Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 127 Pembongkar Makam Amirah


__ADS_3

Berita tentang kematian Ratu Amirah tersebar dengan cepat. Seluruh warga istana Bukit Duri berduka. Demikian juga halnya dengan penghuni istana Bukit Malaikat. Seluruh rakyat di negeri itu menyatakan berkabung atas wafatnya Ratu Amirah. Ratu istana Bukit Duri.


Pangeran Hasyeem dan Asmi yang sedang hamil bergegas menyusul ke istana Bukit Duri bersama - sama dengan Azzura dan Arryan.


Daun kamboja yang luruh jatuh ke bawah seolah - olah menjadi saksi betapa kesedihan menyelimuti suasana pemakaman Ratu Amirah.


Pemakaman Ratu Amirah dilaksanakan di desa kelahirannya, Desa Babakan. Desa itu berada dekat dengan hutan Larangan. Sebuah Desa yang penduduknya tidak terlalu padat dan masih sangat kental dengan adat istiadat yang berbau klenik. Mereka masih menghormati dan memegang teguh aturan dari para leluhur walaupun hidup di tengah hiruk pikuknya dunia internet.


Keluarga Aluna memilih memakamkan Ratu Amirah di desa kelahirannya, dengan pertimbangan biar keluarga ibunya juga bisa menziarahi makam wanita cantik ini.


Memang, semenjak mengetahui bahwa Amirah sudah menikah dan memiliki anak, keluarga Amirah mau menerima kehadiran Amirah kembali dalam keluarga mereka.


Mereka bahkan sering meminta Amirah untuk datang berkunjung bersama Ammar, sang suami serta anak mereka Aluna dan Hamish.


Semua keluarga Amirah dan rakyat Bukit Malaikat hadir dalam pemakaman tersebut. Mereka turut berdukacita atas kematian dan menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas kehilangan keluarga itu.


Luna tampak tak kuasa menahan dirinya. Tubuh kekasih Pangeran Alyan itu luruh bersimpuh di atas pusara Sang Ibu. Asmi dan Arryan yang mengapit Luna di kiri kanan gadis itu, segera memeluknya.


Keduanya mencoba menghibur dan menenangkan hati Luna yang tampaknya sangat terpukul sekali dengan kematian Sang Ibu.


Ammar dan Hamish terlihat menunduk sedih di ujung pusara Amirah. Sama seperti halnya Luna, kedua lelaki itu tampak sangat terpukul sekali hingga keduanya tak sanggup lagi untuk berkata - kata. Hanya air mata saja yang tak henti keluar mewakili isi hati dari suami dan anak-anak Amirah.


...------...


Malam semakin larut saja. Gelapnya malam ini semakin bertambah gelap saja karena di langit hujan deras turun yang disertai dengan petir dan suara geledek.


Angin malam yang bertiup kencang menggoyangkan daun - daun dan pepohonan menghadirkan suara - suara yang terdengar aneh dan menyeramkan di telinga siapa saja yang mendengar.


Dari kejauhan, di tengah - tengah hujan, terlihat titik kecil bergerak lincah dan cepat. Semakin dekat titik itu semakin terlihat wujud aslinya.


Seorang laki-laki yang tampaknya masih muda, berumur sekitar dua puluh lima tahun, sedang berlari cepat di antara lebatnya hujan yang mengguyur desa Babakan menuju ke suatu tempat.


Tempat itu adalah pemakaman umum yang berada di tepi desa yang berbatasan langsung dengan hutan Larangan. Makam tempat ibunda Luna, Ratu Amirah dimakamkan.


Laki - laki itu terus berjalan melewati Makam demi Makam hingga berhenti di atas sebuah Makam yang bertuliskan Amirah bin Juhair.


Tangan lelaki itu bergerak meraih sesuatu di balik punggungnya. Sebuah Sekop yang sudah dia persiapkan dari rumah.

__ADS_1


Tanpa ragu dan takut, laki - laki itu menggali dan membongkar Makam Amirah yang baru tadi pagi dimakamkan oleh keluarganya.


" Hmmm, sebentar lagi waktu subuh. Aku harus bergerak cepat jika tidak ingin ketahuan oleh warga!" gumannya pada diri sendiri.


Kembali laki- laki itu menggali kuburan Ratu Amirah hingga tak beberapa lama, sekopnya berbenturan dengan sesuatu di bawah sana.


" Itu pasti liang lahat dari wanita itu." kata laki - laki itu sambil mempercepat pekerjaannya. Tangannya bergerak cepat membongkar tanah yang menutupi Liang lahat yang menutupi tubuh Amirah. Setelah beberapa saat kemudian, tampaklah tubuh Amirah yang terbungkus kain kafan membujur kaku mencium tanah.


Segera ditariknya tubuh Amirah dari dalam kubur wanita itu dan berniat meletakkannya ke atas tanah kuburan. Namun sebelum sempat dia melakukan hal itu, sebuah kekuatan yang tak tampak menarik tubuh Amirah kembali hingga masuk kembali ke Liang lahat.


Tanah-tanah di kuburan itu juga secara aneh kembali merapat hingga hampir saja menghimpit tubuh laki-laki tersebut.


Laki-laki itu sangat terkejut dengan kejadian itu. Namun belum hilang keterkejutannya, tanah kuburan itu seolah-olah bergerak dan menelan tubuh lelaki itu hingga tenggelam setengah tubuh.


Sadar bahwa ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang mencoba menariknya ke dalam tanah, lelaki itu segera menarik nafas dan mencoba untuk berkonsentrasi.


Dia memfokuskan dirinya untuk mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menghadapi penyerangnya.


Setelah beberapa lama, tubuh laki-laki muda itu pun terangkat dan dengan ringan tubuhnya mendarat di atas tanah kuburan Amirah.


Dia ingin tahu siapa orang yang telah berani menyerangnya. Tak perlu waktu lama bagi dia untuk mengetahui siapa yang telah menyerangnya.


" Keparat, Matilah saja kau jin terkutuk. Makhluk Allah yang dilaknat! " serunya dengan marah.


Dia melihat sesosok jin yang berdiri menantang dihadapan dirinya.


" Hahaha, kau yang terkutuk! Perbuatanmu sungguh sangat dilaknat oleh Allah. Apa maksudnya kamu membongkar makam wanita ini? " tanya sosok itu.


" Bukan urusanmu!...Urus saja urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusan manusia!" hardiknya keras.


" Tentu saja itu menjadi urusanku, karena wanita yang kau bongkar kuburnya itu adalah istriku! " kata sosok itu yang tak lain adalah Ammar.


Ammar yang tak pernah meninggalkan Makam istrinya itu memergoki seseorang sedang membongkar Makam Sang istri.


" Hahaha, lucu sekali. Ini adalah makam seorang wanita dari golongan manusia. Sedangkan kau adalah sesosok jin. Sangat jarang terjadi, ada wanita yang bersuamikan sesosok jin. Hmm... aku jadi makin tertarik dengan wanita ini." kata laki-laki itu.


Kemarahan Ammar naik ke ubun - ubun mendengar ucapan laki-laki itu. Dia menyerang laki-laki itu dengan pukulan tenaga dalam.

__ADS_1


Laki-laki itu terpental hingga beberapa meter ke belakang. Tubuhnya menabrak beberapa batu nisan yang ada di sana.


Laki-laki itu bangkit berdiri dan mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menghadapi serangan Ammar. Kini kedua laki-laki dari golongan makhluk yang berbeda alam itu terlibat perkelahian seru.


Perang tanding tenaga dalam pun tak terelakkan. Keduanya saling menyerang dan beradu kekuatan. Laki-laki itu bukan sembarangan orang. Dia memiliki tenaga dalam dan jurus - jurus ilmu kanuragan yang lumayan. Hingga dia mampu mengimbangi jurus - jurus tenaga dalam Ammar.


Ammar tak kehabisan akal. Dengan sekali gebrakan tubuhnya menghilang dan muncul kembali tepat di hadapan laki-laki itu dan mendaratkan satu pukulan telak di dadanya.


Laki-laki itu tersungkur jatuh ke tanah. Dari mulutnya menyembur darah segar yang menandakan bahwa laki-laki tersebut mengalami luka dalam akibat pukulan Ammar.


Segera setelah itu, tanah makam Amirah merapat dan rapi seperti sediakala.


" Kuperingatkan padamu, jangan sekali - kali berani menyentuh makam istriku. Hari ini aku mengampunimu, namun jika kau berani mengulanginya, maka aku tak segan - segan untuk membunuhmu! " kata Ammar kepada laki-laki itu sebelum kemudian laki-laki itu terkapar tak sadarkan diri di atas makam Amirah.


Keesokan harinya, warga geger karena menemukan sesosok tubuh tergeletak tak sadarkan diri di atas makam Amirah. Mereka juga menemukan sebuah sekop yang terletak di sisi makam Amirah.


Para warga menduga bahwa laki-laki tersebut pasti berniat untuk membongkar makam Amirah.


Segera mereka membawa tubuh laki-laki itu ke balai desa. Laki-laki itu yang kemudian diketahui mengalami luka dalam yang cukup parah segera di rawat oleh tetua desa tersebut.


Beberapa saat kemudian, laki-laki itu sadar dan mendapati dirinya berada di tengah-tengah kerumunan warga desa. Laki-laki meringis memegangi dadanya yang terasa sakit.


Warga yang berdatangan bertanya - tanya apa yang telah terjadi. Apa tujuan laki-laki tersebut ingin membongkar makam Amirah. Dan yang lebih membuat mereka penasaran adalah siapa yang menyebabkan laki-laki itu sampai bisa mengalami luka dalam yang demikian serius


Tetua adat desa Babakan segera membubarkan kerumunan warga yang sangat ingin tahu tentang laki-laki yang pingsan di makam Amirah.


Setelah semua warga pergi tetua adat itu berjalan menghampiri laki-laki itu.


" Kau beruntung tidak tewas oleh pukulan orang itu. Mungkin dia menyerangmu hanya dengan separuh kekuatan tenaga dalam saja." kata tetua adat itu sambil menatap tajam menelisik ke arah laki-laki itu.


Laki-laki itu menunduk menghindari tatapan tetua adat desa Babakan. Dia memilih bungkam dari pada harus menjawab pertanyaan lelaki itu.


" Apakah kamu tidak jera, Sani. Praktek ilmu Hitam yang kau jalankan itu sesat!" kata tetua desa itu dengan gusar. Rupanya dia mengenal baik laki-laki itu.


" Aku tidak bisa, ki. Sudah kepalang tanggung. Aku harus mendapatkan tujuh mayat wanita lagi agar aku bisa menyempurnakan ilmuku." jawab laki-laki itu.


Ki seta, tetua adat desa Babakan itu menghela napas dalam. Sulit sekali baginya melarang laki-laki yang sudah digelapkan matanya oleh pengaruh ilmu sesat hasil dari bersekutu dengan iblis.

__ADS_1


__ADS_2