
Aluna masih enggan beranjak. Ada perasaan aneh diam - diam menjalari hatinya. Hangat dan penuh bunga.
Cup! kembali sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya.
" Pangeran Alyan!! "
Alyan tertawa terbahak-bahak melihat rona merah di wajah Aluna. Aluna merasa sangat malu. Teman masa kecilnya itu sedang mentertawakan dirinya yang baper sendiri karena berhasil dia cium.
" Hei, mau kemana? Tunggu aku Aluna!" seru Alyan.
Aluna tidak menghiraukan panggilan Alyan. Dia sangat malu karena merasa telah dipermainkan oleh sahabat kecilnya itu.
" Hei! " seru Alyan yang berhasil menyusul. Pemuda itu mencekal lengan Aluna setelah berhasil menahan tubuh gadis itu.
" Apa!" bentak Aluna. Dia berusaha untuk menutupi hatinya yang kembali berdebar- debat. Heran, mengapa sekarang dia jadi salah tingkah begini.
" Tidak ada. Hanya ingin menggodamu saja! " katanya sambil tersenyum jahil.
Kemudian tanpa di komandan, tangan kekar Alyan menggandeng Aluna.
" Kita jalan biasa saja! " kata pemuda itu.
Aluna jadi serba salah. Mau dilepas takut Alyan marah, tidak dilepas... dia yang panas dingin.
...-----...
Alyan sedang duduk termenung seorang diri. Dia merasa kesepian karena tidak ada teman yang bisa di ajak bermain atau bersenda gurau.
Sejak peristiwa beberapa hari yang lalu, Aluna tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Dia seolah menghilang tanpa jejak. Alyan menjadi kesepian dan mencari - cari keberadaan teman kecil dan sahabat bermainnya itu.
Alyan pernah bertanya pada Hamish, adik Aluna. Namun, jawaban Hamish membuat kening Alyan berkerut. Kata Hamish, Aluna pergi ke Negeri Sang Ayah, di Australia.
Paman Ammar, sahabat ayahnya itu memang sering kali bolak-balik pulang ke Australia. Pamannya itu, juga memiliki kekuasaan di sana. Dia memimpin sebuah kelompok besar yang berada di bawah pimpinannya.
Kelompok besar itu merupakan kumpulan dari beberapa kelompok jin yang sering kali membantu manusia dan ikut berjihad di jalan Allah. Mereka membantu saudara - saudara muslim kita yang sedang di tindas oleh bangsa lain.
Kali ini, Aluna pergi tanpa berpamitan kepadanya. Alyan menjadi heran sendiri.
" Apa yang terjadi? Mengapa Aluna pergi ke Australia seorang diri tanpa memberitahu hal itu padaku? " tanya Alyan yang tak habis pikir akan sikap Aluna.
'Seperti bukan Aluna saja,' pikirnya. Biasanya Aluna akan memintanya untuk menemani gadis itu jika mereka pergi ke sana.
__ADS_1
Bukan baru kali ini, Aluna pergi ke Australia. Mereka sudah beberapa kali pergi ke Mansion tempat tinggal Paman Ammar, ayah Aluna.
Tapi yang menjadi pertanyaan Alyan, baru kali ini Aluna pergi diam- diam tanpa mengabari dirinya dan juga secara mendadak.
Terbawa oleh rasa penasaran di hatinya, Alyan akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat Aluna.
Dia melesat pergi menuju ke bagian Barat istana. Paman Ammar, ayah Luna tinggal di istana Bukit Duri yang terletak di sebelah Barat Istana.
Paman Ammar adalah Panglima Besar yang menjaga wilayah barat kerajaan Ayahandanya, Pangeran Hasyeem. Dia yang bertanggung jawab mengawasi dan menjaga keamanan wilayah sebelah Barat Istana Bukit Malaikat.
Alyan sampai di Bukit Malaikat. Dia mencari Paman Ammar, Namun tak menemukan lelaki tampan ayah dari Aluna itu. Hanya bibi Amirah, ibunda Aluna saja yang dia jumpai.
" Assalamu'alaikum, bibi. Apakah bibi tahu di mana aku bisa menjumpai paman Ammar?" tanya Alyan pada wanita yang masih saja terlihat cantik walaupun sudah berumur itu.
" Oh, Pangeran Alyan. Maaf bibi lupa memberitahukan padamu, pamanmu dan Aluna pergi ke Australia. Ada hal penting yang harus dilakukan di sana. Dan itu sifatnya tidak bisa di tunda - tunda kata pamanmu. Dia juga membutuhkan Aluna untuk membantunya. Karena itulah, Aluna ikut pergi bersama pamanmu. Mereka pergi dengan terburu-buru, hingga Aluna tak sempat mengabarimu, " jelas bibi Amirah.
" Ada apa bibi? Paman tidak pernah menceritakan hal penting itu padaku. Dapatkah bibi memberitahukan sesuatu padaku! " tanyanya ingin tahu.
Wanita itu menggeleng - gelengkan kepala. " Bibi tidak tahu, Pangeran! Pamanmu tidak pernah memberitahu atau bercerita tentang apapun pada bibi terkait hal itu. Baiknya kamu tanyakan saja hal itu pada ayahmu! Siapa tahu, dia mengetahui sesuatu. " saran ibunya Luna.
Alyan tercenung mencerna setiap kata yang keluar dari mulut bibi Amirah. Paman Ammar membutuhkan Aluna untuk membantu menyelesaikan suatu urusan. Apakah urusan yang di maksud paman Ammar ada kaitannya dengan kemampuan Aluna atau ada kaitannya dengan dirinya? Alyan berpikir dengan keras.
" Mustahil Paman Ammar menyimpan sesuatu jika itu tidak ada kaitannya dengan dirinya." kata Alyan berguman sendiri.
Alyan melangkah lesu meninggalkan gerbang istana Bukit Duri. Namun, baru saja Alyan hendak melesat pergi meninggalkan pintu gerbang istana Bukit Duri, seseorang berbisik memanggilnya.
" Ssst, pangeran Alyan!"
Alyan menoleh dan mendapati Hamish yang bersembunyi di balik tembok gapura.
" Hamish, apa yang sedang kamu.... "
" Sttt, pangeran. Jangan keras - keras bicaranya. Nanti ada yang dengar! " kata Hamish sambil menengok kiri kanan.
Pemuda berwajah macho ini adalah adik Aluna. Usianya berkisar tujuh belas tahunan. Satu tahun di bawah Azzura, adiknya yang kini sudah berusia delapan belas tahun.
" Ada apa?? " bisik Alyan pelan nyaris tak terdengar.
" Jangan di sini! Ayo kita ke tempat lain! " kata Hamish.
Pemuda itu kemudian menghilang dari tempat itu , di ikuti oleh Alyan.
__ADS_1
" Kita ke Bukit Tengkorak saja, Pangeran!. Di sana aman karena jarang ada orang yang berani menjamah tempat itu! " kata Hamish yang berbicara menggunakan kemampuan tenaga dalamnya melalui Ilmu Sepih Angin yang diajarkan oleh Pangeran Hasyeem.
Pangeran Hasyeem memang mengajarkan kepada semua anak - anaknya dan juga anak - anak Ammar tentang Ilmu Sepih Angin. Gunanya selain untuk mendeteksi letak keberadaan seseorang, ilmu ini juga bisa di pakai untuk berkomunikasi dengan melalui kekuatan bathin dan tenaga dalam.
" Hm, baiklah.. Aku akan kesana." kata Alyan. Pemuda itu kemudian melesat ke arah Bukit Tengkorak, tempat yang di maksud oleh Hamish.
Sesampai di Bukit Tengkorak, terlihat Hamish yang sudah menunggu kedatangannya.
" Ada hal penting apa yang membuatmu harus bertingkah sedemikian aneh, Hamish? " tanya Alyan. Dia sudah tak dapat membendung lagi rasa penasaran di dalam hatinya.
Baginya, terasa ada yang aneh dengan kepergian Aluna yang tiba-tiba dengan ayahnya tanpa memberi kabar. Dan kini di tambah oleh sikap Hamish yang terlihat takut dan sedikit mencurigakan.
" Aku punya informasi penting menyangkut kepergian kak Luna yang tiba-tiba. Apa kamu tidak tertarik untuk mengetahuinya, Pangeran? " tanya Hamish dengan sikap penuh selidik dan waspada.
" Tentu saja aku tertarik. Tapi mengapa kamu mau memberitahukan hal ini kepadaku? " tanya Alyan dengan tatapan yang tajam menembus mata Hamish.
" Karena ini adalah pesan kak Luna, " jawabnya.
Alyan semakin penasaran dengan kata - kata Hamish. Dia ingin mengetahui apa yang ingin di sampaikan Hamish padanya.
Seperti Ayahnya pangeran Hasyeem, dia juga memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu melalui mata seseorang.
"Hamish, aku tak ada waktu untuk menemui pangeran Alyan sekarang. Tapi tolong sampaikan padanya bahwa aku ikut ayah ke Australia.
Stts... Hamish, ini rahasia! jangan sampai bocor pada orang lain. Katakan pada Alyan, portal Oreon sudah terbuka.
Banyak roh jahat dan iblish dari neraka yang lolos dan kini sedang membuat kekacauan di seluruh dunia. Aku harus membantu ayah untuk melawan dan menaklukkan para iblis dan juga penyihir serta jin kafir yang kini sedang mencoba untuk menguasai daerah kekuasaan kita di Australia. "
Alyan terhenyak tak percaya setelah mengetahui apa yang sedang terjadi melalui tatapannya dimata Hamish.
Mengapa Aluna dan Paman Ammar menyembunyikan semua ini dari dirinya?
Setelah mengetahui semua apa yang dikatakan oleh Aluna melalui mata Hamish, Alyan segera pulang. Tekadnya hanya satu, dia harus menemui Ayahanda. Ayahnya pasti mengetahui hal ini.
Sesampainya di istana Bukit Malaikat, pangeran Alyan segera menemui ayahandanya, Sang Pangeran Hasyeem.
" Ayah! " panggilnya pada seseorang lelaki yang sedang duduk di atas singgasananya dengan gagah. Di sampingnya duduk seorang wanita yang sangat dia hormati dan dia cintai, ibunya.
" Hmm, ada apa gerangan, Pangeran Alyan putraku? " tanya lelaki itu. Sebelah tangannya sedang menggenggam tangan ibundanya.
" Katakan padaku, mengapa Aluna dan ayahnya pergi diam - diam ke Australia, ayahanda? tanya Alyan dengan wajah gusar.
__ADS_1
" Entahlah, mungkin saja ada sesuatu yang harus mereka kerjakan di sana, sebuah tugas atau urusan keluarga paman Ammar, barangkali." jawab Pangeran Hasyeem sekenanya.