Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 125 Season 2


__ADS_3

Readers yang Budiman, karya Author yang berjudul " Suami Keduaku Pangeran Jin versi Asmi dan Pangeran Hasyeem sudah selesai.


Di bab - bab berikutnya, adalah Suamiku Pangeran Jin season kedua. Di season kedua ini, Author akan menceritakan tentang kehidupan Putra dan putri mereka yaitu Pangeran Alyan, Pangeran Azzura dan juga Putri Arryan.


Semoga Readers yang Budiman merasa terhibur dengan novel aku ini. Mohon masukan dan dukungan dari para readers dan juga jangan lupa likenya. Salam manizz selalu dari Author Mina.


Sudah beberapa bulan sejak peristiwa besar yang sudah di gariskan dalam ramalan terjadi. Kehancuran Gerbang pintu neraka, yaitu Gerbang Oreon.


Gerbang oreon hancur oleh pedang Naga Jiwo milik Alyan yang menandai hancurnya kekuasaan Hades, sang penguasa kegelapan.


Luna memutuskan tinggal sementara di mansion sang Ayah, membantu sang Ayah menata kembali keadaan yang sempat porak poranda dalam beberapa bulan terakhir. Baru beberapa bulan kemudian dia kembali ke Bukit Duri, untuk menemui Amirah, sang ibu.


Sedangkan Alyan, ikut Ayahnya Pangeran Hasyeem ke Bukit Malaikat. Pangeran Hasyeem saat ini sedang sibuk dengan sang ratu yang sedang hamil.


Asmi sedang hamil anak mereka yang ke empat. Masa kehamilannya sekarang sudah memasuki fase trimester ke dua. Di usia kandungannya yang memasuki bulan ke enam, banyak sekali permintaan dari sang ratu. Namun, pangeran Hasyeem dengan sabar terus saja melayani keinginan sang ratu.


" Kanda, rusanya berlari kearah selatan!" seru Azzura sambil membelokkan kudanya ke arah Selatan.


Pagi itu, ketiga putra putri pangeran Hasyeem sedang berburu bersama. Mereka berburu di sekitar hutan di kaki bukit Malaikat, di sekitar Hutan Larangan.


Hari sudah semakin siang, namun sampai mereka jauh masuk ke dalam hutan tak ada satu pun hewan buruan yang mereka temui.


Sampai suatu ketika, mereka melihat seekor rusa yang melintas. Mereka segera mengejar rusa tersebut yang berlari ke arah selatan.


Azzura membidikkan anak panahnya dan mengarahkannya tepat kearah rusa tersebut dan.... Jleb!! Anak panah Azzura berhasil mengenai sasaran.


" Yeahhh. .kena! aku berhasil mengenainya, Kanda! " seru Azzura gembira.


Rusa itu rubuh dengan tubuh tertancap anak panah dari Azzura.


Segera ketiganya turun dari kuda mereka dan berjalan mendekati rusa tersebut.


Namun, saat mereka sudah berada di dekat buruannya. " Aaummm, ggggrrrrrhhh! " sebuah aumman dari seekor raja hutan terdengar dekat sekali dengan tempat mereka berada.


Ketiganya mundur beberapa langkah ke belakang. Azzura bergerak perlahan mengeluarkan anak panah dari kantong senjata di balik punggungnya. Bersiap untuk membidikkan panahnya ke arah raja hutan yang kini sudah berdiri beberapa meter jaraknya dari mereka bertiga.

__ADS_1


" Auummm, rusa ini milikku, karena Akulah yang telah menemukannya terlebih dahulu! "


Harimau itu mengaum dan berbicara pada ketiganya. Tentu saja ketiganya menjadi kaget bukan kepalang. Ada harimau yang bisa berbicara di hadapan mereka.


" Siapakah kisanak ini? " tanya Alyan yang merasa penasaran dengan keberadaan harimau yang bisa berbicara tersebut.


Harimau tersebut terdiam. Dia menatap tajam ke arah Alyan. Lalu... tiba-tiba, harimau tadi berubah wujud menjadi seorang gadis.


Ketiganya semakin terkejut. Harimau itu bisa berubah wujud menjadi seorang gadis. Gadis itu sangat cantik dengan rambut panjang berwarna kuning. Mata gadis itu sama dengan mata seekor harimau dan memiliki taring kecil yang menyembul dibalik kedua bibir tipisnya yang mungil.


" Namaku Ambika, aku adalah putri dari raja Siluman Harimau Putih dari Hutan Tabut. Kerajaan ayahku disebelah Timur Hutan Larangan ini." katanya menjelaskan asal usulnya.


" Maafkan kami, Nona Ambika. Tapi rusa itu adalah milik kami. Salah satu panah saudara kami mengenai rusa itu." Kini Azzura yang angkat bicara mengenai rusa hasil buruan mereka.


Ambika menatap ke arah Azzura, lalu tersenyum sinis.


" Heh, jangan seenaknya bicara, kisanak. Hewan di tempat ini semua adalah milikku. Dan lagi pula, walaupun panahmu sudah berhasil mengenai tubuh rusa itu, tapi akulah yang lebih dahulu menemukannya. Aku lebih dekat dengan rusa itu dari kalian semua! " serunya dengan lantang.


" Bagaimana semua hewan yang ada di tempat ini adalah milikmu, sedangkan ini adalah wilayah kerajaan milik ayahku, Pangeran Hasyeem! " jawab Azzura tak kalah lantangnya. Dia merasa kesal karena merasa miliknya telah di ambil orang lain.


Alyan menelisik keadaan di sekitarnya. Memang benar. Rusa buruan mereka bukan berada di wilayah hutan larangan. Rupanya tanpa mereka sadari, rusa itu berlari kearah Hutan Tabut.


" Maafkan kelancangan kami, nona Ambika. Kami tidak menyadari Kalau kami sudah memasuki hutan di wilayah kekuasaan ayahmu. Kalau begitu silakan ambil rusa tersebut! " kata Alyan melerai pertikaian antara Azzura dan Ambika.


" Tidak bisa begitu, kanda. Rusa itu milikku. Aku yang berhasil membunuhnya. Mengapa harus gadis itu yang mendapatkannya! " seru Azzura yang tidak terima jika hasil buruannya diserahkan begitu saja pada Ambika.


" Dinda, sudahlah. Kita yang salah karena memasuki wilayah orang lain! " kata Alyan dengan bijak.


" Sudahlah, kanda. Lain kali, kita bisa mendapatkan hewan yang lain lagi. Ayo kita pulang saja. Hari sudah menjelang sore! " ajak Arryan. Dia juga berusaha membujuk sang kakak yang tampaknya sangat kesal terhadap gadis yang bernama Ambika itu.


Akhirnya ketiganya pun mohon diri dan segera pulang kembali ke istana karena hari sudah semakin sore.


...---...


Luna sudah kembali ke istana Bukit Duri. Dia senang karena bisa bertemu lagi dengan sahabat - sahabatnya yang lama dia rindukan.

__ADS_1


Terlebih lagi dengan Alyan. Dia sangat merindukan pemuda tampan berambut merah itu.


Masih terekam jelas dalam ingatannya, hari dimana dia terluka parah di bahu akibat sabetan pedang bermata dua milik Hades yang sangat tajam. Luna hampir saja mati karena kehabisan banyak darah.


Alyan dengan sekuat tenaga berlari membawa tubuh Aluna yang semakin lemah ke kediaman Ki Anom.


Beruntung sekali, nyawa Aluna berhasil diselamatkan. Akhirnya setelah dirawat beberapa hari oleh Ki Anom, keadaan Luna berangsur-angsur membaik.


Sehari sebelum kepulangan Luna ke Mansion ayahnya di Australia, pemuda itu datang menemuinya.


" Apakah kamu jadi ikut bersama ayahmu ke Australia? tanya Alyan.


" Iya, aku mau membantu ayahku dulu untuk membenahi keadaan disana." jawab Aluna. Dia menunduk tak berani bertatapan langsung dengan Alyan.


Pemuda itu kemudian meraih tubuhnya dan membawanya ke dalam pelukannya.


" Jangan pergi lama-lama dan cepatlah kembali! " bisiknya.


Aluna menganggukkan kepalanya dalam pelukan Alyan. Keduanya kemudian berciuman. Canggung namun mesra dalam diam.


Di sebuah bukit yang tinggi, sepasang muda - mudi sedang duduk berdua di bawah pohon ara. Keduanya sedang bersama - sama menikmati pemandangan matahari terbenam.


Pemandangan dari atas bukit yang terletak di tepi hutan Larangan itu sangat indah dan menakjubkan.


" Luna, Bagaimana kabarnya keadaan ayahmu di sana? " tanya Alyan sesaat setelah keduanya terdiam untuk beberapa lama.


" Ayahku baik - baik saja. Kemarin dia datang ke bukit duri dan memboyong ibu dan adikku ke Australia." jawab Aluna.


" Hmm, apakah kamu berniat untuk menyusul mereka? "


" Mungkin, tapi aku belum memutuskan sekarang. " jawab Luna.


Saat keduanya sedang asyik bicara, sebuah sinar berwarna putih kebiruan lewat dan melintasi keduanya.


Alyan berdiri saat mengetahui bahwa yang melintasi mereka sebelumnya tadi bukanlah makhluk yang berasal dari jenis bangsa ayahnya....

__ADS_1


Siapa yang melintas tadi....??


__ADS_2