
Tengah malam, aku tersentak bangun karena dikejutkan oleh suara keras seperti benda jatuh yang berasal dari luar rumah. Aku bergegas membuka pintu kamar dan setengah berlari menuju keluar rumah.
Aneh sekali, semua temanku masih pulas tertidur di kamar. Mereka semua sepertinya tidak mendengar bunyi apapun. Apa mungkin efek dari rasa lelah akibat perjalanan jauh membuat mereka tidur seperti kerbau.
Tak ada apa - apa yang terjadi di luar rumah. Hanya kegelapan dan tentu saja keheningan yang ada di luar. Memang diluar rumah keadaan gelap gulita karena tak ada penerangan listrik di desa ini. Hanya lampu yang berasal dari tenaga surya saja yang mereka gunakan sampai batas pukul 23.00 saja. Suasana sangat sepi dan gelap. Tak satupun rumah warga di desa ini yang lampu rumahnya masih menyala.
Mataku celingukan menyelidik ke sana ke mari untuk memastikan bahwa memang tak ada yang aneh yang terjadi di luar sana. Hanya ada beberapa makhluk astral biasa seperti yang biasa aku temui. Namun tak satupun dari mereka yang mengganguku.
Aku bermaksud untuk masuk kembali ke dalam rumah. Namun kembali ekor mataku menangkap sekelebat sinar yang bergerak cepat ke sana kemari. Sinar itu berkelebatan muncul dan lenyap kembali dengan cepat dari depan rumah menuju ke dalam hutan.
Karena penasaran, aku pun menutup pintu dengan tergesa-gesa. Dengan ilmu lari cepatku, aku berlari menyusul kelebatan sinar yang tadi dia lihat tadi ke arah hutan. Namun aku kehilangan jejak. Mataku celingukan kesana kemari mencari - cari kemana lenyapnya sinar itu. Namun aku harus kecewa karena kelebatan sinar itu tak terlihat lagi.
Rasa penasaran membuatku berniat untuk menggunakan ilmu sepih angin untuk mendeteksi dimana letak keberadaan sinar itu. Baru saja aku hendak merapalkan ajian Sepih Angin milikku, " Siapakah anda, nona? Mengapa mengikutiku?" tanya seseorang. Cepat aku menoleh ke arah datangnya suara.
Seorang pemuda yang kurasa sebaya dengan diriku berdiri tak jauh di hadapanku. Berwajah oriental dengan kulit putih pucat. Netral kelam dengan bintik hitam ditengah. Lengkungan matanya seperti bulan sabit dengan ujung yang runcing. Rambut lurus hitam panjang sebahu diurai begitu saja. Dari baunya aku tahu, dia adalah makhluk yang sejenis dengan ayahku. Aku urung merapalkan ajian Sepih Angin.
Aku memandang sejenak ke arah pemuda itu sebelum menjawab pertanyaannya.
" Namaku Arryan. Aku adalah salah satu mahasiswa yang sedang praktek KKN di desa ini." jawabku sambil berbalik untuk melangkah pulang. Rasa penasaran di hatiku mendadak hilang. Rupanya kelebatan sinar yang tadi aku lihat adalah pemuda ini. Pemuda yang merupakan sosok penjelmaan jin.
" Baiklah Arryan. Namaku Andros. Aku adalah pemilik tempat ini. Sepertinya kamu juga sama sepertiku. Tapi, aneh....aku juga mencium aroma manusia dalam tubuhmu." dia kembali berucap.
" Aku manusia...." jawabku cepat.
" Oh.... tapi hanya sesama bangsa jin saja yang bisa melihat sesamanya. Jadi anda pastinya juga sejenis denganku... " katanya berusaha menyakinkan diri jika aku juga merupakan makhluk yang sejenis dengannya.
Aku menggeleng kepala dan berniat untuk kembali pulang ke tempatku semula. Namun, baru tiga depa aku melangkahkan kaki, tangan seseorang sudah mencekal lenganku. Aku bergerak cepat mengangkat dan memutar balik pergelangan tangannya agar bisa melepaskan diri dari cekalan tangannya.
Akhirnya kami pun terlibat sedikit pertarungan dalam beberapa jurus. Andros sepertinya ingin menjajal kemampuanku. Setelah beberapa jurus berlalu, tampak ada keterkejutan di wajah pemuda itu saat melihat gerakan - gerakan dari jurus - jurusku.
" Jurus ilmu Pukulan Halilintar...!" Serunya tertahan ketika pukulan kami beradu dengan menghasilkan percikan api dan kelebatan sinar di langit. " Nona Arryan, apa hubungan dirimu dengan Pangeran Hasyeem penguasa Bukit Malaikat..? "
" Dia ayahku.. " jawabku singkat. Aku kembali menyerang Andros dengan pukulan ilmu Halilintar karena kesal dengan pemuda itu.
Andros berusaha menghentikan pertarungan saat mendengar jawabanku.
" Apakah.... anda Putri Arryan..? dia pun bertanya dengan wajah gugup.
Aku yang terlanjur kesal tak menggubris pertanyaannya.Malahan aku kembali menyerangnya, hingga sebuah pukulan berhasil bersarang di dadanya. Dia termundur beberapa langkah ke belakang.Tapi dia tak marah atau balik menyerang ku.
Andros memegangi dadanya yang mungkin saja terasa sakit karena mendapat serangan dariku. " Maaf, aku tidak mengetahui dengan siapa aku berhadapan. Kecantikan dan kehebatanmu sudah lama terdengar bahkan sampai ke negeri ini, namun baru sekarang aku bisa melihatmu secara langsung. " kata Andros. Lelaki itu kemudian menyilangkan tangannyanya di depan dada dengan sedikit membungkuk.
__ADS_1
" Selamat datang di desa Wentira, Putri Arryan. Maafkan atas ketidaksopananku padamu beberapa saat yang lalu. Sebagai gantinya, katakan apapun yang kamu inginkan, jangan sungkan untuk meminta padaku." kata Andros sambil membungkuk.
" Terima kasih atas sambutanmu. Dan aku Terima permintaan maafmu. Sekarang aku hanya ingin kembali ke kamarku. Aku sudah terlalu lama pergi keluar." Tanpa menunggu jawabannya, aku melesat pergi meninggalkan Andros.
Malam semakin larut. Aku sudah berada kembali di kamarku. Setelah membersihkan diri aku menjatuhkan diri ke kasur dan langsung tidur. Aku memang sudah sangat mengantuk dan lelah sekali. Aku tertidur lelap sekali hingga terbangun kemudian pada keesokan harinya.
Pukul 08.25. Aku baru bangun dari tidur. Gara-gara semalam aku jadi terlambat bangun pagi. Aku melihat sekelilingku. Sepi. Sepertinya teman - temanku sudah bangun sejak tadi dan mungkin saja sekarang sudah sibuk beraktivitas di luar. Bergegas aku membersihkan diri dan beranjak keluar menyusul teman - temanku.
...-----...
Hari ini, kegiatan kami adalah mengadakan bakti sosial dengan warga dengan memberikan cek kesehatan dan pelayanan kesehatan bagi para warga.
Awalnya aku dan kawan - kawanku mengira bahwa warga desa Wentira hanyalah yang ada di sekitar sini saja. Tapi ternyata kami salah. Ternyata desa Wentira memiliki wilayah yang cukup luas. Tempat yang kami singgahi kemarin merupakan bagian dari desa Wentira. Ada beberapa lokasi lagi yang letaknya agak berjauhan namun masih termasuk ke dalam wilayah desa Wentira.
Hari ini, agenda kegiatan kami adalah bakti sosial ke Dusun Padang Alas. Ke sanalah kami saat ini. Dengan dikawal oleh Pak Taju dan Kenanga, kami kembali menyusuri hutan belantara untuk sampai ke dusun Padang Alas. Dusun yang letaknya tiga kilometer dari desa Wentira. Dusun ini dihuni oleh sekitar sepuluh rumah. Rumah - rumah warga di sini juga letaknya agak berjauhan.
Menjelang siang, kami tiba di lokasi. Kami langsung saja mendatangi rumah - rumah warga dan melakukan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan jika ada warga yang sakit. Rata-rata, mereka memiliki masalah kesehatan karena minimnya sarana kesehatan yang ada di dusun ini. Juga masalah sanitasi warga. Meskipun mereka mengkonsumsi air yang berasal dari sumur dan air pengunungan. Namun karena tidak dimasak, maka mereka rentan terhadap diare dan juga penyakit pencernaan lain.
Berbeda dengan warga yang berada di desa Wentira, Dusun Padang Alas hidup dibawah garis kemiskinan. Kehidupan mereka yang tak tersentuh peradapan, membuat mereka semakin sulit untuk memperoleh informasi ekonomi dan berinteraksi dengan masyarakat luas.
" Apakah ini rumah terakhir, Tano? "
Kami melangkah memasuki sebuah rumah warga yang letaknya paling ujung di desa ini. Rumah kecil yang hanya berdinding kulit kayu dan beratap daun rumbia.
" Assalamu'alaikum... " tak ada jawaban dari dalam rumah.
" Assalamu'alaikum... " kembali kami mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Namun, tetap tak ada jawaban dari pemilik rumah. Ekor mataku sempat menangkap pergerakan dari arah belakang rumah. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita tua yang sedang menimba air di sumur belakang rumah.
" Itu ada, seseorang... " tunjukku pada nenek - nenek yang kulihat barusan. Tapi anehnya, sekarang nenek - nenek itu sudah tak ada lagi.
" Apa kamu tidak salah orang, Arryan? " tanya Tano. Aku menggelengkan kepalaku. Jelas aku tidak salah orang. Aku melihat dengan jelas, tadi ada seorang nenek - nenek yang sedang menimba air di sumur belakang.
" Mungkin saja, sekarang sudah masuk ke rumah. " jawabku lagi.
Penasaran...... aku berjalan ke belakang rumah untuk mengecek siapa tahu nenek itu memang tidak mendengar panggilan kami. Tapi aku dibuat heran karena tidak ada orang yang kujumpai di sana. Hanya ada sumur tua yang tertutup kayu - kayu kering di atasnya. Nenek tadi tak terlihat lagi. Apa dia bukan pemilik rumah ini? Aku bertanya dalam hati.
" Arryan..!. " Tano memanggilku. Aku bergegas kembali ke tempat kami semula.
" Pak Taju, mana? Coba kita panggil beliau, mungkin saja beliau mengenal siapa pemilik rumah ini." kata Melda..
Tak lama kemudian Pak Taju dan Kenanga datang menyusul ke tempat kami bersama kedua teman kami yang lain.Saat melihat kami, wajah kedua orang itu langsung berubah pucat.
__ADS_1
" Mbak Arryan, Mbak Melda dan Mas Tano, sebaiknya kalian tidak usah ke rumah itu. Karena rumah itu sudah tak berpenghuni. Penghuninya sudah meninggal dunia." kata Pak Taju sambil berbalik arah mengajak kami meninggalkan tempat itu. Kenanga menatapku sekilas lalu berbalik mengikuti Pak Taju meninggalkan tempat ini.
Aku bingung melihat sikap Pak Taju. Mengapa dia mengatakan jika pemilik rumah sudah meninggal dunia. Padahal jelas - jelas tadi aku melihat ada seseorang nenek yang sedang menimba air di sumur belakang rumah ini.
Atau barangkali memang benar dugaan ku, jika tadi mungkin saja orang lain yang sedang mengambil air di sumur belakang, Jika pemilik rumah sudah meninggal dunia, seperti yang dikatakan Pak Taju.
Malam harinya, aku dan teman - teman baru sampai kembali ke desa Wentira. Setelah melepas lelah dan beristirahat, kami melanjutkan acara diskusi hasil kegiatan hari ini di Balai Pertemuan Desa bersama tokoh masyarakat desa.
Pukul 12.30.
Aku baru saja masuk ke kamar setelah membersihkan diri. Melda teman sekamarku belum kembali. Dia sedang berada di rumah kepala desa bersama Tano dan Tyas. Jadi di rumah ini hanya ada aku dan Afdal yang sedang menyusun laporan di kamarnya.
Aku juga belum tidur karena harus memasukkan laporan kegiatan hari ini ke dalam laptop.
Entah sampai pukul berapa aku tenggelam dalam kegiatanku ketika aku mendengar suara seseorang di kamar mandi. Sepertinya orang itu sedang mandi. Aku heran karena malam - malam begini, temanku masih bisa mandi, sedangkan udara di tempat ini luar biasa dinginnya. Tanpa penyejuk ruangan saja tempat ini sudah sangat dingin sekali.
" Melda... kamu sudah pulang? " Aku bertanya karena memang letak kamar mandi bersebelahan dengan kamarku dan Melda.
Sepi...tak ada jawaban. Aku penasaran lalu melangkah keluar dari kamar. Aneh sekali.... tak ada siapa - siapa di kamar mandi. Karena kamar mandi ini sekarang dalam posisi terbuka. Juga tak ada tanda - tanda bekas dipakai, karena lantai kamar mandi ini juga kering.
Bergegas aku ke ruang tamu untuk memastikan sesuatu. Aku melintasi kamar Afdal. Aku mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya. Tak lama kemudian Afdal membukakan pintu untukku.
" Ada apa? " tanya Afdal.
" Apa Tano dan Tyas sudah pulang? " aku bertanya padanya. Dia melirik sekilas jam yang terpajang di dinding ruang tamu.
" Belum. " jawabnya.
" Oh..., " Aku hanya beroh ria lalu bermaksud untuk kembali ke kamarku.
" Dal.. apa kamu tadi yang barusan mandi? " aku tiba-tiba bertanya pada Afdal. Calon dokter yang berwajah kalem itu mengerutkan alis seperti bingung dengan pertanyaanku.
" Nggak... gila aja, gue mandi malam - malam begini. Emang kenapa? " dia balik bertanya.
Aku hanya geleng-geleng saja lalu kemudian berlalu pergi ke kamarku. Sudahlah..... aku tak menggubris lagi hal aneh yang kualami barusan. Aku sudah faham akan semuanya.
Aku kembali masuk ke dalam kamar. Namun betapa terkejutnya diriku saat sudah berada di dalam kamar. Di kursi meja belajar tempat aku duduk tadi, seseorang sedang duduk di sana menghadap ke arah Laptopku. Dari postur tubuhnya, aku tahu dia pasti seorang gadis yang sebaya denganku.
" Siapa kamu? Mau apa mendatangiku malam - malam begini? " aku bertanya dengan hati - hati. Aku tahu bahwa yang sedang duduk di hadapanku saat ini bukanlah manusia.
" Dia....... membunuh kami..... "
__ADS_1