Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 134 Padepokan Pasir Hitam


__ADS_3

Ajaib...! setelah meminum air dari sumur mata air keabadian itu dan membasuh semua luka ditubuhnya, secara perlahan-lahan tubuh Luna yang menghitam berubah menjadi seperti sedia kala. Juga luka akibat cakaran makhluk itu, pun lenyap tak berbekas.


Hueekkkkkk! Huekkkk! Luna terbangun dan langsung memuntahkan darah yang berwarna kehitaman dari mulutnya.


" Aluna! " seru Alyan dan Ammar bersamaan.


Aluna tersandar lemah di bahu Sang ayah.


" Berbaringlah, lagi. Kau butuh banyak istirahat! " kata Ammar.


Ammar membaringkan tubuh Luna kembali di atas tempat tidur dan membiarkan gadis itu kembali memejamkan mata. Aluna harus banyak beristirahat agar tenaganya kembali pulih.


-


-


Sementara itu, di sebuah tempat di wilayah Hutan Tabut, seorang gadis berpakaian serba hitam, sedang berjalan pelan menyusuri sisi sungai yang membelah Hutan Tabut.


Seekor Harimau putih berjalan disisi gadis itu layaknya seperti seorang pengawal. Dialah Ambika, putri Raja Siluman Harimau Putih dari Hutan Tabut dan Harimau putih itu adalah salah satu pengawal kepercayaannya.


" Putih, tampaknya jejaknya mengarah ke atas." kata gadis itu pada Harimau putih yang sedang bersamanya. Harimau putih itu mengaum membenarkan ucapan tuannya.


" Jika jejaknya mengarah ke atas, maka.... bisa jadi ada dua tempat yang akan dituju, Air Terjun Alas Tirta dan Bukit Malaikat." kata gadis itu lagi.


" Ahh, Bukit Malaikat adalah istana Pangeran Hasyeem dan Air Terjun Alas Tirta adalah Desa Ghaib tempat kediaman Ki Anom.Tapi mengapa dua tempat itu yang diincar. Walaupun desa ghaib dulunya penghuninya adalah manusia, Namun sekarang, desa itu dihuni oleh para oleh orang - orang bunian." Gadis itu mengurut - urut keningnya seperti sedang berpikir.


" Akh, aku tahu. Mungkin makhluk itu sedang mengincar para pengunjung air terjun Alas Tirta! " serunya tiba-tiba.


" Tapi kalau ke Bukit Malaikat, siapa yang diincarnya, ya? " tanyanya lagi pada diri sendiri.


" Apa mungkin pemuda itu? Aku mencium darah manusia yang begitu kental pada pemuda itu. " kata Ambika.


" Apa Pangeran Hasyeem memiliki Putra dari bangsa manusia? "


Ambika kembali melanjutkan penelusurannya ke arah Bukit Malaikat. Namun sebelumnya, gadis itu berbelok arah menuju ke Hutan Larangan.


Dia ingin memotong arah menuju ke Air Terjun Alas Tirta dengan melewati Hutan Larangan.


" Tolong.... Tolong...! dari kejauhan dia mendengar seseorang berteriak minta tolong.


" Putih, kau dengar itu? seseorang tampaknya sedang dalam kesulitan. Ayo cepat! kita harus segera menolongnya! " seru gadis itu yang dengan cepat berlari ke arah datangnya suara tadi.


Seorang gadis tampak sedang berlari tunggang langgang karena sedang dikejar oleh beberapa orang pria tak di kenal. Pakaian gadis itu terlihat compang-camping dan terlihat beberapa luka yang masih berdarah di pipi dan beberapa lagi ditengah dan kakinya.


Brukkk! tubuh gadis itu menabrak Si


Putih yang berdiri menghadang jalannya. Sedang Ambika sedang berjalan menyusul si Putih dari belakang.


Wajah gadis itu tampak ketakutan setengah mati saat melihat sosok harimau putih besar sedang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


" Ohh... ampun, jangan makan aku Harimau putih. Aku... aku.. " gadis itu tak melanjutkan kalimatnya karena sudah keburu pingsan saking takutnya


Sedangkan para pria yang berjumlah enam orang masih terus memburu gadis itu . Saat sudah berada dekat dengan tempat itu, mereka langsung menghentikan kejarannya.


Keenam pria itu mundur bersamaan beberapa langkah saat melihat seekor harimau putih sedang berdiri menghadang jalan mereka.


" Mundur... rupanya ada harimau putih di depan kita.!!" seru seseorang diantara mereka.


" Bagaimana ini, apa kita masih mau melanjutkan pengejaran kita? " tanya salah seorang lagi.


" Kita keroyok saja, toh...jumlah kita lebih banyak " kata salah seorang dari mereka.


Mereka menatap harimau putih dan Ambika yang kini sudah berdiri di samping Si Putih.


" Hei, kau. Gadis berbaju hitam! serahkan gadis yang sedang pingsan itu pada kami! bentak salah seorang dari mereka.


" Hm, mengapa aku harus menurut pada kalian! Gadis ini aku yang lebih dahulu mendapatkannya, jadi sudah tentu gadis ini milikku! " kata Ambika seraya tersenyum penuh ejekan ke arah mereka semua.


" Tak usah banyak cakap! Serahkan saja gadis itu. Gadis itu milik kami! "


" Bagaimana jika aku menolak!? Kalian mau apa? " Ambka tersenyum meledek


" Jika kamu tidak mau menurut, terpaksa kami menggunakan cara kekerasan! " bentak mereka lagi.


" Huh, siapa takut! Silahkan kalian ambil, jika kalian bisa! " tantang Ambika dengan berani.


Merasa gusar dengan tantangan Ambika, mereka pun segera mengepung Ambika.


Perkelahian pun kini terjadi . Enam orang pria melawan seorang gadis dan seekor Harimau putih. Tampaknya seru sekali.


Ambika mengeluarkan segenap kemampuan ilmu bela dirinya untuk menghadapi ke enam pria yang kini juga sudah mulai mengeluarkan kemampuan mereka masing-masing.


Ternyata ke enam pria itu bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah murid dari Ki Dirga, pemilik padepokan Pasir Hitam Padepokan Pasir Hitam adalah padepokan silat tenaga dalam yang di dirikan oleh Mbah Marjiman. Ki Dirga merupakan cucu dari Mbah Marjiman. Mereka mendalami ilmu Telapak Dewa.


Ilmu Telapak Dewa adalah sebuah ilmu silat yang menggabungkan ilmu hitam dan ilmu kanuragan. Mereka yang terkena pukulan ilmu Telapak Dewa biasanya akan mengalami luka dalam yang parah dengan bekas pukulan berbentuk telapak tangan yang berwarna hitam.


Ambika yang mengenali jurus - jurus dari Telapak Dewa langsung waspada dan lebih hati - hati-hati dalam bertindak.


" Putih.... mereka menggunakan jurus Telapak Dewa. Hati-hati dengan telapak tangan mereka.! " seru Ambika.


Walaupun Ambika dan Si Putih sudah mengeluarkan segenap kemampuan mereka, tetap saja mereka bukan lawan tanding yang seimbang bagi ke enam murid dari padepokan Pasir Hitam tersebut.


Keduanya kini mulai terdesak. Beberapa kali Ambika nyaris terkena pukulan Telapak Dewa yang dilancarkan oleh keenam murid Ki Dirga secara bertubi-tubi.


Sampai pada suatu ketika, salah seorang dari mereka berhasil mendaratkan sebuah pukulan di dada sebelah kanan gadis itu.


Akhhhh...!!!! Tubuh Ambika terdorong kebelakang dan hampir saja gadis itu jatuh terjengkang jika tidak di tahan oleh Si Putih. Dari mulut Ambika memuntahkan darah segar.


" Hahaha, lihatlah. Akhirnya gadis sombong itu tumbang juga! " ejek mereka dengan pongahnya. Mereka berkacak pinggang mentertawakan Ambika yang sedang meringis kesakitan karena dada sebelah kanannya terluka akibat terkena pukulan Telapak Dewa.

__ADS_1


Namun tawa itu terhenti seketika setelah mereka mendengar seseorang tertawa di belakang mereka.


" Hahahah, lucu sekali. Aku baru melihat enam ekor bebek pengecut sedang mentertawakan seorang gadis! " suara tawa yang disertai ejekan, ditujukan kepada ke enam murid padepokan Pasir hitam.


Serentak mereka mencari asal suara itu.


Di belakang mereka, berdiri sesosok pemuda dengan rambut yang dikuncir ke belakang, sedang memegang sebuah busur dan anak panah yang tersampir di bahunya.


" Hei, bocah ingusan. Berani sekali sekali kamu mengatai kami bebek pengecut. Bosan hidup, hah! " bentak salah satu dari mereka sambil berkacak pinggang dengan sikap yang pongah.


" Apa namanya enam orang pria mengeroyok seorang gadis kalau bukan bebek pengecut? " Pemuda itu balik bertanya.


" Rupanya kamu belum tahu siapa kami, Hei bocah tengil! " bentak pria yang lain.


" Belum... tapi sepertinya aku juga tak berminat untuk berkenalan dengan orang macam kalian. Hanya buang - buang masa dan energi! " kata pemuda itu. Dia kemudian bergerak melewati keenam pria itu dengan santai mendekat ke arah Ambika.


" Kau...! eh..tuan, tolonglah gadis itu, mereka ingin menangkapnya." lirih suara Ambika meminta tolong pada Azzura untuk menyelamatkan gadis yang sedang tak sadarkan diri itu dari keenam murid padepokan Pasir hitam yang berniat menculiknya.


" Kenapa kau ini, nyawamu saja sudah diujung tanduk, masih saja sempat berpikir untuk menyelamatkan orang lain!" bentak Azzura.


" Saya tidak apa-apa, tuan. Tolonglah...Selamatkan saja gadis itu! "


Azzura tidak menggubris perkataan Ambika. Tangannya bergerak memeriksa tubuh Ambika.


" Coba ku lihat, eh... maaf dadamu! " kata pemuda itu dengan gugup. Tangannya gemetar saat menyentuh baju gadis itu dan menyibak sedikit untuk melihat luka di dada Ambika.


"Hmm, Pukulan telapak Dewa. Kalau begitu kamu harus ikut aku! " Pemuda itu lantas menarik tubuh Ambika ke atas tubuh Si Putih dan berbicara pada Harimau putih itu. Ambika ingin protes, tapi pandangan mata Azzura sudah menguncinya dan tidak memberinya kesempatan untuk membantah.


" Ki Putih, bawalah tubuh tuanmu ke kediaman Ki Anom. Gadis itu biar aku yang urus.! " Harimau putih itu mengaum seakan mengerti apa yang diucapkan oleh Azzura. Segera dia melesat meninggalkan tempat itu menuju ke kediaman Ki Anom.


Keenam murid padepokan Ki Dirga itu segera mengepung Azzura yang berniat untuk membawa tubuh gadis yang sedang tak sadarkan diri itu menyusul harimau putih yang kini sudah membawa tubuh Ambika.


" Hei, bocah tengik. Mau kemana kau, ..?" tanya salah seorang dari mereka.


" Tentu saja pulang!" jawab Azzura dengan santainya


" Hah, kau boleh saja pulang, tapi tinggalkan gadis itu disini! " perintah mereka.


"Cuih.... enak saja. Gadis ini temanku. Aku harus mengantarkannya pulang. Ayah dan ibunya pasti mengkhawatirkan dirinya! " kata Azzura sambil mengangkat tubuh gadis itu.


Keenam pria murid padepokan Pasir hitam itu segera mengepung Azzura. Azzura dengan santainya meladeni serangan demi serangan keenam pria tersebut sambil membopong tubuh gadis itu.


Pada suatu kesempatan, tubuh Azzura berhasil lolos dan melesat pergi meninggalkan ke enam pria itu.


" Aku masih ada urusan yang lebih penting dari ini. Sampai jumpa lagi lain waktu! " katanya sambil melambaikan tangan.


Mereka semua melongo, dan setelah menyadari keadaan, mereka langsung berlari mengejar Azzura yang kini sudah menghilang jauh meninggalkan mereka.


" Sial..! kita kehilangan buruan kita karena kedua bocah itu!" umpat salah seorang dari mereka yang tampaknya adalah pemimpin mereka.

__ADS_1


" Lantas kita harus bagaimana ?Pasti guru akan marah besar jika kita tak mendapatkan seorang gadis untuk tumbal pada malam bulan purnama ini! " kata salah seorang dari mereka.


......??? ......


__ADS_2