasihnya, karena jika iya, pasti dia menghampiri Asmi. Tapi jika bukan, lalu bayangan Siapakah itu?


Asmi bergegas melangkah ke luar. Dia masih penasaran, kemana perginya bayangan tadi. Di teras rumah budenya, Asmi celingukan ke sana ke mari untuk mencari bayangan tadi.


' Kemana bayangan tadi pergi? cepat sekali menghilangnya."Asmi bergumam sendiri di teras depan rumah budenya.


Karena tak menemukan apa yang dicarinya, Asmi memutuskan untuk balik lagi ke kamarnya. Namun alangkah terkejutnya Asmi saat akan berbalik masuk ke dalam, sebuah suara halus menegurnya.

__ADS_1


" Anda mencari saya? " Asmi menoleh ke asal suara dan mendapati sesosok wanita cantik memakai kemben merah berdiri menatap Asmi dengan pandangan datar. Wanita itu berdiri tegak di halaman rumah budenya. Agak sedikit menjauh dari posisi Asmi berdiri saat ini.


Asmi terpesona memandangi kecantikan wanita itu. Cantik sekali... batinnya. Asmi langsung merasa rendah diri ketika membandingkan dirinya dengan wanita itu.


" eh, tidak. Saya hanya merasa heran dan penasaran Siapakah anda yang saya lihat tadi sekelebatan di dalam kamar. "jawab Asmi lagi.


Wanita itu memandangi Asmi dengan raut wajah sedikit heran. " hm, sama. Aku juga merasa heran, ternyata ada manusia yang bisa melihat kehadiranku." kata wanita yang memakai kemben merah itu.


Dia memandang Asmi dari ujung kepala hingga kaki. Lalu pandangannya beralih ke cincin bermata safir biru yang melingkar di jari manis Asmi.


" hm, rupanya kamu memiliki batu bermata safir biru. Pantas saja kamu bisa melihatku." kata wanita itu.


" Hm, iya.. Aku baru ingat, selain bisa membawaku ke manapun, cincin ini bisa membuat aku bisa melihat sosok yang tak kasat mata."ujar Asmi membenarkan perkataan wanita itu.


" apakah kamu tahu, makhluk seperti apa aku? ' tanya wanita itu dengan sorot. mata yang menyiratkan keingintahuan.


Asmi menggelengkan kepalanya.


"hahaha, hampir benar! tapi masih salah. Yang benar kami adalah bangsa siluman kera penghuni Hutan Larangan. Namaku Nyi Kedasih." jawab Nyi Kedasih seraya memperkenalkan diri pada Asmi.


Asmi menelan ludah sesaat setelah dia mengetahui makhluk seperti apa wanita ini.


" si.. siluman. Kamu siluman? " tanya Asmi dengan wajah tak percaya. Dia baru tahu, ternyata bangsa siluman bisa berwujud sebagai manusia.


"Iya, aku adalah sebangsa siluman. Tepatnya siluman kera.!" jawab Nyi Kedasih seraya bergerak maju mendekati Asmi.


" Apakah ini wujud aslimu?" tanya Asmi.


"Bukan. Ini bukan wujud asliku. Kami bebas untuk menyerupai seseorang. Sama seperti bangsa jin, kami juga bisa merubah wujud kami sesuka hati. Namun yang berbeda adalah wujud asli kami. Tubuh kami lebih menyerupai bentuk tubuh hewan namun dalam bentuk yang agak ganjil." kata Nyi Kedasih sambil terus melangkah maju makin mendekat ke arah Asmi.


Asmi mundur beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya menabrak pintu dan nyaris saja jatuh terjerembab. Beruntung sebuah tangan yang kokoh menahan tubuhnya hingga dia tak terjatuh.


" Sayang, Hati-hati!" Asmi mendongak menatap wajah Hasyeem. Wajah yang tampan itu tersenyum seraya menggenggam erat tangannya.

__ADS_1


" Owh, menariknya. Ternyata selain kamu bisa melihat makhluk tak kasat mata seperti kami, kamu juga memiliki kekasih yang bukan dari golongan bangsamu.! "seru wanita itu. Ada nada mengejek dalam nada suaranya.


Hasyeem berbalik menatap ke arah Nyi Kedasih. Seketika senyum di wajah Nyi Kedasih lenyap berganti dengan ekspresi ketakutan.


" Yang Mulia Pangeran Hasyeem!" serunya tertahan. Antara tidak percaya dan takut menjadi satu.


Apa dia tak salah lihat, pikir Nyi Kedasih. Benarkah kekasih wanita ini adalah Pangeran Hasyeem. Dia tampak terkejut sekali.


Bagaimana mungkin seorang Pangeran dari bangsa jin dan Putra Penguasa Gunung Kahyangan dan Penguasa Bukit Malaikat, memiliki hubungan dengan seorang wanita dari bangsa manusia. Dan setahu dia, dari kabar angin yang dia dengar, Pangeran Hasyeem sudah bertunangan dengan Putri Azylla, yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.


" Benarkah ini anda, tuan. Tapi bukankah tuan.... eh tidak. Maksud hamba, hamba pikir Tuan akan menikah dengan tuanku Putri Azylla. Wanita ini dari bangsa manusia biasa..Apakah pantas jika tuanku Putri Azylla harus di sandingkan dengannya?" kata Nyi Kedasih dengan ekspresi kurang senang yang tertangkap jelas di raut wajahnya.


" Apa hakmu mencampuri urusanku?" tanya Pangeran Hasyeem pada wanita itu dengan nada yang tidak suka.


" Maafkan hamba yang telah lancang berkata demikian hingga menyinggung perasaan yang Mulia Pangeran Hasyeem. Sungguh hamba tidak tahu jika wanita itu adalah kekasih dari Tuanku." jawab Nyi Kedasih dengan ekspresi ketakutan yang tampak jelas sekali.


" Dia bukan hanya kekasihku, tapi calon ratu di istanaku. Mengerti, Nyi Kedasih?" tanya Pangeran Hasyeem dengan ekspresi dingin dan datar.


Wajah Nyi Kedasih berubah menjadi merah dan salah tingkah. Dia nyaris terpekik tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


" Mengerti, tuanku." jawab Nyi Kedasih sambil tertunduk malu. Aihh.... sialnya dia. Tak pernah dia mimpikan bahwa hari ini dia akan bertemu dengan bangsa manusia yang menjadi kekasih tuannya dan kelak nanti akan menjadi ratu dari bangsa jin.


" pergilah dari sini, aku mengampunimu!" kata Pangeran Hasyeem.


Segera setelah mendengar Sang Pangeran berkata demikian, Nyi Kedasih pergi dari tempat itu.


Pangeran Hasyeem menghampiri Asmi yang masih terdiam terpaku. Ada air mata yang lolos dari kedua sudut bening netranya.


" Hei, kenapa menangis? Sudahlah.. jangan kamu ambil hati perkataan Nyi Kedasih. Dia mengatakan hal itu karena dia adalah pengikut dari Putri Azylla." kata Pangeran Hasyeem.


Asmi terduduk menyandar di pintu rumah budenya.


" Apakah sedemikian hinanya aku, hingga tak pantas untuk menjadi kekasihmu, Pangeran? " tanya Asmi dengan wajah sendu.

__ADS_1


__ADS_2