
"Benarkah ? Kamu bilang akan mengikuti semua keputusanku tentang ini? " katanya sambil menatap kedua mata Amirah.
" Benar, tuan. Saya percaya sepenuhnya pada anda! "
" Hmm, baiklah. Bagaimana jika kita menikah? "
Amirah menatap tak percaya kepada Ammar. Lelaki tampan dengan warna mata yang aneh itu kini sedang berdiri di depannya. Agak aneh rasanya memikirkan bagaimana lelaki berwajah maskulin dengan bulu - bulu halus di rahang dan dagu, bisa dengan seenak jidatnya saja mengajak seseorang yang baru saja dia kenal untuk menikah.
Jelas Amirah bingung dengan ajakan Ammar yang spontan dan tiba-tiba itu.
" Tuan, apa anda tidak salah ucap? anda baru saja mengenal saya." ucap Amirah.
" Aku tidak salah ucap, walaupun aku baru saja mengenalmu, tapi aku yakin kamu wanita yang baik. Bagaimana, apa kamu setuju dengan tawaranku? " tanya Ammar. Tampaknya dia tak sabar menunggu jawaban dari Amirah.
Pangeran Hasyeem mengerti akan kebingungan Amirah.
" Kamu tidak perlu menjawab sekarang, tawaran saudaraku itu, Amirah! " Dia menoleh kepada Sang Ratu, menggenggam tangannya, kemudian..
" Tinggallah kalian berdua di tempat ini. Aku rasa kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu! " kata penguasa bukit Malaikat itu.
" Terima Kasih, Saudaraku. Anda memang sahabat yang terbaik. " kata Ammar tulus. Dia merasa sangat beruntung, bisa menjadi sahabat dari seorang pangeran Hasyeem.
" Tidak usah sungkan, Ammar. Kita adalah saudara. " jawabnya.
" Ngomong - ngomong, siapa nama bayimu, Amirah? " tanya Asmi .
Wanita itu, Amirah tersipu malu. Dia juga baru sadar, jika dia belum memberikan nama untuk Sang bayi.
" Maaf, aku belum sempat memikirkan nama untuk putriku.. Aku baru saja mendapatkan kembali putriku, ketika kemudian Ammar membawaku kesini." kata Amirah
Ammar mengangguk membenarkan perkataan Amirah. Sedangkan Asmi, dia tersenyum saat mendengar perkataan Amirah. Dia rasa, dia mulai menyukai Amirah dan bayinya.
" Bagaimana jika kita memberinya nama Aluna? aku rasa nama itu cocok untuk putrimu yang cantik karena dia lahir pada saat gerhana bulan! " kata Asmi.
( Ya ampun, Asmi. Hanya karena anak Amirah lahir pada saat gerhana bulan, langsung deh, di kasih nama Aluna.. Bagaimana kalau lahir pas gerhana matahari? siapa coba, hayo??)
" Aku setuju dengan nama itu, nama yang indah! " kata Amirah." Aluna... Aluna. mudah - mudahan dia seindah bulan yang bersinar terang di kegelapan malam " katanya lagi.
" Jadi mulai sekarang, bayi ini bernama Aluna. Hmm, sepertinya Alyan dan Aluna adalah sepasang nama yang bagus. Aku suka sekali! " guman Asmi pada diri sendiri, tetapi masih bisa terdengar di telinga semua yang hadir di sana.
Pangeran Hasyeem mengelus sayang kepala Sang istri. Apapun itu, jika bisa membuat Sang ratu senang, maka akan berusaha dia lakukan.
...---...
Hari berganti hari, hari berganti menjadi bulan. Dan Bulan pun berganti ke tahun. Tiada terasa, Lima tahun sudah waktu berlalu.
Ammar dan Amirah akhirnya memutuskan untuk memilih tinggal dan menetap di istana pangeran Hasyeem. Semua mereka lakukan dengan pertimbangan yang cermat, yaitu demi keselamatan hidup Aluna, putri Amirah.
Awalnya Amirah merasa heran, ada yang aneh dengan mata setiap orang di tempat ini. Mata mereka berbeda - beda warnanya, namun hanya satu kesamaan yaitu bintik kuning di tengah.
__ADS_1
Sampai kemudian, Amirah mengetahui bahwa dia sedang berada di dunia Jin. Dan lelaki yang dia ketahui telah menolongnya itu adalah bagian dari mereka. Yah.... Amirah akhirnya mengetahui bahwa Ammar adalah seorang Jin. Demikian juga halnya dengan pangeran Hasyeem, suami dari ratu Asmi. Namun yang Asmi herankan, ternyata Sang Ratu mereka adalah manusia.
Jadi hanya mereka bertiga yang berasal dari alam manusia, sedangkan yang lainnya semuanya adalah Jin.
Namun semua itu tak membuat Amirah takut. Baginya baik hidup di alam manusia atau alam Jin semuanya sama saja. Walaupun kadang janggal rasanya melihat segala sesuatunya yang biasa di kerjakan manusia, di kerjakan juga di sini, di tempat ini, oleh mereka yang bermata aneh dengan bintik kuning di tengah.
Di tahun pertama, Amirah pun akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran Ammar setelah cukup mengenal lelaki tampan itu. Mengenal pribadi dan sosok Ammar, menghadirkan rasa yang indah di hati Amirah.
Lelaki berwajah tampan itu rela mencurahkan rasa sayang dan kasihnya pada mereka berdua. Dia bisa merasakan betapa ammar sungguh - sungguh ingin menjaga mereka. Membuat kebekuan di hati Amirah perlahan-lahan mencair dan berubah menjadi cinta.
kesungguhan Ammar dalam melindungi dan menjaga Aluna sangat menyentuh hati Amirah. Amirah akhirnya menyadari bahwa dia pun ternyata diam-diam sudah mencintai Ammar.
Dia dan Ammar akhirnya hidup bahagia bersama dengan Aluna yang kini menjadi buah hati mereka berdua.
Hari masih pagi ketika Asmi merasakan sebuah tangan membelai hangat pipinya. Asmi mengerjapkan matanya karena silau akan cahaya yang masuk lewat celah - celah jendela di bilik peraduannya.
" Pagi sayang, kepalanya masih pusing?" tanya seorang lelaki tampan yang sedang tersenyum manis menatapnya.
" Agak kurang, tuanku. Hanya saja aku masih merasa mual pagi ini."
Asmi segera bangun dan berlari ke arah kamar mandi dan sesudahnya, semua isi perut asmi keluar dengan rasa asam yang mencekik di leher.
Air mata Asmi keluar tanpa bisa di tahan. Dia memegang perutnya yang kini mulai menonjol keluar. Pangeran Hasyeem masuk ke dalam kamar mandi. Ketika dia mendapati keadaan istrinya yang demikian, spontan dia menggendong dan membawa Sang istri ke atas pembaringan, lalu merebahkan tubuh Sang istri dengan lembut di sana. l
Yah reader yang budiman, Asmi sekarang sedang mengandung anak ketiganya. Kandungannya kini memasuki trimester yang kedua. Usia kandungan Asmi memasuki masa usia enam bulan.
Selama beberapa bulan ini, keadaan Asmi sangat tersiksa. Dia mengalami masa - masa ngidam yang parah. Sampai - sampai Pangeran Hasyeem harus membawa istrinya itu berobat ke rumah sakit dan harus di opname di sana.
Alyan datang menghampiri Sang ibu. Bocah itu naik ke atas tempat tidur dan mencium pipi Sang bunda bertubi-tubi. Mencoba merayu Sang Bunda.
" Bunda, bangun dong, ayo temanin Alyan menemui luna!" rengeknya sambil mengguncang tubuh Sang bunda.
Asmi terkekeh geli. Dia sudah bisa menebak maksud dari sikap manis anak sulungnya yang sangat manja sekali padanya.
Pangeran Hasyeem mendekati putranya. Lalu kemudian duduk di tepi tempat tidur dan meraih Sang putra dan mendudukkannya di pangkuan.
" Kenapa kamu ngajak bunda? bunda sedang tak enak badan. Alyan bisa kan temui Luna sendiri?"
Bocah itu menggeleng tanda tidak menyetujui saran Sang ayah.
" Luna marah pada Alyan !!" katanya dengan sedih.
" Mengapa Luna marah pada Alyan? Apa Alyan sudah nakal sama Luna?"
Bocah itu menundukkan kepalanya dan mengangguk.
" Kemarin Alyan sudah merusak mainan Luna. Boneka kesayangan Luna Alyan rusakin, ayah! "
Pangeran Hasyeem tersenyum simpul mendengar pengakuan Sang anak. Jadi itu sebabnya mengapa putranya itu minta di temanin Sang bunda untuk menemui luna. Rupanya Sang Putra Mahkota itu merasa segan jika harus menemui dan minta maaf terhadap gadis kecil itu sendirian.
__ADS_1
" hmm, tampaknya kamu harus minta maaf sendiri pada Luna karena sudah merusak bonekanya! " kata Sang ayah bijak.
" Tapi, yah.. Alyan malu! " kata bocah itu pelan, nyaris lirih hingga hampura tak terdengar.
" Mengapa malu meminta maaf. Seorang ksatria harus berani mengakui kesalahan dan minta maaf.!" kata pangeran Hasyeem pada Sang Anak.
Asmi yang mendengar percakapan antara ayah dan anak itu merasa terharu. Pangeran Hasyeem selalu saja berusaha untuk menanamkan nilai - nilai yang luhur untuk Sang anak. Agar kelak bisa menjadi seorang pemimpin yang tegas, berani dan berjiwa ksatria.
Alyan merangsak turun dari ranjang.
" Mau kemana?" tanya Sang ayah.
" Mau menemui Luna. Alyan akan minta maaf padanya." kata Aly. Bocah itu kemudian melesat pergi meninggalkan bilik orang tuanya.
Sementara itu, bocah perempuan yang bernama Luna itu sedang bermain sendiri di taman istana.
Seorang bocah laki-laki yang kurang lebih sebaya dengan dirinya datang menghampiri.
Mengetahui siapa yang datang, bocah perempuan itu segera berlari pergi menghindar.
" Luna, tunggu!" seru bocah itu.
Luna, bocah perempuan itu berhenti lalu menoleh ke belakang.
" Apa lagi? aku tak mau main sama kamu, pangeran. Kemarin kamu merusak mainanku!" serunya dengan wajah kesal.
" maafkan aku! aku tidak sengaja.. Nih.. aku ganti.! " Bocah lelaki itu mengeluarkan sesuatu di balik bajunya.
Mata Luna berbinar - binar senang. Sebuah boneka yang sangat cantik terulur kepadanya. Segera dia menerima pemberian bocah lelaki itu dengan gembira.
" Ini untukku, Pangeran?" bocah lelaki itu mengangguk. " Terima kasih, pangeran!" kata Luna sambil memeluk erat boneka pemberian bocah lelaki itu.
" Kamu sudah tidak marah lagi, padaku? " tanya bocah yang di panggil pangeran itu.
Luna mengangguk mengiyakan. Kedua bocah itu kini sudah kembali akur dan bermain bersama.
Mereka sedang bermain kejar - kejar sambil melatih ilmu lari cepat yang diajarkan oleh Sang ayah. Walaupun keduanya baru berumur lima tahun, namun kemampuan keduanya sudah tidak diragukan lagi. Mereka berdua mampu mengalahkan pengawal kerajaan dalam lima jurus.
Mereka hebat dalam memainkan pedang dan pandai sekali berlari cepat.
" Pangeran, tunggu aku!" seru Luna saat mereka sedang bermain kejar - kejaran di taman istana.
" Wuihhh, lemah. Masa segitu saja kemampuan kamu, Luna. Ayo kejar aku!!" serunya lantang.
" Aihh, pangeran Alyan.. Aku bilang tunggu aku!! seru Luna semakin kesal.
Namun bocah yang bernama Pangeran alyan itu tak menggubris teriakan Luna, dia melesat terbang ke atas langit yang tinggi dan bersembunyi di balik salah. satu awan yang bergerombol.
Karena terlalu asyik bermain, mereka tidak menyadari, bahwa mereka bermain sudah agak jauh dari wilayah istana.
__ADS_1
Dari kejauhan, sepasang mata tak hentinya memandang dan mengawasi sepasang bocah ajaib yang memiliki kemampuan luar biasa itu.
" hmm, sepasang bocah ajaib. Pasti mereka yang sedang di buru oleh para penyihir dan penguasa hutan larangan. " katanya laki - laki itu sambil tersenyum licik.