
"Maafkan aku, sayang. Aku khilaf menggodamu. Tapi sekarang ini kita belum saatnya melakukannya. Sekali lagi, maafkan aku sayang... "
Nisa hanya bisa pasrah dan mengangguk pelan dan sejurus kemudian bangkit perlahan dan kembali mengenakan pakaiannya.
"Tidurlah, hari sudah larut malam. Aku akan menjagamu di sini." kata Ammar sambil menepuk kasur di sebelahnya.
Nisa mengangguk dan menurut saja ketika Ammar meraih tangannya dan mengajaknya berbaring di sebelah pria itu. Tangan kekar Ammar melingkar di pinggangnya. Ammar memeluk Nisa dengan posesif sehingga dapat Nisa rasakan hangat nafas Ammar di dekat telinganya.
Nisa pun akhirnya benar - benar tertidur dalam pelukan Ammar. Akan tetapi, tidurnya wanita yang sedang hamil tua itu hanya sesaat saja terlihat nyenyak. Beberapa waktu kemudian keadaannya tidaklah setenang dan sepulas awalnya. Dalam tidurnya wanita hamil itu terlihat gelisah. Beberapa kali wanita itu terdengar menjerit ngeri dengan wajah yang terlihat tegang dan gelisah. Ada ketakutan tergambar jelas di wajah cantiknya.
Kening Ammar berkerut menyadari perubahan yang ada pada diri wanitanya tersebut. Dia jadi berpikir apakah yang sedang Nisa alami di dalam mimpinya.Mengapa dia terlihat begitu gelisah dan ketakutan?
" Tidak, pergi....pergi....jangan ganggu aku...pergi....pergi..tolong....." teriak Nisa dengan mata terpejam.
" Sayang,....Nisa, bangunlah...Nisa..." Ammar berusaha untuk membangunkan Nisa. Dia khawatir jika terjadi sesuatu di dalam tidurnya Nisa.
Mata Nisa masih saja terpejam. Wanita hamil itu sepertinya sedang bermimpi buruk saat ini. Napasnya terengah - engah.
"'Pergi..........pergi dari sini. Tolong... jangan dekati aku.....tolong....." Nisa terus saja berteriak minta tolong dengan mata terpejam. Napas wanita hamil itu seperti terputus -putus. Dia seperti sedang berlari kencang karena dikejar - kejar sesuatu entah apa yang jelas pastilah teramat sangat menakutkan sekali.
Ammar memegang pucuk kepala Nisa dan berkonsentrasi sambil memejamkan mata. Dia mencoba untuk berusaha masuk ke dalam alam mimpi wanita hamil itu. Dia ingin tahu apa yang sedang dialami oleh Nisa di dalam mimpinya. Tak berapa lama, Mata Ammar terpejam sempurna. Perlahan pria itu masuk ke dalam alam bawah sadar Nisa, mencoba mencari tahu apa yang dilakukan wanita hamil itu di sana.
Kini Ammar telah benar - benar berhasil masuk ke dalam alam mimpi Nisa. Terlihat oleh pria itu sosok Nisa dengan perutnya yang besar yang sedang berlari kencang di dalam kegelapan alam dunia bawah sadar manusia itu. Sosok Nisa yang sedang hamil besar terlihat begitu kesusahan saat sedang berlari. Namun sesuatu di belakang Nisa membuat wanita itu mau tak mau memaksanya harus terus berlari. Sesuatu yang sedang mengancam jiwa dan keselamatan wanita hamil itu dan juga calon bayi yang sedang dikandungnya.
__ADS_1
Tanpa buang waktu, segera Ammar melesat melayang menyongsong Nisa yang masih saja berlari tak tentu arah. Namun pria itu terus melesat melewati Nisa karena dia merasa penasaran apa yang sedang mengejar kekasihnya tersebut di alam mimpinya.
Suara.....Suara itu terdengar lagi. Suara ringkihan kuda kini lamat - lamat mulai terdengar di telinga Ammar. Semakin lama.Suara kuda itu semakin terdengar jelas.Dari kejauhan Ammar bisa melihat sesosok kuda hitam yang sedang berlari mengikuti langkah kaki Nisa yang sedang berlari kencang.
Hm....pantas saja di dalam tidurnya, Nisa terlihat berlari begitu ketakutan. Seperti ada bahaya yang sedang mengancam. Rupanya siluman Kuda hitam yang kemarin menggangunya kini datang kembali. Ammar bisa menduga jika janin dalam kandung Nisalah yang menjadi incaran makhluk siluman terkutuk itu.
Sontak Ayah Aluna tersebut menjadi geram. Dengan sekali gebrakan dia melayangkan cemeti saktinya ke arah makhluk siluman terkutuk itu.
Duuuuarrr..... celetttrarrrr.........Suara cemeti itu menggelegar membelah kegelapan di alam tersebut, memercikkan percikan - percikan api dan juga cahaya terang benderang yang menyilaukan mata.
Sejenak Nisa terperangah mendengar suara yang memekakkan telinga tersebut. Dia menoleh sejenak untuk melihat apa yang telah terjadi.
"Ammar....." desisnya setengah tak percaya. Nisa melihat Ammar sedang memainkan cemeti yang berada di tangannya ke atas dan ke bawah mirip seperti kusir kereta yang sedang mengendalikan kudanya. Di depan Ammar ada seekor kuda hitam yang sedang berlarian kencang ke arah Nisa. Iya .... itu kuda yang sama yang tadi sedang mengejarnya.
Lantas apa yang dilakukan oleh Ammar ? Pria itu terlihat sedang mengendalikan kuda hitam tersebut. Kuda hitam itu terlihat memberontak dan berusaha untuk melakukan perlawanan terhadap Ammar. Namun Ammar dengan gigih terus berusaha untuk mengendalikan kuda tersebut sampai akhirnya kuda itu benar-benar menyerah dan berhasil di taklukkan oleh pria yang merupakan panglima perang di kerajaan jin di istana Bukit Malaikat.
Tak berselang lama, Nisa melihat sosok Ammar ikut juga menghilang di kegelapan.
" Ammar. ...... Ammar....tunggu...Ammar.. Jangan tinggalkan aku. Aku takut..." seru Nisa berteriak sekuat tenaga untuk memanggil Ammar, namun sekuat apa pun Nisa berteriak, bayangan Ammar kini sudah tidak terlihat lagi.
"Ammaaaar...!!." Nisa terbangun sambil menjerit menyebut nama Ammar. Dia menangis tergugu karena merasa takut akan kehilangan pria tampan itu.
" Sayang, sadarlah......Aku di sini. " kata Ammar sambil memeluk Nisa erat.
__ADS_1
Nisa yang melihat kembali raut wajah Ammar yang tadi sempat menghilang bersama kegelapan di dalam mimpinya menjadi gembira. Alhamdulillah, ...Aku tak jadi kehilangan dirimu, Ammar, ucap Nisa dalam hati. Tanpa merasa malu Nisa memeluk pria yang akhir - akhir ini membuat hatinya.kembali berbunga -bunga setelah hancur tak bersisa karena kekejaman Arya.
Ammar balas memeluk wanita yang bakal menjadi ibu sambung bagi Aluna dan Hamish itu. Hatinya gembira mengetahui bahwa Nisa baik - baik saja.
" Aduh.....Ammar...sakit!" seru Nisa tiba - tiba sambil memegangi perutnya yang besar dan sudah terlihat menegang. Wajahnya juga meringis menahan sakit. Terlihat sekali jika wanita itu sangat tersiksa oleh rasa sakit yang tengah dia rasakan. Bibirnya sepucat kapas. Serasa seperti beribu-ribu tangan - tangan besar yang sedang ******* -***** isi perutnya.
"'Sayang....kamu kenapa?" Kini Ammar beneran panik. Nisa tak menjawab, hanya tatapan matanya kini terarah pada bagian bawah perutnya yang kini semakin terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang mendorong di sana. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di daerah rahim bagian bawahnya.
" Ammar.......sepertinya aku akan melahirkan." kata Nisa lagi saat melihat kini bagian bawah pantatnya terasa basah. Bibir wanita itu bergetar oleh rasa sakit dan juga... takut.
"Darah...!.Ada darah yang keluar dari sana, Nisa! " seru Ammar ketika melihat darah dari bagian celana Nisa.
Wajah Ammar mendadak tegang. Muka Ammar pucat pasi melihat darah yang keluar dari bagian bawah tubuh Nisa. Benar... sepertinya memang benar wanita ini akan melahirkan?
Walaupun pria itu pernah menghadapi kasus seperti itu pada saat istrinya melahirkan Hamish dulu, namun tetap saja dia merasa gugup.
Dengan tubuh gemetar, Ammar meraih wanita hamil itu dan menggendongnya menuju keluar kamar. Tangan Ammar menyentuh bagian bokong Nisa. Darah yang merembes di celana kulot Nisa semakin banyak. Dia harus cepat...pikir Ammar.
Sedangkan Nisa, perempuan hamil itu kini semakin lemah. Rupanya shock karena baru pertama mengalami peristiwa itu dan juga terlalu banyak darah yang ke luar dari rahim wanita hamil itu membuat tubuhnya semakin lemah.
Tanpa banyak bicara lagi, Ammar segera membawa tubuh Nisa melesat terbang menuju ke kediaman Ki Anom.
" Sabarlah.....sedikit lagi kita akan tiba di rumah Ki Anom. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.Bertahanlah...." Ammar mengecup pucuk kepala Nisa, mencoba untuk memberikan dukungan kepada calon istrinya tersebut.
__ADS_1
" Ammar, aku sudah tak sanggup lagi. Ini rasanya sakit sekali."
Tiba-tiba saja Nisa pingsan sebelum Ammar tiba di rumah Ki Anom.