Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 147 H a n a


__ADS_3

Pasangkan alat pacu jantung..!" perintahnya pada perawat. Perawat itu segera memasang alat pacu jantung ke tubuh Keanan. Mereka melakukannya beberapa kali namun hasilnya nihil.


Tak ada tanda - tanda organ vital pemuda itu yang berfungsi. Dokter memeriksa kembali tanda - tanda vital ditubuh pemuda itu. Dia menghela nafas seraya menggelengkan kepala.


" Saya minta maaf yang sebesar - besarnya karena pasien baru saja meninggal dunia." ucapnya dengan sedih.


Seluruh keluarga yang mendengar hal itu merasa shock. Baru saja beberapa jam yang lalu mereka menarik nafas lega, karena Keanan, pemuda itu lolos dari maut, kini mereka harus menerima kabar bahwa Keanan dinyatakan meninggal dunia.


Tangisan histeris dari ibunda Keanan yang tak terima dengan kematian sang putra mengisi ruangan tersebut. Semua yang hadir merasa turut berduka cita atas kejadian tragis yang menimpa dosen muda yang tampan itu.


Tak terkecuali juga sesosok makhluk tak kasat mata yang hadir di tempat itu. Dialah pangeran Hasyeem yang berada di rumah sakit itu karena kebetulan sedang mengawasi putrinya Arryan.


" Kasihan sekali pemuda yang bernama Keanan itu. Tampaknya aku harus berbuat sesuatu, karena bagaimana pun juga, dia adalah teman putriku. Mudah - mudahan semuanya belum terlambat."


Pangeran Hasyeem lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah cepu kecil yang terbuat dari emas. Dia lalu menempelkan cepu tersebut ke dahi Keanan.


Benda tersebut mengeluarkan cahaya biru kehijauan yang memancar dari dahi pemuda tersebut. Cepu emas itu melayang - layang di sekitar ruangan itu, lalu kemudian menghilang. Tak berapa lama, cepu itu kembali lagi ke ruangan tersebut dan terbang melayang mendekati Pangeran Hasyeem.


" Hmm, syukurlah, rupanya roh pemuda itu belum benar-benar pergi dari tempat ini."


Seberkas sinar putih terang berpendar dari dalam cepu tersebut yang menandakan bahwa cepu tersebut berhasil mendapatkan kembali roh pemuda itu.


Segera pangeran Hasyeem mengambil cepu emas itu dan membuka tutupnya. Dari dalam cepu, keluar sesosok sinar putih terang yang berbentuk manusia. Itulah roh Keanan yang berhasil di tarik kembali oleh cepu penarik Sukma milik Pangeran Hasyeem.


Tanpa menunggu lama, Pangeran Hasyeem segera mendorong roh tersebut masuk kembali ke tubuh Keanan. Toh itupun masuk kembali ke tubuh pemuda itu.


Ajaib sekali..! Setelah roh Keanan kembali masuk ke tubuhnya, perlahan - lahan tubuh pemuda itu bergerak. Seorang perawat yang melihat hal itu langsung berseru.


" Dok, lihat..! Pemuda itu sepertinya bergerak. Pasien Keanan sepertinya masih hidup, dok..! " Dokter itu segera memeriksa kondisi Keanan dan tersenyum ketika menyadari bahwa benar adanya, pemuda tersebut sudah kembali sadar.

__ADS_1


" Benar, pasien saat ini kembali sadar. Dengan kondisi yang stabil dengan alat vital yang berfungi normal. Tampaknya sebuah keajaiban telah terjadi pada pemuda ini. " kata dokter tersebut dengan haru. Dia merasa senang bahwa pemuda itu kembali lolos dari maut.


Ibunda Keanan yang mendengar hal itu berhenti menangis dan segera berlari menghampiri tubuh anaknya. Wanita paruh baya itu menubruk dan memeluk tubuh Keanan, putranya. Dia juga mengguncang - guncang tubuh sang Putra agar segera sadar.


" Keanan, Keanan... bangunlah. Ini ibu, nak..! " serunya dengan air mata yang kembali berlinang.


Perlahan - lahan, pemuda yang dipanggil Keanan itu membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sosok ibunya yang menangis memanggil - manggil namanya.


" Ibu..! " lirih pemuda itu memanggil sang ibu.


Ibunda Keanan yang masih menangis menoleh saat mendengar panggilan tersebut. Tak percaya jika barusan yang memanggilnya adalah sang putra yang tadi hampir saja meningalkan dirinya.


" Keanan..! huhuhu... kamu sudah sadar, nak! Alhamdulillah ya Allah, kamu masih melindungi putra hamba. " ucapnya seraya melakukan sujud syukur karena sang putra sudah sadar kembali.


Setelah memastikan keadaan pasien baik - baik saja, maka dokter memutuskan untuk memindahkan Keanan ke ruang perawatan khusus yang dijaga oleh beberapa orang polisi.


Kini kasus tersebut di tangani oleh pihak kepolisian karena dianggap sebagai percobaan pembunuhan. Dari hasil olah TKP polisi menemukan adanya bukti baru yang memperkuat dugaan bahwa ada unsur kesengajaan dari pihak - pihak tertentu yang menginginkan kematian pemuda itu.


Polisi juga sudah menanyai Arryan. Gadis cantik putri dari Pangeran Hasyeem itu hanya memberikan keterangan seputar kronologi kejadian. Namun, dia tak mengatakan pada polisi bahwa dia sedang menyelidiki kematian seseorang karena dia tak punya bukti yang cukup untuk menuduh seseorang yang selama ini dia curigai.


" Dinda, kata ayahanda Pangeran Hasyeem, dinda sebaiknya minta izin saja untuk istirahat. Ayahanda meminta dinda untuk kembali ke istana di Bukti Malaikat. Karena bunda ratu mencemaskanmu." kata Pangeran Alyan.


Arryan yang baru saja beberapa hari ini keluar dari rumah sakit, sebenarnya merasa enggan untuk kembali. Dia sebenarnya merasa tak enak hati, jika harus meninggalkan Keanan yang saat ini masih dalam perawatan dan kondisinya belum pulih sekali.


Namun, bila ini sudah membawa nama sang bunda, maka semua alasan menjadi tak berguna. Tak ada yang bisa melawan perintah seorang ratu dari Kerajaan Bukit Malaikat bila dia sudah mengeluarkan titahnya.


Maka dengan berat hati, terpaksa Arryan mengikuti perintah ayahandanya dan pulang bersama kakaknya, yaitu Pangeran Alyan, ke istana Bukit Malaikat.


Di tempat lain, seorang lelaki paruh baya yang masih saja terlihat tampan nampak sedang duduk termenung di taman belakang rumahnya. Lelaki itu adalah profesor Alfred. Tampak lelaki itu beberapa kali menghela nafas berat. Mencoba untuk menghalau beban berat yang terasa menghimpit di dada.

__ADS_1


Entah sudah berapa batang rokok yang sudah dia habiskan selama duduk di sana. Pikirannya sedang kacau. Bayangan wajah seseorang dari masa lalu, selalu saja menghantuinya. Bahkan dalam tidur pun, dia tak pernah lepas dari bayang-bayang itu.


" Kau sedang melamun, mas? " Seorang wanita cantik berusia sekitar empat puluh tahunan sudah berdiri di depan laki-laki itu. Wanita itu terlihat sangat anggun dan berwibawa sekali.


" Ha ...hana, ... kapan kamu tiba? " Lelaki itu tampak gelagapan ketika menyadari siapa yang datang.


Wanita cantik itu menghela nafas lalu duduk di depan lelaki itu. Pandangannya tajam menembus netral milik lelaki itu.


" Baru saja. Apakah mas baik - baik saja ?" tanyanya dengan kening berkerut.


" Yah...tentu saja. Aku baik - baik saja. Mengapa bertanya seperti itu" Profesor Alfred balik bertanya.


" Hmm, tidak apa - apa. Hanya saja akhir - akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan sikap mas. Apa mas sedang memikirkan seseorang?"


Wajah profesor Alfred pucat pasi mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh wanita itu.


" Hah..? Apa maksud kamu, Hana? " tanya profesor Alfred dengan raut wajah heran. Dia merasa aneh dengan pertanyaan wanita itu.


" Mas, aku ini istri kamu. Aku tahu semua hal tentangmu. Kau tak pandai berbohong, mas. Jadi katakan saja sejujurnya, apakah ini semua tentang wanita itu ?" tanya wanita itu yang ternyata istri Profesor Alfred.


" Tunggu, Hana ...! Wanita mana yang kau maksud? Bagaimana kau tahu jika aku sedang memikirkan seseorang wanita itu. Bukannya aku tak pernah menceritakan tentang wanita manapun padamu. " tanya Profesor Alfred heran. Selama pernikahannya dengan Hana, dia menyembunyikan rapat - rapat tentang masa lalunya bersama Elisa. Mahasiswi cantik yang pernah singgah dalam hari - harinya lalu kemudian menghilang begitu saja tanpa ada sepatah pun kata perpisahan darinya.


" Hem, jadi nama wanita itu Elisa? Sayang sekali, mahasiswi kesayanganmu itu tak bisa berada lagi berada di dekatmu..!" kata Hana dengan senyum sinis dan mengejek.


" Kau... apa yang telah kau lakukan pada wanita itu? " tanya profesor Alfred dengan raut wajah yang kini sudah mulai menggeras.


" Mas... mas, kamu itu naif sekali jika berpikiran bahwa selama ini aku tidak mengetahui semua perselingkuhan kamu dengan para mahasiswi kamu dahulu. Bahkan salah satu mahasiswi kamu yang bernama Elisa itu sempat ada yang hamil, bukan. "


" Hana... maafkan mas. Mas khilaf saat itu. Namun, percayalah, mas hanya melakukannya dengan Elisa saja. Mas tidak pernah melakukannya dengan mahasiswi lainnya." Wanita itu melempar pandangan jijik pada Profesor Alfred. Tatapannya tajam menyorotkan Kebencian yang mendalam pada Sang Profesor. Tangannya kemudian menepuk ke atas dan bergerak cepat.

__ADS_1


" Anak-anak, bawa laki - laki ini ke markas dan beri pelajaran yang sesuai dengan dosa - dosanya.


__ADS_2