
"Hei, kisanak. Tampakkanlah wajahmu. Jangan bersembunyi di sana dan mengintip orang lain diam - diam seperti seorang pengecut! " ejek Alyan pada gadis itu.
Gadis itu merasa terpojok oleh kata - kata pangeran Alyan. Serta merta dia keluar dari persembunyiannya.
" Putri Keysha??!! " seru Alyan dengan wajah terkejut.
" Hah, Putri Keysha? Siapa dia, Pangeran? Apakah kamu mengenalnya? " tanya Aluna heran.
Putri Keysha berhasil menutupi kecemburuan dan rasa jengkelnya karena melihat Pangeran Alyan bersama gadis lain.
" Maafkan aku menggangu kalian. Tadi aku tanpa sengaja melihat kalian. Sekalian saja aku bermaksud ingin mengundang kalian untuk datang ke pesta ulang tahunku, pada purnama bulan ini." kata Putri Keysha sambil tersenyum pada Aluna.
Namun, Aluna diam dan tak membalas senyum Putri Keysha. Entah mengapa, dia merasa senyum Putri Keysha tidaklah tulus. Dan dia merasa ada sesuatu di balik sikap Putri Keysha pada dia dan Pangeran Alyan.
Setelah berpamitan, Putri Keysha berlalu pergi dari tempat itu. Putri Keysha memasang senyum misterius sesaat setelah berlalu dari tempat Pangeran Alyan dan kekasihnya.
" Huh, nikmatilah kebersamaan kalian mumpung masih bisa. Aku bersumpah akan membuat Pangeran Alyan bertekuk lutut padaku dan melupakan gadis dari bangsa manusia itu. Sungguh.. dia tidak pantas menjadi pendamping Pangeran Alyan yang tampan dan perkasa itu!" kata Putri Keysha dalam hati.
Malam berlalu begitu cepat, mengakhiri kebersamaan dua insan yang masih dalam posisi saling memeluk, berdua di atas puncak bukit, di hutan larangan.
" Aku akan mengantarmu pulang, sayang!" Pipi Aluna bersemu merah. Lagi - lagi Pangeran Alyan memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
" Hmm, iya. Aku juga mau ke rumah nenek. " kata Aluna.
" Luna, apakah aku harus mengantarmu ke rumah nenekmu atau ke istana Bukit Duri? Aluna mengangkat bahu. " Terserah Pangeran saja. " katanya pasrah.
Alyan mendekati Aluna yang sedang merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
" Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah nenekmu! Siap? " Aluna mengangguk sambil tersenyum menatap Pangeran Alyan.
Pangeran Alyan memegang tangan Aluna dan membawa tubuh gadis ke dalam pelukannya lalu menghilang bersama angin dan kabut pagi yang perlahan mulai memudar.
" Sudah sampai! " bisik Pangeran Alyan pada sang kekasih yang masih berada dalam pelukannya. Aluna menarik nafas kesal sambil melepaskan diri dari pelukan Pangeran Alyan. Padahal dia masih ingin berlama-lama dalam pelukan Pangeran Alyan yang sudah pasti hangat.
" Kalian berdua habis dari mana..? " sebuah suara mengejutkan mereka.
" Panji!! " seru keduanya bersamaan.
"Kami habis jalan - jalan pagi sama Alyan ke pinggir desa. " kata Luna.
" Pantesan, aku bel hape kamu, tapi nggak diangkat - angkat. Tapi ngomong - ngomong, kamu tinggal di mana, Alyan. Kok kamu bisa datang secepat ini ke rumah Aluna? "
"Aku tinggal di desa sebelah, di dekat hutan larangan. " jawab Alyan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tentang apa yang diucapkan Panji tadi.
__ADS_1
" Apa benar Aluna punya hape baru. Mengapa dia tak cerita padaku kalau dia punya hape baru , sih? " Alyan tiba-tiba saja merasa gusar. Namun, dia berusaha menyembunyikanya dari Aluna. Malu... takut ketahuan dan dibilang cemburu. Walaupun sebenarnya cemburu itu boleh dong, secara dia kan pacarnya Aluna.
" Eh, itu... hape, ya. Aku sengaja meninggalkannya karena aku takut nanti rusak. Aku kan tidak terlalu pandai memainkan itu, " jawab Aluna.
Pangeran Alyan urung meninggalkan Aluna karena melihat kedatangan Panji. Sehingga dia memutuskan untuk menemani lagi gadisnya itu sampai Panji akhirnya mohon diri dan pamit pulang kepada Aluna. Pemuda itu pulang karena kesal melihat Pangeran Alyan yang selalu menempeli Aluna seperti perangko.
...----...
Sementara itu, di kampus mahasiswa kedokteran, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 malam. Malam ini Arryan pulang agak larut karena ada mata kuliah praktek, dan dilanjutkan dengan menghadiri rapat bersama kakak tingkat untuk membahas tentang rencana bakti sosial kampus untuk warga tak mampu.
Arryan berjalan menyusuri lorong - lorong yang menghubungkan antara kampusnya dengan jalan utama. Sepi, dan lenggang.
Blasssss! Sebuah bayangan lewat begitu saja di depannya. Arryan yang sudah terbiasa melihat hal ghaib seperti itu tidaklah terlalu menggubrisnya. Dia tetap berjalan dengan santai, kembali meneruskan perjalanannya.
Namun, saat dia berbelok menuju ke tempat parkiran motor, Arryan dibuat terkejut dengan kehadiran sesosok gadis berbaju putih dengan wajah yang sangat pucat. Gadis itu berdiri persis di sebelah motornya. Arryan tahu bahwa gadis itu bukanlah manusia, namun arwah seseorang yang rupanya belum rela meniggalkan dunia ini.
Tanpa berbicara ataupun menoleh pada gadis itu, Arryan menarik motornya dan bersiap untuk menstater motornya. Dia bersikap seolah- olah tidak melihat atau mengetahui keberadaan gadis itu. Yang ada dalam pikirannya adalah bahwa dia ingin segera berada di rumah karena tubuhnya sudah dirasa sangat lelah sekali.
" Tooloongg... aakkuuu.....! " gadis itu meminta tolong dengan suara yang terdengar sangat dalam sekali.
Arryan tidak menggubris suara gadis itu. Dia pura - pura tidak melihat atau pun mendengar gadis itu berbicara. Arryan terus saja melajukan motornya membelah keheningan jalan raya yang kini suasananya sudah sangat sepi karena sudah larut malam.
Ciiiitttttt........! Arryan menghentikan laju motornya. Gadis yang sama yang tadi dia temui diparkiran, kini sudah berada persis di hadapannya, menghadang jalannya.
" Toooloong.... akkku.....! " gadis itu kembali meminta tolong kepada Arryan dengan suara yang sama. Dalam dan terkesan jauh sekali.
" Apa yang kamu inginkan? " Kali ini Arryan terpaksa juga bertanya kepada gadis itu karena sepertinya gadis itu mengetahui jika Arryan bisa melihatnya.
" Toolloong..... bebaskan aku! " kata gadis itu.
" Mengapa harus aku yang melakukannya. Aku tak tahu apa yang sudah terjadi padamu. "
Gadis itu menangis tersedu-sedu dan terdengar sangat memilukan.
Dari matanya yang cekung ke dalam keluar air mata yang berwarna merah. Air mata darah. Arryan tercekat. Bukan karena takut tapi karena iba.
Kata ibunya, arwah yang menangis dan mengeluarkan air mata darah, adalah arwah yang sesaat sebelum kematiannya mengalami siksaan atau perlakuan yang sangat sadis. Dengan kata lain, dia di bunuh dengan perlakuan pisik yang sangat berat hingga trauma pasca kematian seperti itu biasanya akan terus terbawa hingga sang mayat dapat menemukan kembali jalannya, maka barulah dia akan suci dan dapat naik ke surga menunggu kematian sang pembunuh.
" Siapa yang membunuhmu? " tanya Arryan langsung tanpa basa- basi lagi. Karena dia tahu , pasti gadis ini dulu semasa hidupnya pasti mati dengan cara mengenaskan yaitu di bunuh.
Gadis itu berhenti menangis. Dia mendekat ke arah Arryan dan sejurus kemudian tubuhnya sudah memasuki tubuh Arryan.
kembali ke masa lalu........
__ADS_1
Seorang gadis belia, sedang berjalan dengan sedikit tergesa-gesa karena hari ini dia ada mata kuliah pagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.05 pagi. Sedangkan kuliah dimulai pukul 07.15. Berarti waktunya tinggal sepuluh menit lagi.
Brugghh! Saking buru - burunya, tanpa sengaja gadis itu menabrak seseorang.
" Maaf, kak! maafkan saya! " serunya dengan rasa bersalah. Dia menatap penuh penyesalan kepada seorang lelaki berpakaian putih - putih yang kini juga sedang menatapnya.
" Tak apa - apa! santai saja! " jawab lelaki itu. Sejenak gadis itu tertegun saat melihat lelaki itu.
Namun dia kembali tersadar saat melihat jam di tangannya.
" Eh, sekali lagi maaf. Saya buru - buru karena sebentar lagi dosen saya mau masuk." Gadis itu kemudian berlari memasuki kelas dengan nafas yang ngos - ngosan.
" Elisa, lo lari kayak habis dikejar hantu.! " Piana teman yang duduk di sebelahnya menyapa gadis itu.
" Eh, iya... hhabisnya gue kirain udah telat, makanya gue lari marathon tadi. Mana habis nabrak orang lagi! " gadis yang bernama Elisa itu menjawab sambil berusaha mengatur nafasnya yang turun naik tak karuan.
" Seriusan, elo nabrak orang...? " mata Piana sukses membelalak.
Mata Elisa hampir melotot keluar, bukan karena pertanyaan Piana tapi karena kedatangan seseorang.
" Itu dia orangnya...! " jawab Elisa seraya memberi isyarat dengan mengarahkan pandangannya dan gerakan mulutnya.
Pandangan Piana mengikuti arah pandangan Elisa.
" Astaga...Yang lo tabrak Pak Alfred? " Piana menepuk jidatnya.
" Oh jadi namanya Pak Alfred?" Elisa berguman sendiri. Sedangkan Pak Alfred hanya menatapnya datar seraya duduk persis di hadapannya. Iya.. karena tempat duduknya persis di depan meja dosen.
Selama sesi pertemuan itu, Elisa serius mendengarkan penjelasan dari Pak Alfred mengenai struktur tulang dan beberapa kasus kecelakaan yang melibatkan operasi tulang.
Setelah jam pelajaran usai. Elisa bergegas keluar ruangan untuk segera menemui kakak tingkatnya. Rencananya mereka yang tergabung dalam mahasiswa kedokteran akan mengadakan pertemuan untuk membahas rapat kerja dengan dewan mahasiswa.
" Kamu ngerasa nggak melupakan sesuatu? " seseorang menyapa dia dari belakang.
Owalah... ternyata yang berdiri di belakangnya adalah Pak Alfred. Lelaki itu memegang sesuatu di tangannya. Elisa menepuk jidatnya karena merasa hari ini dia banyak sekali melakukan kebodohan.
" Terima kasih, Pak! " Elisa tersenyum malu-malu seraya menerima diktat miliknya yang rupanya tadi tertinggal saat di ruang kelas. Beruntung, rupanya Pak Alfred yang menemukannya juga adalah salah satu anggota dari dewan mahasiswa.
Sejak pertemuan itu, keduanya lantas menjadi akrab. Pak Alfred , lelaki itu ternyata masih lajang. Sehingga seiring berjalannya waktu, keduanya kemudian memutuskan untuk jadian.
Hingga pada suatu hari, kedua khilaf dan melakukan kesalahan. Namun, rupanya kekhilafan itu terus berlanjut hingga menyebabkan Elisa kemudian hamil.
__ADS_1
" Mas.... aku hamil! " kata Elisa suatu hari dengan wajah pucat saat menemui Pak Alfred.