
Suasana tempat Nadia bersekolah sangat ramai. Maklum, sekarang waktunya jam jemputan. Para penjemput yang sebagian besar adalah para orang tua siswa itu berkerumun menanti anak - anak mereka keluar dari kelasnya masing-masing.
Tiba-tiba kerumunan itu terpecah karena kehadiran seseorang. Mata Asmi menoleh untuk melihat dengan jelas seseorang yang sudah membuat kerumunan itu terpecah dan bubar.
Seorang lelaki paruh baya berjalan angkuh di ikuti oleh beberapa laki-laki yang berpakaian rapi dan serba hitam di belakangnya.
Mata laki-laki itu menyorot tajam menatap setiap orang yang dia lewati. Hingga saat sampai pada Asmi, tatapannya tajam menyapu setiap inci dari raut wajah wanita itu.
" apakah kita pernah bertemu, nona?" tanya lelaki itu pada Asmi.
Asmi mendongak memperhatikan wajah lelaki itu dengan seksama, lalu menggeleng tanda tak tahu.
" Maaf tuan, tapi sepertinya kita tidak pernah bertemu." jawabnya.
"hm, menarik. tak pernah bertemu tapi terasa memberikan luka yang membekas.... " gumannya sambil berlaku dari hadapan Asmi.
" luka, luka yang membekas? heran. apa aku pernah menyakiti nya..? " tanya Asmi yang tak faham dengan maksud ucapan lelaki itu.
" Siapa sih, orang itu? aku barusan liat hari ini? " tanya Asmi pada seorang ibu yang kebetulan juga sedang menunggu anaknya.
" masa tidak tahu mbak, itu kan Pak Panca Nugraha, pemilik yayasan dan gedung ini. Dia juga orang yang berpengaruh di kota ini. Tapi denger - denger sih, dia juga paranormal, gitu. " bisik ibu itu seolah - olah takut di dengar orang.
" Hah, paranormal.! " pekik Asmi dengan mulut ternganga. Sontak lengan Asmi langsung mendapat cubitan dari ibu tadi.
"stt, jangan keras-keras. Entar dia dengar. Bisa runyam urusannya.!" kata ibu itu seraya bergerak menyambut anaknya yang rupanya sudah keluar dari kelasnya.
Nadia berjalan menghampiri Asmi yang masih berdiri terpaku menatap ke arah sosok lelaki paruh baya yang kini tengah berdiri tak jauh dari mereka. Dia berdiri di depan seorang bocah wanita seusia Nadia.
" tante Asmi lagi liatin siapa, sih.? " tanya Nadia. Pandangannya lurus mengarah pada arah pandangan Asmi, lalu...
__ADS_1
" Oh, itu kakeknya Diva. Diva itu teman sekelas aku. anaknya cantik tapi sangat pendiam." kata Nadia menjelaskan profil temannya itu pada Asmi.
" eh, siapa. Diva? oh.. jadi teman kamu itu namanya Diva. iya, sih. Diva memang cantik. " jawab Asmi seraya tangannya mengajak Nadia untuk segera naik ke motor karena mereka harus segera pulang. Hari ini Asmi banyak kerjaan di toko.
Setelah Asmi menjalankan motornya, Pak Panca segera memberi kode pada anak buahnya. Anak buahnya yang segera faham lantas mengangguk kecil dan segera menelpon untuk menghubungi seseorang.
" Halo, burung sedang berjalan pulang. Bersiaplah....! "
" ok, diterima.! sebuah suara balasan terdengar dari handphone itu yang langsung di sahut oleh Pak Han, assisten pribadi Pak Panca.
" cepat kerjakan dan jangan sampai gagal? " sahutnya datar dan dingin.
Asmi langsung kembali ke toko usai menjemput dan mengantar Nadia ke rumah. Hari ini banyak barang pesanan toko yang akan datang. Kasihan jika Ali harus bekerja seorang diri.
Motor Asmi baru saja sampai di tikungan jalan dan ketika dia hendak berbelok menuju arah ke toko, sebuah mobil Isuzu yang tadinya berjalan di belakang Asmi, tiba-tiba saja mempercepat laju kendaraannya. Asmi yang tidak menyadari adanya bahaya, terus saja menjalankan motornya dengan kecepatan sedang hingga pada suatu ketika....
Beruntung motor yang berada di belakang Asmi berhasil menghentikan laju kendaraannya, sehingga tidak sempat menabrak tubuh Asmi.
Orang - orang segera berdatangan memberi pertolongan pada Asmi. Sementara pemilik mobil Isuzu itu kabur setelah menabrak Asmi.
Tubuh Asmi yang terlempar dan jatuh mencium tanah, anehnya tidak mengalami luka sedikitpun. Namun keadaan motor yang di tumpanginya sungguh menyedihkan. Motor itu rusak parah karena terseret dan menghantam trotoar jalan.
Di mata orang awam, Asmi akan di anggap beruntung atau sedang mendapat mukjizat hingga lolos dari maut. Namun tidak demikian halnya dengan mata orang yang memiliki kekuatan supranatural.
Orang itu akan melihat tubuh Asmi yang di peluk oleh sesosok tubuh yang bercahaya terang hingga badan jalan yang keras itu tak akan bisa melukainya.
Asmi sendiri merasakan bahwa seseorang sedang memeluknya erat ketika dia terjatuh tadi. Hingga saat terjadi benturan dia tak merasakan apapun. Dan ketika dia bangun, dia bisa melihat pangeran Hasyeem yang berdiri di sampingnya.
Wajah pangeran itu tampak cemas saat memandangnya. Asmi ingin berkata kalau dia baik- baik saja, namun urung di lakukannya karena orang - orang sudah mulai berdatangan.
__ADS_1
" Wah, ajaib bener. Tubuh wanita ini tak terluka segorespun! " seru seseorang yang berdiri di dekat Asmi seraya mengamati sekujur tubuh Asmi dengan pandangan tak percaya.
orang - orang di sekitar tempat itu mulai mendekat ke arah Asmi. Mereka pun setuju dengan perkataan orang itu. Tubuh Asmi tak terluka sedikitpun, padahal jika di lihat dari posisi jatuhnya motor dan keadaan motor yang rusak parah, maka di pastikan Asmi tak akan selamat. Minimal tubuhnya akan menderita luka parah dengan patah tulang di beberapa bagian tubuhnya.
" Gimana bisa begitu, ya. Itu perempuan hebat bener. Tubuhnya tak terluka sedikitpun. Padahal kalau di lihat dari motornya. Perempuan itu seharusnya sudah tewas atau paling tidak luka parah." kata salah seorang di antara mereka.
Seseorang terlihat sedang menghubungi seseorang melalui handphone.
" Tuan, burungnya selamat! " katanya pada orang yang di hubungi. Setelah itu dia menutup teleponnya dan pergi dari tempat itu.
Sementara itu, polisi yang sudah tiba di tempat kejadian, tampak sedang mengajukan beberapa pertanyaan pada Asmi yang terlihat sedikit shok dengan kejadian yang di alami nya.
Setelah itu, Asmi di bawa ke rumah sakit terdekat untuk di periksa kalau - kalau terdapat luka dalam di bagian tubuhnya.
Sedangkan motor Asmi di amankan ke kantor polisi guna penyelidikan lebih lanjut. Beberapa saksi mata yang berada di tempat kejadian juga sudah di mintai keterangan oleh polisi.
Mirna yang mendengar kejadian tabrak lari yang di alami oleh Asmi segera menyusul kakaknya di rumah sakit. Dia sangat khawatir akan nasib yang menimpa kakaknya itu.
Namun, Mirna dapat bernafas dengan lega, karena Asmi tak terluka sedikitpun juga. Hanya motornya saja yang rusak parah.
" Huh, untung Mbak Asmi ndak kenapa - napa. Aku sudah jantungan mendengar berita kalau Mbak Asmi kecelakaan. Motornya di tabrak orang lalu penabraknya kabur, begitu kata Ali tadi sewaktu nelpon aku, Mbak!" kata Mirna dengan berapi - api menirukan ucapan Ali saat di telpon.
Asmi terkekeh geli mendengar cerita Mirna.
" Ya, memang benar to, mbak di tabrak orang. Tapi, syukur alhamdulillah, akunya yo selamat." kata Asmi pada Mirna.
" Mbak, ngomong - ngomong, bagaimana ceritanya mbak Asmi bisa selamat saat jatuh dari motor itu, mbak? " tanya Mirna tiba-tiba.
Mulut Asmi terbungkam rapat. Dia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Mirna. Masa dia harus bilang pada Mirna bahwa Hasyeem lah yang telah pasang badan dan melindunginya saat terjatuh tadi. Kan nggak mungkin!!
__ADS_1