
" Ibu dan adiku tampak terpukul sekali melihat keadaanku. Ibuku juga kini mulai mengkhawatirkan keadaanku dan ayahku. Bahkan dia juga minta diantar untuk menemui Ayahku." jawab Luna.
" Kita harus secepatnya menyatukan bayangan dan tubuhmu. " kata Alyan.
" Bagaimana caranya? " tanya Luna yang tak faham dengan semua itu.
" Ayo kita segera kita minta petunjuk Ki Anom! agar masalah ini cepat selesai" ajak Alyan pada Luna.
Luna mengangguk dan berjalan mengikuti Alyan menuju ke kediaman Ki Anom.
Aluna dan Alyan sangat terkejut mendapati kediaman Ki Anom dalam keadaan rusak parah. Sepertinya di tempat itu telah terjadi pertempuran yang sengit.
Tempat ini berantakan sekali. Meja kursi dan semua perabotan rumah dalam keadaan hancur. Bahkan dinding kamar tempat Luna terbaring nyaris hancur. Sepertinya habis terkena sebuah pukulan yang dahsyat.
Alyan tak habis pikir. Siapa yang menyerbu kediaman Ki Anom. Apa yang mereka inginkan dari lelaki paruh baya yang ahli ilmu kanuragan dan pengobatan itu.
Bergegas mereka bergerak ke dalam untuk mencari tubuh Luna yang tadinya tergeletak di atas tempat tidur di dalam ruangan itu.
Namun sayangnya, mereka tidak menemukan tubuh Luna. Mereka juga tidak menemukan Ki Anom, dan kedua adik dari Alyan yaitu Azzura dan Arryan.
" Ada sesuatu yang tidak beres, sepeninggalnya kita ke bukit Malaikat." kata Alyan.
" Apanya yang tidak beres, pangeran? " tanya Luna tak mengerti.
" sepertinya segala gerak - gerik kita sudah ada yang mengawasi. Mereka mengetahui segala aktivitas kita. Hingga mereka bisa bergerak menyerang orang - orang yang terdekat dengan kita di saat kita tak berada di sisi mereka. " jawab Alyan.
Aluna mendadak teringat sesuatu. Dia ingat akan perkataan Sonia pada Sangat Penguasa Hutan Larangan bahwa dia sudah menempatkan beberapa orang mata - mata untuk mengawasi segala aktivitas Alyan dan dirinya.
" Hmm, aku kira aku tahu siapa yang berada di balik semua ini! Aku tak menyangka dia sudah bertindak sejauh ini!" serunya lirih seakan bergumam pada diri sendiri. Namun, suaranya masih bisa didengar oleh Alyan.
" Kamu bicara apa, Luna? Siapa yang kamu maksud 'dia' dalam ucapanmu? " tanya Alyan penasaran.
" Ehmm, itu pangeran. Sonia! " jawab Luna spontan. Dia mengutuk mulutnya yang tak punya rem.
" Sonia? maksudmu gadis yang kita lihat di gerbang istana Gunung Kahyangan. Dia kan teman Alkan. Lantas apa hubungannya Sonia dengan semua ini? " tanya Alyan lebih lanjut.
Keduanya kembali melakukan pencaharian terhadap keberadaan Ki Anom dan juga yang lainnya.
" Apa pangeran akan percaya jika aku menceritakan semuanya? " tanya Luna.
" Tentu saja aku percaya padamu. Kamu adalah sahabatku. Apa untungnya kamu membohongiku?" jawab Alyan. Dia menatap ke arah bayangan transparan yang berdiri mematung di hadapannya.
Tampaknya aneh baginya yang terbiasa berbicara dengan Luna dengan menatap mata garis itu langsung, kini hanya berupa bayangan transparan yang nyaris tak terlihat oleh mata.
Dia seperti orang gila saja. Karena sepintas, terlihat dia seperti sedang berbicara seorang diri tanpa ada lawan bicara.
" Baiklah kalau begitu, pangeran. Aku akan menceritakan semua padamu." kata Luna.
Luna menceritakan semua yang dia tahu tentang Sonia. Mulai dari kecurigaannya terhadap sikap Sonia yang selalu memandang Alyan dengan lekat. Sampai pada pertemuan gadis itu dengan penguasa Hutan Larangan.
" Jujur saja, awalnya aku berpikir bahwa rasa tidak sukaku padanya karena mungkin saja aku cemburu padamu."
Alyan terkekeh mendengar kejujuran Aluna.
__ADS_1
" Hehehe, sejak kapan kamu cemburu padaku? Bukannya kamu bilang bahwa aku bukan tipemu? " pipi Aluna terasa seperti habis di tampar, panas dan merah.
" Huh, aku kan cuma bilang, mungkin! bukan berarti itu benar-benar membuktikan jika aku cemburu padamu karena gadis itu! " serunya jengkel. Aluna coba menyangkal apa yang sedang terjadi di hatinya.
" Hmm, baiklah. Aku percaya padamu, putri bulan darah! " jawab Alyan dengan senyum mengejek yang walaupun samar tapi masih bisa dilihat oleh Luna.
" Pangeran Alyannn! " teriaknya kesal.
" Iya.. iya! aku percaya. Puasss.. Kini lanjutkan kembali ceritamu! " balas Alyan tak kalah keras.
Kesal, Luna menghentak kakinya ke tanah.
" Stop, Luna! berhenti. Jangan bergerak! " Seru Alyan tiba-tiba pada Aluna.
Aluna menjadi heran terhadap perintah dari Pangeran Alyan. Namun, tak ayal dia menghentikan juga langkah kakinya.
Alyan berlari mendekati Bayangan Aluna.
" Coba ulangi gerakan seperti tadi. Hentakan kakimu dengan keras di sana! "
Aluna mengikuti semua yang dikatakan Alyan. Dia menghentakkan kakinya dengan keras di atas tanah yang tadi dia pijak.
Duk! Duk! Duk! terdengar bunyi sesuatu di bawah kaki Aluna saat gadis itu menghentakkan kakinya di sana.
" Luna, kau dengar itu!" serunya lantang pada Luna yang masih saja melakukan hal yang sama.
Luna menghentikan gerakannya. Benar saja, Suara tadi ikut juga berhenti. Alyan berjalan ke arah Luna. Dia memeriksa tanah tempat tadi Luna berpijak.
" Hmm, seperti ada sesuatu di bawah sini." gumannya pelan.
" Coba kamu geser dari sana. Aku akan mencari tahu.! " kata Alyan. Dia kemudian meneliti dan meraba rerumputan di sekitar tempat itu.
Tiba - tiba, tangannya seperti menyentuh sesuatu.. Seperti sebuah benda keras. Segera pemuda berambut panjang berwarna kemerahan itu, menarik benda keras itu ke atas.
Akhh... serunya tertahan.
Luna terpekik kaget menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapannya. Sebuah lubang besar yang mirip seperti pintu masuk sebuah terowongan bawah tanah terpampang di hadapan mereka.
" Siapa yang telah membuat terowongan rahasia ini? " tanya Alyan dalam hati.
Rasa penasaran membuat Alyan ingin segera mengetahui rahasia apa yang tersembunyi di dalam sana.
Segera dia melompat memasuki terowongan itu. Luna yang masih berada di atas, terlihat ragu untuk ikut masuk bersama Alyan.
" Luna! Ayo, melompatlah. Tak ada yang akan melihatmu. Kamu kan 'makhluk tak kasat mata'! " serunya dari bawah.
Aluna memdelik marah. Andai bisa terlihat dengan jelas, terlihat bola matanya yang membulat dengan bibir manyun ke depan.
" Aku takut! Aku phobia pada gelap.! " jawab gadis itu.
Alyan mendengus kesal. Gadis ini, kenapa juga masih takut gelap. Padahal selama ini kan mereka tinggal di tempat yang gelap dan tersembunyi.
" Kamu itu hidup dan bernafas di dunia jin. Setiap hari kamu melihat berbagai makhluk dengan bentuk dan rupa yang ganjil dan aneh kenapa masih takut pada kegelapan? " Ucap Alyan dengan nada jengkel.
__ADS_1
Akhirnya setelah berpikir agak lama, Aluna lantas memberanikan diri untuk turun menyusul Alyan.
Alyan terus melangkah berjalan menyusuri celah sempit terowongan itu tanpa tahu akan berakhir di mana.
Jalan di terowongan ini seperti sengaja dibuat berbelok - belok dan memiliki banyak cabang. Alyan yang sedikit bingung akhirnya mengambil arah lurus, karena dari kejauhan dia melihat adanya setitik cahaya yang berpendar.
Akhirnya, setelah sampai di ujung, Alyan menemukan sebuah ruangan. Rupanya cahaya lampu di dalam ruangan itulah yang terlihat oleh Alyan dari kejauhan.
Tanpa ragu, Alyan membuka pintu ruangan itu yang tampaknya tidak terkunci. Ruangan ini sepertinya sudah lama sekali di buat. Di rancangan khusus seperti sebuah laboratorium besar yang memiliki banyak ruang.
Pandangan Alyan , menelisik keseluruh ruangan. Baginya, ruangan itu lebih mirip seperti sebuah ruang persembunyian bawah tanah. Karena semuanya sudah tersedia di tempat ini.
Alyan tak menyadari bahwa sedari dia masuk ke ruangan itu, ada sepasang mata yang mengawasi semua gerak - geriknya di tempat itu.
Pemilik sepasang mata itu menatap Alyan agak lama. Setelah dia merasa yakin barulah dia berucap.
" Kanda Alyan!! " sebuah suara mengagetkan pemuda itu yang segera menoleh ke arah suara tadi.
" Dinda! Dinda Azzura?! " Alyan berseru gembira sambil memeluk sang adik.
" Aku dan Luna mencarimu dan juga dinda Arryan serta Ki Anom. Kusangka telah terjadi sesuatu yang buruk pada kalian karena melihat keadaan tempat tinggal Ki Anom yang porak-poranda seperti telah terjadi pertempuran yang sengit! " kata Alyan.
" Memang, telah terjadi pertempuran yang seru beberapa saat yang lalu. Kami di serang oleh kelompok yang tak dikenal. Mereka menyerang kami saat kami baru saja selesai membuat ramuan obat untuk Luna. " kata Azzura.
" Lantas, kemana sekarang dinda Arryan dan Ki Anom berada, dinda Azzura?"
" Mereka ada di salah satu ruangan ini. " jawab Azzura.
Azzura kemudian mengantar Alyan menemui Ki Anom dan Arryan di ruangan lain.
" Dinda Arryan!" Dia memeluk gadis belia yang baru saja beranjak dewasa itu dengan haru.
Entah apa yang terjadi dan yang harus dia katakan pada Ibundanya, jika saja gadis belia di hadapannya ini tidak dia temukan. Kerena gadis berwajah bidadari ini adalah kesayangan ibunya yang cantik itu.
" Maafkan kami, pangeran. Kami terpaksa mengungsi ke tempat ini untuk menyelamatkan nona Aluna. Dia masih lemah dan belum sadarkan diri. Kemudian mereka datang bermaksud untuk membunuh nona Aluna." kata Ki Anom.
Ki Anom menceritakan pada Alyan bahwa maksud kedatangan kelompok tak dikenal itu bertujuan untuk membunuh Aluna yang masih belum sadarkan diri. Mereka di ketuai oleh seorang perempuan yang memakai pakaian hijau.
Alyan mendengus marah, karena tahu siapa perempuan yang dimaksud Ki Anom.
Akhirnya mereka terlibat perkelahian yang sengit. Beruntung, kelompok itu berhasil dikalahkan oleh ketiganya. Setelah berhasil mengalahkan dan mengusir kelompok penyerang itu, mereka pun berembuk dan memutuskan untuk memindahkan tubuh Aluna.
Ki Anom mengusulkan untuk memindahkan tubuh Luna ke tempat ini dengan alasan tidak ada orang mengetahui tentang tempat ini selain dirinya dan beberapa abdi kepercayaannya.
Alyan manggut - manggut setelah mendengar cerita Ki Anom. Dia kini dapat bernafas lega karena semuanya baik - baik saja.
" Antarkan aku ke ruangan Luna, Ki!" titahnya.
Sementara itu, setelah menutup pintu masuk terowong tersebut. Bayangan Aluna kemudian bergegas menyusul Alyan yang sudah lebih dahulu melewati tempat ini.
Aluna bergidik ngeri saat menyusuri celah sempit di terowongan itu. Tak beberapa lama kemudian, telinganya mendengar seseorang ehh... salah beberapa orang sedang berbincang - bincang di salah satu ruangan ini.
' Siapa yang sedang berbincang- boncang di sana, ya ?" tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
" Aluna minggir! Jangan di jalan! seru seseorang dari arah belakangannya.