
Waktu berjalan tanpa terasa, begitupun juga dengan kehidupan pangeran Hasyeem dan Asmi, serta anak - anak mereka. Putri Arryan sudah kembali beraktivitas seperti biasa setelah peristiwa yang terjadi di Desa Wentira beberapa waktu yang lalu.
Pukul 17.00, Putri Arryan berjalan menuju halaman kampus. Hari ini dia tak ada praktek di rumah sakit, jadi dia memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah kostnya.
" Arry.... " Putri Arryan tertegun. Dia hapal sekali suara itu. Setelah sekian lama dia tak mendengar panggilan itu.
Iya, sejak peristiwa itu, Dia dan Keanan tak pernah lagi bertemu. Walaupun satu kampus. Beruntung sekali dia karena sudah dua semester ini, Keanan tak lagi menjadi dosennya. Karena tak ada mata kuliah itu di dua semester ini.
Putri Arryan menoleh dan mendapati Keanan berdiri tak jauh di belakangnya. Pemuda tampan itu tampak sedikit agak kurusan, Namun itu tidak mengurangi kadar ketampanannya. Ada yang berdesir di hati Putri Arryan saat melihat senyum Keanan. Ya Tuhan.. .. ternyata waktu sekian lama tak bisa membuang rasa itu di hatinya. Dia masih saja mencintai pemuda ini.
" Hai, kak Keanan. Apa kabar? " Putri Arryan berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja, walaupun hatinya berdebar - debar tak karuan.
" A.. aku baik saja. Kamu gimana? "
" Yah.. seperti yang kakak lihat. Aku juga baik - baik saja. " jawabku.
" Arry.... lama tak bertemu. Aku mencari - carimu. Tapi, sepertinya kamu sibuk sekali. Terakhir aku dengar kamu sedang KKN di Palu? "
" Iya, kak. Memang aku agak sibuk. Maklum kan, sudah semester akhir."
Sepi..... keduanya saling berdiam diri. Canggung.... tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya.
" Arry... sebenarnya aku bermaksud mau mengajakmu jalan - jalan, jika kamu tidak keberatan." kata Keanan. Putri Arryan bingung dengan ajakan Keanan yang tiba-tiba. Dia belum siap jika harus berhadapan kembali dengan pemuda itu
" Arryan..... "
Putri Arryan menoleh. Seorang pemuda tampan dengan rambut lurus berwarna hitam di kuncir setengah sedang duduk di atas sebuah motor besar. Mulut Putri Arryan ternganga tak percaya. Bagaimana mungkin.....
" Andros.. "
" Ayo, ... sudah pulang, kan." Andros berkata sambil mengedipkan matanya. Putri Arryan tampak gelagapan sekali. Jin tampan dari Desa Wentira ini muncul dengan tiba-tiba dan mengajaknya pulang.
Keanan menatap Andros dengan pandangan heran. Dia belum pernah melihat pemuda ini di kampus. Apakah pemuda ini juga termasuk salah satu mahasiswa di sini?
" Arry..... siapa dia? "
" Aku Andros... aku kekasih Putri Arryan." Andros sudah berdiri di hadapan Keanan dan berdiri menyalami pemuda itu.
Mulut Putri Arryan terbuka untuk menyampaikan protes tapi tangan Andros sudah meremas tangannya lembut dan tersenyum penuh arti padanya.. Putri Arryan tak bisa berkutik lagi.
Kerongkongan Keanan tercekat. Tak percaya bahwa kini gadis itu memiliki kekasih lagi. Setelah lama tak bertemu, dirinya mengira bahwa Arryan masih memendam rasa untuknya.
Dalam hati Keanan merutuki semua kebodohannya selama ini karena terlalu lama berpikir akhirnya Arryan pindah ke lain hati.
" Oh... aku Keanan. Aku salah seorang dosen di sini. Silahkan jika ingin menjemput Arryan, saya mau masuk ke dalam."
" Kak Keanan, maaf aku pergi dulu. Ngobrolnya lain kali, ya. Dah.... "
Arryan kemudian duduk di sadel belakang motor Andros. Keduanya berlalu dari hadapan Keanan yang masih saja berdiri terpaku menatap kepergian keduanya.
Andros mengajak Putri Arryan ke Istana Bukit Malaikat. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh Asmi yang sedang bercengkrama dengan kedua adik kembarnya.
" Salam, bunda Ratu." Andros memberi salam kepada Ratu Asmi, ibunda Putri Arryan.
Apa yang telah aku lewatkan? pikir Putri Arryan. Mengapa Andros sangat dekat dengan keluarganya?
__ADS_1
" Asmi, ajaklah Andros berkeliling istana. Bunda masih menemani kedua adikmu bermain dulu."
" Baik, bun."
" Putri Arryan, bagaimana kalau kita berburu saja? "
"Baiklah.. sudah lama aku tidak berburu. Sepertinya aku butuh sedikit hiburan."
Setelah berganti pakaian, Putri Arryan lalu bergabung dengan Andros dan Sang Ayah yang sedang ngobrol dengan Andros. Andros terlihat akrab dengan ayahnya, membuat Putri Arryan kembali merasa heran.
" Tuanku, bolehkan saya mengajak Putri Arryan untuk berburu? "
" Hmm.... saya tak keberatan jika Putri Arryan bersedia untuk kau ajak, Andros." jawab Pangeran Hasyeem sambil melirik kepada putrinya.
" Bagaimana, Putri Arryan? " Andros kini bertanya kepada putri cantik itu.
" Aku sudah siap dari tadi." jawabnya.
Keduanya segera menaiki kuda yang sudah disediakan oleh para pengawal istana dan berangkat menuju hutan Larangan.
...-----...
Sementara itu di desa Babakan, desa tempat tinggal nenek Luna, tampak seorang gadis sedang duduk termenung sendiri. Sudah satu purnama dia tidak bertemu dengan Pangeran Alyan. Semenjak perselisihan mereka beberapa waktu yang lalu.
Pikiran Aluna menerawang kembali pada peristiwa beberapa waktu yang lalu. Malam itu, di atas tebing di pinggir hutan larangan dia dan Pangeran Alyan bertemu seperti biasa.
" Luna, kamu pikirkan kembali
Apa aku tidak salah dengar. Kami mau membatalkan pertunangan kita? "
Hening sesaat....
" Tapi mengapa? Mengapa tiba-tiba kamu melakukan semua ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Atau apa aku melakukan kesalahan. Katakan Aluna.. !Apa salahku? " desak Pangeran Alyan dengan wajah gusar.
Aluna diam sambil menggigit bibir bawahnya. Hatinya berdesir sakit saat mengingat kembali semua itu. Yah.... beberapa hari yang lalu, secara tak sengaja dia melihat Pangeran Alyan sedang berburu bersama dengan seorang gadis cantik yang tak dikenalnya.
Sebenarnya Aluna tak sengaja melihat itu, saat dia dan bibinya Alyan sedang berlatih ilmu kanuragan di hutan larangan.
Yah.... dia memang sedang belajar ilmu pedang dengan Putri Bilqis, bibi Pangeran Alyan karena bibi Bilqis sudah berjanji akan mengajarinya ilmu pedang Cakra Buana miliknya.
Saat itu, saat pedang miliknya terjatuh dari udara. Pada saat mengambil pedangnya, matanya menangkap derap langkah kaki kuda. Karena tak ingin di lihat orang, Aluna memilih bersembunyi dan mengintip di antara pohon - pohon besar. Namun, apa yang dia lihat, sungguh membuat dia harus mempertanyakan kembali perasaan Pangeran Alyan kepadanya. Benarkah Pangeran tampan putra Pangeran Hasyeem itu sungguh-sungguh mencintanya. Jika iya, mengapa pemuda itu kini sedang bersama dengan gadis lain. Ada air mata yang diam - diam mengalir di pipi gadis itu. Tak ingin lama - lama berada di tempat itu, Aluna memilih segera melesat pergi meninggalkan tempat itu, dan kembali mendatangi putri Bilqis yang sudah menunggu dari tadi.
" Aku... hanya ingin sendiri saja, dulu. Aku tak ingin cepat - cepat menikah. Silahkan jika Pangeran memang sudah ada calon yang lain. Hamba bersedia untuk undur diri. Hamba paham siapa hamba dan posisi hamba. Permisi, Pangeran.." Selesai berkata demikian, Aluna melesat pergi meninggalkan Pangeran Alyan yang masih terdiam mencerna setiap perkataan dari kekasihnya.
" Luna.. .. Tunggu... Luna...! " Pangeran Alyan bermaksud untuk mengejar Aluna, namun bayangan gadis itu sudah keburu hilang di kegelapan malam.
" Apa maksudnya mengatakan jika aku sudah ada calon yang lain. Dan apa juga maksudnya dengan perkataan bahwa dia akan mundur. Mundur dari apa...? Mundur dari pernikahan kami? "
Pangeran Alyan menjadi gusar sendiri ketika mengingat kata - kata Aluna. Hingga dia mengejar gadis itu sampai ke istananya. Namun, ternyata dia tak menemui Aluna di sana. Jadi akhirnya dia pergi ke desa Babakan. Dia bermaksud ingin mencari gadis itu di sana. Namun, kembali dia tak menemukan gadis itu di sana. Aluna menghilang tak tahu kemana rimbanya.
Selama satu bulan, Pangeran Alyan terus mencari - cari keberadaan kekasihnya tersebut. Dia bingung mengapa sikap Aluna tiba-tiba berubah kepadanya.
Sampai suatu ketika, bibi Bilqis menceritakan semua kepadanya. Kini Pangeran Alyan faham, mengapa Aluna berubah saat terakhir kali mereka bertemu. Ternyata Aluna sudah salah sangka terhadap dirinya. Gadis yang dilihat Aluna bersamanya adalah Nadia, sepupu Pangeran Alyan, anak dari bibinya.
Nadia datang ke Istana di bukit Malaikat dan kemudian Pangeran Alyan mengajak kakak sepupunya itu berjalan - jalan di hutan larangan sambil berkuda. Dia belum memperkenalkan Aluna pada kak Nadia karena kakak sepupunya itu baru saja pulang dari luar negeri setelah lulus S2.
__ADS_1
Aluna merasa kesal sendiri. Jujur saja, sekarang dia sangat merindukan pemuda itu. Sikap romantis Pangeran Alyan yang terbalut wajah dingin itu sering kali membuat dia gemas sendiri. Pangeran Alyan sering membuat kejutan yang membuat pipinya menjadi merona merah karena bahagia. Dia merindukan Pangeran Alyan. Namun, sakit di hatinya membuat dia enggan untuk mengakui semua itu.
" Assalamu'alaikum.... " seseorang mengucap salam. Lamunan Aluna buyar.
" Waalaikum salam.. " Aluna menoleh. Dilihatnya Panji datang dengan motor barunya.
" Motor baru, ya? " iseng Luna bertanya, membuat pemuda itu tersipu - sipu malu.
" Hadiah ulang tahun dari juragan Barja, pamanku." jawabnya.
" Oh.... bagus... " komentar Luna.
Panji mengambil tempat duduk di depan gadis itu. Tatapannya lurus mengamati wajah gadis yang diam - diam selalu menjadi bunga tidurnya.
" Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Penting..! " ucapnya lirih.
Kening Aluna berkerut melihat ekspresi serius dari wajah pemuda di hadapannya.
" Mau ngomong, apa? "
Panji menatap lurus ke dalam bola mata coklat gadis cantik itu. Ada getaran dalam dadanya yang tak bisa dia hentikan. Akhhh..... Di rumah tadi, fia sudah bersusah payah berlatih dan mengumpulkan keberanian untuk bisa mengungkapkan semua isi hatinya kepada gadis ini.
"Luna....a..aku mau jujur sama kamu karena aku tak dapat lagi memendam perasaanku. Aku mencintaimu.. "
Luna tergugu mendengar pengakuan Panji. Ini yang dia takutkan selama ini. Panji tidaklah benar-benar menganggapnya sebagai seorang sahabat. Walaupun Panji tahu, bahwa ada Pangeran Alyan di hati Aluna, namun tampaknya pemuda itu tak bisa memungkiri perasaannya. Dia masih berharap ada celah untuk dirinya di hati Luna.
" Panji...., mengapa kamu berucap seperti itu. Bukankah kamu tahu, aku sudah mencintai seseorang."
" Aku tahu, tapi aku gak bisa membohongi hatiku, bahwa aku juga mencintaimu, Luna."
Aluna menggelengkan kepalanya.
" Tidak... ini tidak benar. Aku tak bisa menerima cintamu. Aku sudah memberikan hatiku pada seseorang, walaupun orang itu sudah membuatku terluka."
"Tak bisakah kamu memberi sedikit harapan padaku.. "
" Apa maksudmu, Panji? " tanya Luna yang belum faham akan maksud ucapan Panji.
" Aku mau kamu bisa mencintai aku sama seperti kamu mencintai dia"
"Gila, kamu, Panji...? Nggak waras kamu..! " bentak Aluna.
Panji bangkit dan menghentak kaki dengan kesal. Tangannya terkepal di samping tubuhnya.
" Iya, aku gila..! Kamu mau apa? Aku gila karena aku jatuh cinta padamu. Aku akan mendapatkan dirimu. Tak peduli bagaimana pun caranya."
Selesai berkata demikian, Panji melangkah pergi meninggalkan Aluna yang masih terpaku di tempatnya. Aluna tak menyadari bahwa sepasang mata coklat dengan bintik kuning di tengah sejak tadi sudah mengawasi dan mendengar semua pembicaraan kedua manusia tersebut.
Dengan langkah lunglai, Aluna masuk kembali ke dalam rumah. Membaringkan dirinya di kasur sambil pikirannya menerawang jauh. Ada rasa rindu pada kekasihnya, namun juga ada kecemasan bila mengingat ucapan Panji barusan.
" Pangeran Alyan..." gumamnya nyaris tak terdengar. Ada setetes bening yang menggenang di sudut matanya.
Sepasang mata bening itu tertegun saat melihat hal itu. Ada sakit yang menohok di dada demi melihat orang yang di cintanya meneteskan air mata.
" Aluna.... "
__ADS_1
Pemilik nama itu tersentak kaget saat mendengar seseorang menyebut namanya.
" Pangeran....! "