Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab . 51 Viola


__ADS_3

Lelaki paruh baya itu menatap sendu sebuah nisan yang bertuliskan nama 'Viola Nugraha'. Ada kesedihan yang mendalam dalam sorot matanya.


" Viola, papa janji, papa akan membalaskan setiap tetesan air mata dan penderitaan yang kau alami. Akan papa buat mereka menderita karena telah membuat cucuku terlahir tanpa ayah dan menjadi yatim setelah lahir! " katanya sambil mengepalkan tangannya.


Ada kebencian dan dendam kesumat dalam dadanya. Menggerogoti jiwanya yang sudah semakin ringkih termakan dendam dan usia.


Masih terpajang jelas dalam ingatannya putrinya tersayang harus meregang nyawa sesaat setelah melahirkan karena komplikasi yang di deritanya. Anaknya itu lebih memilih mempertahankan janin hasil buah cintanya dengan lelaki bajingan itu ketimbang menggugurkannya.


Yang dia sesali, mengapa dia terlambat untuk mengetahui dan bertindak. Padahal dia bisa saja menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk menyeret dan memaksa lelaki bajingan itu agar mau bertanggung jawab pada perbuatannya yang menyebabkan viola hamil.


Dia juga menyesali, mengapa viola tidak mau terbuka padanya. Mengapa violanya merelakan lelaki bajingan itu menikah dengan perempuan lain. Dan anaknya yang cantik dan lembut itu yang harus berkorban. Violanya tersayang... anaknya itu bahkan tak memberitahukan lelaki itu dan juga dia, ayahnya tentang kehamilannya. Anaknya itu lebih memilih menyembunyikannya dan menyembunyikan diri darinya dan dari dunia luar.


Sampai akhirnya dia menemukannya. Dia menemukan putrinya yang terseok-seok berjalan dengan semua penderitanya.


Namun malang baginya, semua sudah terlambat. Putri tersayangnya yang selama ini hidup dalam penderitaan selama masa kehamilannya, pergi.... pergi untuk selamanya sesaat setelah menyerahkan bayi mungil itu padanya dan meminta maaf karena belum bisa memberikan kebahagiaan untuk sang Ayah.


Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ada setetes air bening yang jatuh dari sudut matanya. Perlahan di letakkannya sebuket mawar putih di atas pusara putrinya itu lalu pergi berlalu begitu saja tanpa ada lagi sepatah kata.


Seorang lelaki yang sudah berumur dan berpakaian rapi membukakan pintu mobil untuknya dan tanpa berkata apapun juga lelaki itu menjalankan mobilnya keluar dari area pemakaman itu.


" Sasaran kita lolos, Tuan. Dia selamat! " lapornya pada lelaki paruh baya itu.


" hm, biarkan saja, Pak Han. anggaplah ini peringatan untuknya. Dan sebentar lagi laki-laki itu juga akan mendapatkan bagiannya.! " jawab lelaki paruh baya itu dengan dingin.


Lelaki yang di panggil Pak Han itu manggut - manggut kemudian pandangannya kembali pokus pada jalanan yang mereka lalui.


Sementara itu, Asmi yang di nyatakan sehat dan tidak memiliki mengalami cedera apa - apa, kini sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


Mirna meminta kakaknya itu untuk menginap saja di rumahnya sambil beristirahat, namun di tolak mentah - mentah oleh Asmi yang lebih memilih kembali ke rumahnya.


Bukan apa-apa, dia sudah rindu sama babang Hasyeem. Lama tak di belai... Kalau di rumah Mirna dia tak bisa bebas untuk bermanja-manja pada pangeran jin yang tampan itu.


Di kamarnya, Asmi yang baru saja hendak membuka baju menjadi urung karena kaget dengan kemunculan Hasyeem yang tiba-tiba.

__ADS_1


" Hasyeem, aku sudah berapa kali bilang kalau muncul jangan suka tiba-tiba! " salaknya galak pada lelaki tampan jelmaan jin itu.


" ups!, maaf. aku kelupaan!" katanya sambil berbalik memalingkan wajahnya ke arah lain.


" mengapa cuma berbalik, sana cepat menghilang! " suruh Asmi. Dia mau membuka seluruh pakaiannya sedangkan jin sableng itu masih berdiri di sana.


Jleb!! Hasyeem lenyap seketika. Asmi menarik nafas lega kemudian melanjutkan kegiatannya melepas seluruh pakaian dan segera menyambar handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya lalu bergegas ke kamar mandi.


Namun langkahnya mendadak terhenti. Keningnya berkerut.


" Seperti ada yang aneh? tapi apa, ya? " pikir Asmi. Asmi mengamati keadaan sekeliling dapur dan kamar mandi.


" sejak kapan di dapur dan kamar mandinya ada orang? " tanyanya. Dia tak jadi masuk ke kamar mandi dan urung untuk melanjutkan niatnya untuk mandi.


Dia malah kini berjalan menghampiri dan bertanya pada laki-laki yang kini sedang merenovasi dapurnya.


" permisi, pak. Bapak sedang apa di sini? " tanya Asmi pada lelaki yang sedang sibuk bekerja itu.


" eh, neng Asmi. Loh... bukannya kemarin neng sendiri yang datang ke rumah saya, bilang minta tolong mau renovasi dapur dan kamar mandi? " kata laki-laki itu dengan mimik wajah keheranan.


" astaghfirullah, neng Asmi habis di tabrak orang? apakah ada yang luka? dimana yang luka dan terasa sakit, neng? " tanya lelaki itu prihatin.


" nggak papa, kok pak. tidak ada yang luka. Hanya motor Saya saja yang rusak! " jawab Asmi.


" oh, syukurlah kalau begitu. Bapak kira neng Asmi kenapa napa, gitu! " kata laki-laki itu dengan tulus.


Asmi terharu mendapati perhatian tulus dari laki-laki tetangganya itu.


" jadi beneran ya, pak. Saya datang ke rumah Bapak, kemarin? " Laki-laki itu hanya mengangguk mengiyakan Sambil memandang rekan kerjanya yang hanya bisa bengong karena tak tahu masalah sebenarnya.


" Ya udah lanjutkan saja kerjanya, pak. Saya mau ke dalam dulu. "


Di dalam kamarnya Asmi dengan berbisik-bisik memanggil Hasyeem untuk datang padanya.

__ADS_1


" Hasyeem! Hasyeem! datanglah cepat! " bisik Asmi dengan tidak sabaran. Dia memang sedang gemas dan tidak sabar ingin menjitak kepala jin tampan itu karena sudah lancang menyamar menjadi dirinya dan meminta tetangganya agar merenovasi rumahnya.


" apa sih, sayang. kamu teriak - teriak memanggilku? " tanya Hasyeem setelah muncul di hadapan Asmi.


Dengan tanpa babibu, Asmi langsung menangkap lengan jin tampan itu dan menarik telinganya dengan gemas.


" Aduhhh, ... sakit sayang. ini kenapa kamu jewer kuping aku, sih? aku salah apa? " tanya Hasyeem dengan mimik tanpa dosa.


" masih nanya lagi apa salah apa, salah apa.! " kata Asmi sambil memonyongkan bibirnya. Hasyeem yang melihat itu langsung menjadi gemas.


Dia menangkap wajah Asmi dan langsung mencium bibir itu tanpa persetujuan yang empunya. Asmi yang kesal pada Hasyeem makin bertambah kesal.


" lepasin, aku belum selesai bicara!" kata Asmi dengan mata mendelik.


" hm, iya. Bicaralah... kamu mau ngomong apa? " tanya Hasyeem dengan mimik wajah yang di buat seserius mungkin.


" siapa yang menyuruh menyamar menjadi aku dan menyuruh pak Taufik buat merenovasi dapur dan kamar mandi aku? " tanya Asmi. gayanya mirip dengan detektif yang sedang melakukan interogasi.


" eh, iya. itu aku,sayang.maafkan aku karena aku liat kamar mandi kamu itu sudah tidak layak pakai. Entar kalo ada yang ngintip kamu saat sedang mandi, gimana? " jawab Hasyeem mengemukakan alasannya.


" iya, emang kamar mandinya sudah jelek, tapi aku kan belum punya uang. Entar gimana bayarnya? " keluh Asmi. Dia kesal karena kekasihnya itu tidak bilang dulu padanya. Sekarang dia bingung bagaimana caranya mau bayar biaya tukang dan material.


" lah, kenapa kamu bingung, sayang. Semua sudah aku bayar. Aku sudah menyuruhnya menghitung semua biaya renovasi dapur dan kamar mandi sama biaya tukang. Setelah selesai aku langsung memberinya uang kas. " kata Hasyeem.


Asmi langsung diam. Dia tak bisa ngomong lagi. Rupanya pangeran Hasyeem yang tampan ini sudah menyelesaikan semuanya.


" oh, iya. kalo gitu aku harus gimana?" tanya Asmi.


" Nggak ada. Awasi saja pekerjaan mereka. Kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu tinggal bilang saja pada pak Taufik." kata Hasyeem kemudian.


Laki-laki jelmaan jin itu kemudian menghilang dari hadapan Asmi.


Tinggallah Asmi yang terdiam mengawasi pak Taufik yang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya merenovasi dapur dan kamar mandi Asmi.

__ADS_1


Asmi jadi mulai jenuh. Dia mau ke toko, tapi nggak ada kendaraan. Motor Mirna yang biasa dia pinjam, sekarang sedang rusak karena kecelakaan kemarin.


"Hasyeem kemana, sih? "tanya Asmi kesal.


__ADS_2